Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 32. Dunia Milik Berdua


__ADS_3

Benar sekali jika kalian menebak orang itu adalah sisil. Dia menyamar sebagai pelayan disana, jika tidak mana mungkin dia bisa masuk. Pesta itu di jaga ketat oleh pasukan Rere yang sudah menyebar, jika ingin masuk, maka para tamu harus menunjukkan kartu undangan.


Entah apa yang dia inginkan, dia sendiri yang merebut Rey, dia juga yg meninggalkan dan sekarang dia ingin kembali merebut Rey di saat karirnya menjulang tinggi.


Belum tau saja dia akan berhadapan dengan siapa nanti. Rere bukanlah rere yang dulu, dia tidak akan segan-segan membiarkan orang seperti Sisil akan merasa tenang.


***


Pesta megah yang digelar itu sudah berakhir, acara berjalan lancar tanpa ada kendala apapun.


Saat ini keduanya berada di kamar hotel yang mereka tempati tadi, Rey sibuk mengotak-atik ponselnya sedangkan Rere menghapus sisa-sisa makeup yang masih menempel.


Sesekali Rey melirik kearah Rere dengan senyuman yang membuat siapa saja akan meleleh. Rere yang melihat ekspresi wajah Rey melalui cermin bertanya-tanya, apa yang membuat suaminya itu tersenyum begitu.


"Kenapa senyum-senyum seperti itu?" Tanyanya sambil menatap bayangan Rey dari cermin.


Rey yang mendengar pertanyaan Rere seketika meletakkan ponselnya di atas nakas, Rey segera menghampiri Rere dan memeluknya dari belakang.


Ia menempelkan dagunya di atas pundak Rere melihat bayangan mereka berdua di dalam cermin. Aroma bunga mawar membuat pikirannya melayang jauh mengharuskan dirinya untuk menahan rasa yang bergejolak.


"Ada apa?" Tanya Rere lembut.


"Tidak ada. Aku hanya ingin seperti ini," jawabnya dengan memejamkan kedua mata.


Rere melihat jika Rey seperti menahan sesuatu akhirnya ia berbalik menatap manik hitam itu dengan lekat.


Keduanya saling bertatapan dengan perasaan masing-masing yang tidak bisa di gambarkan.


"Tempat mana yang ingin kamu kunjungi untuk bulan madu nanti?" Tanya Rey dengan menyelipkan anak rambut milik Rere.


"Apakah itu harus? Bukankah sama saja?" Sahut Rere.


"Aku ingin menikmati waktu berdua hanya denganmu," ujar Rey kembali yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Emm... entahlah. Aku belum meikirkan tempat mana yang ingin aku kunjungi," jawab Rere.


"Kamu tau Re? Aku sangat bahagia saat ini, aku masih tidak menyangka jika aku sudah menikah denganmu," ucap Rey dengan tatapan penuh cinta.


"Bahkan aku lebih tidak menyangka," jawab Rere dengan tersenyum.

__ADS_1


"Ayo kita tidur, sudah larut sekali," ajak Rere.


Rey yang mendengar ajakan Rere seketika cemberut, Rere melihat perubahan Rey tau apa yang membuat dia cemberut.


Bukannya Rere tidak mau memberikan haknya, akan tetapi Rere masih merasa malu.


Dengan berat hati Rey mengikuti langkah Rere menuju kasur king size yang ada di hotel itu, keduanya berbaring saling berhadapan.


Mereka berdua kembali saling tatap dan bergelut dengan pikiran masing-masing. Pandangan Rey fokus ke arah bibir ranum milik Rere.


Rey menyentuh dan mengelus lembut bibir ranum yang menggoda itu, "apa boleh?" Tanya Rey.


Rere mengangguk pelan menyetujui permintaan Rey, bagaimanapun juga mereka sudah menikah. Dan itu juga sudah menjadi kewajibannya untuk melayani sang suami.


Rey mengangkat dagu Rere dan menc**m lembut bibir ranum itu. Rere terbuai dengan sentuhan lembut dari Rey membuatnya mengeluarkan suara yang membuat Rey semakin menuntut lebih.


Rey berhenti melakukannya ketika melihat Rere mulai kehabisan nafas.


Nafas keduanya memburu, tapi hal itu tidak berhenti begitu saja. Rey melanjutkan c**m**nya dan tangannya mulai menelusup ke dalam baju milik Rere.


Rere mendapat sentuhan-sentuhan lembut kembali mengeluarkan suara yang dapat membangkitkan h****t Rey.


Rey semakin gencar melakukakannya, dan akhirnya malam itu mereka lewati dengan berindehoi ria.


***


Pagi harinya, Rey terbangun lebih dulu saat cahaya matahari itu menyusup kedalam melalui sela-sela gorden.


Rey yang melihat Rere masih terlelap pun tersenyum, ia merasa bahagia karena Rere sudah menjadi miliknya seutuhnya. Dia berjanji akan membahagiakan Rere semampu dan sebisanya.


Ia menatap lekat wajah teduh Rere karena kelelahan akibat gempuran yang dia lakukan semalam. Ia kembali memeluk erat tubuh Rere dan m*****m kening Rere.


Rere yang merasa terusik tidurnya mulai mengerjapkan mata, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Rey yang tersenyum dengan manisnya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Ucapnya dengan suara khas bangun tidur.


"Sepertinya kau sangat kelelahan sayang, aku tidak mau mengganggumu," jelas Rey.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Rere kembali yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rey.

__ADS_1


"Jam 6 pagi, kalau masih mengantuk tidur saja. Aku akan memberitahu mereka semua untuk tidak menunggu kita," jawab Rey.


Mendengar ucapan suaminya itu Rere kembali terlelap, rasa kantuk dan bercampur dengan rasa lelah membuatnya kembali tertidur.


Rey tersenyum melihat Rere kembali tertidur dengan lelapnya, Rey segera menghubungi keluarganya agar tidak perlu menunggu. Setelah itu, Rey kembali tertidur menyusul Rere yang sudah lebih dulu berlayar di pulau kapuk.


Skiipp...


Siang harinya Rere terbangun terlebih dulu, perutnya yang mulai merasa keroncongan karena pagi tadi dia belum sempat sarapan.


Rere menggapai ponselnya dan melihat sudah jam berapa sekarang, setelah itu dia beralih menatap Rey yang masih terpejam.


Rere menatap dengan penuh cinta kemudian menoel-noel hidung mancung suaminya itu. Rey menangkap tangan Rere yang di gunakan menoel hidungnya dengan mata masih terpejam, seketika Rere terkejut dengan ulah Rey. Ia mengira jika Rey masih di pulau mimpi, ternyata salah.


"Sudah puas, hmm?" Ucap Rey yang membuka mata. Rere yang masih dalam keterkejutannya tidak menjawab apa-apa.


Rey me*****p singkat bibir Rere membuat dia langsung tersadar, "aku lapar Rey," ucapnya.


Rey tersenyum mendengar ucapan Rere, "aku akan pesankan makanan," sahut Rey yang di angguki oleh Rere. Rey segera menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan ke kamarnya.


"Ayo kita mandi bersama," ajak Rey.


"Kenapa tidak sendiri-sendiri saja?" Jawab Rere. Dia masih mengingat malam tadi bagaimana adegan itu terjadi.


"Aku ingin bersamamu," bisiknya di telinga Rere. Rere merasa merinding dengan bisikan Rey.


Tanpa menunggu lama Rey langsung saja menggendong tubuh Rere yang tertutup dengan selimut, Rere hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya itu.


Sesampainya di kamar mandi Rey menurunkan tubuh Rere, melihat tubuh Rere membuatnya tidak bisa menahan rasa gejolak pada dirinya. Akhirnya mereka kembali melakukan penyatuan di dalam sana.


Satu jam kemudian mereka keluar dengan menggunakan handuk kimono yang sudah tersedia.


Tok... tok... tok...


"Sepertinya, makanan kita sudah sampai Rey," ucap Rere mendengar suara ketokan pintu dari luar.


"Biar aku yang membukanya," ujar Rey yang langsung berjalan menuju kearah pintu, sedangkan Rere segera menuju ke ruang ganti.


Ceklek... suara pintu terbuka, dan benar saja jika itu dari pihak hotel mengantar makanan yang di pesan oleh Rey tadi.

__ADS_1


"Permisi tuan, ini pesanan anda," ucapnya.


"Terima kasih," jawab Rey. Pegawai tersebut membungkukkan badannya dan bergegas untuk kembali turun.


__ADS_2