Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 66. Melahirkan - Baby Twins


__ADS_3

"Apa aku harus memberitahukanmu?" Sungut Agnes.


"Tidak perlu. Biar dia tau sendiri nantinya." Jawab Rere.


"Memang siapa siih? Ada-ada aja." Gerutu Lalita. Tapi ia juga penasaran siapa orang itu.


.


.


Kini Rey dan Rere sedang berada di balkon kamarnya menikmati semilir angin malam yang menyejukkan.


Binta-bintang di atas sana gemerlapan membuat siapa saja menyukainya.


"Cantik ya, Rey." Ujar Rere mendongakkan kepalanya ke atas. Ia bersandar di bahu milik Rey.


"Ya... malam ini begitu banyak sekali bintang-bintang yang berkelip," jawab Rey ikut mendongakkan kepala.


"Oh ya... memangnya kapan Vano cerita sama kamu? Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tanya Rey penasaran.


"Eemm... sudah lama sekali. Aku lupa. Dia tanya mengenai Agnes waktu itu. Dan anak buahku juga melaporkannya padaku melihat Agnes dekat dengan Vano." Jawab Rere jujur.


"Lalu... bagaimana menurutmu untuk Vano dan Agnes?" Tanya Rey kembali mengenai itu.


"Tidak masalah. Mereka kelihatan cocok. Bersama siapapun Agnes suatu saat nanti aku tidak melarangnya. Selagi pria itu baik dan bisa menghargai wanita. " Jawab Rere.


"Kalau soal Lalita?" Tanya Rey lagi.


"Aku setuju saja jika Daniel memang suka dengan Lalita. Daniel tidak bisa di ragukan lagi bukan. Tapi, kalau mengenai perasaan kembali lagi pada mereka. Kita tidak bisa ikut campur terlalu dalam," jawab Rere menanggapi.


"Yaa... kamu memang benar. Aku juga setuju jika Daniel dengan Lalita. Untuk perasaan, kembali lagi pada mereka. Kita hanya bisa mendukung yang terbaik untuk semuanya." Sahut Rey.


"Lalu... bagaimana dengan Arin dan Liam? Apa Liam sudah mengatakan perasaannya?"


"Entahlah... pusing aku dengan dua makhluk itu. Kerjanya perang terus. Liam juga belum mengatakannya pada Arin. Entah apa yang dia pikirkan." Ujar Rere bingung mengingat tingkah laku dua orang itu yang selalu membuatnya pusing.


Liam memang lebih banyak diam. Setelah bertemu dengan Arin, dia berubah tidak seperti dulu.


Tapi, Rere lebih suka Liam yang sekarang meskipun membuatnya harus pusing selalu bertengkar dengan Arin.


"Mungkin Liam juga ingin melihat pada diri Arin. Apa Arin juga mempunyai rasa yang sama dengannya." Imbuh Rey.


"Kalau menurutku, mereka sama ada rasa. Hanya saja, tidak ada yang berani mengatakan duluan."


"Mau sampai kapan seperti itu? Sudahlah, ayo kita kedalam. Sudah malam, tidak baik angin malam untukmu." Ajak Rey karena hari sudah semakin malam.


Waktu tengah malam...


Rere terus saja membolak-balikkan tubuhnya karena merasa tidak nyaman.


Rey pun terbangun karena merasa pergerakan dari Rere sedari tadi.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Rey dengan suara serakmya.

__ADS_1


"Entahlah Rey. Perutku tidak nyaman. Mereka juga sedari tadi menendang terus." Jawab Rere.


Rey mengelus-elus perut Rere yang terlihat sangat besar itu.


"Anak papa tenang ya. Kasihan mama tidak bisa tidur." Ajak Rey berbicara pada calon buah hatinya.


"Aauuhh..." ringis Rere sangat keras.


"Kenapa, Re? Apa sudah waktunya?" Rey khawatir karena mendengar ringisan Rere begitu keras.


"Sepertinya iya."


"Ya sudah ayo kita kerumah sakit sekarang. Biar Celo dan Lalita menyusul besok pagi," ajak Rey dengan terburu-buru.


Ia pun segera mengambil kunci mobilnya. Masih menggunakan piyamanya, tanpa berganti baju Rey langsung saja menggendong tubuh Rere.


Keadaan rumah yang begitu sepi karena memang semua sudah tidur.


Rey membawa Rere masuk ke dalam mobil dan segera menyalakan mobilnya.


Tiinn...


Rey membunyikan klakson agar pintu gerbang di buka.


Penjaga gerbang itu pun segera membukakan pintu gerbang untuk mobil Rey.


"Saya mau ke rumah sakit. Nanti beri tahu orang rumah ya. Saya buru-buru. Rere akan melahirkan," ucap Rey pada penjaga gerbang.


"Baik tuan. Semoga lancar persalinan nyonya," ujar penjagan gerbang tersebut.


"Auuh..." Rere kembali meringis.


"Sabar sayang." Ucap Rey cemas.


Tak lama kemudian mobil Rey sampai di rumah sakit.


Rey kembali menggendong tubuh Rere membawa masuk ke dalam.


Rey memanggil petugas yang ada di sana. Para petugas yang mendengar panggilan dari Rey segera membawakan brankar dan meletakkan Rere di atas brankar.


Rey ikut masuk ke dalam ruangan di mana tempat Rere sekarang.


"Bagaimana, dok?" Tanya Rey pada dokter.


"Sudah pembukaan 9 tuan. Kita persiapkan alat-alat terlebih dahulu. Tuan bisa menemani dan memberikan nyonya semangat agar tidak tegang."


Dokter pun segera menyiapkan peralatan yang akan di gunakan untuk persalinan.


"Sakit Rey," ringis Rere menahan sakit.


Rey mengec*p kening Rere tanpa hentinya.


"Kamu yang tenang ya. Ada aku di sini, kamu bisa berpegangan pada aku jika merasa sakit." Ucap Rey tidak tega melihat Rere yang menahan sakit.

__ADS_1


"Aauuh... mereka menendang-nendang terus sedari tadi."


Rey pun beralih mendekat ke arah perut Rere.


"Anak mama dan papa sepertinya sudah tidak sabar ya. Tunggu sebentar lagi ya." Ajak Rey berbicara untuk menenangkan calon buah hatinya.


Tidak lama kemudian, dokter kembali dengan membawa peralatan yang sudah di siapkan.


"Sudah pembukaan sempurna. Nyonya tarik nafas lalu keluarkan. Ikuti aba-aba saya nyonya." Ucap dokter setelah memeriksa pembukaan saat ini.


"Tarik nafas... keluarkan. 1.. 2.. dorong." Intruksi dokter.


Rere pun mengejan sekuat tenaga. Tangannya mencengkram kuat tangan Rey hingga sang empunya meringis kesakitan. Tapi Rey mencoba untuk menahannya.


"Sekali lagi nyonya. 1.. 2.. dorong."


Rere kembali mengejan.


Ooeekk... oeekk...


Suara tangisan terdengar begitu nyaring. Rere bernafas lega untuk sesaat.


"Bayi anda laki-laki tuan, nyoya." Ucap sang dokter memberikan pada suster.


Rey dan Rere tersenyum senang melihat buah hatinya terlahir.


Dokter pun kembali bersiap untuk persalinan yang ke dua.


Dokter memberikan intruksi pada Rere seperti yang di lakukan sebelumnya.


Tak lam kemudian suara tangis terdengar lagi memenuhi ruangan.


Ooek... oekk...


"Selamat tuan, nyonya. Bayi anda ke dua perempuan."


Dokter pun meletakkan ke dua bayi itu di atas dada Rere. Tangisan kedua bayi kembar itu membuat sepasang suami istri itu merasakan kebahagiaan yang tidak bisa di bendung.


"Welcome to the world anak-anak papa dan mama," ucap Rey terharu melihat anak kembarnya.


"Kami bersihkan terlebih dulu nyonya, tuan." Izin sang perawat.


"Terima kasih untukmu, sayang." Ucap Rey m*ng*cup kening Rere tanpa henti.


Rere hanya tersenyum menanggapinya karena ia merasa lemas.


"Kamu belum kasih tau papa sama mama?" Tanya Rere lirih.


"Belum sempat sayang. Setelah ini aku akan menghubungi keluarga kita." Jawab Rey menge**p kening Rere.


Rey memang belum sempat memegang ponselnya. Setibanya di rumah sakit tadi, Rey langsung membawa Rere masuk ke dalam ruangan bersalin.


"Mereka pasti akan memarahimu habis-habisan nanti."

__ADS_1


"Biarkan saja. Ini kan di luar prediksi kita sayang."


__ADS_2