
Gerbang pintu yang berdiri kokoh dan megah itu terbuka saat mobil Rey tiba.
Mobil berhenti di halaman depan, Rey dan Rere keluar dari dalam mobil. Mereka masuk kedalam rumah dengan suasana yang sangat sepi.
"Celo sama Lita kemana, bi?" Tanya Rere saat ada salah satu ART melintas.
"Tadi katanya main ke cafe, nyonya," jawabnya.
"Yasudah, lanjutkan lagi pekerjaan bibi."
Rere duduk di ruang berkumpul seperti biasa sambil menyalakan layar lebar itu. Tidak lupa juga ia membawa keripik kentang rasa coklat yang di pesankan oleh Rey kemarin.
"Apa itu enak?" Ucap Rey ikut duduk di sebelah Rere.
"Sekali," jawab Rere singkat sambil mengunyah keripik yang ia bawah.
"Aku mau coba," Rey ingin menyomot keripik dari tangan Rere.
Plak...
Rere memukul telapak tangan Rey.
"Auuhh... sakit, sayang." Ringis Rey mendapat pukulan.
"Ambil saja sana sendiri," sungut Rere sedikit galak.
"Kenapa galak sekali," gerutu Rey. Ia pun melangkah malas mengambil keripik seperti Rere.
Rey segera kembali dan duduk. Ia mulai menikmati keripik kentang dengan lahap tidak berhenti.
"Enak kan?" Sahut Rere.
"Eemm... ennak." Jawab Rey terus menerus memasukkan keripik kedalam mulutnya.
Rere hanya terkekeh melihat tingkah Rey yang seperti Celo.
Tak lama kemudian, Celo, Lalita dan Agnes tiba.
"Mamaa... papa..." teriak Celo melihat mama dan papanya sudah di rumah.
"Dari mana, hmm?"
"Makan ice cleam," jawab Celo.
"Mana ada, satu cafe dia pesan semua." Sahut Lalita.
"Papa... mana ice cleam yang Celo minta kemalin?" Tagih Celo dengan ice creamnya.
"Aahh... iya. Papa lupa, maaf ya sayang. Biar papa pesankan sekarang, oke?" Rey pun merogoh ponselnya dan segera memesankan apa yang di minta Celo.
"Memangnya minta ice cream apa sih?" Sahut Agnes yang tertinggal.
"Ice cleam satu kulkas," jawab Celo mencomot keripik dari Rere.
"Kenapa gak sekalian satu pabrik aja," jawab Agnes.
"Celo kan masih kecil onty. Kalo Celo udah besal nanti Celo beli satu pablik," celoteh Celo.
Pukul 2 siang.
__ADS_1
Truk datang mengantarkan ice cream yang di pesan Rey tadi.
Ice cream dengan merk yang cukup populer itu di turunkan dari truk.
"Waahh... lihat onty, ice cleamnya datang." Ucap Celo girang.
"Waahh... akhirnya kita bisa menikmati ice cream kapan saja." Ucap Lalita tak kalah antusias.
"Ini taruh di mana, nona?"
"Taruh di dapur situ pak." Jawab Lalita. Para petugas yang membawa kulkas itu pun melangkahkan kaki ke dapur.
"Terima kasih ya, pak."
Perugas itu pun menundukkan kepala dan pamit untuk kembali.
Tak lama kemudian datang lagi truk pengantar paket yang berhenti di sana.
"Eh.. itu apa lagi ya, Lo?" Tanya Lalita bingung.
Pengantar paket itu membawa box lumayan besar.
"Nona... ini paket untuk tuan Rey." Ucapnya sambil menaruh box itu di lantai.
"Terima kasih pak." Lalita dan Celo pun masuk ke dalam dengan membawa box itu.
"Ini kira-kira apa ya, Lo?"
"Kita buka saja onty," ajak Celo di setujui Lalita. Mereka pun membuka box paket itu.
"Waahhh... coklat?" Ucap Celo dan Lalita bersamaan.
Box besar itu berisi coklat berbagai macam di dalamnya.
"Kalau begini, kita betah kalau di rumah setiap hari ya Lo." Ucap Lalita dengan senangnya.
"Benal sekali onty. Celo mau 1," Celo mengulurkan tangannya. Lalita tanpa ba bi bu be bo memberikan coklat itu pada Celo.
"Apa kirimannya sudah datang," tanya Rey yang baru turun dari tangga.
Lalita dan Celo hanya mengangguk menikmati coklat.
"Sepertinya enak sekali ya. Celo... tidak boleh makan banyak-banyak. Nanti giginya bisa ompong, mau?" Sahut Rere.
"No, mama. Celo cuma makan satu kok." Jawab Celo sambil menunjukkan coklat yang ia bawa.
"Jangan lupa minimarketnya sekalian," ujar Lalita.
"Tenang saja. 2 bulan nanti juga akan selesai," jawab Rey enteng.
"Beneran?" Lalita melototkan matanya.
"Tentu saja," jawab Rey lagi.
"Biar nanti kalian tidak perlu keluar jauh-jauh jika persediaan di rumah habis," sambung Rey.
"Sultan mah, apa aja boleh ya." Celetuk Lalita.
"Lama-lama rumah ini juga nanti akan jadi kebun binatang kayaknya," cetus Lalita mengingat ada 2 anak harimau di rumah megah itu.
__ADS_1
Bahkan Rey membuatkan seperti di alam bebasnya untuk 2 pasang harimau itu.
Tapi, bagi Lalita apa yang di lakukan Rey itu adalah masih wajar. Dia sering melihat yang lebih wah dari para sultan di luaran sana.
Waktu cepat berlalu kini malam pun tiba. Jarum jam sudah menunjukkan di angka 9.
Saat ini Celo berada di kamar sang mama dan papa.
"Celo... kalau Celo punya adik mau tidak?" Tanya Rere memulai percakapan.
"Adik? Mama mau kasih Celo adik?" Tanya Celo. Rere mengangguk.
"Mana adik Celo sekalang?" Tanyanya antusias.
"Bial Celo bisa ajak main," sambungnya lagi.
"Adik Celo ada di perut mama sekarang," jawab Rey sambil mengelus perut Rere yang masih Rata.
Pandangan Celo ikut ke arah perut sang mama. Ia menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mama makan adik, Celo?" Tanyanya dengan air mata yang sudah luruh.
Hiks... hiks...
Rere dan Rey kaget melihat reaksi Celo.
"Eehh... kenapa Celo nangis? Katanya mau adik?" Tanya Rey lembut.
"Huuaah... mama jahat. Mama makan adik Celo." Tangisnya semakin kencang.
Rey pun terkekeh karena di buatnya.
"Sini sama papa," Rey mengangkat tubuh Celo dan mendudukkan di atas pangkuannya.
"Mama tidak jahat sayang. Dulu waktu belum lahir Celo juga berada di dalam perut mama." Jelas Rey.
"Benalkah? Bagaimana Celo bisa di dalam pelut mama?" Tanya Celo ingin tahu dan masih sesenggukan.
Rey dan Rere di buat kalang kabut dengan pertanyaan Celo.
"Celo... semua orang dulu juga berada di dalam perut ibunya masing-masing. Dulu mama sama papa juga begitu sebelum lahir. Mama dulu juga kecil seperti Celo sekarang," sahut Rere.
"Benalkah itu, papa?" Tanya Celo menoleh ke arah Rey.
"Benar. Dulu papa juga kecil seperti Celo."
"Celo akan punya 2 adik nanti," sambung Rey pada Celo.
"Dua? Benalkah mama?" Rere mengangguk.
"Yeeyyy... Celo akan banyak teman nanti." Girang Celo.
"Ada Lucas, Lucia dan adik Celo." Sambung Celo dengan senangnya.
Rere yang melihat reaksi Celo tersenyum senang. Memang benar apa yang di katakan oleh suaminya, Celo akan merasa senang.
"Celo sekarang bobok dulu ya. Sudah malam," ujar Rey.
"Celo mau tidul sama mama dan papa. Sama adik Celo juga," bujuk Celo.
__ADS_1
"Yaudah. Kita tidur rame-rame ya," jawab Rere kemudian merebahkan dirinya.
Celo ikut berbaring di samping Rere di ikuti Rey. Celo berada di tengah-tengah antara mereka.