
Tiga hari kemudian....
Hari ini adalah hari dimana Rere dan Rey akan pergi ke swiss untuk honeymoon. Seperti biasa, Rere menyuruh beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga disana jika terjadi sesuatu.
Saat ini mereka sudah berada di bandara, seperti biasa Agnes mengantarkan keberangkatan bu boss nya itu.
"Nes, aku titip disini, jika nanti ada sesuatu hubungi aku," ucap Rere.
"Siap bu boss, buatkan aku ponakan yang banyak dan imut-imut ya," jawab Agnes dengan antusias.
"Kau pikir aku ini kucing apa?" Sengal Rere.
"Tenanglah nona, aku akan buatkan ponakan yang banyak dan imut untukmu," sahut Rey yang berada di samping Rere.
Bugh... suara pukulan mendarat di bahu Rey.
"Kau ini sama saja dengan Agnes," geram Rere.
"Aku setuju denganmu tuan Rey," ujar Agnes mengacungkan jempolnya.
Salah satu anak buah Rere datang menghampiri untuk melapor, "Permisi nona, jetnya sudah siap untuk berangkat."
"Baiklah, terima kasih," ucap Rere.
Sepasang pengantin baru itu melangkah masuk kedalam untuk cek pemberangkatan, setelah dirasa semua beres akhirnya mereka melakukan penerbangan menuju swiss.
Kota zurich menjadi pilihan mereka untuk honeymoon. Kota zurich merupakan kota yang wilayahnya dikelilingi pegunungan dan laut serta memiliki pemandangan yang indah dan menakjubkan.
Rere yang memang lebih menyukai keindahan alam mengajak Rey untuk datang ke kota itu, ia juga ingin merasakan suasana yang berbeda disana.
Disisi seberang....
Seorang wanita mengamuk membanting semua barang yang ada di kamarnya. Siapa lagi kalau bukan sisil, dia ingin sekali untuk merebut Rey kembali dari Rere.
Pyaarr...
Pyaarr...
"Haaahh... harusnya aku yang berada disisimu Rey. Bukanlah wanita itu... kenapa kau selalu saja lebih unggul dariku Re? Haahh... " teriaknya yang tidak terima. Penampilannya yang sudah seperti orang gila dengan rambut acak-acakan seperti singa.
Praank... pyaarr....
Vas bunga melayang ke arah dinding.
__ADS_1
"Aku akan merebut Rey kembali darimu, tunggu saja nanti. Rey akan jatuh ke pelukanku untuk yang kedua kalinya," sambungnya dengan penuh keyakinan dan emosi yang masih menggebuh-nggebuh.
"Aku akan menyingkirkanmu dari dunia ini ,Re," ujarnya dengan menunjukkan smirk jahatnya. Dia segera mengambil ponselnya menghubungi seseorang dan berencana untuk menyingkirkan Rere.
***
Selama berjam-jam mereka berdua menempuh perjalanan udara, akhirnya mereka telah sampai di bandara kota zurich.
Mereka berdua segera menuju hotel yang sudah di pesan untuk beristirahat.
Mereka memilih salah satu hotel bintang lima yang cukup strategis di kota zurich, hotel tersebut terdapat di lokasi yang tenang di Kota Tua Zurich, hanya 200 meter dari jalan perbelanjaan Bahnhofstrasse, hotel bintang 5 ini menempati 9 bangunan bersejarah yang direnovasi dengan cermat dan didekorasi dengan karya seniman terkenal.
Kamar-kamar di hotel tersebut sangat luas dan memiliki perabotan mewah di setiap kamarnya dengan kamar mandi yang elegan, biaya tarifnya di mulai berkisar 10 juta per malam.
Di sana juga terdapat bar dan menyediakan pertunjukan music jazz reguler untuk para tamu.
Hotel tersebut juga dekat dengan Jalan Bahnhofstrasse, Museum Seni (Kunsthaus Zurich), dan Swiss National Museum. Tempat tersebut bisa di tempuh hanya dengan berjalan kaki.
Hari sudah berganti malam, Rere segera merebahkan tubuhnya di kasur hotel itu.
"Lelah sekalii," ujarnya. Rey hanya tersenyum mendengarnya.
"Bersihkan dirimu terlebih dulu, sayang," perintah Rey.
"Sebentar lagi, kamu duluan saja," jawab Rere yang enggan untuk bangkit.
Sedangkan Rere menuju ke arah balkon untuk melihat pemandangan kota saat malam hari, lampu kelap-kelip dengan suasanan yang tenang membuat hatinya senang.
Rey yang keluar dari kamar mandi mencari keberadaan istrinya yang tidak ada di kamar, ia kemudian beralih menatap pintu balkon yang terbuka dan segera menuju ke arah sana.
Tangan kekarnya memeluk erat orang ada di hadapannya itu dengan wajah yang ia tempelkan di ceruk leher milik Rere membuatnya merasa geli.
"Aku belum mandi Rey," ujar Rere yang tidak berpindah posisi.
"Tidak masalah untukku," jawab Rey dengan me****m leher jenjang milik Rere.
Rere merasa seperti tersengat saat mendapat sentuhan lembut dari suaminya itu.
"Biarkan aku mandi dulu, badanku terasa lengket. Nanti kita lanjut lagi ya," bujuk Rere.
"Kau janji," ucap Rey. Rere menganggukkan kepala untuk mengiyakan jawaban suaminya.
Rerepun segera bergegas menuju kamar mandi karena badannya sudah sangat lengket.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Rere keluar dari kamar mandi, ia segera berganti baju dan istirahat.
Ia melangkah kearah suaminya yang sibuk mengotak-atik ponselnya dengan TV yang menyala, "kenapa belum tidur?" Tanya Rere menyusul duduk di sebelah Rey.
Sebelum Rere terduduk, Rey sudah lebih dulu menarik Rere hingga ia terduduk di pangkuan Rey, "aku menunggumu," ujar Rey.
Aroma harum pada tubuh istrinya itu kembali membangkitkan rasa bergejolak yang sempat ia tahan.
Rey menempelkan wajahnya di leher jenjang Rere, Rere hanya bisa pasrah dengan aksi Rey. Tubuhnya juga tidak bisa bohong menerima sentuhan-sentuhan tangan suaminya.
Rey segera membopong tubuh Rere dan merebahkan pelan di atas tempat tidur, Rey melanjutkan aksinya lebih dalam lagi membuat Rere mengeluarkan suara-suara yang eksotis.
Melihat Rere yang sudah tidak berdaya, Rey melancarkan aksinya. Hingga terjadilah malam itu malam yang panas bagi kedua pasangan pengantin baru itu.
skiipp...
Keesokan paginya, mereka sudah bersiap untuk jalan-jalan menikmati kota zurich.
Rere mengajak Rey untuk berkaliling dengan berjalan kaki, ia ingin menikmati bagaimana suasana di kota itu.
Sepanjang jalan mereka bergandengan tangan dan tidak lupa juga mereka mengambil foto romantis mereka.
"Fotokan aku Rey," pintanya. Rey menuruti keinginan istrinya itu. Rere mencoba berbagai pose foto yang terlihat elegan, ada juga dengan pose candid.
"Fotokan aku Rey," pintanya. Rey menuruti keinginan istrinya itu. Rere mencoba berbagai pose foto yang terlihat elegan, ada juga dengan pose candid.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke destinasi lainnya yang dekat dengan tempat mereka menginap.
"Aku ingin pergi ke Jembatan Mühlesteg, Rey. Aku pernah dengar jika di situ tempat paling romantis disini," ajak Rere penuh semangat.
"Baiklah, kita kesana sekarang," sahut Rey.
Setibanya mereka di sana, mereka di sambut dengan banyaknya gembok cinta. Tempat itu dijadikan sebagai tempat suci untuk mengabadikan cinta.
Rere segera membeli gembok untuk mereka berdua, setelah itu dia mengukir namanya dan nama Rey di atas gembok itu.
"Naah... sudah," ucap Rere.
"Kamu yang kuncikan di situ," pintanya untuk Rey mengunci gembok yang ia berikan tadi.
"Apa kamu percaya ini?" Tanya Rey.
"Emmm... entahlah. Semua ada di tangan Tuhan bukan, aku mencoba menghargai yang ada disini. Keyakinanku tetap pada Tuhanku Rey," terang Rere.
__ADS_1
"Kau memang yang terbaik," ujar Rey menghadiahi c*****n di kening Rere.
"Kamu mau kemana lagi, hmm?" Tanya Rey dengan lembut.