
"Aku ingin memakan sesuatu," ujar Rere pada Rey.
"Apa itu?" Tanya Rey.
"Aku ingin makan keripik kentang rasa coklat," jawab Rere.
"Mana ada keripik seperti itu." Ujar Rey dengan raut wajah masam.
"Kenapa yang kau inginkan sangat aneh, nyonya?" Ucap Daniel tak kalah heran.
"Pokoknya aku mau itu," jawab Rere kekeh.
"Oke.. oke.. sabar ya. Aku akan telfon pabriknya untuk memesan yang kau inginkan."
"Benar ya," sahut Rere dengan wajah berbinar. Rey pun menganggukkan kepala dan mengambil ponsel di saku celananya.
Ia segera mencari informasi terlebih dahulu, lalu menghubungi pihak terkait untuk mengantarkan pesanan yang di minta Rere ke kediaman mereka.
***
"Waahhh bangunan ini luas sekali," ucap Lalita terkagum-kagum akan kemegahan dan luasnya markas milik Rere. Ia masih berkeliling bersama Agnes dan Celo.
"Ini tempat apa kak?" Tanya Lalita pada Agnes.
"Ini adalah markas, dan markas ini milik bu boss." Jawab Agnes.
"Apa? Markas?"
"Iya... tempat ini adalah tempat di mana semua anak anggota bu boss... banyak dari mereka adalah orang yang tidak punya tempat tinggal dan keluarga. Bu boss melatih mereka semua tanpa pamrih," terang Agnes. Lalita semakin terkagum-kagum dengan kakaknya yang memang memiliki sifat baik dan suka menolong siapa saja.
"Tapi, kayaknya kakak jarang sekali kesini?" Ujar Lalita lagi.
"Bu boss kesini kalau ada hal yang mendesak saja. Semuanya sudah ia serahkan pada Daniel," jelas Agnes lagi.
"Berapa banyak anggota di sini?" Tanya Lalita yang semakin ingin tahu.
"Kalo di sini... mungkin hanya berkisar 3000 orang. Kalau di Amerika lebih banyak lagi. Karena di sana markas pusat kami," jawab Agnes.
"Waahhh... banyak sekali. Berarti ini hanya markas cabangnya?" Tanya Lalita lagi dan di angguki oleh Agnes.
"Ini aja udah segede ini? Apa lagi yang berada di Amerika?" Gumam Lalita masih merasa kagum.
"Apa kau ingin melihat ke tempat latihan kami?" Tawar Agnes.
Lalita pun mengiyakan tawaran Agnes.
Agnes pun membawa Lalita ke tempat di mana semua orang latihan. Agnes mengajak Lalita ke lapangan cukup luas di mana di sana banyak sekali anggota sedang berlatih.
Mulai dari bela diri, bermain pedang, menembak dan masih banyak lagi.
"Waahh... ramai sekali ya."
"Sudah aku bilang kan onty. Onty pasti akan suka di sini," sahut Celo melihat Lalita terkagum-kagum sedari tadi. Lalita hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Di sini tempat untuk semua anggota. Tapi kalo untuk bu boss ada tempat khusus."
"Benarkah?"
"Kau mau lihat?" Tanya Agnes.
__ADS_1
"Kalau boleh," jawab Lalita.
Agnes pun membawa Lalita untuk untuk ke tempat khusus Rere latihan.
Tempat untuk Rere memang hampir sama dengan yang lainnya. Hanya saja tidak di buat luas, di sana juga terdapat sekatan separuh badan karena biasanya tempat itu bukan hanya buat Rere. Tapi seperti Daniel, Agnes dan Liam berlatih di situ.
Tempat itu di buatkan khusus untuk petinggi inti di sana.
Di tempat khusus itu juga terdapat koleksi senjata kesayangan dari mereka ber empat berjejer-jejer dengan rapi.
"Waahh... senjatanya bagus-bagus," takjub Lalita memandang senjata itu.
"Ini koleksi kesayangan dari kita semua," sahut Agnes.
Lalita pun menanyakan banyak hal pada Agnes karena rasa ingin tahunya. Hingga tidak terasa waktu sudah sore.
"Onty, ayo kita ke dalam. Mama pasti sudah mencari kita," ajak Celo.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam dan berkumpul.
Benar saja, di dalam Rere dan Rey sudah menunggunya dari tadi.
"Gimana? Sudah puas kelilingnya?" Tanya Rere melihat Lalita masuk ke dalam.
Lalita menagangguk sebagai jawabannya.
Waktu yang sudah menunjukkan waktu sore, Rere pun segera mengajak untuk kembali pulang.
Sedangkan di kediaman Rey...
"Permisi... apa benar ini rumah tuan Rey Abraham," tanya orang itu.
"Ini pak. Saya mengantar paket pesanan tuan Rey tadi," jawab pengantar paket itu.
"Oohh... silahkan masuk," ujar penjaga gerbang membukakan pintu gerbang.
Pengantar paket itupun membawa mobil angkutannya masuk.
"Permisi, ini paket untuk tuan Rey. Taruh di mana ya?"
"Langsung bawa masuk ke dalam saja pak," jawab salah satu ART di sana.
Pengantar paket membawakan 3 box besar untuk masuk ke dalam.
Setelah paket itu mendarat dengan selamat, pengantar paket itu pun kembali melanjtkan mengantarkan paket yang lainnya.
Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Rey mamasuki halaman rumah.
Mobil berhenti, mereka semua keluar dari dalam mobil.
"Nyonya, tuan, ini ada paket baru saja tiba." Ucap salah satu ART tadi.
"Paket? Apa itu bi?" Tanya Rere penasaran.
Ia pun membuka paket yang baru saja datang itu. Saat di buka, matanya berbinar melihat isi dari dalam box besar itu.
"Waaah... ini untukku? Terima kasih Rey." Rere sangat senang melihat isinya.
Lalita yang penasaran ikut melihat. "Waahh sepertinya enak sekali," sahut Lalita.
__ADS_1
"Tapi... ke dua box itu apa? Apa isinya sama?" Rere pun mencoba membuka 2 box tersebut.
"Kau ingin berjualan atau gimana kak? Kenapa beli banyak sekali?" Sungut Lalita menoleh ke arah Rey.
"Sudah lah tidak apa. Buat stok di rumah. Bisa juga nanti di bagikan ke seluruh penghuni rumah." Jawab Rey dengan santainya.
Isi dari box besar itu tak lain adalah keripik kentang yang di minta oleh Rere tadi. 2 box berisi keripik kentang rasa coklat. Yang 2 boxnya berisi beraneka ragam rasanya.
"Tapi tidak segini banyak juga Rey. Kau ini," ucap Rere sedikit kesal.
"Tidak apa, sayang. Biar nanti kamu tinggal ambil jika menginginkannya," jawab Rey. Rere menepok jidatnya sendiri.
"Mama... Celo mau," sahut Celo meminta keripik kentang itu.
"Ini buat Celo. Tapi tidak boleh banyak-banyak ya," tutur Rere.
"Papa... sekalian belikan Celo ice cleam satu kulkas," celoteh Celo.
"Waahh... kau benar sekali anak tuyul. Sepertinya ide yang bagus. Juga berbagai coklat sepertinya enak sekali," Lalita membayangkan berbagai coklat di hadapannya.
Celo mengangguk setuju sambil memakan keripik yang dia bawa.
"Nanti papa pesankan oke," jawab Rey pada Celo.
"Kalian ini. Kenapa semakin menjadi-jadi. Lama-lama rumah ini menjadi supermarket," ketus Rere.
"Biarkan saja, sayang. Kalau tidak seperti ini, uangku tidak akan pernah keluar. Kamu kan tidak pernah meminta apa-apa dariku," jawab Rey.
"Aku tidak menginginkan barang-barang mewah atau apa itu, Rey. Kau juga sudah sering memberikan aku hadiah-hadiah yang lainnya. Yang aku inginkan hanya bisa hidup bahagia bersamamu dan keluarga kecil kita nantinya." Jawab Rere apa adanya.
Meskipun mereka berdua bergelimang harta, memilik perusahaan yang sudah cukup terkenal di mana-mana tapi itu tidak membuat Rere ataupun Rey memamerkan apa yang mereka punya. Rere pun memilih hidup sederhana, bahkan dia pun juga sering memakai baju yang terbilang biasa. Meskipun banyak sekali baju branded di dalam ruang gantinya.
"Kau memang yang terbaik," Rey meng***p kening Rere singkat.
"Astaga. Aku yang jomblo bisa apa," ucap Lalita melihat keromantisan kakaknya.
"Sekalian kau bangun saja sepurmarket mini di rumahmu kak. Biar nanti barang-barang habis tidak perlu keluar jauh," saran Lalita yang memang ada benarnya juga.
Rere pun menimbang-nimbang ucapan dari Lalita. Memang terkadang dia konyol, tapi juga terkadang itu masuk akal juga.
"Sepertinya oke juga itu," ucap Rere menyetujui.
Mereka pun menikmati keripik kentang yang di pesankan oleh Rey tadi.
Tidak lupa juga Rere membagikannya pada seluruh penghuni rumah disana. Karena memang sangat banyak keripik yang di pesankan Rey.
Di tengah-tengah mereka menikmati keripik itu, Rey kembali merasa mual. Dia pun memutuskan untuk berlari ke kamar mandi yang berada di lantai bawah.
"Laaahh... kak Rey kenapa itu?" Ucap Lalita bingung.
"Sepertinya dia merasa mual lagi," jawab Rere menyusul Rey.
Dan benar saja jika Rey saat kembali memuntahkan isi perutnya.
Hueekk... hueekk...
Reree mengelus lembut punggung Rey. Rey pun terlihat lemas setelahnya.
"Apa kau tidak apa, Rey. Kita ke rumah sakit saja ya." Ajak Rere.
__ADS_1
"Tidak perlu, sayang. Mungkin hanya masuk angin."