
Kediaman Abraham...
Sesampianya di sana, Rey mengajak Rere untuk segera masuk ke dalam rumah yang ia tempati dulu.
"Hai kakaak..." sapa Alea melihat kedatangan Rey dan Rere.
Kebetulan satu keluarga itu sedang berkumpul saat ini, mendengar ucapan Alea semuanya menoleh ke arah pintu.
"Eh anak mama datang, sini duduk," sambut mama menggandeng Rere.
"Ma, aku nitip Rere di sini ya. Aku takut dia merasa bosan saat di rumah sendiri," ucap Rey.
"Kenapa tidak tinggal saja disini sih Rey, kandungan Rere sudah semakin membesar, kasian kalo apa-apa sendiri nanti," sahut mama.
"Tidak apa kok ma, Rere kan kuat. Calon cucu mama sama papa juga sangat pintar, tidak pernah rewel," ucap Rere.
Rere yang memang sudah terbiasa mandiri menolak ucapan mama mertuanya dengan halus.
"Bagaimana calon cucu papa Re?" Tanya papa.
"Dia sangat sehat pa, dan juga aktif sekali," jawab Rere mengelus perutnya.
Mereka berbincang-bincang ringan seperti biasa, sudah lama Rere tidak berkunjung kesana. Jadi tidak heran mereka antusias saat Rere datang. Apalagi saat ini Rere sedang mengandung, mereka semua terlihat bahagia akan kedatangan anggota baru dalam keluarga mereka.
"Kamu berangkat saja, Rey. Nanti terlambat," ujar Rere pada Rey.
"Yasudah, aku pergi dulu ya. Kalo mau apa-apa repotkan saja Lea, sepertinya dia pengangguran 24 jam," ucap Rey yang membuat Alea melotot.
"Enak aja, aku bukan seorang pengangguran ya," sungut Alea tidak terima.
"Memangnya apa yang kau lakukan? Kau asyik dengan drakormu saja," jawab Rey.
"Rey..." lerai Rere memandang suaminya. Rey hanya tersenyum melihat ekspresi Rere.
"Ma, pa. Rey pergi dulu ya," pamitnya.
Setelah itu ia beralih perut Rere dan sedikit menunduk, "papa pergi dulu ya nak, jangan nakal ya. Kalo mau apa-apa minta ke bibi mu ya," ucap Rey mengelus dan me*****m perut Rere. Alea hanya mendengus sebal karena kakaknya.
Tidak lupa juga ia men****m kening Rere sebelum pergi, "aku pergi dulu ya," pamitnya.
__ADS_1
"Main sosor aja, mataku ternodai tau," sungut Alea.
"Memangnya kenapa? Suka-sukaku dong. Kenapa kau cerewet sekali, tidak seperti adikmu," ujar Rey membuat Alea menoleh ke arah Alvaro yang sedang asik bermain game online miliknya.
"Diakan memang batu, makanya diam tidak pernah bicara," ketus Alea. Alvaro tidak menanggapi ucapan dari Alea, dia hanya asyik memainkan game online-nya.
"Sudahlah, nanti kau terlambat," lerai Rere lagi. Jika di teruskan tidak akan pernah ada habisnya kakak dan adik itu beradu mulut.
Reypun menurut dengan ucapan Rere, dia memutuskan untuk segera berangkat menuju perusahaan karena pekerjaan yang sudah sangat menumpuk.
Rey memilih membawa Rere ke rumah keluarganya karena letak rumah sakit dan rumahnya lumayan dekat. Dan juga itu searah menuju perusahaan miliknya.
"Hai kakaak... apa boleh aku mengelus perutmu?" Tanya Alea mendekat ke arah Rere.
"Boleh, coba ajak dia berbicara," jawab Rere.
"Apa dia akan mendengarku?" Tanya Alea.
"Iya, cobalah."
Alea senang karena Rere memperbolehkannya untuk mengelus calon keponakannya itu.
"Kalo bibi... nggak mau ah. Nanti seperti bibi-bibi di rumah ini lagi," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Dia kembali berfikir dengan meletakkan jari telunjuknya di dagu, "kalo tante... nggak mau juga ah. Kelihatan tua nanti," sambungnya lagi.
"Kau memang sudah tua kakak, apa kau tidak menyadarinya?" Sahut Alvaro yang masih fokus memainkan game online di ponselnya.
"Sudah diamlah," sungut Alea. Ia kembali fokus dengan apa yang di bicarakan tadi.
"Manggilnya aunty saja deh, biar keren," ucapnya lagi.
Semua geleng-geleng melihat tingkah Alea.
"Hai baby... ini auntymu yang paling cantik. Cepat lahir ya, nanti aunty kasih hadiah yang banyak," ujar Alea mengelus perut Rere dan mendapat sambutan tendangan.
"Waahh... dia mendengarku," ucap Alea girang.
"Sudahlah Lea, biarkan kakakmu itu istirahat dulu. Dia butuh banyak istirahat," sahut mama.
__ADS_1
Disisi seberang...
Pria tampan blasteran memiliki hidung mancung dan tinggi badan yang sempurna membuat siapa saja melihat wajah tampan itu tergila-gila. Ia sedang duduk menikmati anggur merah dan memandang lekat foto yang ia dapatkan dari anak buahnya.
Pria blasteran itu menatap dendam melihat foto yang ia pegang. Ia tidak terima jika kakak satu-satunya tewas di tangan orang yang berada di foto itu.
"Aku pastikan kau membayar atas kematian kakakku nyonya Abraham," ujarnya meremat foto itu hingga tidak berbentuk. Wajahnya memerah menahan amarah saat ini.
Benar sekali jika itu adalah foto Rere yang ia pegang tadi.
"Apa yang harus saya lakukan tuan?" Tanya anak buahnya.
"Aku dengar dia saat ini sedang mengandung buah hatinya yang pertama," imbuhnya lagi.
Pria itu seperti mendapat ide bagus mendengar laporan dari anak buahnya.
"Kita bisa gunakan itu, kita akan menyandera anaknya untuk memancing dia nanti. Aku tidak mau gegabah untuk sekarang, biarkan mereka menikmati masa-masa bahagianya," ujarnya dengan menujukkan smirk jahat di wajahnya.
"Kau pantau lagi mereka, aku ingin memperkuat lagi mafia kakakku yang baru saja aku bentuk kembali," di memberikan perintah dengan tegas.
"Aku banyak mendengar jika wanita ini bukanlah wanita sembarangan, ia tidak mudah terkalahkan. Banyak dari kalangan mafia sudah dia tumbangkan, banyak juga dari kalangan mafia menyegani wanita ini karena kekejamannya," sambungnya sambil menyesap anggur merah yang ada di gelas.
"Dia memang cantik dan terlihat kalem, tapi siapa sangkah di balik wajah kalem itu menyimpan kebengisan yang membuat siapa saja takut."
"Baiklah tuan, tapi sepertinya tidak mudah juga menyusup ke dalam anggota mereka. Aku sudah mencoba menyusupkan anggota kita kesana tetapi hasilnya nihil, mereka lenyap di tangan kanan wanita itu," terang anak buahnya yang tak lain juga tangan kanan si pria itu.
"Tangan kanan dari wanita itu juga tidak bisa di ragukan lagi tuan, dia juga sangat kejam dan tidak akan membiarkan siapa saja mudah memasuki anggota mereka."
Masih ingatkah jika Daniel mengatakan kalau sempat ada kecoa masuk, maka itulah orangnya. Dia salah satu anak buah dari pria yang memiliki dendam pada Rere.
Dia berakhir di tangan Daniel, Daniel sama halnya dengan Rere. Dia tidak akan pernah membiarkan penyusup ataupun pembelot merasa tenang.
"Lakukan usaha sebisamu, dan pantau dia dari kejauhan. Pantau setiap kegiatannya dan termasuk orang-orang terdekat wanita itu," perintahnya lagi.
"Baik tuan."
"Tunggu kedatanganku, aku tidak akan membiarkanmu dan orang di sekitarmu merasa tenang. Mungkin bukan waktu sekarang, tapi beberapa tahun lagi aku pastikan kau membayar atas kematian kakakku," ujarnya dengan penuh dendam.
Siapakah pria yang mempunyai dendam itu?
__ADS_1
Apakah dia akan berhasil untuk mengalahkan Rere?