
"Kita kembali saja ke hotel, aku sudah lelah," jawab Rere.
"Yasudah ayo."
Sesampainya di hotel Rere berada di balkon kamar, ia melihat pemandangan kota di waktu terik seperti ini.
Rey datang menghampiri dan memeluk dari belakang, "kenapa tidak beristirahat?" Ujarnya.
"Rey... setelah dari sini, kita pergi ke maldives ya. Aku ingin melihat keindahan laut di sana," ajak Rere dengan semangatnya.
"Baiklah, kita bisa berangkat besok pagi-pagi," jawab Rey.
"Benarkah?" Sahut Rere dengan mata berbinar. Rey hanya menganggukkan kepalanya.
"Terima kasiih," jawab Rey yang menghadiahi kec***pan singkat di pipi Rey.
Keesokan paginya, sesuai dengan janji Rey mereka akan berangkat ke maldives. Saat ini mereka sudah berada di atas pesawat dan siap untuk lepas landas.
Rere sangat antusias, karena ia bisa melihat laut dengan puasnya.
Seetibanya mereka di maldives, mereka menuju tempat penginapan di salah satu pulau yang berada di sana. Rere sangat senang menginjakkan kakinya di pulau itu.
Ia menikmati semilir angin yang menyejukkan.
"Rey... ayo kita jalan-jalan di atas pasir itu," ajak Rere antusias.
"Kau tidak lelah?" Rey bertanya karena memang mereka baru saja tiba.
"Tidak," jawab Rere singkat.
Rey berjalan menuruti kemauan istri tercintanya itu, dan seperti biasa Rere meminta kelapa muda.
Dia melahap kelapa muda itu dengan senangnya, Rey hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Ayo kita diving setelah ini," ajak Rere.
"Kita makan dulu oke, setelah itu kita diving," bujuk Rey.
Mereka memutuskan untuk memilih makanan khas di pulau itu, setelah itu Rey menepati janjinya untuk diving. Mereka sangat menikmati momen seperti ini.
Waktu sudah berganti malam, Rere sudah terlelap begitu saja karena lelah. Rey membenarkan selimut untuk Rere dan tidak lupa juga dengan ke****pan singkat di kening Rere.
Rey juga menyusul untuk segera tidur memeluk erat tubuh Rere.
***
1 bulan sudah mereka membina rumah tangga, hari-hari mereka lewati dengan tenang dan penuh canda tawa.
Rey tidak pernah berhenti untuk mengasah kemampuannya di temani oleh Daniel, Rere masih belum tau jika Rey memutuskan untuk mengikuti jejaknya.
"Bagaimana dengan nona tuan? Apa dia sudah tau?" Tanya Daniel saat break latihan.
"Panggil dia nyonya bukan nona lagi," protes Rey tidak terima.
"Ck..." decih Daniel.
"Iya-iyaa... nyonya," sambung Daniel.
"Dia belum tau, nanti jika sudah saatnya aku akan memberitahunya," terang Rey.
"Sepertinya akan ada perang dunia ke dua," gumam Daniel. Dia tau pasti Rere akan marah besar, bukan hanya pada Rey, tapi dengannya dan anak buah yang terlibat.
__ADS_1
Di sisi lain
Rere saat ini mengendarai mobil mewahnya menuju perusahaan, dalam perjalanan ia di hadang oleh segerombol orang berbaju hitam dan tubuh kekar.
Tatapan Rere mulai tidak bersahabat karena dia mulai terusik, "mengganggu saja," gerutu Rere.
"Keluar, atau mobil ini kami hancurkan," teriak salah satu orang berbadan kekar itu.
Rere membuka pintu mobil dengan kerasnya hingga orang tersebut merintih kesakitan.
"Mau apa kalian?" Ujar Rere dengan wajah dinginnya.
"Kami? Tentu saja aku menginginkan nyawamu nona," ucap salah satu orang tersebut dengan PD nya. Dia tidak tau siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapannya ini.
"Aku tidak ada urusan dengan kalian, singkirkan mobilmu itu," ucap Rere dengan nada sedikit meninggi.
"Santai saja nona, apa kau takut?" Ucap dari mereka.
Tiba-tiba saja...
Syuutt... jlep...
Belati di layangkan oleh Rere dengan gerakan gesitnya kepada salah satu dari gerombolan itu.
Rere biasa membawa belati lipat yang ia selipkan di selah-aelah bajunya.
"Aaarrrkkh..." rintihnya. Darah segar keluar dari lemgan orang itu.
Kumpulan dari orang tersebut meradang karena salah satu temannya, mereka mulai menyerang Rere secara bersamaan.
Bugh.. bugh...
Baku hantam itu akhirnya terjadi, Rere di buat sedikit kuwalahan melawan mereka karena tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing.
Salah satu dari mereka segera memberitahukan ke markas untuk mengirim bantuan.
Deerrtt... derrtt...
Ponsel Daniel bergetar menandakan jika ada yang menghubunginya, Daniel mengernyitkan alisnya melihat siapa yang menghubunginya. Ia segera menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo, ada apa?" Tanya Daniel.
"Tuan, kami perlu bantuan. Datanglah ke jalan xx, nona sedang di serang. Sepertinya nona juga kualahan menghadapinya," terang anak buah Rere di seberang sana.
"Baiklah, tunggu aku disana," balas Daniel langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Ada apa Niel?" Tanya Rey bingung.
"Kita ke jalan xx sekarang, nona dalam bahaya," ucap Daniel. Rey yang mendengar perkataan Daniel seketika berdiri dari duduknya dan berjalan cepat.
"Pakai mobilku saja tuan, biar lebih cepat," ucap Daniel.
Rey segera masuk ke mobil Daniel, Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Rere yang merasakan semakin pusing di kepalanya mencoba untuk bertahan, salah satu dari segerombolan orang yang menghadang Rere itu mengambil kesempatan ingin menancapkan belatinya ke Rere.
Rey yang baru saja tiba bersama Daniel segera turun saat melihat salah satu dari mereka mengangkat belatinya di arahkan ke Rere.
Bugh...
Tendangan kuat di layangkan oleh Rey, Rere yang melihat orang itu tersungkur menoleh ke arah belakang siapa yang sudah menendang orang itu.
__ADS_1
"Rey...?" Ucap Rere setelah melihat siapa yang baru saja membuat orang itu tersungkur
Rere yang sudah tidak bisa menahan pusingpun seketika jatuh pingsan, untung saja Rey dengan gesit menangkap tubuh Rere.
"Re... Ree... bangun Re. Kamu kenapa Re?" Ucap Rey menepuk-nepuk pipi Rere dengan cemasnya.
"Bawa saja nona pergi tuan, biarkan aku yang mengurusnya," sahut Daniel melihat nonanya itu jatuh pingsan.
Rey segera membopong tubuh Rere ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Rey terlihat sangat cemas dan salah satu tangannya menggenggam erat tangan Rere.
Setibanya di ruma sakit, Rey segera mengangkat tubuh Rere ke atas brankar.
"Mohon untuk menunggu di luar tuan," ucap salah satu suster.
Kembali ke sisi dimana tempat Rere di hadang tadi, Daniel sudah melumpuhkan semua orang berbaju hitam itu.
"Bawa mereka yang masih hidup ke markas, aku akan menyusul tuan Rey ke rumah sakit," perintah Daniel dengan tegas.
"Baik tuan," ucap anak buah Rere dan membawa orang-orang itu ke markas.
Daniel segera melajukan mobilnya ke rumah sakit di mana Rey membawa Rere tadi.
Sesampainya Daniel di sana, ia segera mencari Rey. Daniel melihat Rey yang masih di luar untuk menunggu nonanya.
"Bagaimana kondisi nona tuan?" Tanya Daniel yang baru saja tiba.
"Dokter belum selesai memeriksa," jawab Rey dengan lesu.
Tak lama dokterpun keluar, "keluarga pasien?" Ucap sang dokter.
"Saya suaminya dok, bagaimana kondisi istri saya? Baik-baik saja kan?" Cerca Rey.
"Bagaimana kondisi nona saya dok?" Tanya Daniel.
"Nyonya baik-baik saja tuan, hanya saja..." ucap dokter terjeda karena Rey segera memotongnya.
"Hanya saja kenapa dok? Apa terjadi sesuatu pada istri saya?" Tanyanya semakin cemas.
"kenapa kau tidak sabar sekali tuan, dokter belum selesai bicara," sahut Daniel pada Rey.
Akhirnya Rey mencoba untuk bersikap tenang.
"Begini tuan, nyonya tidak kenapa-kenapa. Hanya saja, beliau butuh istirahat, karena nyonya saat ini sedang mengandung," terang dokter
Perasaan Rey tidak bisa di gambarkan saat ini.
"Benarkah itu dok?" Bukannya Rey, melainkan Daniel yang bertanya.
"Benar tuan, nona butuh istirahat penuh. Saya akan memberikan Resep yang harus di tebus," ucap dokter itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, sebentar nyonya akan dipindahkan ke ruang rawat inap," pamit dokter tadi.
"Terima kasih dok," balas Rey dan Daniel bersamaan. Dokter itupun kembali melakukan tugasnya yang lain.
"Selamat untukmu tuan, aku turut bahagia. Jaga nona dan keponakanku baik-baik," ucap Daniel.
"Aku bilang nyonya bukan nona," protes Rey kembali.
"Iya-iya terserah kaulah tuan," ucap Daniel mengalah.
"Aku pamit dulu untuk ke markas mengurus para berandal tadi," pamit Daniel.
__ADS_1
"Baiklah, jika ada kabar mengenai mereka, hubungi aku," jawab Rey. Daniel menganggukkan kepalanya dan bergegas untuk pergi.