Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 40. Menghadapi Ibu-Ibu Rempong


__ADS_3

Waktu sudah malam, dimana semua para karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing. Tersisa Rere yang masih betah berkutat di dalam ruangannya, "anda belum pulang, nyonya?" Sebaiknya di sambung besok lagi, tuan Rey sudah sejak tadi menanyakan keadaan anda,"  ucap Liam pada Rere.


"Benarkah? Kenapa dia tidak menghubungiku langsung?"


"Tuan Rey bilang sedari tadi sudah menghubungi anda nyonya, tapi tidak aktif," jawab Liam. Rerepun mengecek ponsel miliknya yang ternyata lowbat.


"Pantas saja, ponselku lowbat," gumamnya.


"Yasudah kalo begitu, kita pulang sekarang. Jangan terlalu formal, Li. Aku tidak suka," ujar Rere yang di akhiri protes.


"Lalu saya harus bagaimana, nyonya?" Tanya Liam.


"Aahh... sudahlah terserah saja."


Rere melangkah keluar dan segera turun melalui lift khusus untuknya dan diikuti oleh Liam, saat di bawah dia melihat Rey yang baru saja memasuki loby.


"Kenapa ponselmu tidak aktif, hmm?" Tanya Rey.


"Ponselku lowbat, Rey," jawab Rere.


"Yasudah kita pulang, kamu harus banyak istirahat," ucap Rey mengelus pipi Rere.


"Kita pamit dulu, Li." Pamit Rey.


"Baiklah tuan, hati-hati di jalan," jawab Liam dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Li, suruh salah satu anak buah mengambil mobilku dan mengantarkan ke rumah," perintah Rere.


"Baik, nyonya."


Rere segera memasuki mobil milik Rey dan Liam melaksanakan perintah dari Rere.


Rey melajukan mobilnya membelah jalanan kota di malam hari, "mau mampir dulu apa langsung pulang?" Tanya Rey lembut. Rere menimbang-nimbang sambil meletakkan jari telunjuknya di dagu.


"Aku ingin makan mie ayam," jawab Rere.


"Mie ayam?" Rere menanganggukkan kepala.


"Baiklah, kita cari mie ayam," sambung Rey.


Tanpa lama-lama akhirnya mereka sampai di rumah makan yang terdapat di mie ayam, tidak susah untuk mencarinya, sebab mie ayam cukup banyak jual di sana.


Pesanan mie ayam mereka berdua akhirnya tiba, Rere berbinar-binar melihat salah satu makanan kesukaanya. Tidak perlu menunggu lama Rere segera menyantap mie tersebut.

__ADS_1


"Gak boleh pakai sambal," cegah Rey saat Rere meraih tempat sambal.


"Ayolah Rey, cuma sedikit saja," jawab Rere.


"Tidak, kalau sudah ada sambal kamu akan menuangkan semuanya nanti," cegahnya lagi. Rere sangat suka sekali dengan makanan pedas, Rey mencegah saat ini karena kondisi Rere sedang hamil.


"Cuma sedikiiiit saja, oke," rayu Rere.


Rey menghela nafasnya, "biar aku saja yang kasih," jawab Rey mengambil seujung sendok sambal untuk Rere.


"Kenapa sedikit sekali," protes Rere dengan wajah cemberut.


Rey tersenyum melihat Rere yang sedang merajuk, "ingat di dalam perutmu sayang, kamu gak boleh makan sembarangan dulu," tutur Rey lembut.


Akhirnya Rerepun menurut dengan ucapan Rey, mereka menikmati mie ayam itu dengan khitmad.


***


Waktu berjalan dengan cepat, kini kandungan Rere sudah menginjak 7 bulan. Dalam masa kehamilannya, Rere tidak pernah rewel dan manja seperti wanita hamil pada umumnya. Hanya saja, moodnya yang terkadang-kadang berubah.


Rey dengan sabar dan telaten menghadapi mood Rere berubah-ubah.


Bagaimana dengan Sisil? Jangan tanyakan lagi. Pasti ujung-ujungnya akan berakhir di kandang kesayangan Rere.


Yang melakukan tentu saja Daniel, karena Sisil terus saja mengumpat tiada henti hingga membuat Daniel geram dan akhirnya dia tewas di tangan Daniel dengan peluru bersarang di jantungnya.


Rere memilih baju dan sepatu yang lucu-lucu dengan di temani Rey.


"Bagus tidak, Rey?" Tanya Rere menunjukkan baju bayi berwarna silver dan terdapat gambar beruang di depannya.


"Bagus," jawab Rey melihat baju bayi itu.


Rere sengaja memilih warna yang netral-netral, karena mereka memang memilih untuk tidak mengetahui jenis kelamin anak yang di kandung Rere dulu. Agar nanti saat lahir menjadi kejutan buat mereka.


Rey juga mulai banyak bekerja di rumah untuk menemani dan berjaga-jaga jika Rere memerlukan sesuatu.


Barang yang di cari sudah di dapatkan dan di bayar, keduanya memutuskan untuk makan siang di salah satu resto yang ada di mall tersebut.


Tidak terlalu banyak barang yang mereka beli, 5 baju bayi, 5 pasang sepatu dan stroller keluaran terbaru.


Saat menuju resto, Rere tertabrak ibu-ibu rempong yang sedari tadi berjalan sambil memainkan ponselnya.


Bugh...

__ADS_1


Untungnya Rey dengan sigap menangkap tibuh Rere yang hampir saja terjatuh ke lantai.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rey dan di jawab gelengan kepala oleh Rere.


"Aduuhh.... hati-hati dong kalo jalan, jatuh kan hp mahal saya," omel ibu-ibu tadi tanpa merasa bersalah.


"Seharusnya andalah yang berhati-hati. Sedari tadi jalan memandang ponsel dan malah menyalahkan orang lain, bagaimana jadinya tadi jika istri saya jatuh," geram Rey.


"Alah lemah sekali jadi perempuan, kesenggol dikit aja sudah jatoh," bukannya meminta maaf justru ibu itu tambah sewot. Semakin geramlah Rey dengan ibu-ibu itu.


"Apa kau tidak pernah di ajarkan bagaimana cara meminta maaf, nyonya?" Bukan Rey, kali ini Rere angkat bicara dengan mengeluarkan tatapan tajam.


"Sudah diamlah wanita manja, dan cepat ganti hp saya yang sudah rusak," sewot ibu-ibu itu. Setiap pengunjung melihat dan mencibir ibu-ibu itu yang jelas-jelas dia salah.


"Oohh ganti, sini hp nya biar aku lihat," ucap Rere. Ibu-ibu itu tanpa ba bi bu be bo langsung saja memberikan hp miliknya.


Prang... pyaarr...


"Opss... tergelincir," ujar Rere dengan wajah songongnya.


Rere membanting hp milik ibu rempong itu dengan sangat keras hingga tidak berbentuk lagi. Semua orang melihatnya terperanga tak terkecuali ibu itu menganga karena ulah Rere.


"Heh... apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah membantingnya?" Teriak ibu itu.


"Heh, tuan. Ajarkan istrimu ini untuk bisa bersikap lembut pada yang lebih tua," ucapnya tak terima.


"Apa yang di lakukan oleh istri saya tidaklah salah, nyonya. Harusnya anda juga tau, andalah yang bersalah. Sedari tadi anda berjalan dengan memainkan ponsel hingga menabrak istri saya tanpa meminta maaf, lalu mengatainya manja dan meminta ganti rugi? Apa anda tidak pernah di ajarkan untuk melihat kesalahan sendiri dan meminta maaf pada orang lain?"


"Ayo sayang, kita pergi dari sini," ajak Rey merangkul pundak Rere.


"Heh... mau kemana kalian," teriak ibu itu sebelum Rey membawa pergi Rere.


Mendengar keributan, satpam yang bertugas di sana datang memghampiri.


"Bawa ibu itu pergi keluar, dan jangan biarkan ibu itu untuk masuk kesini lagi," titah Rere sudah merasa geram.


Ibu-ibu rempong tadi di seret keluar, ia terus saja memberontak tak terima.


Rere tiba di salah satu resto di mall miliknya, sedari tadi ia terus saja menggerutu karena ibu-ibu tadi. Untung saja Rey bisa meredakan emosi Rere.


"Mau pesan apa nyonya, tuan?" Tanya pelayan datang menghampiri.


"Kami pesan nasi goreng seafood 2, Salad buah 1 dan untuk minumnya jus jeruk 2," jawab Rey. Rere hanya diam menurut.

__ADS_1


"Baik, silahkan di tunggu."


Pesanan yang di tunggu akhirnya datang, mereka berduapun menikmati makan siang itu, sesekali Rey bersifat romantis hingga membuat para pemgunjung di resto itu merasa iri dan ada juag yang hanya bisa menggigit jari telunjuknya.


__ADS_2