
Bugghh...
Rere mendapat tendangan dari Nicky di dada. Ia pun mengerang sakit, namun tidak membuatnya kalah begitu saja.
Rere segera berlari melawan Nicky.
Bugh... bugh... bugh...
Rere melayangkan tendangan berkali-kali ke arah Nicky.
Darah keluar dari mulutnya karena tendangan keras dari Rere mengenai dadanya. Ia merasakan sesak hingga terkapar dan kesulitan untuk bangkit.
"Apa perlu bantuan, nyonya?" Liam datang mendekat ke arah Rere setelah menumbangkan semua anak buah Nicky.
"Kau lepaskan ikatan pada Lalita. Lalu bawa dia keluar ke tempat yang aman." Perintah tegas dari Rere.
"Bagaimana dengan Celo?" Sambungnya.
"Tuan kecil sudah aman bersama Agnes, nyonya." Jawab Liam melepaskan ikatan Lalita.
Sesekali Rere melirik ke arah Nicky yang sudah lemah karena hantaman kuat darinya.
"Kau keluarlah dulu bersama Liam, Lita. Aku akan menyusul. Aku mengurus orang itu terlebih dulu." Ucap Rere setelah lepas dari ikatan tadi. Ia pun menurut saja apa yang di katakan oleh sang kakak.
Ia pun berjalan keluar bersama dengan Liam yang menunjukkan jalannya.
Disaat Rere sedang memastikan Lalita keluar dengan aman, Nicky yang masih tersadar mengambil pistol yang ia sembunyikan sedari tadi.
Ia menggunakan kesempatan itu untuk menembak Rere.
Doorr...
Rere syok melihat siapa yang tertembak.
Bukan dirinya, melainkan Rey.
Rey yang saat itu bersama Daniel menyusul Rere melihat jika Nicky mengarahkan pistol ke arah Rere.
Rey segera berlari dan menukar posisinya agar Rere tidak tertembak.
Lalita yang belum jauh dari sana pun kembali ke arah Rere.
"Rey..." lirih Rere meneteskan air mata.
"Kak Rey..." teriak Lalita menangis melihat Rey berada di pelukan Rere mengeluarkan darah di punggungnya.
Nicky merasa puas melihat akan hal itu.
Ia pun ingin menarik pelatuknya lagi namun di gagalkan oleh Daniel.
Dorr... doorr... doorr...
Daniel menembak lengan, perut dan kaki Nicky. Darah mengalir deras dari tubuhnya karena tembakan dari Daniel.
Ia ingin bangkit namun sudah merasa tak sanggup.
"Akan ku habisi kau." Rere murka saat Rey terkena tembakan dari Nicky.
Tangannya di cekal oleh Rey yang masih belum hilang kesadarannya.
"Sebaiknya bawa saja tuan Rey, nyonya. Biar orang ini aku yang mengurus." Ujar Daniel. Ia masih membawa kesayangan milik Rere sedari tadi.
"Li, bantu aku untuk membawa Rey keluar dari sini." Teriak Rere merasa cemas.
Anak buah yang lain pun meyusul ke ruangan itu setelah mendengar tembakan dan teriakan Rere yang begitu keras.
"Kalian, bantu Liam membawa suamiku ke luar. Dan kau Niel, urus dia. Jangan sampai orang itu mati terlebih dulu. Bawa dia ke markas, aku sendiri yang akan menghabisinya," perintah Rere tegas. Sorot matanya menunjukkan kemarahan yang sangat besar.
Daniel mendekat ke arah Nicky bersama King. Nicky pun merasa gemetar melihat singa besar di hadapannya.
Singa itu menunjukkan gigi tajam dan wajah sangarnya. Daniel pun mengelus lembut King yang sepertinya marah setelah tuannya terluka.
__ADS_1
"Bawa dia ke markas." Perintah Daniel pada anak buahnya.
Mereka pun membawa Nicky ke markas. Nicky yang merasa sudah lemah karena mengeluarkan banyak darah hanya bisa pasrah.
Daniel pun menitipkan King pada anak buahnya untuk di bawa ke markas. Ia akan menyusul Rere dan lainnya ke rumah sakit.
Skiipp...
Di perjalanan menuju rumah sakit, Rey semakin terlihat pucat karena mengeluarkan banyak darah.
"Aku mohon bersabarlah, Rey." Rere mengelus lembut wajah Rey yang berbaring di pahanya.
"Aku tidak papa. Kamu jangan menangis," ucap Rey lemah sambil tersenyum. Ia mencoba menghapus air mata Rere yang terjatuh.
"Aku tidak suka kamu menangis," ucap Rey menahan sakit.
"Sudahlah. Jangan banyak bicara Rey." Ucap Rere.
"Lebih cepat, Li." Perintah Rere. Liam pun menambah kecepatan mobilnya.
10 menit kemudian, mobil itu sampai di rumah sakit karena Liam melajukan di atas kecepatan rata-rata.
Rey pun di bawa ke ruang UGD untuk mendapat pertolongan pertama.
Rere harap-harap cemas di luar ruangan.
Tak lama kemudian, Celo, Lalita dan Agnes tiba di sana.
"Kakaak... bagaimana keadaan kak Rey?" Tanya Lalita.
Ia merasah bersalah. Karena dirinya kakak iparnya terluka.
"Rey masih di dalam," jawab Rere.
"Maafkan aku kakak," ucap Lalita memeluk Rere. Ia menumpahkan air matanya karena sudah tidak tahan menahannya sedari tadi.
"Mama... papa Celo baik-baik saja kan?" Tanya Celo. Ia sudah tau apa yang terjadi karena Lalita menceritakan sedikit tadi.
"Papa Celo akan baik-baik saja," jawab Rere tersenyum mengelus lembut rambut Celo.
"Kakak... maafkan aku. Karena aku kak Rey terluka. Harusnya aku tidak ke luar tadi," ujar Lalita lagi dengan sesenggukan.
"Kau tidak salah Lita. Sudahlah, jangan menangis seperti ini. Jangan bilang sama mama dan papa ya, biar mereka tidak cemas." Terang Rere.
Rere tidak akan pernah menyalahkan siapapun. Bagaimanapun, itu adalah sudah resikonya saat terjun di dunia mafia. Banyak musuh yang mengincarnya. Meskipun bukan karena menyelamatkan Lalita, hal ini pasti akan terjadi juga suatu saat nanti.
Lalita menangguk ucapan sang kakak.
"Kakak... sebaiknya kau obati juga lukamu. Nanti infeksi," ujar Lalita teringat luka di lengan Rere.
"Ini hanya goresan kecil, Lita." Jawab Rere dengan santainya.
"Bu boss... sebaiknya obati dulu lukamu." Sahut Agnes.
"Ya sudah. Aku nitip Rey dulu ya. Kalo ada kabar, panggil aku segera," ujar Rere.
"Mama... Celo ingin menemani mama," ucap Celo gemas. Rere pun menyetujui ucapan Celo.
Wajah Rere juga terlihat pucat, mungkin karena kelelahan dan di tambah lagi akibat luka yang ia terima.
Tak lama kemudian, Daniel datang.
"Bagaimana dengan tuan Rey?" Tanyanya saat baru tiba.
"Entahlah... dokter masih belum keluar." Jawab Agnes.
Lalita menunduk dengan perasaan khawatir dan harap-harap cemas. Ia tidak ingin kakak iparnya kenapa-napa.
Sedari tadi ia berdoa dalam hati untuk keselamatan untuk Rey.
Pintu terbuka memperlihatkan dokter keluar dari ruangan.
__ADS_1
Lalita pun mendongakkan kepalanya dan beranjak berdiri. "Dokter bagaimana keadaan kakak saya?" Tanya Lalita dengan cemas.
"Apa tuan saya baik-baik saja, dok?" Tanya Agnes.
"Syukurlah nona, tuan baik-baik saja. Untungnya, peluru itu tidak sampai menembus ke jantungnya." Terang dokter.
Mereka semua yang berada di sana bernafas lega.
"Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang rawat inap jika kondisi tuan Rey sudah stabil."
"Terima kasih atas bantuannya dok," ujar Lalita.
"Sama-sama nona. Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter dengan sopan.
Lalita mengucap banyak syukur karena doanya terkabul.
Sedari tadi Daniel memperhatikan Lalita tanpa berkedip. Entah apa yang dia pikirkan.
Agnes yang mengetahui akan hal itu hanya tersenyum. Ingin sekali ia menggoda si bontot kesayangannya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat.
Agnes pasti akan selalu mendukung Daniel, selagi itu baik untunya. Baginya, Daniel sudah seperti adik kandungnya sendiri.
"Eehh... tuan Li kemana?" Tanya Agnes tidak melihat adanya Liam di sana.
"Tadi aku bertemu dengannya di depan. Dia buru-buru kembali ke kantor, karena ada meeting penting yang tidak bisa di tunda lagi katanya," jawab Daniel.
"Nona, kau istirahat saja dulu. Kau pasti masih syok," ujar Agnes perhatian. Ia juga melihat Lalita sepertinya kelelahan.
"Aku menunggu kak Rere," jawab Lalita Lirih.
Tak lama kemudian, Rere pun keluar dengan Celo.
"Bagaimana kondisi Rey?"
"Kata dokter pa boss baik-baik saja bu boss... peluru yang bersarang di tubuhnya tidak sampai mengenai organ vitalnya," terang Agnes.
"Bagaimana dengan lukamu, kak?" Tanya Lalita.
"Tenanglah, Lita. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," jawab Rere. Ia sudah terbiasa dengan goresan-goresan kecil dan luka tembak.
"Kau pulanglah dulu, Lita. Istirahatlah, bawa Celo pulang. Dan bawakan baju ganti untukku nanti." Perintah Rere.
"Baiklah kak."
Sebenarnya, Lalita juga ingin menanyakan sesuatu. Ia ingin bertanya setelah Nicky mengatakan jika kakaknya seorang mafia.
Tapi, saat ini bukanlah waktunya. Ia akan menanyakan itu nanti.
"Ingat, jangan kasih tau mama sama papa. Aku tidak ingin mereka merasa was-was nanti." Imbuh Rere pada Lalita.
"Celo ikut aunty pulang dulu ya. Nanti ke sini lagi, Celo istirahat di rumah. Tidak baik untuk Celo di sini." Tutur Rere. Celo menurut apa yang di katakan oleh sang mama.
"Kau ikutlah sekali, Nes." Perintah Rere.
Agnes mengangguk dan menyusul langkah Lalita.
"Bagaimana?" Tanya Rere pada Daniel.
"Aku sudah mengurus orang itu. Anak buah kita membawanya ke markas." Jawab Daniel.
"Baguslah."
Tak lama kemudian, brankar yang membawa Rey pun keluar. Rere meminta untuk menempatkan Rey di ruang VVIP untuk kenyamanannya.
Rere masuk dan duduk di kursi sebelah brankar Rey.
"Kami pamit dulu nyonya. Jika ada sesuatu, segera hubungi kami." Ujar perawat itu dengan sopan.
"Baiklah, terima kasih sus." Jawab Rere ramah. Beberapa suster itu pun keluar.
Rere melihat wajah pucat sang suami. Ia mengelus lembut tangan Rey yang sedang lemah belum sadarkan diri.
__ADS_1