Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 24.


__ADS_3

Cukup lama Rere berkutat dengan berkas-berkasnya, terdengar suara ketokan pintu dari luar.


Tok... tok... tok...


"Masuk," sahut Rere dari dalam.


"Permisi nona, tuan Rey datang," ujar Liam. Liam sedari tadi ditugaskan untuk memgurus hal lain diluar, saat kembali dia berpapasan dengan Rey yang datang untuk menemui Rere.


"Suruh dia masuk," perintah Rere.


Rey datang membawa banyak kresek ditangannya, dia membawa banyak makanan untuk makan siang. Rencananya dia ingin makan siang berdua dengan Rere sekaligus menjemputnya, tapi dia urungkan. Dia memilih membawakan makanan saja untuk Rere sekaligus untuk teman-teman dekatnya.


"Apa yang kau bawa itu Rey? Banyak sekali?" Tanya Rere penasaran apa yang dibawa oleh Rey.


"Aku bawakan makan siang untukmu dan yang lainnya," jawab Rey.


"Waahhh... anda pengertian sekali tuan Rey," ucap Agnes dengan matanya yang berbinar disuguhkan makanan begitu banyaknya.


"Hah, dengan makanan saja langsung berbinar itu mata," ketus Rere.


"Biarriin wlee," ujar Agnes menjulurkan lidahnya meledek Rere.


"Li, kau panggilkan Arin. Kita makan bersama disini," perintah Rere.


"Baik nona," jawab Liam yang langsung menghubungi Arin lewat sambungan telfon. Arin yang mendapat panggilan dari Liam segera menuju keruangan Rere.


Tok... tok... tok...


"Masuk," sahut Rere dari dalam.


Arin yang mendengar sahutan dari dalam langsung membuka pintu. Rere yang melihat kedatangan Arin langsung menyuruhnya untuk masuk dan bergabung.


"Waahh... rame-rame ada apa ini," tanya Arin.


"Kita makan siang bersama, Rey bawa bekal banyak kesini," jawab Rere. Arin juga tak kalah antusias seperti Agnes.


Akhirnya mereka semua makan bersama-sama dengan khidmat, sesekali dengan candaan yang mereka lontarkan untuk sama lain.


Rere yang terkadang mendapat suapan dari Rey membuat mereka yang ada diruangan hanya bisa meringis menahan jiwa jomblonya. Arin dan Agnes menggerutu kesal melihat keuwuhan yang ada didepannya.


Keduanya seperti menutup mata dan kuping melihat kekesalan pada dua orang itu, berbeda lagi dengan Liam, diam memilih untuk fokus terhadap makanannya daripada menggerutu kesal seperti Arin dan Agnes.


Entah dia itu kulkas berjalan atau apa, sikapnya lebih banyak cuek dan diam tidak seperti Daniel yang suka ceplas ceplos dan jahilnya yang tidak ada ampunnya. Daniel yang berada dimarkas dengan Liam saja terkadang jengkel karena sifatnya yang lebih banyak diam.


Selesai makan siang, mereka duduk bersantai sembari beristirahat sejenak sebelum berkatifitas kembali.


"Kau tumben sekali datang kemari membawa banyak makanan Rey? Tidak kau kasih racun kan makanannya?" tanya Arin penuh selidik.

__ADS_1


"Kalau makanan itu aku kasih racun kau sudah tidak ada lagi disini," jawab Rey dengan ketusnya.


"Santai napa sih, sensi amat," jawab Arin tak kalah ketusnya.


"Aku kesini ingin mengajak calon istriku kerumah," jawab Rere dengan menatap wajah Rere. Rere yang mendengar ucapan Rey merasa salting dan berpura-pura tidak mendengarnya sambil mengotak-atik ponselnya.


Arin yang mendengar perkataan Rey seketika menyemburkan air putih yang baru saja diteguknya.


Brushhh....


"Iihh... kau ini jorok sekali Arin," omel Agnes yang terkena semburan Arin.


"Ada apa denganmu nona," ucap Liam pada Arin.


"Hehee... sorry-sorry," cengir Arin.


Semua yang ada diruangan itu hanya geleng-geleng melihat kelakuan Arin. Agnes yang terkena semburan Arin mendumel kesal tidak henti-hentinya.


Jam istirahat sudah habis, semua kembali untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Berbeda dengan Rey dan Rere saat ini, Rey mengajak Rere kerumahnya memberi kejutan pada keluarganya. Pekerjaan kantor mereka serahkan pada sekertaris mereka masing-masing.


Saat ini, Rey di perjalanan menuju rumahnya bersama Rere. Ada rasa karinduan yang dirasa oleh Rere saat ini, sudah lama Rere tidak bertemu dan berkumpul dengan keluarga Rey.


Sesampainya di depan rumah Rey, mereka langsung turun dari mobil dan berjalan menuju rumah. Rey menggenggam erat tangan Rere seperti tidak ingin melepasnya lagi.


Mama Alma yang merasa di panggilpun menoleh kearah sumber suara, "Loh... kok sudah pulang, tumben Rey ada apa?" Tanya mama yang terheran-heran melihat Rey pulang siang hari.


Rere berada dibelakang Rey, jadi mama Alma tidak tau jika Rey pulang membawa Rere.


"Mana papa ma?" tanya Rey.


"Ada di kamar," jawab mama.


"Aku pulang membawa seseorang ma," ucap Rey dengan tersenyum.


"Siapa?" Tanya mama penasaran.


"Mama," panggil Rere yang muncul dari belakang Rey.


Mama yang melihat Rerepun tekejut dan merasa senang, sudah lama mereka tidak bertemu.


"Rereee..." pekik mama dan langsung berlari memeluk Rere. Rere yang mendapat pelukan mama tersenyum senang karena rasa rindunya terobati.


"Kemana saja kamu nak? Kenapa gak bilang sama mama?" cerca mama sambil menahan tangisnya.


"Rere hanya ingin melanjutkan study dan membangun bisnis Rere sendiri ma," jawab Rere. karena memang tidak bohong juga, Rere saat pergi meninggalakan kota kelahirannya dia juga bertekad untuk sukses.

__ADS_1


"Maafkan Rey ya, dia sudah membuatmu kecewa," ucap mama. Rere yang tersenyum mendengar ucapan mama Alma.


"Lea sama Alvaro kemana ma?" tanya Rere yang sedari tidak melihat kedua adik Rey.


"Mereka sekolah," jawab mama.


"Ayo kita duduk, sampai lupa haduuhh," ucap mama.


"Biii... panggil tuan kemari," perintah mama pada salah satu ART.


Rere dan mama Alma berbincang-bincang melepas kerinduan mereka, sedangkan Rey sudah seperti anak tiri yang dilupakan. Rere hanya diam menyimak perbincangan dua wanita yang ada dihdapannya itu.


Tak lama papa Haris turun dan bergabung, papa Haris juga tidak menyangka jika ada Rere saat ini. Papa Haris juga merasa senang melihat Rere kembali.


Rere yang melihat papa Haris turun langsung menyalami dan tersenyum ramah.


"Akhirnya kau kembali nak, kemana saja kau selama ini?" tanyanya pada Rere.


"Rere meneruskan study pa, dan juga membangun bisnis Rere sendiri," jawab Rere dengan ramahnya.


"Benarkah itu? Kau wanita hebat nak," puji papa Haris.


"Kenapa kau tidak bilang pada mama dan papa waktu itu, papa bisa menghajar Rey untukmu," ucap papa dengan sedikit sindiran yang ditujukan Rey. Rey yang bersangkutan sedari tadi hanya dia tak berkata apa-apa.


"Yang lalu biarlah berlalu pa," jawab Rere dengan senyumnya.


Mereka semua berbincang-bincang mengenai banyak hal, dari yang serius atau candaan yang ditujukan satu sama lain.


Hingga pada akhirnya Rey mengatakan tujuannya untuk menikah dengan Rere.


"Pa, ma, Rey ingin berbicara serius," ucap Rey.


"Apa Rey," ucap mama dan papa bersamaan.


"Sebenarnya, aku kesini membawa Rere ingin membicarakan masalah pernikahan kami, aku harap papa dan mama tidak keberatan," ujar Rey.


"Menikah? Apa kau benar Rey? Kau tidak bercanda bukan?" Tanya papa Haris dengan wajah yang sangat serius melihat kerah Rere dan Rey bergantian.


"Rey serius pa, Rey ingin menikah dengan Rere bulan depan," jawab Rey yang tak kalah serius.


"Apa secepat itu Rey?" tanya mama.


"Inilah yang papa sama mama tunggu Rey, papa dan mama dari dulu berharap jika kalian bisa bersatu. Papa dan mama merestui kalian, lebih cepat lebih baik," jawab papa Rey dengan tegas.


Rey yang mendengar jawaban dari papanya merasa sangat senang dan antusias.


"Papa serius?" tanya Rey dengan semangatnya dan diangguki oleh sang papa. Melihat jawaban dari sang papa Rey menoleh kearah sang mama. Mama yang tau akan hal itu juga menganggguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih ma, pa," ucap Rey dengan senangnya. Rere yang mendengar jawaban dari kedua orang tua Rey juga merasa senang, dia tidak menyangka jika diterima dengan mudahnya dikeluarga Rey.


__ADS_2