
5 bulan berlalu...
Celo sudah bertumbuh pesat di usianya sekarang, pipinya yang gembul membuat siapa saja ingin mencubitnya.
Rey dan Rere menikmati masa-masanya menjadi ayah dan ibu. Mereka melihat sendiri pertumbuhan buah hatinya yang pertama.
Celo sudah bisa tengkurap, berguling dan mengambil barang-barang yang ada di dekatnya. Saat ini ia tertawa cekikikan karena Rey membuatnya geli.
Mereka saat ini berada di ruang berkumpul, karpet tebal dan lembut itu ia sediakan untuk bermain-main dengan Celo agar ia merasa nyaman.
Sesaat kemudian Daniel datang, seperti biasa dia datang bersama Agnes.
"Hai tuan kecil," sapa Agnes.
"Kalian, ada perlu apa?" Tanya Rey melihat kedatangan Daniel dan Agnes.
"Ada yang harus kami sampaikan pada bu boss," jawab Agnes.
"Kalian duduk dulu, sebentar lagi Rere keluar," jawab Rey.
Daniel dan Agnes ikut duduk di bawah bermain dengan Celo.
Tak lama kemudian Rere keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
"Kalian datang?" Tanya Rere melihat Daniel dan Agnes.
"Ada apa?" Tanyanya lagi.
"Begini nyonya, kami mau menyampaikan sesuatu," ucap Daniel mulai serius.
"Beberapa bulan ini kita ada yang mengintai, termasuk denganmu nyonya," ujar Daniel.
"Kau sudah menyelidikinya?" Jawab Rere.
"Sudah, ternyata dia adalah Nicky Anderson, adik dari Jack Anderson. Dia mendirikan mafia milik kakaknya kembali dengan nama baru," lapor Daniel.
Yap... laki-laki yang memandang foto Rere penuh dendam waktu itu adalah Nicky Anderson adik dari Jack Anderson. Dia ingin membalaskan dendamnya atas kematian kakak satu-satunya.
"Jadi dia ingin dendam denganku, begitu?" Rere mulai serius.
"Bisa di bilang begitu," jawab Daniel lagi.
"Jika mereka ingin bermain-main denganku, siap-siap saja untuk rata kembali."
"Kau perketat markas dan lainnya, dan berikan penjagaan di sini. Masukkan mata-mata ke kelompok mereka," perintah Rere.
"Siap nyonya."
Rere paling bisa untuk menyusupkan mata-mata ke kelompok lain, anggota Rere mempunyai bakat acting yang sangat luar biasa. Mereka dengan mudah bisa di kelabuhi.
"Jangan kira aku lama tidak muncul akan kalah denganmu, Nicky," gumam Rere dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Selesai berbincang-bincang mereka semua bermain dengan Celo yang mulai aktif. Agnes mencoba mengajak Celo untuk duduk di pangkuannya.
"Tuan kecil... kau tampan sekali. Ingin sekali aku gigit pipi gembulmu ini," ucap Agnes. Celo menatap wajah Agnes kemudian tertawa cekikikan.
Tawanya yang sangat renyah membuat siapa saja semakin gemmas di buatnya.
"Kau sudah pantas sekali, kenapa tidak menikah saja," sahut Daniel.
"Sebaiknya kau diam saja," ketus Agnes.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Agnes merasakan hangat di atas pahanya.
"Eehh... ini apa ya? Kenapa anget-anget begini?" Tanya Agnes.
Ia mencoba mengangkat Celo yang ada di pangkuannya, ekspresinya berubah sedikit manyun.
"Tuan kecil... kenapa kau mengompol di atasku?" Ujar Agnes. Celo hanya tertawa melihat Agnes.
Yang lainnya pun ikut tertawa karena Agnes. Apa lagi Daniel, dia tertawa paling keras menertawakan Agnes.
Saat itu Celo sedang tidak memakai popoknya, makanya Agnes bisa terkena ompolan dari Celo.
"Sini biar aku bersihkan. Kau juga ganti sana," ucap Rere mengambil alih Celo dari pangkuan Agnes.
"Kenapa kau nakal sekali, sayang," ucap Rere men***m gemas pipi gembul Celo.
Celo hanya tertawa cekikikan sedari tadi.
"Kau sudah lama tidak datang ke markas tuan," ucap Daniel mengajak Rey berbicara.
"Nanti kalau senggang aku akan kesana," jawab Rey.
"Kemampuanmu tinggal di asah sedikit lagi," ucap Daniel.
"Itu semua juga berkat kalian semua. Besok aku akan datang kesana," jawab Rey.
"Oke... aku tunggu kedatanganmu tuan," sahut Daniel. Mereka akhirnya fokus pada ponsel masing-masing.
Malam harinya...
Celo berada di gendongan Rere saat ini, ia sedari tadi merengek karena merasa ngantuk.
Rere menepuk pelan dan mengayun Celo agar cepat tertidur.
"Belum."
"Anak papa kenapa, hmm? Kenapa tidak mau tidur?" Tanya Rey mengelus pucuk kepala Celo.
"Sini, biar aku gantikan," tawar Rey.
"Yasudah, ini. Aku juga ingin mengambil makanan, aku sudah lapar," jawab Rere memberikan Celo pada Rey.
Rerepun pergi mengambil makanan untuknya dan Rey, ia memutuskan untuk makan saja di kamar sambil menjaga Celo.
Biasanya Celo tidak pernah rewel, tapi entah mengapa dia rewel malam ini.
"Anak papa kenapa rewel? Anak papa gak boleh nakal ya, kasian mama capek," ucap Rey mengayun-ayunkan Celo.
Celo mulai memejamkan matanya di gendongan Rey.
Rere baru saja tiba di kamar dengan membawa nampan berisi makanan untuknya dan sang suami.
"Masih belum tidur?" Tanya Rere.
"Dia baru terpejam," jawab Rey pelan.
"Kamu makan saja dulu, nanti aku menyusul," perintah Rey.
"Biar aku menyuapimu juga," jawab Rere. Akhirnya mereka berdua makan bersama dengan Celo yang masih di gendongan sang papa.
1,5 tahun kemudian...
__ADS_1
Celo sudah berusia 2 tahun saat ini. Dia tumbuh menjadi anak yang pintar dan tampan. Dia sangat aktif, terkadang Rere kualahan karena Celo saking aktifnya.
"Mama... Celo mau ikut papa boleh?" Tanyanya pada Rere dengan suara cedal.
Rere merapikan dasi Rey yang akan pergi ke kantor hari ini.
"Celo sama mama saja ya, nanti papa tidak bisa fokus bekerja," bujuk Rere.
"Tidak mama, Celo sudah pintal," jawabnya.
"Biarkan saja, sayang. Dia tidak pernah merepotkanku, aku juga akan lebih semangat jika ada Celo," bujuk Rey agar Celo boleh mengikutinya.
"Yasudah, nanti siang aku bawakan bekal kesana," ujar Rere saat selesai memasangkan dasi Rey.
"Yeeyyy... telima kasih mama," Celo berjingkrak senang lalu men***m pipi Rere.
"Celo janji harus jadi anak yang pintar ya," ujar Rere. Celo mengangguk menyetujui ucapan Rere. Rey tersenyum melihat tingkah anaknya itu.
"Aku berangkat dulu ya," pamit Rey me*****p kilas kening Rere.
"Hati-hati."
"Oke anak papa. Sekarang kita berangkat," ajak Rey menggendong tubuh Celo.
Rere mengantar suami dan anaknya itu untuk turun kebawah sampai di depan pintu.
"Dadaahh mama," ujar Celo melambaikan tangannya.
Saat mobil Rey tidak terlihat lagi, Rere bergegas masuk dan bersiap. Hari ini ia berencana untuk datang markas terlebih dulu.
"Bi... tolong siapkan bekal untuk tuan dan tuan kecil ya," ujar Rere.
"Baik nyonya."
Rere pun berjalan ke atas dan segera bersiap.
Di markas...
Kedatangan Rere disambut oleh anak buahnya yang sedang berjaga di sana. Rere langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Rere segera menuju ruang latihan untuk melihat kemampuannya, karena ia sudah lama tidak memgang senjata.
Doorr... dorr....
Tembakannya tepat mengenai sasaran.
Ia beralih mengambil belati dan melemparkan ke buah apel yang ada di depannya.
Syuutt... jleb...
Lemparannya tepat mengenai buah apel itu dan terbelah menjadi dua.
"Kemampuanmu memang masih juara nyonya," suara Daniel terdengar.
Daniel segera menuju ruang latihan setelah mendapat laporan jika Rere berada disana.
"Bagaimana perkembangannya, Niel?" Tanya Rere.
Daniel yang mengerti arah pembicaraan Rere langsung saja menjawab sesuai yang ia dengar dari anak buahnya yang menjadi mata-mata di markas milik adik Jack.
"Sesuai dugaanmu nyonya, dia ingin membalaskan dendam atas kematian kakaknya. Dia mengincar tuan kecil untuk mengalahkanmu," terang Daniel.
__ADS_1
"Kurang ajar orang itu, dia ingin bermain-main denganku ternyata," Rere menahan emosinya karena kali ini Celo menjadi sasaran mereka.
"Kau awasi lagi dia," perintah Rere tegas.