
Tak lama brankar yang membawa Rere di pindahkan ke ruang rawat inap, Rey memerintahkan untuk membawa Rere ke ruang VVIP.
Reypun masuk, ia melihat jika istrinya terbaring lemah. Ia berjalan mendekat ke arah Rere dan duduk di kursi yang ada di samping brankar.
"Kami permisi dulu tuan," pamit perawat yang membawa Rere tadi. Rey hanya membalas dengan menganggukkan kepala.
Rey terus saja memandangi wajah pucat istrinya dan menggenggan tangan yang terdapat jarum infus.
"Eeengh..." Rey menoleh saat mendengar lenguhan Rere.
"Kamu sudah sadar, Re?" Tanya Rey melihat Rere mulai membuka matanya.
"Aku haus Rey," ucap Rere yang masih terdengar lemah. Rey pun mengambilkan air putih yang ada di meja.
"Sudah?" Tanya Rey yang hanya di angguki oleh Rere.
Reypun memencet tombol yang ada di atas brankar untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Rere.
"Anda sudah baik-baik saja nyonya, nanti sore anda sudah bisa pulang. Dan selamat atas kehamilan anda," ucap dokter setelah memeriksa Rere.
Rere yang mendengar ucapan dokter hanya diam mengelus perutnya yg masih rata, ia menahan air matanya agar tidsk jatuh.
"Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya. Jangan lupa minum vitaminnya," pamit sang dokter.
"Sekali lagi terima kasih dok," balas Rey.
Rey mendekat melihat Rere terdiam dan seperti ingin menangis, "kenapa Re?" Tanya Rey harap-harap cemas.
"Rey... aku akan menjadi seorang ibu," lirihnya dengan air mata yang tidak bisa lagi di bendung.
"Jangan menangis, aku tidak suka kamu menangis," ucap Rey menghapus air mata Rere.
"Aku tidak menangis, aku bahagia," jawab Rere menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rey.
Rere bangkit saat memngingat bagaimana tadi suaminya itu bisa bersama dengan Daniel, tidak seperti biasanya. Diapun memutuskan untuk bertanya, " Rey... bagaimana bisa tadi kau bersama Daniel? Dan juga, belajar dari mana tendanganmu tadi?" Cerca Rere yang mulai merasa curiga.
'Bagaimana aku menjawabnya' batin Rey.
Rey memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Rere, "tadi aku sedang ada urusan, kebetulan bertemu Daniel, dia memberitahuku jika kamu mendapat serangan. Dan untuk tendangan itu, aku tadi hanya reflek, mana mungkin aku berdiam diri membiarkan istriku dalam bahaya," jawab Rey meyakinkan Rere.
'Maafkan aku Re' batin Rey.
Rere hanya diam menatap wajah Rey dengan datar.
'Kau berbohong Rey, tendangan itu di lakukan orang yang sudah ahli. Apa yang kau sembunyikan dariku? Semoga saja dugaanku salah' batin Rere.
"Aku urus dulu untuk kepulangan nanti ya?" Ujar Rey m*****m kening Rere.
Di sisi seberang
Daniel di sambut oleh anak buahnya saat tiba di markas, "bagaimana dengan orang-orang itu?" Tanya Daniel yang terus saja melangkah menuju ruang bawah tanah.
"Menurut dari laporan yang saya dapat, mereka adalah pembunuh bayaran tuan," terangnya. Wajah Daniel menggelap mendengar itu.
"Siapa yang sudah berani mengusik nonaku?" Geram daniel menahan emosi.
__ADS_1
Sesampainya di ruang bawah tanah...
Braakk...
Daniel membanting pintu dengan kerasnya, semua yang ada di sana terkejut.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mengusik nonaku, hah?" Teriak Daniel. Orang-orang yang menyerang Rere tadi merasa menciut dengan teriakan Daniel.
"Jawab," teriaknya lagi.
Sreett... sreett...
Daniel yang tiba-tiba menyayat lengan salah satu dari orang-orang bertubuh kekar itu.
"Aaarrgh..." teriak orang tersebut kesakitan.
Melihat temannya seperti itu, salah satu dari merekapun membuka suara. Dia tidak ingin jika mengalami nasib yang lebih buruk lagi.
"A-ampun tuan. Ka-kami tidak mengetahuinya tuan, dia menyuruh kami melalui sambungan telfon. Dia seorang perempuan," jawab salah satu dari mereka dengan suara gemetar.
"Hubungi dia, dan katakan jika kalian berhasil. Katakan juga untuk bertemu di gedung tua di jalan Y," perintah Daniel yang menyerahkan ponsel pada salah satu dari mereka.
Mau tidak mau orang itu menuruti perintah Daniel.
"Halo, nona," saat panggilan terhubung.
"Saya sudah berhasil menyingkirkannya, temui aku di gedung tua jalan Y," sambungnya lagi.
"Hahahaa.... kerja bagus, aku akan memberikan sisanya nanti," ucap orang di seberang sana. Daniel yang mendengar gelak tawa dari orang itupun menunjukkan smirk nya.
Dorr... dor... dor....
Mereka seketika tewas karena Daniel menembak tepat mengenai jantung.
"Lempar sampah-sampah ini ke kandang kesayangan nona, dan untuk kalian, ikut aku ke gedung tua. Ada tangkapan besar hari ini," ujar Daniel melangkah pergi dan diikuti oleh anak buahnya di belakang.
Danielpun melesat membelah jalanan kota menuju ke gedung tua.
Kembali lagi ke sisi Rere...
Saat ini Rere sudah berada di rumah bersama Rey, dia merengek untuk segera pulang.
"Besok tidak perlu ke kantor dulu ya, istirahat di rumah," bujuk Rey.
"Rey... aku ingin makan kelapa bakar," ujar Rere.
"Kelapa bakar?" Tanya Rey bingung.
"Iyaa... kelapa muda yang di bakar. Aku juga ingin kebab dan juga bakpia," tambahnya.
"Sepertinya jauh sekali, sayang. Kenapa tidak yang lain saja, hmm?"
"Pokoknya aku mau itu," ucap Rere yang tidak bisa di bantah.
Rey pun tidak bisa menolak, "baiklah, tunggu ya. Aku akan carikan," jawab Rey.
__ADS_1
"Terima kasih," girang Rere.
Rey pun segera berangkat mencari pesanan yang di minta oleh istrinya.
Lama di perjalanan dan memutar-mutar hingga waktu menjelang sore akhirnya ia menemukan apa yang Rere minta.
Setelah lengkap, Rey bergegas untuk pulang memberikan pesanan Rere.
Setibanya di rumah, Rey melihat jika Rere tertidur. Ia tidak tega untuk membangunkanny, ia memutuskan untuk segera membersihkan dirinya.
Tak lama Rere terbangun mendengar suara gemricik air, itu menandakan jika Rey sudah pulang.
"Sudah bangun?" Tanya Rey yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kenapa lama sekali?" Ketus Rere yang sepertinya ngambek.
"Maaf, tempatnya lumayan jauh dari sini," ujar Rey mendekat ke arah Rere.
"Yasudahlah aku mau mandi dulu, aku sudah tidak selera lagi dengan makanan itu," ucap Rere melenggang pergi. Rey hanya melotot mendengar perkataan Rere, bagaimana tidak, jauh-jauh dia mencari dan berkeliling sesampainya di rumah Rere tidak mau memakannya.
Malam harinya, Rere duduk terdiam menonton Tv dengan membawa cemilan yang sangat banyak.
"Sayaang, jangan makan cemilan itu banyak-banyak. Tidak baik," ucap Rey mengambil cemilan yang ada di tangan Rere.
"Kenapa kau jahat sekali sih?" Sahut Rere dengan air mata yang sudah hampir menetes.
"Tapi ini tidak baik untuk ibu hamil," ucap Rey pelan.
"Kamu jahat," ucap Rere melenggang pergi menuju kamar. Rey di buat bingung oleh tingkah Rere, saat ia ingin mengejar Rere, ponselnya berbunyi menandakan jika itu ada pesan masuk.
Tiiing....
Rey segera melihat siapa yang mengirim pesan, dia segera membuka isi pesan itu setelah tau siapa.
"Besok datanglah kesini tuan, aku sudah berhasil menangkap dalangnya," isi pesan tersebut.
"Baiklah, terima kasih. Aku akan datang kesana besok," balas Rey.
Setelah itu ia bergegas menyusul Rere sebelum ia semakin marah.
***
Markas....
"Lepaskan aku, brengsek," teriak seseorang itu dengan tangan dan kakinya terikat.
"Aku tidak ada urusan denganmu, kenapa kau menghancurkan rencanaku, hah? Susah payah aku bekerjasama dengan mereka, begitu ada kesempatan kau menghancurkan rencanaku," imbuhnya dengan emosi yang menggebu-nggebu.
"Jelas saja itu menjadi urusanku, kau sudah mengusik nonaku," jawab Daniel dengan tatapan tajamnya.
"Nikmati saja sisa hidupmu saat ini, sebelum kau masuk ke dalam kandang singa," ujar Daniel lalu meninggalkan tempat itu.
"Hey... lepaskan aku. Heeyy... " teriaknya meronta-ronta.
Siapa lagi orang itu jika bukan Sisil, dia berhasil di lumpuhkan oleh Daniel dan beberapa anak buahnya tadi siang.
__ADS_1