Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 68. Perasaan Daniel


__ADS_3

"Berbicara pada dua orang yang tidak ada pekanya," jawab Rere.


"Udah, kedip matanya. Nanti keluar loh." Sindir Rere lagi.


Seketika Liam dan Daniel menoleh ke arah Rere karena merasa tersindir.


Mereka sedikit salah tingkah namun buru-buru untuk fokus pada hal lain.


.


.


2 bulan kemudian...


Dor...


Dor...


Dorr...


Semua botol kaca yang berjejer itu pun pecah keseluruhan.


Dor...


Dorr..


Door..


Agnes datang menghampiri dengan kedua tangannya di lipat di depan dada.


"Bagaimana prasaanmu padanya?" Ucap Agnes to the point pada Daniel.


"Memangnya prasaan apa? Padanya siapa yang kau maksud?" Daniel masih fokus dalam latihan menembaknya.


Dor..


Doorr..


Dor...


"Tidak perlu kau tutupi itu, Niel. Aku tau. Kau punya rasa pada Lalita bukan?" Sarkas Agnes. Daniel pun menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah Agnes.


"Tidak." Bohong Daniel.


"Heh... apa kau kira bisa membohongiku? Kita sudah mengenal bertahun-tahun, Niel. Bu boss pun juga tau mengenai hal ini. Pandanganmu pada Lalita tidak bisa berbohong." Daniel di buat bungkam oleh ucapan Agnes.


Selama ini, ia memang selalu memperhatikan Lalita yang menarik perhatiannya. Tapi, ia juga sadar. Dirinya dan Lalita beda jauh.


Agnes pun tersenyum miring melihat reaksi Daniel.


"Jangan membohongi dirimu sendiri, Niel. Kalau kau memang suka, katakan saja." Imbuh Agnes.


Daniel pun menghela nafasnya. "Kau tau sendiri bukan? Aku dan dia beda jauh, aku tau akan batasanku," mau tidak mau Daniel mengakuinya pada Agnes.


Sejak penculikan Lalita dan Celo waktu itu, entah kenapa Daniel mulai tertarik dengan Lalita. Dia tidak pernah melepas pandangannya saat ada Lalita. Namun ia sadar, tidak mungkin bisa menggapai langit yang terlalu tinggi.


"Ternyata Daniel yang aku kenal kejam lemah sekali dalam hal ini," ejek Agnes.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"


"Harusnya kau bisa membuktikan jika dirimu layak. Kalau kau memang suka, katakan. Jangan menyimpannya dalam diam. Jangan sampai kau menyesal dalam diam nanti," sambung Agnes melenggang pergi.

__ADS_1


Daniel pun hanya bisa diam tidak berkata-kata mendengar perkataan dari Agnes. Dia bingung, harus bagaimana dia sekarang.


Sedangkan di kediaman Rey.


Ooeekk...


Ooekk...


Salah satu dari mereka menangis.


Rere yang mendengar tangisan si kembar pun berlari terburu-buru.


"Adeknya kenapa Celo?" Tanya Rere tiba di sana.


"Tadi di cubit aunty, ma." Jawab Celo.


Lalita melototkan matanya mendengar jawaban Celo.


"Astaga, anak tuyul. Jangan nuduh sembarangan ya." Ketus Lalita tidak terima.


Sepertinya Celo balas dendam dengan sang aunty, karena ia baru saja di ejek oleh Lalita.


"Kenapa adik-adik Celo suka sekali nangis ma?" Tanya Celo polosnya.


"Heh anak tuyul, di mana-mana bayi ya nangis. Mana ada bayi langsung berbicara. Ada-ada saja," sajut Lalita lagi.


"Apa sih aunty. Aku nanya sama mama kok," sungut Celo kesal karena sedari tadi Lalita menyahuti perkataannya.


"Itu sama saja dia interaksi dengan kita, cuma adeknya belum bisa berbicara. Dulu Celo juga begitu, suka nangis seperti adik." Terang Rere sambil menimang-nimang si kecil.


"Adik-adik cepat gede ya. Nanti kakak ajak main dengan Lucas dan Lucia," celoteh Celo pada salah satu adiknya yang tertidur. Lalita bergidik ngeri dengan ucapan Celo.


Jangan di tanya lagi kalau Lucas dan Lucia. Mereka sudah berkembang besar, ukuran tubuhnya tidak sama seperti dulu. Sekarang lebih berisi, lincah dan sangat aktif. Hanya dengan Celo mereka sangat tenang.


.


Malam harinya...


Daniel termenung mengingat-ingat perkataan Agnes tadi siang.


Dia bimbang untuk saat ini. Hatinya mengajaknya untuk mengejar, tapi fikirannya mengajak ia mundur karena perbedaan jauh di antara mereka.


Ia memandang rembulan yang bersinar terang saat ini di rooftop yang berada di markas.


"Perkataan Agnes memang benar. Tapi aku juga sadar aku siapa. Kita seperti langit dan bumi." Gumamnya pelan menerawang jauh.


"Bagaimana bisa aku menggapai langit yang begitu tinggi. Itu seperti hal mustahil yang bisa aku lakukan," sambungnya dengan lirih.


Sorang pria berdiri tegap dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. Ia memerhatikan Daniel sedari tadi. Dia tersenyum simpul melihat kebimbangan Daniel.


"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini anak muda," sahutnya. Daniel yang mendengar suara sangat familiar itu membalikkan tubuhnya.


"Tuan," sapa Daniel sedikit menunduk.


Siapa lagi seseorang itu, kalau bukan Rey.


"Tidak usah terlalu formal." Ujar Rey mendekat ke arah Daniel.


Daniel sedikit salah tingkah karena ketahuan oleh Rey saat ini.


"Jangan gugup. Bersikaplah seperti biasanya," sambung Rey melihat mimik wajah Daniel.

__ADS_1


"Jangan berfikir terlalu dalam, Niel. Jika kau memang suka dengan adik iparku, maka katakan itu. Perjuangkan dia jika memang kau benar-benar menginginkannya." Kata Rey ikut memandang rembulan di atas sana.


"Tapi tuan, aku merasa tidak pantas untuknya. Aku dan kalian sangatlah jauh," ungkap Daniel.


"Kau salah, Niel. Justru aku dan Rere menyetujui jika kau memang benar-benar menginginkannya. Rere juga percaya padamu jika kau bisa menjaga Lalita suatu saat nanti."


"Kau pernah bilang padaku bukan, waktu aku hampir menyerah untuk membuat Rere kembali padaku. Kau bilang padaku jika memang aku benar-benar menginginkannya, maka perjuangkan sampai aku mendapatkannya kembali."


"Cinta juga butuh perjuangan, Niel. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin selagi kau terus berusaha."


"Jangan menundanya, jangan sampai kau menyesal di kemudian hari." Rey menepuk pundak Daniel.


"Tapi, aku tidak tau dari mana aku memulainya." Lirih Daniel.


Karena memang ini adalah hal yang pertama bagi Daniel. Selama ini ia hanya fokus dengan pekerjaannya dan pemgabdiannya pada Rere.


Meskipun banyak kaum hawa tertarik karena ketampanan yang di milikinya, tapi Daniel hanya bersikap cuek.


"Dekati dia perlahan-lahan. Apa aku dan Rere yang harus turun tangan?" Ucap Rey menggoda Daniel.


"Tidak perlu, tuan. Aku akan mencoba dengan usahaku sendiri." Jawab Daniel menggelengkan kepala.


"Aku tunggu usahamu." Ujar Rey lagi.


Daniel tersenyum, ia merasa ada sedikit semangat dalam dirinya.


"Lalu, apa yang anda lakukan disini sekarang?" Tanya Daniel pada Rey.


"Aahh... iya. Aku tadinya ingin latihan bersamamu, tapi tidak jadi. Aku melihatmu galau tadi, jadi aku urungkan. Lain kali saja," jawab Rey dengan santainya.


"Aku pulang dulu kalau begitu," pamit Rey kembali menepuk pundak Daniel.


"Salam buat nyonya dan tuan kecil," ucap Daniel. Rey hanya menjawab dengan ajungan jempolnya.


Rey turun ke bawah lalu menuju ke mobil miliknya. Tanpa berlama-lama, Rey melajukan laju mobilnya membelah jalanan kota malam hari.


Sesampainya di rumah, Rey turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Ia langsung saja menuju ke kamarnya yang di tempati bersama Rere.


Klek...


Suara pintu terbuka, Rere menoleh ke arah sumber suara.


Celo asik bermain dengan adik-adiknya hingga tidak menghiraukan kedatangan sang papa.


"Tumben baru pulang," sambut Rere melihat kedatangan sang suami.


"Aku mampir ke markas dulu tadi." Jawab Rey melepas jas yang ia kenakan.


"Ada apa? Tumben sekali?" Tanya Rere lagi.


"Tadi niatnya aku mau latihan sebentar, tapi aku urungkan. Aku melihat Daniel galau tadi," jawab Rey mengec*p singkat kening Rere.


"Benarkah?" Rey menjawab dengan anggukan.


"Lalu, bagaimana?" Tanya Rere penasaran.


"Aku mandi dulu ya, nanti aku ceritakan."


"Iya," jawab Rere. Rere pun kembali ke atas kasur di mana Celo dan si kembar berada.

__ADS_1


__ADS_2