Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
PENGUMUMAN KARYA BARU


__ADS_3

Haiii semuanya.... terima kasih yang sudah bersedia mampir di karya pertama author ini. Author tau jika karya ini masih banyak sekali kekurangan. Author harap, readers bisa selalu memberi saran, masukan & dukungan agar author semangat dalam berkarya.


Jamgan lupa juga hadia, vote, like dan komen ya. Tanpa kalian author tidak bisa apa-apa.


.


.


.


.


.


Disini author akan memberi tahu karya author yang ke dua. Dengan Judul DIA DIANTARA KITA.



Atau readers juga bisa cek di profil author. Author akan memberi cuplikan sedikit disini.


Karya ke dua Author bukan hanya mengisahkan asmara, melainkan juga terdapat kisah mistis di dalamnya.


###


Nalu Mi Reina adalah seorang gadis imut, ia memiliki sifat yang baik, tidak membeda-bedakan dalam pertemanan dan memiliki kesabaran yang tidak bisa di ukur.


Ia mempunyai kekasih bernama Febrian Renamon biasa di sapa dengan Brian, hubungan mereka berjalan selama 3 tahun.


Hubungan mereka sangat bewarna. Sikap Brian yang terkadang jahil, membuat dirinya terkadang geram. Tapi, Nalu juga merasa beruntung memiliki kekasih seperti Brian. Brian yang dewasa, baik dan tidak membeda-bedakan dalam bergaul serta menolong siapa saja.


Tetapi, di balik itu Brian selalu menghadirkan wanita dalam hubungannya, hingga menguji kesabaran Nalu.

__ADS_1


Pada akhirnya Brian memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Nalu.


“Nalu, Aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Brian.


“Apa itu Bri?” Tanya Nalu penasaran.


“Aku ingin mengakhiri hubungan ini,” jawab Brian to the point. Nalu merasa disambar petir di siang bolong. Wajahnya yang tadinya begitu bahagia menjadi murung karena ucapan Brian.


“Kenapa Bri? Kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?” Tanya Nalu sambil menahan air matanya agar tidak jatuh di hadapan Brian.


Selama ini Nalu selalu menyembunyikan tangisnya dari siapapun itu, termasuk dengan Brian.


“Aku masih belum baik, Lu. Aku ingin memperbaiki diriku saat ini,” jawab Brian. Entah itu kejujuran atau tidak.


Nalu semakin menunduk sedih, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


“Nalu… dengarkan aku,” ujar Brian mengangkat dagu Nalu.


“Apa kau tidak mau, Lu?” Tanya Brian.


“Entahlah Bri, aku juga memang belum baik Bri. Aku juga masih memiliki banyak kekurangan, entahlah aku ngikut maumu saja,” ucap Nalu yang sudah pasrah. Dia bingung harus menyikapinya bagaimana.


Nalu sendiripun juga merasa jika dirinya juga belum baik, masih banyak memiliki kekurangan dalam dirinya. Tapi Nalu juga tidak ingin berpisah dengan Brian, hubungan yang selama ini di bangun begitu apik, dengan pondasi yang begitu kuat.


Nalu selalu berusaha untuk membuat Brian nyaman bersamanya, tapi sepertinya takdir berkata lain.


Nalupun bangkit dari duduknya dan berjalan pulang dengan langkah gontainya, Brian hanya bisa menatap kepergian Nalu begitu saja.


Saat ini mereka berada di taman, mereka berdua menghabiskan waktunya bersama-sama hingga kenyataan pahit di terima oleh Nalu.


Di perjalanan pulang, Nalu selalu saja menghapus air matanya yang tidak bisa berhenti menetes.

__ADS_1


Sesampainya dirumah, Nalu menuju kamar dan menguncinya rapat-rapat. “Hiks… hikss…” isak tangisnya terdengar.


Nalu mengurung dirinya di dalam kamar, ia menangis selama berjam-jam tidak berhenti. Begitulah Nalu, dia memang tidak pernah menangis, menangispun juga kadang cuma sebentar.


Tetapi, jika sudah dalam keadaan hati yang tidak baik, Nalu bisa menangis selama berjam-jam seperti sekarang ini.


Malam harinya…


Nalu keluar dari kamarnya menuju rooftop di rumahnya. Semilir angin malam, membuat surai panjang sepunggung itu melambai-lambai. Ia berdiam diri dan melamun cukup lama setelah apa yang ia alami hari ini.


Air matanya kembali menetes mengingat perkataan dari Brian siang tadi, ia mengingat semua masa-masa indahnya bersama Brian selama waktu 3 tahun ini.


“Kenapa harus berakhir? Hikss…hikss…” gumamnya pelan dengan air mata yang membasahi pipinya dengan deras.


Isak tangisnya tidak bisa berhenti, ia mendengar notifikasi pada ponselnya dan melihat siapa yang mengirim pesan untuknya. Tertera nama Brian diapun membuka pesan itu.


“Nalu… sedang apa?” Isi pesan dari Brian.


“Di rooftop,” balas Nalu sambil mengelap air matanya berkali-kali.


“Kenapa di atas sana, turunlah. Hari sudah malam Nalu,” balasan dari Brian.


“Aku hanya ingin menenangkan diriku sendiri,” tulis Nalu.


“Ini sudah hampir tengah malam, Nalu. Turunlah, aku tidak mau kamu kenapa-napa,” jawab Brian dengan perhatian. Nalu hanya melihat isi pesan itu, kemudian ia kembali menangis terisak.


Satu jam kemudian, Nalu baru turun dari rooftop dan menuju kamarnya. Nalu tidak menyadari jika ada sosok di atas sana yang terus mengawasinya sedari tadi. Mungkin karena suasana hatinya yang sedang kacau membuatnya tidak merasakan hawa yang membuat siapa saja merinding.


Saat tiba di kamarnya, ia meringkuk memeluk boneka panda kesayangannya. Ia masih tidak mengira jika hubungannya dengan Brian harus berakhir.


Bagaimana kelanjutannya??....

__ADS_1


Yuk kita simak kisah Nalu dan Brian 😊😊. Author tunggu kedatangan kalian semua.


__ADS_2