Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 23. Rona Bahagia


__ADS_3

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saat ini matahari mulai tenggelam dan menunjukkan warna yang memukau membuat siapa saja yang melihatnya merasa terkagum-kagum.


"Indah ya Rey," ujar Rere terkagum dengan keindahan warna yang dihasilkan senja itu.


"Sangat indah, apa kau suka?" tanya Rey.


"Emmm... aku sangat menyukainya, sudah lama aku tidak melihat pemandangan seperti ini," jawab Rere yang masih bersandar dibahu Rey.


"Apa kau juga menyukainya?" Tanya Rere.


"Yaa... aku juga menyukainya." jawabnya.


"Sudah lama sekali aku ingin menikmati masa-masa seperti ini," sambung Rere.


"Ada aku disini sekarang, kau bisa mengajakku semaumu kalau kau ingin menikmati pemandangan seperti ini," sahut Rey yang juga menikmati keindahan pemandangan senja itu.


"Ree... aku serius dengan perkataanku kemarin. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, aku akan melakakukan sebisaku dan semampuku untukmu. Aku tidak mau menyia-nyiakan dirimu lagi," ujar Rey.


"Aku memang bukanlah pria romantis yang selalu bersikap sweet pada pasangannya. Aku juga bukanlah pria yang hebat, aku mempunyai banyak kekurangan. Aku salah dulu pernah menghianatimu, aku begitu bodoh. Tapi sekarang aku tau, mana yang tidak pantas dan mana yang pantas aku perjuangkan. Aku tidak ingin menundanya lagi Re. Rere Cassandra, maukah kau hidup selamanya bersamaku, menemani hari-hariku sampai tua nanti," ucap Rey panjang lebar dengan bersungguh-sungguh. Rere yang melihat kesungguhan Reypun terharu dibuatnya. Karena inilah yang diharapkan oleh Rere.


"Rey... aku juga bukanlah orang baik, aku bukanlah Rere yang dulu yang pertama kali kau lihat dan kau kenal. Rere yang sekarang terkenal kejam dan sadis. Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Tanya Rere yang sedikit merasa takut dengan apa yang ia ucapkan.


"Aku tidak mempermasalahkan siapa dirimu Re, justru akulah penyebab kenapa kau bisa seperti ini. Kau swperti ini juga karena ulahku. Maafkan aku.," jawab Rey dengan menakup kedua pipi Rere.


Rere yang mendengar ucapan Reypun membalas dengan anggukan dan senyuman yang menandakan jika dia bersedia hidup bersama Rey.


"Terima kasih, Re. Kau mau menerimaku kembali," ujar Rey dengan menempelkan keningnya ke kening Rere.


Suasana senja dan deburan ombak dilaut memberikan nuansa yang indah perbincangan sepasang muda mudi yang baru saja memperbaiki hubungan mereka kembali.


Pemandangan laut yang soelah menyatu dengan cahaya kemerahan dari matahari dan semilir angin laut menambah kesan romantis antara mereka berdua.


Pemandangan laut disana menjadi saksi dimulainya kembali perjalanan mereka berdua, dua insan itu sudah memantapkan dirinya untuk memulai hidup baru bersama.


Hari mulai gelap, Rey segera mengantarkan Rere kembali kemensionnya. Disepanjang perjalanan, Rey tak pernah melepaskan tangannya yang menggenggam erat tangan Rere, sedangkan tangan satunya digunakan untuk menyetir.


"Kau fokus saja Rey, aku tidak akan kabur kemana-mana," ucap Rere yang sedari tadi tangannya digenggan erat oleh Rey. Bukannya apa, tapi Rere juga tidak mau jika Rey tidak fokus menyetir.


"Biarkan saja seperti ini," jawab Rey yang enggan melepaskan genggamannya. Rere hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Rey.

__ADS_1


Setibanya mereka dimension Rere, Rey berjalan memutar membukakan pintu untuk Rere.


"Ayo masuk dulu," ajak Rere yang di angguki oleh Rey.


"Selamat malam nona, tuan," ucap salah satu ART yang membukakan pintu.


"Terima kasih," jawab Rere.


"Nona sudah pulang, makan malam sudah siap nona," ujar bi Nunung yang melihat kedatangan Rere.


"Terima kasih, bi. Bibi dan lainnya juga makanlah," ujar Rere dengan penuh perhatian.


Rey yang melihat Rere akrab dengan ART dimensionnya semakin terkagum-kagum, Rere tidak pernah gengsi atau memandang kasta untuk akrab dengan siapapun.


Agnes yang mendengar suara mobil Rey tiba langsung memutuskan untuk turun kebawah, sesampainya dibawah dia bergabung dengan Rey dan Rere, tak lupa juga dengan keisengannya sesekali dia lontarkan.


"Cieee... yang habis kencan," ucapnya sambil menaik turunkan alisnya. Rere yang melihatnya ingin sekali menimpuknya.


"Kenapa denganmu?" ujar Rere melihat tingkah Agnes.


"Aku melihat rona-rona bahagia yang sedang menyelimuti kalian," goda Agnes dengan mata yang disipitkan.


"Hahahaa... kenapa wajahmu merah seperti itu bu boss? Wajahmu seperti tomat matang," gelak tawa dan candaan Agnes yang melihat pipi merah Rere.


"Diam kau," sungut Rere yang merasa malu. Rey yang melihat interaksi mereka terkekeh dibuatnya.


Mereka langsung memutuskan untuk malam bersama, kali ini Rey juga disana untuk bergabung, baru kali ini Rey makan malam dimension Rere. Biasanya mereka makan bersama diluar.


Setelah makan malam, Rey memutuskan untuk pamit terlebih dahulu karena dia juga harus menyiapkan untuk pekerjaannya besok.


"Aku pulang dulu ya," pamitnya pada Rere.


"Baiklah, hati-hati dijalan," jawab Rere dengan senyumnya. Rey mengelus lembut pipi Rere dan langsung masuk kedalam mobilnya.


Rere terus memandang mobil Rey hingga tak terlihat lagi, setelah itu dia bergegas masuk kedalam untuk membersihkan dirinya.


Diperjalanan menuju rumahnya, Rey terus saja tersenyum bahagia. Sesampainya ia dirumah, mamanya yang melihat rona bahagia pada Rey menjadi penasaran. Karena tidak seperti biasanya Rey datang dengang wajah yang sumringah.


"Ada apa dengan kakakmu itu Lea? Kenapa wajahnya sumringah begitu? Tak sepeti biasanya," tanya mama Rey yang melihat ekspresi Rey saat ini.

__ADS_1


"Mana aku tau ma, sedari tadi kan aku sama mama," jawab Alea dengan menggedikkan bahunya.


"Sudahlah biarkan saja, mungkin dia sedang menemukan sesuatu yang membuatnya senang," sahut papa Rey.


Mama Rey bernama Almaira Abraham sedangkan papanya bernama Haris Kalandra Abraham. Saat ini mereka sedang berkumpul dan menonton TV, melihat kedatangan Rey yang bahagia merekapun bertanya-tanya.


Semua anggota keluarga Rey cukup dekat dengan Rere, mereka belum tau jika Rere sudah kembali karena Rey belum menceritakannya. Rencananya besok Rey akan membawa Rere kerumahnya sekaligus membahas pernikahannya.


Kembali lagi ke sisi Rere yang baru saja selesai dengan ritual mandinya, Rere berbaring menatap langit-langit kamarnya dikasur king sizenya. Saat ini dia merasakan bahagia yang ia tunggu-tunggu.


Rere yang belum bisa tidur akhirnya memilih mengotak-atik ponselnya, dia berselancar didunia maya, Rere hanya menscroll-scroll sosmednya, karena memang dia tidak terlalu suka mengekspos atau update status, karena menurutnya itu tidak penting. Sosmednya hanya ia gunakan untuk mencari hiburam dikala bosan.


Lama berselancar disosmednya akhirnya Rere memutuskan untuk tidur dan istirahat karena waktu sudah menunjukkan tengah malam.


***


Keesokan paginya, Rere sudah berkutat dengan berkas-berkas yang ada dikantornya. Agnes yang sedari tadi bosan tidak ada teman mengobrolpun membuka suaranya.


"Bu bosss..." panggil Agnes.


"Hmmm..." sahut Rere dengan deheman.


"Bu boss," panggilnya lagi.


"Aku timpuk kau lama-lama ya," sungut Rere yang merasa jengkel.


"Jangan jahat-jahat kenapa," ujar Agnes dengan wajah cemberut.


"Kalau kau bosan keluar saja sana, jangan ganggu aku," geram Rere yang sedari tadi mendengar rengekan Agnes.


Agnes adalah sekertaris pribadi dari Rere, untuk masalah berkas-berkas kantor dia hanya sedikit-sedikit membantu. Karena itu perintah Rere sendiri, ia hanya menyuruh Agnes untuk mengurus keperluaannya. Untuk urusan kantor, Rere sudah ada sendiri.


Tapi jika Rere bepergian, Agnes selalu ikut. Karena itu sudah tugasnya untuk melindungi Rere dan mendampingi Rere jika ada sesuatu atau ada yang diperlukan.


"Nggak ah, gak ada temannya juga," jawab Agnes.


"Terserah kau lah Nes," sahut Rere.


Agnes memutuskan untuk berdiam diri saja dan berselancar di sosmednya

__ADS_1


__ADS_2