
Hari ini, Lalita pergi ke sebuah cafe untuk bersantai dan mencari udara segar.
Ia asik membaca novel yang di beli kemarin sambil menikmati cappucino kesukaannya.
Tiba-tiba saja pria tampan menduduki kursi di depannya.
"Sepertinya kita berjodoh, nona." Kata pria itu. Siapa lagi kalau bukan Nicky.
Lalita tertegun sesaat melihat orang itu ada di depan mata begitu saja.
"Kita bertemu lagi, nona." Ucap Nicky kembali.
"Aahh... kau berada disini juga rupanya," ujar Lalita.
'Aku memang suka wajah-wajah tampan. Tapi, kenapa aku merasa ada hal aneh ya' batin Lalita menelisik wajah tampan itu.
"Mungkin kita berjodoh," canda Nicky dengan memasang wajah manis.
"Jangan PD dulu, tuan." Ucap Lalita sedikit ketus.
'Apa semua lelaki berbicara gombal seperti ini ya?' Lalita bermonolog dengan dirinya sendiri.
'Hmm... ternyata dia terlalu blak-blakan. Menarik' batin Nicky mendengar ucapan Lalita.
Biasanya wanita lain mengejar-ngejar Nicky. Mendengar ucapan Nicky saja bisa membuat mereka meleleh. Namun, berbeda dengan Lalita. Kesan yang Nicky dapat berbeda.
Lalita memang seperti itu, dia akan sedikit ketus jika merasa tidak nyaman pada seseorang. Meskipun itu baru saja bertemu.
"Apa yang sedang kau lakukan disini, nona?"
"Aku hanya ingin bersantai dan mencari udara segar," jawab Lalita.
"Lalu, apa yang kau lakukan juga disini?" Tanya Lalita basa basi.
"Aku hanya berkeliling dan menghafal jalan disini."
"Kau pendatang baru?" Tanya Lalita.
"Bisa di bilang begitu. Aku baru 1 minggu di sini," jawab Nicky. Lalita mengangguk-anggukkan kepala saja.
"Sepertinya, kau suka sekali membaca novel nona?"
"Yaa... memang aku suka. Terkadang aku juga belajar dari novel yang aku baca," jawab Lalita.
Mereka berbincang-bincang cukup lama dan menikmati hidangan di cafe itu.
"Maaf tuan, aku permisi dulu ya. Ada tugas yang harus aku selesaikan di rumah," pamit Lalita.
"Apa aku boleh meminta nomormu, nona?"
"Eeh... maaf. Aku tidak hafal nomorku, di tambah ponselku lowbat. Tadi, aku lupa tidak membawa power bank," jawab Lalita menunjukkan ponselnya yang tidak aktif.
Nicky menghela nafas kecewa karena usahanya gagal lagi.
Lalita pun bergegas keluar dari cafe dan menuju ke arah mobil.
Ia menyalakan mobil dan langsung melesat membela jalanan kota.
Bukannya pulang, justru ia menuju rumah sang kakak yang jaraknya lumayan dekat dari cafe itu.
Setibanya disana, Lalita segera masuk ke dalam karena pintu sedang terbuka.
"Kakaak... Celo... yuhuuu," teriak Lalita memanggil keduanya.
__ADS_1
"Tumben sepi amat. Kemana orang-orang di sini?" Pikir Lalita.
"Anak tuyul juga, kenapa tidak terlihat sama sekali," gumam Lalita tidak melihat siapapun
Salah satu ART yang mendengar teriakan Lalita datang. "Eehh ada nona," sapanya.
"Kakak sama Celo di mana bi? Kenapa sepi sekali?" Tanya Lalita clingak clinguk.
"Aah... mungkin berada di kandang belakang, nona." Jawab ART itu.
"Haahh... kandang? Sejak kapan di rumah ini ada kandang?" Tanya Lalita lagi bingung.
"Nona langgsung saja kebelakang. Apa mau saya antarkan?" Tawar ART itu.
"Eeh... tidak. Aku akan ke sana sendiri. Makasih ya bi," jawab Lalita.
Ia pun melangkahkan kakinya ke halaman belakang rumah besar itu.
Sesampainya di sana, ia melotot melihat Celo sedang mengelus dua anak harimau.
"Astaga... astaga." Pekik Lalita dengan heboh.
"Onty datang," ujar Celo melihat kedatangan Lalita.
Celo masih asik mengelus Lucas dan Lucia. Keduanya sangat nyaman jika Celo mengelusnya.
Rere menoleh mendengar ucapan Celo.
"Kapan kau tiba, Lita?" Tanya Rere tak mendapat sahutan dari Lalita.
Ia masih bengong melihat pemandangan di depan mata.
"Heh nenek lampir," sentak Rere membuyarkan Lalita.
"Onty... coba sini. Lucas dan Lucia lucu kan," ucap Celo. Celo sedari tadi mengelus tanpa rasa takut.
Lalita merinding melihat tingkah Celo yang begitu berani. Lalita pun langsung menggelengkan kepala.
"Tumben kau datang kesini," ucap Rere mendekat ke arah Lalita.
"Emang kenapa? Gak boleh?" Jawab Lalita dengan muka songongnya.
Rere menggerakakn bola matanya malas.
"Itu... sejak kapan Celo mempunyai anak harimau?" Tanya Lalita yang masih melihat ke arah Celo dengan santainya.
"Baru tiga hari," jawab Rere.
"Kakak... kau tau tidak..."
"Aku tidak tau," selah Rere sebelum Lalita menuntaskan perkataannya.
"Diam dulu kenapa sih. Orang belum selesai ngomong juga," sewot Lalita.
"Dari kemarin itu aku bertemu dengan seorang lelaki."
"Terus?" Potong Rere.
"Dia memang tampan sih. Tapi... aku merasa aneh dengan orang itu," sambung Lalita.
"Tumben sekali kau. Biasanya langsung srobot saja melihat yang tampan," ejek Rere pada Lalita. Karena biasanya Lalita sangat cepat jika berurusan dengan lelaki tampan.
"Kau tau nama orang itu?"
__ADS_1
"Iya aku tau. Namanya Nicky, dia memberitahuku kemarin. Padahal aku tidak bertanya pada dia," jawab Lalita.
"Lalu?"
"Tadi, dia bertemu lagi denganku. Entah itu kebetulan atau tidak. Dia juga meminta nomor ponselku."
"Apa kau memberikan padanya?" Tanya Rere.
"Tidak." Jawab Rere menggelengkan kepala.
"Baguslah," jawab Rere.
"Bagus kenapa kak?" Tanya Lalita merasa penasaran.
"Tidak ada apa-apa."
"Sebaiknya kau jauhi saja dia. Jika kau bertemu lagi dengannya, kau langsung saja menghindar. Lebih baik jika mulai sekarang kau tinggal saja di sini," terang Rere.
"Memangnya kenapa kak? Apa kau tau dia? Apa dia berbahaya?" Cerca Lalita semakin penasaran.
"Ya... aku tau siapa dia. Untuk sementara tinggal saja disini. Jangan menemui mama dan papa dulu. Aku yang akan bilang mama sama papa untukmu tinggal disini. Biar aku yang meyakinkan mereka. Pria itu berbahaya," jawab Rere panjang lebar dengan raut wajah yang begitu serius.
"Memangnya siapa dia kak?" Tanya Lalita lagi.
"Kau akan tau nanti," jawab Rere membuat Lalita semakin bingung.
Sebenarnya Rere tidak ingin membuat semua orang cemas. Tapi ini untuk kebaikan masing-masing.
Nicky ingin mendekati dan mencoba mencari tau semuanya dari Lalita. Rere mengambil langkah cepat, ia meminta Lalita untuk tinggal bersamanya. Rere tidak mau jika kedua orang tua mereka yang akan menjadi sasaran Nicky.
Dan untung saja jika Lalita tidak langsung jatuh hati pada lelaki itu.
'Sebenarnya, dia siapa sih? Kenapa kakak sampai melarangku seperti ini? Nggak biasanya' batin Lalita.
Lalita pun mendekat ke arah Celo yang mengelus lembut Lucas dan Lucia. Ia memberanikan diri untuk ikut mengelus peranakan kucing besar itu.
Namun di kuar dugaan, Lalita berteriak kencang karena keduanya mendusel Lalita hingga terhuyung.
"Hahahaa... sepertinya, Lucas dan Lucia menyukaimu onty," gelak tawa Celo terdengar begitu renyah.
Meninggalkan Rere dan Lalita kita melihat ke arah Nicky. Ia kembali dengan perasaan kesal. Jas yang ia kenakan di banting ke sembarang arah.
Grey datang menghampiri setelah melihat wajah tuannya seperti menahan kesal.
"Kenapa anda seperti sangat kesal sekali, tuan?" Tanyanya.
"Aku gagal lagi mendekatinya," jawab Nicky memukul keras meja di depannya.
"Bersabar dulu, tuan. Jangan terburu-buru untuk mendekatinya. Kau harus bisa membuatnya nyaman terlebih dulu agar mudah dia kau dapatkan," terang Grey.
"Banyak dari wanita di luar sana. Tapi, dia sepertinya tidak tertarik sama sekali denganku," ujar Nicky menyesap anggur merah.
Grey tersenyum simpul mendengar ucapan Nicky yang seperti frustasi di tolak oleh wanita. Baru kali ini ia melihat Nicky seperti itu.
"Anda harus bersabar sedikit tuan."
"Aku ingin memastikan sesuatu darinya."
"Jika dia ada hubungannya dengan wanita itu, maka aku akan menggunakannya secara perlahan untuk menumbangkan wanita itu," imbuh Nicky.
"Apa kau yakin jika wanita yang aku temui itu tidak ada hubungan sama sekali dengan wanita itu?" Tanya Nicky. Wanita yang di maksud Nicky adalah Rere.
"Aku pun sepertinya juga ragu tuan," jawab Grey.
__ADS_1
Nicky menyesap anggur merahnya hingga habis tak tersisa.