
"Kau tidak mau membelikan untukku?" Ucap Rere dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rey bingung dengan perubahan suasana hati Rere, padahal baru saja keduanya bersenang-senang.
"Eh... sayaang, bukan begitu. Tapi kan ini baru jam 2 pagi, tidak ada penjual gado-gado di luar," jawab Rey dengan hati-hati.
"Gini aja ya, kita tidur dulu. Nanti aku carikan gado-gado," bujuk Rey.
Rere menimbang-nimbang, "yaudah deh, aku nanti juga ingin ke markas," ucapnya menyetujui. Rey bernafas lega mendengarnya, akhirnya mereka kembali menuju pulau mimpi bersama.
Pagi harinya, Rere sudah berada di markas bersama Agnes. Untuk Rey saat ini dia ada di perusahaan untuk bekerja.
"Mau di apakan wanita ini nona?" Tanya Daniel.
Saat ini mereka berada di ruang bawah tanah, di mana Sisil di sekap. Wajahnya yang sudah tidak terlihat cantik lagi, badan penuh debu dan darah mengering karena ukiran-ukiran indah Rere.
"Biarkan saja dia sedikit lama disini," jawab Rere.
Sisil yang baru saja membuka mata melihat Rere hanya bisa memandang benci, semakin besarlah rasa bencinya pada Rere.
"Lepaskan aku, dasar s!allan," teriaknya.
Rere hanya terdiam memandangi Sisil sedang meneriakinya dengan tatapan dingin.
"Kenapa kau hanya diam, hah? Apa kau takut denganku? Hahahaa..." teriaknya lagi diakhiri suara gelak tawanya sudah seperti orang gila.
Rere tersenyum mengejek mendengar perkataan Sisil, "untuk apa aku takut denganmu, hmm? Bahkan aku berhadapan dengan singa dan harimau saja tidak takut, kenapa aku harus takut dengan manusia sepertimu?" Jawab Rere menaikkan alisnya sebelah.
Setelah mengucapkan itu, Rere melangkahkan kakinya pergi di ikuti oleh Agnes dan Daniel. Sisil berteriak keras memberontak, "heey... lepaskan aku. Mau kemana kalian?"
Rere menuju ruang latihan menembak seperti biasa, ia hanya ingin bersenang-senang sekaligus mengasah kembali kemampuannya.
Dorr... dorr... door...
Tembakannya tepat mengenai titik tengah pada papan target.
Di susul Agnes dengan membawa senjata kesayangannya.
__ADS_1
Dorr... dor... dor...
Suara tembakan yang bersahutan itu membuat mereka melupakan segalanya. Bahkan Rere tidak sadar jika Rey datang karena saking asyiknya.
Rey memeluk tubuh Rere dari belakang, Rere yang merasa ada tangan melingkar di perutnyapun menghentikan aktifitas menembak dan menoleh kebelakang melihat siapa yang sudah berani memeluknya.
Ingin sekali ia menghajar orang itu tetapi ia urungkan.
"Kapan kau datang?" Tanya Rere setelah melihat siapa itu.
"Dari tadi, aku sudah menghubungimu tapi tidak ada jawaban. Aku memutuskan untuk menghubungi Daniel." jawabnya men****m kening Rere.
"Benarkah? Aku tidak mendengar telfonku berdering," jawab Rere.
"Bagaimana bisa kau mendengar suara telfonmu, aku melihatmu sedang asik sekali menembak," sahut Rey.
"Ekhemm... gerah sekali ya?" Sindir Agnes melihat keromantisan dua insan di hadapannya.
Keduanya menoleh ke arah Agnes, "syirik aja," ucapnya bersamaan.
"Kalian tidak lihat apa kalo ada orang jomblo begini, buat mata senep aja deh," sewot Agnes melenggang pergi meninggalkan bu boss dan pa boss nya itu.
"Kita makan di sini bareng-bareng ya, sekalian," sambung Rere dan di angguki kepala oleh Rey.
"Daniel, pesankan makanan. Sekalian semua yang ada disini," perintah Rere. Rere tidak pernah lupa dengan semua anggotanya.
"Siap."
Pesanan makanan akhirnya sudah datang, semua menikmati makanan mereka dengan khidmat.
Tidak lupa Rey selalu memberi perhatian pada istrinya, "biar aku suapi," ucap Rey.
"Tapi kamu juga harus makan, Rey. Biar aku sendiri saja," tolak Rere.
"Aku bisa nanti, yang terpenting kamu dulu," Rere hanya bisa pasrah. Rere juga sesekali menyuapi Rey, agar suaminya itu juga tidak telat makan.
Agnes mendumel kesal melihat keromantisan mereka berdua, entah kenapa orang itu.
__ADS_1
"Kau kenapa? Apa kau iri? Sini aku suapi, biar kau juga merasakan yang seperti nona rasakan," ucap Daniel pada Agnes.
"Tidak perlu," sahut Agnes kemudian melanjutkan makan. Ucapan Daniel memang kadang begitu manis, tapi siapa sangkah jika ucapan manisnya itu mengandung banyak arti.
Bagaimana tidak, dulu Agnes pernah di beri kuah penuh sambal oleh Daniel tanpa sepengetahuannya hingga membuat ia harus bolak-balik ke kamar mandi.
Dari situ Agnes tidak percaya lagi dengan apa yang di ucapkan lagi oleh Daniel.
***keesokan harinya***
Rere sedang ada di perusahaan sekarang, ia mendengarkan kekesalan Arin sedari tadi.
"Ya ampun Re... bagaimana bisa kau mempunyai anak buah selalu menyebalkan seperti ini," sengal Arin dan menunjuk ke arah Liam. Liam yang di tunjukpun hanya diam saja.
"Aku begadang sedari kemarin , setelah tugas selesai dia bilang katanya di undur minggu depan. Bagaimana aku tidak kesal coba," sambungnya dengan kekesalan yang belum reda.
"Bukankah itu baik, nona. Kau bisa bersantai sekarang," jawab Liam yang ada benarnya juga.
"Ya memang benar, tapi harusnya juga kasih tau aku juga. Kenapa tidak memberitahuku sih," ketus Arin.
Rere menggaruk keningnya yang tidak gatal melihat kedua insan itu selalu debat tidak pernah ada hentinya.
"Apa kalian tidak bisa satu hari saja tidak ribut, lama-lama aku pusing melihat kalian berdebat terus. Aku nikahkan kalian berdua baru tau rasa," Arin melotot mendengar ucapan Rere.
"Hah... aku? Menikah? Dengannya? Ogah sekali," ketus Arin menunjuk lagi ke arah Liam.
"Ya kali, aku menikah dengan kulkas berjalan," ejek Arin pada Liam.
"Memangnya siapa juga yang mau menikah denganmu, nona? Aku kasian dengan suamimu nanti, mungkin dia tidak betah dengan tingkah bar-bar dan mulut crewetmu itu," jawab Liam dengan santainya. Arin semakin kesal dengan Liam.
"Apa kau bilang, hah?" Tanduknya mulai muncul di atas kepala mendengar perkataan Liam.
"Diam," teriakan Rere membuat keduanya terdiam.
"Kenapa kalian selalu membuatku jengah saja sih? Aku doakan supaya kalian berjodoh nanti," geram Rere.
"Sudahlah, kau lanjutkan saja pekerjaanmu, Rin. Kau juga Li, lain kali kasih tau saja kalau di undur," lerah Rere agar perdebatan mereka selesai.
__ADS_1
"Maafkan saya, nyonya," cicit Liam.
Akhirnya semuanya kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing.