
Kembali lagi di waktu siang tadi, dimana Sisil berjalan masuk ke dalam gedung tua. Disana sudah ada Daniel dan beberapa anak buahnya yang bersembunyi dan bersiap-siap untuk menangkap Sisil.
Sisil berjalan melenggak-lenggok ketika melihat Daniel, "haii tampan, apa kau kesini untuk meenemuiku?" Dengan PDnya ia mengatakan itu.
"Tentu saja tidak, aku kesini untuk mengambil nyawamu," jawab Daniel dengan tersenyum sinis.
"Memangnya siapa kau, heh?" Tanyanya dengan senyum remeh.
"Aku?" Dengan alis terangkat sebelah.
Daniel berjalan mendekat ke arah Sisil, "aku adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawamu karena sudah berani mengusik nonaku," bisiknya di telinga Sisil.
Emosi Sisil memuncak mendengar bisikan Daniel ,"berani-beraninya kau," teriaknya.
Daniel memberi aba-aba pada anak buahnya untuk menangkap Sisil, seketika itu Sisil di seret ke luar dan di bawa ke markas.
"Hey lepas kan aku," teriaknya sambil meronta-ronta untuk di lepaskan.
Mereka membawa Sisil ke markas dan mengikatnya agar tidak bisa kabur.
"Heeyy... apa kau tuli, lepaskan aku pria brengsek," teriaknya pada Daniel di dalam ruangan yang sangat menakutkan itu. Daniel tidak memperdulikan teriakan demi teriakan dari mulut Sisil.
"Diamlah nona, atau timah panas ini menembus tubuh mulusmu itu," sentak anak buah yang berjaga di situ.
Akhirnya Sisil terdiam, dia tidak mau jika hari malam ini malam terakhir baginya bernafas.
Balik lagi ke Rere dan Rey.
Rey sedari tadi membujuk Rere tapi upayanya tidak membuahkan hasil.
"Rere... sayaang, dengarkan aku. Aku tidak melarangmu memakan makanan itu, tapi lihat kondisimu saat ini sayang, jangan terlalu banyak memakannya. Tidak baik untuk anak kita, dia juga butuh makanan yang bergizi," jelas Rey dengan hati-hati. Rere yang mendengar kata anak akhirnya luluh.
"Maaf," cicitnya.
"Tak apa, sekarang kita istirahat," ajak Rey di angguki oleh Rere.
Akhirnya mereka tertidur dengan lelap, Rere meringsut memeluk erat tubuh Rey.
Keesokan paginya, sepasang suami istri itu sudah selesai sarapan, hari ini Rey ingin datang ke markas melihat siapa dalamg di balik penyerangan istrinya kemarin.
"Aku pergi dulu ya, kalau nanti ingin apa-apa hubungi aku," pamit Rey.
"Iya hati-hati," ucap Rere.
Rey segera pergi melesat membelah jalanan kota, bukannya ke perusahaan melainkan pergi ke markas.
Rere masuk ke dalam rumah segera menghubungi Agnes, dia berencana untuk pergi ke markas juga hari ini tanpa sepengetahuan Rey.
"Cepat kesini jemput aku, aku mau ke markas hari ini," ucap Rere saat panggilan telfonnya terhubung. Setelah mengatakan itu Rere langsung saja mematikan sambungan telfonnnya secara sepihak.
Agnes menggerutu kesal di ujung sana karena bu boss nya itu.
__ADS_1
"Astaga... belum juga jawab udah di matiin," gerutu Agned kesal.
Agnespun segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Rere saat ini.
Saat tiba mereka berdua langsung saja menuju markas.
Melihat ke sisi Rey yang sudah sampai di markas, ia segera menemui Daniel.
"Bagaimana Niel?" Tanyanya yang baru saja tiba.
"Ikuti aku," jawab Daniel membawa Rey ke ruang bawah tanah. Di mana Sisil di sekap.
Saat keduanya tiba di ruang bawah tanah, Sisil yang melihat ada Rey di sana memanfaatkan susasana.
"Hiiks... hikss... Rey, tolong aku. Mereka semua menculikku," ucapnya sambil mengeluarkan air mata buaya.
Rey tidak mengindahkan ucapan Sisil, "apa dia dalangnya, Niel?" Tanyanya.
"Benar sekali tuan, dia sudah menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan nona, eh maksudku nyonya," jawabnya dengan membenarkan panggilannya pada Rere.
"Buka pintunya, aku ingin memberika pelajaran pada wanita ini," perintah Rey. Rey terlihat murka saat tau Sisillah dalangnya.
Sisil merasa senang saat Rey masuk, ia semakin memanfaatkan situasi yang ada, "hiks... hiks... tolong lepaskan aku. Aku takut," ucapnya dengan wajah yang di buat-buat.
"Rey..."
Klek...
Di luar dugaan Rey justru menodongkan pistol ke arah Sisil, ia menyambarnya dari salah satu penjaga di sana.
"Diam kau," bentaknya.
"Dasar wanita tidak tau diri, tempat ini pantas untukmu," sambungnya sambil menekankan pistol di kepala Sisil.
"Rey... tapi aku tidak bersalah," elaknya.
Doorr... dorr... dor...
Rey menembakkan peluru itu kesembarang arah untuk melampiaskan kemarahannya.
"Jika saja Rere tidak mengandung, aku sendiri yang akan menghabisi wanita sepertimu," ucapnya melenggang pergi,
Saat keluar, dia melihat sosok cantik yang ia kenal berdiri di hadapannya. Daniel yang ikut melihat hanya menelan ludahnya kasar.
Glek...
'Mampus, sepertinya singa betina bangun' batin Daniel.
Rere sudah tiba sedari tadi, ia sedang mencari Daniel dan anak buahnya memberi tahu jika Daniel di ruang bawah tanah bersama dengan Rey.
Rere bertanya-tanya untuk apa ada Rey di sini. Dugaannya semakin kuat mengenai Rey.
__ADS_1
Rere sedari tadi melihat semuanya, namun dia hanya diam menyaksikan. Agnes yang sedari tadi berada di sampingnya juga hanya bisa diam, dia harap-harap cemas jika Rere tau kalau Rey mengikuti jejaknya.
Rere melangkahkan kakinya ke arah Sisil, dia berjalan dengan tatapan diginnya. Daniel yang melihat ekspresi wajah Rere hanya diam, karena Rere sudah dalam mode marahnya.
"Wanita sialan, suruh mereka melepaskan aku," teriak Sisil saat Rere berdiri di hadapannya.
Rey ingin menyusul Rere tapi tangannya di cekal oleh Daniel, ia mengintruksikan agar membiarkan saja apa yang akan di lakukan oleh Rere dengan gelengan kepala, Reypun menurut.
Rere mensejajarkan badannya dengan Sisil, dan...
Sreett... srett...
Rere menyayat wajah cantik Sisil.
"Aaarkkh... kau apakan wajahku," bentaknya. Darah segar membanjiri kedua pipinya.
Sreett... sreett...
Kali ini Rere menyayat lengan Sisil. Sisil berteriak semakin kencang karena menahan perih.
"Apa yang kau lakukan, hah?" Bentaknya lagi. Namun Rere tetap diam.
Dan lagi-lagi...
Sreett... sreett... dia menambah sayatannya.
"Kau sudah berani mengusikku," tekan Rere.
"Rey... tolong aku. Lihat wanita ini, dia bukanlah wanita baik-baik. Dia seorang psikopat," teriaknya meminta tolong.
Sreett... sreett...
Rere kembali menambahkan sayatan setelah mendengar perkataan Sisil. Darah segar terus saja menetes.
"Yaa... aku memang paikopat, dan aku tidak segan-segan untuk menghabisimu. Sebelum kau ingin menyingkirkanku, harusnya cari dulu seperti apa lawanmu," ucap Rere. Dan lagi-lagi Rere kembali menyayat tubuh Sisil.
Sreett... srett...
Saat Rere mengangkat belati yang ia bawa, Rey segera menghentikannya dengan memeluk Rere dari belakang.
"Re... cukup sayang. Ingat, saat ini kamu sedang mengandung. Jangan sampai wanita ini mati di tanganmu, itu adalah pantangan untuk kita. Ayo kita keluar, biar Daniel dan lainnya yang mengurus," bujuk Rey.
Rerepun menurut, jika saja saat ini dia tidak mengandung, ia pasti sudah menghabisi orang di hadapannya itu.
"Kalian berdua," menatap Daniel dan Agnes bergantian.
"Ikuti aku," perintah Rere.
"Kau juga Rey," ucapnya dengan wajah dinginnya.
Mereka bertiga mmelangkahkan kakinya keluar menuju ruang berkumpul seperti biasa.
__ADS_1
Sisil masih saja meringis kesakitan karena lukisan-lukisan karya Rere. Semua hanya diam membiarkan saja menunggu perintah dari atasan mereka selanjutnya.
Rere memilih duduk di kursi tunggal saat di ruang berkumpul. Daniel dan Agnes menunduk diam, karena tau jika pimpinannya itu sedang mode marah.