
Di kediaman Rey...
"Huuaah... mama sama papa kemana? Kenapa ninggalin Celo?" Tangis Celo terdengar kencang setelah melihat papa dan mamanya tidak ada di kamar mereka.
"Anak tuyul, kenapa pagi-pagi nangis? Biasanya nggak pernah nangis juga." Sungut Lalita mendengar tangisan Celo.
"Mama sama papa tidak ada aunty," ucapnya masih terisak.
"Lah iya ya... kemana perginya? Pagi-pagi sudah nggak ada di rumah begini?" Lalita ikut bingung.
Salah satu ART yang mendengar suara tangisan Celo segera datang menghampiri.
"Nona, tuan kecil. Bibi mau kasih tau, nyonya sama tuan tadi tengah malam ke rumah sakit katanya."
"Tengah malam? Memangnya kenapa bi?" Tanya Lalita.
"Nyonya mau lahiran katanya. Waktu berangkat tidak sempat memberitahu, soalnya di luar prediksi." Jawab ART itu lagi.
"Oke deh bi, makasih ya."
"Ayo kita mandi. Setelah itu kita lihat adik Celo." Ajak Lalita pada Celo. Celo pun menghentikan tangisnya.
"Apa adik Celo sudah keluar?" Tanyanya.
"Sepertinya iya. Ya sudah ayo cepat," ajak Lalita. Celo pun bersemangat mengikuti perintah dari aunty nya.
Sedangkan di rumah sakit...
"Dasar anak nakal. Bisa-bisanya kamu tidak memberitahukan kami kalau cucu mama ini lahir," sungut mama Alma memukul lengan Rey begitu kuat.
Bayi yang berada di gendongan mama Alma itu pun menangis karena terkejut.
Ooek... oeekk...
"Aduh sakit, ma. Tuh kan, cucunya nangis tu kaget dengan suara mama." Ujar Rey mengelus lengannya.
"Salah sendiri." Sungut mama sambil menepuk-nepuk tubuh kecil itu.
"Kita kan juga mendadak ma. Kata dokter kan masih 3 hari lagi." Elak Rey membela dirinya.
Memang sebelumnya dokter sudah mengatakan kemungkinan masih 3 hari lagi. Tapi, sepertinya lebih cepat dari prediksi itu.
"Sudahlah besan. Lihat cucu-cucu kita ini. Cantik dan tampan," sahut mama Dias yang menggendong bayi perempuan. Dia tersenyum bahagia melihat wajah mungil itu.
"Celo mama Rey?" Tanya papa Haris.
"Celo masih di rumah. Mungkin sebentar lagi dia akan kesini sama Lalita. Semalam kita buru-buru tidak sempat bilang padanya." Jawab Rey.
__ADS_1
"Kau hebat sekali kak. Bisa membuat bayi kembar ini," celetuk Alea melihat wajah kecil itu.
"Apa kau mau resepnya?" Rey mendapat pukulan dari Rere karena perkataannya.
"Kau ini ada-ada saja," sungut Rere sedikit malu.
"Iyakaan... siapa tau aja nanti Lea juga pengen anak kembar kayak kita," jawab Rey asal-asalan.
"Enak aja... aku belum nikah ya. Jangan ngadi-ngadi," sahut Alea. Ia mencebikkan bibirnya kesal dengan ucapan sang kakak.
Tidak lama kemudian, Celo, Lalita dan Agnes tiba di sana.
"Mama... papa... Celo dataang." Girang Celo.
"Eehh... cucu oma sama opa sudah datang. Ganteng sekali sih cucu oma ini." Ucap mama Alma.
"Halo oma, opa." Sapa Celo dengan tersenyum lebar.
"Mana adik Celo ma, pa?" Tanya Celo.
"Ini adik-adik Celo. Mereka cantik dan tampan. Sama seperti Celo." Puji mama Dias. Celo pun mendekat ke arah ke dua adiknya.
"Waahh... adik Celo benar-benar ada dua." Girang Celo menc!um lembut pipi adik-adiknya.
"Haii adik... kakak sudah datang." Sapa Celo. Salah satu dari mereka mengerjapkan matanya.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat kegirangan pada Celo. Kebahagian terpancar dari kedua keluarga itu.
"Sini sama opa," panggil papa Haris, papanya Rey. Celo pun mendekat opa nya. Papa Haris meletakkan tubuh Celo di atas pangkuannya.
"Apa Celo sudah ada nama buat adik?" Tanyanya.
"Sudah, opa. Namanya Clara dan Calvin." Celoteh Celo dengan semangat.
"Apa Celo yang memberi nama pada adik-adik Celo?" Sahut papa Xander.
"Tentu saja opa. Itu nama spesial yang Celo pilihkan," jawabnya lagi.
Ruangan itu pun menjadi semakin ramai karena ucapan-ucapan dari Celo yang memang sedang aktif-aktifnya.
Siang harinya, ruangan itu sudah kembali sepi karena kedua keluarga itu memutuskan pulang terlebih dahulu.
.
.
A'C Company...
__ADS_1
"Kau ini kenapa sih?" Sungut Arin pada Liam.
Entah apa lagi yang membuat dua orang itu kembali bergaduh. Tidak bergaduh sepetinya hari-hari mereka terasa hambar.
"Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain," jawab Liam blak-blakan.
"Memangnya aku siapa bagimu?" Sentak Arin.
"Sekarang memang belum. Tunggu saja nanti," jawab Liam tegas. Arin pun bertanya-tanya dengan apa yang baru saja ia dengar dari Liam.
Seringkali Arin bingung dengan tingkah Liam padanya, ia selalu saja tidak di perbolehlan jika berdekatan dengan pria lain.
"Setelah makan siang ini, aku akan melihat nyonya. Kau ikut tidak?" Arin tidak menyahuti perkataan Liam karena masih kesal Liam menyeret tangannya.
"Yasudah. Aku pergi sendiri saja," jawab Liam.
"Nanti malam saja kenapa. Kerjaanku masih banyak kalau siang ini," sahut Arin sedikit ketus.
"Oke. Setelah jam kantor selesai kita akan berangkat nanti. Selesaikan peekrjaanmu. Aku tidak mau menunggu lama-lama. Kalau tidak, akan aku tinggal." Ucap Liam yang tidak bisa di bantah
Arin hanya bisa mencebikkan bibirnya kesal dengan Liam yang selalu saja tidak bisa di bantah.
Usai jam kantor, seperti apa yang di bilang oleh Liam tadi. Mereka pun segera menuju rumah sakit untuk melihat baby twins.
"Kita ke toko perlengkapan bayi dulu ya. Aku mau beli sesuatu buat si kembar." Ajak Arin di setujui oleh Liam.
Liam melajukan mobilnya membelah jalanan kota di malam hari. Sesampainya di toko perlengkapan bayi, Arin pun segera turun di ikuti oleh Liam.
Mereka pun memilih-milih beberapa set pakaian kembar yang lucu. Beberapa pasang mata yang melihat dua orang itu pun merasa iri. Mereka mengira jika dua orang itu adalah calon mama dan papa baru.
Arin cuek begitu saja membiarkan ucapan dan tatapan orang-orang di sana. Selesai memilih, mereka membayar dan melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung saja menuju ruang di mana tempat Rere sekarang.
"Halo semuaaa..." ucapnya di ambang pintu. Semua orang yang berada di dalam menoleh ke arah sumber suara.
"Mana keponakan kembarku. Aku ingin melihat mereka," ucap Arin antusias.
"Pelankan suaramu. Nanti mereka menangis mendengar suara cemprengmu itu." Sahut Daniel yang sudah ada di sana sejak tadi.
"Diam kau cunguk." Arin pun segera melihat ke dua bayi kembar itu di dalam box yang berada di ruangan itu.
Liam hanya memandang apa yang di lakukan oleh Arin. Begitu juga dengan Daniel, tatapan matanya sekarang tertuju pada Lalita yang sedang bermain dengan Celo.
"Kalau kalian suka kenapa gak bilang saja sih. Heran aku melihatnya. Keburu di embat orang baru tau rasa," Sindir Rere melihat kedua orang itu.
Mereka yang mendapat sindiran dari Rere tidak merasa.
__ADS_1
"Kau berbicara dengan siapa, sayang?" Sahut Rey yang tau arah pembicaraan Rere.