
Keesokan harinya...
Rere terbangun dari tidurnya. Ia memandang Rey yang masih belum sadarkan diri.
"Bangunlah, Rey..." lirih Rere menggenggam erat tangan Rey.
Tak lama kemudian dokter dan suster masuk ke dalam untuk mengecek perkembangan Rey.
"Pagi, nyonya. Saya cek dulu ya," izin sang dokter.
Dokter pun mengecek semua kondisi Rey apakah ada masalah atau tidak.
"Bagaimana dok? Kenapa suami saya belum sadar?" Tanya Rere cemas.
"Sabar dulu nyonya. Tuan masih terpengaruh oleh obat. Semua kondisi tuan juga mulai membaik. Kita lihat hingga sore nanti ya," terang dokter di angguki oleh Rere.
"Kalau begitu, terima kasih dok." Ucap Rere.
Dokter pun pamit untuk melakukan tugas yang lainnya.
"Mamaa... Celo dataang." Teriak Celo dari luar.
Rere menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.
"Anak mama sudah wangi," ujar Rere tersenyum melihat keceriaan Celo.
"Kami bawakan sarapan untukmu. Sarapanlah dulu kak," sahut Lalita.
"Aku cuci muka dulu." Rere pun ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi terlebih dulu.
Skiip...
Siang harinya, Daniel, Liam dan Arin datang ke rumah sakit untuk berkunjung.
Ruangan yang tadinya sepi menjadi gaduh karena trio (Agnes, Daniel dan Arin) itu berkumpul.
Hanya Liam sendiri yang pendiam di antara mereka bertiga.
"Bisa diam tidak kalian. Pusing aku liatnya," bentak Rere.
"Ini di rumah sakit, bukan pasar." Sambung Rere.
Mereka bertiga pun akhirnya diam membisu.
Merasa hening tidak ada percakapan, Arin pun membuka suara.
"Bagaimana Rey bisa tertembak seperti itu?" Tanya Arin.
"Kemarin dia menggantikan posisiku. Harusnya aku yang berbaring di atas brankar itu, bukan Rey." Jawab Rere dengan wajah sedih.
Sebisa mungkin Rere menyembunyikan kesedihannya. Tapi, bagaimanapun ia tidak bisa.
"Kayaknya, adegannya so sweet seperti di film-film gitu ya," ucap Arin membayangkan adegan romance yang ada di film biasa dia tonton.
"Kau mau mencobanya? Coba ajak Liam," sahut Daniel.
"Nggak usah, nggak jadi." Ketus Arin menjawab Daniel.
Lainnya pun terkekeh, Liam hanya diam memandang wajah Arin sedari tadi.
"Bagaimana dengan orang itu Niel?" Tanya Rere dengan sorot mata tajam.
"Dia berada di ruang seperti biasa. Dia selalu berteriak untuk di lepaskan," jawab Daniel.
"Biarkan orang itu. Aku sendiri yang akan mengurusnya." Ucap Rere dengan tegas.
__ADS_1
"Tuan Li... kalau kau suka kenapa tidak kau lamar saja Arin. Dari pada kau terus memandanginya seperti itu. Bola matamu hampir keluar tu," cerocos Agnes melihat tatapan Liam sedari tadi tertuju pada Arin. Agnes pandai sekali jika dalam hal seperti ini.
"Tunggu saja nanti," jawab Liam singkat menanggapi ucapan Agnes.
"Uhuuuyyy... uhuuyy."
Daniel dan Agnes pun bersorak sorai dengan jawaban dari Liam.
"Jangan membual kau," ketus Arin pada Liam. Pipinya merona merah karen malu mendengar sorak sorai dari Agnes dan Daniel.
"Jangan menyangkal kak, kalian cocok kok," sahut Lalita.
"Kurang apa lagi coba. Kak Li sudah mapan, tampan, kaya dan tentu saja dewasa. Jangan sia-siakan, nanti ada yg nyerobot dulu nyesel loh." Imbuh Lalita memanas-manasi situasi itu.
"Iiihhh sudah deh. Apa sih kalian ini," Arin memanyunkan bibirnya 5 centi.
'Tapi... apa yang di ucapakan tuan Li tadi? Tunggu saja, maksudnya gimana? Apa dia serius dengan ucapannya? Aahhh sudahlah' batin Arin.
Tak berselang lama suara batuk membuyarkan candaan mereka semua.
Uhuukk...
Semua menoleh ke arah sumber suara.
"Rey... kau sudah sadar?" Ujar Rere melihat Rey mulai membuka mata.
"Haus.." ucap Rey dengan suara lemah.
Rere pun mengambilkan minum yang berada di atas nakas di samping brankar dan memberikannya pada Rey untuk minum.
Rere memencet tombol yang ada di atas brankar.
Tak berselang lama, dokter pun datang unyuk memeriksa kondisi Rey saat ini.
"Syukurlah nyonya, tuan Rey baik-baik saja. Kondisinya sudah membaik. 3 hari lagi tuan Rey sudah boleh pulang," jelas dokter dengan tersenyum ramah.
"Kalau begitu, terima kasih banyak dok."
"Kalau begitu, saya permisi dulu nyonya. Jika ada apa-apa nanti panggila kami." Pamit sang dokter lalu keluar dari ruangan.
Rey yang meminta untuk bangun di bantu oleh Rere.
Rere memencet tombol yang ada di brankar itu agar Rey bisa terduduk.
"Terima kasih." Ucap Rey tersenyum.
"Gimana rasanya tertembak, Rey? Apa itu sakit?" Sahut Arin.
"Kau mau mencobanya?" Jawab Rey di balas gelengan cepat dari Arin.
"Nyonya, tuan. Saya permisi dulu untuk kembali keperusahaan." Pamit Liam pada tuannya.
"Aku pun juga. Cepat sembuh ya Rey," Arin pun mengikuti langkah Liam. Mereka tadi berangkat bersamaan.
Setelah Liam bercerita jika Rey tertembak, Arin pun ikut ke rumah sakit untuk melihat kondisi teman lamanya itu.
"Papaa... Celo kangen papa," celoteh Celo.
Rey pun menoleh ke arah Celo dan tersenyum.
"Sini anak papa," panggil Rey pada Celo.
Celo mendekat dengan semangatnya.
"Celo mau gendong papa."
__ADS_1
"Papa masih sakit, sayang. Celo sama mama saja ya," bujuk Rere pada Celo yang merengek ingin di gendong oleh Rey.
"Biarkan saja, sayang. Aku sudah baik," ucap Rey.
"Sini sama papa," mau tak mau Rere menurut. Rey meletakkan Celo di pangkuannya.
"Celo sudah makan?" Tanya Rey pada Celo.
"Sudah papa..." jawab Celo.
"Anak papa semakin gemuk ya sepertinya."
Celo semakin haru bertambah berat. Pipinya yang chubby membuat siapa saja gemas.
"Bagaimana dengan Lucas dan Lucia?" Ucap Rey lagi. Celo menjawab dengan antusias menceritakan 2 anak harimau miliknya.
Rere tersenyum melihat interkasi anak dan papa itu.
"Benarkah? Berarti Lucas dan Lucia pintar seperti Celo." Jawab Rey menanggapi cerita sang buah hati.
"Celoo... sudah ya. Biar papa istirahat dulu, papa masih butuh istirahat agar cepat pulang, oke." Tutur Rere.
Celo menganggukkan kepala setuju. Ia juga sudah rindu ingin bermain dengan sang papa seperti biasanya.
Malam hari...
"Makan dulu, setelah itu istirahat." Ucap Rere membawa semangkuk bubur.
"Tapi kamu juga harus ikut makan," Rere mengangguk lalu menyuapkan bubur itu pada Rey.
Seperti biasa, mereka akan makan berdua dan saling suap.
Selesai makan malam, mereka saling berbincang dan bercanda untuk menghilangkan kebosanan.
Saat ini ruangan itu hanya berisikan mereka berdua. Rere tidak membiarkan Celo untuk ikut tidur di rumah sakit.
"Aku belum bilang sama mama dan papa soal ini."
"Tidak apa, biarkan saja. Aku tidak ingin mereka akan cemas nanti. Pasti mereka juga akan bertanya-tanya bagaimana aku bisa tertembak." Jawab Rey masih menggenggam erat tangan Rere.
"Sudahlah, ayo istirahat. Sudah waktunya istirahat," ajak Rere melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.15 malam.
"Tapi kamu harus tidur denganku."
"Biarkan aku tidur di brankar sebelah. Nanti lukamu tertekan olehku," jawab Rere.
"Tidak, sayang. Cepatlah berbaring di sini." Bujuk Rey sambil menepuk-nepuk posisi di sampingnya
"Baiklah." Rere pasrah dengan ajakan Rey.
Rere pun naik ke atas brankar dan merebahkan dirinya di samping Rey.
Mereka berpelukan melepas rindu yang seperti sudah lama ridak bertemu.
"Apa itu sakit?" Rere mendongakkan kepala menghadap wajah Rey menanyakan luka tembak itu.
"Pasti sakit, sayang. Aku baru pertama kali merasakan luka tembak seperti ini." Jawab Rey.
"Maafkan aku yang harus membawamu ke masalah seperti ini," lirih Rere sedih.
"Tidak. Ini bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu. Sudah tugasku untuk melindungimu," Rey meng***p singkat pucuk kepala Rere.
Rere tersenyum dengan perlakuan manis suaminya itu.
"Sudah ayo istirahat," ajak Rere agar Rey segera istirahat.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya terlelap saling berpelukan.