
"Jelaskan yang tadi Rey," ucap Rere dengan tatapan intimidasinya.
"Bagaimana bisa kamu menggunakan senjata itu, mau jawab apa? Hanya reflek? Orang yang sudah terbiasa dan tidaknya itu terlihat Rey, tembakanmu menunjukkan jika itu sudah terlatih dan terbiasa menggunakan," ucap Rere panjang lebar.
"Maaf sayang, aku akan jelaskan untuk ini," Rere tidak menggubris ucapan Rey.
"Dan untuk kalian berdua," menoleh ke arah Daniel dan Agnes.
"Siapa yang sudah mengajarinya? Kenapa tidak memberitahuku?" Cerca Rere. Daniel hanya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sebagai gantinya kalian lari di lapangan 500 putaran," perintah Rere. Ketiganya hanya melotot mendengar perintah Rere.
"Yang benar saja nona, aku sudah lama sekali tidak lari, bisa-bisa pingsan aku nanti," protes Agnes.
"Tidak ada protes, kalian semua cepat laksanakan," perintahnya dengan tegas. Mau tidak mau mereka bertiga menurut, daripada hukuman semakin di beratkan.
Ketiganya menuju lapangan dan bersiap-siap untuk berlari, Rere hanya duduk diam mengawasi mereka.
Di sisi sebaliknya, Arin menggerutu kesal tidak henti-hentinya, "huuh... itu kenapa bisa ya Rere punya anak buah seperti itu. Udah dinginnya kayak kutub utara, setiap kali memberi tugas selalu mendadak. Aiisshh, setress aku lama-lama," gerutu Arin sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Berhenti menggerutu, kerjakan tugasmu nona. Kalau tidak mau, yasudah resign saja," sahut Liam mendengar gerutuan Arin.
Arin terlonjak kaget mendengar suara Liam, "astaga, mengagetkanku saja," ucap Arin mengelus dadanya.
Awalnya Liam ingin memberitahukan Arin kalau tugas itu di undur sampai minggu depan. Mendengar gerutuan Arin, Liam mengurungkan niatnya, sekali-kali ia ingin mengerjai Arin yang selau bertingkah bar-bar.
"Inginku cincang saja orang itu," gerutunya kembali setelah Liam pergi. Arinpun mengerjakan tugas yang di berikan oleh Liam.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan malam, Arinpun memutuskan untuk pulang karena jam kantor sudah selesai, "huuhh... sebaiknya aku pulang, aku bawa saja tugas ini," gumamnya.
Iapun pulang menuju rumahnya yang tidak jauh dari perusahaan tempatnya bekerja.
Di lain sisi, Rere terdiam di balkon atas kamarnya memandang pemandangan malam. Saat ini pikirannya menerawang jauh, entah apa yang sedang ia pikirkan.
Tiba-tiba tangan kekar melingkar di perutnya, siapa lagi kalau bukan Rey, "masih marah?" Tanyanya yang tidak mendapat sahutan dari Rere.
"Maafkan aku tidak memberitahumu sedari awal, aku punya banyak alasan untuk itu. Semenjak kejadian lalu waktu kamu menyelamatkan aku, aku bertekad untuk bisa menjadi kuat sepertimu. Aku tidak ingin membiarkanmu sendiri dalam bahaya, aku tidak ingin membiarkanmu sendiri melawan musuh-musuhmu. Bagaimanapun, aku adalah suamimu, aku harus bisa melindungimu dan keluarga kecil kita nantinya," terang Rey panjang lebar.
"Tapi kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam bahaya besar, dunia bawah sangatlah kejam, aku tidak ingin orang di sekitarku masuk ke dalam dunia bawah. Cukup aku saja," sahut Rere menghadap ke arah suaminya.
"Tidak masalah untukku, sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku menjagamu dan anak-anak kita kelak. Aku harus bisa lebih kuat darimu untuk melindungi kalian semua nantinya," imbuhnya dengan menyelipkan anak rambut Rere.
__ADS_1
"Aku juga tidak bisa melarangmu bukan untuk berhenti dari dunia itu, aku tidak bisa egois. Mereka juga membutuhkan pemimpin sepertimu," Rere terdiam mendengar penjelasan Rey.
"Jangan hukum mereka, hukum saja aku. Karena aku sendirilah yang memaksa mereka untuk mengajariku," ujar Rey.
"Jangan marah lagi ya," ucap Rey me******p kening Rere.
"Ayo masuk, angin malam tidak baik untukmu," ajak Rey. Rere menurut saja ajakan suaminya itu.
"Apa kau lelah?" Tanya Rere saat berada di dalam.
"Kakiku rasanya seperti melayang," jawab Rey dengan meringis.
Bayangkan saja, 1 hari dia di hukum Rere lari mengelilingi lapangan sebanyak itu. Entah berapa putaran tadi yang bisa dia selesaikan bersama 2 orang tadi.
"Kenapa kau kejam sekali sayang?" Sambung Rey dengan wajah memelas.
"Masih untung kalian tidak aku suruh bawa semen di pundak masing-masing saat lari tadi," jawab Rere enteng.
"Kenapa tidak bawa beton saja sekalian?" Ucap Rey dengan ekspresi wajahnya tidak bisa di ekspresikan.
"Emm... ide bagus juga, akan aku terapkan nanti," sahut Rere. Rey semakin tidak habis pikir dengan istrinya itu.
"Aku bukan lemah, memang belum kuat saja sepertimu," elak Rey membela dirinya.
"Memang apa bedanya?" Sambung Rere dengan alis terangkat sebelah.
"Sudahlah aku mau tidur," ucap Rere.
Mereka berduapun akhirnya memutuskan untuk tidur.
Tengah malam, Rere terbangun karena perutnya merasa keroncongan.
Rere pergi ke dapur seorang diri mencari makanan yang bisa di makan untuk mengganjal rasa laparnya.
Kebetulan ada salah satu ART uang masih terjaga melihat Rere, "nyonya cari apa?" Tanyanya dengan sopan.
"Aku ingin makan bi, lapar sekali. Apa ada makanan?" Tanya Rere sambil mengelus perutnya.
"Makanan sudah habis semua nyonya. Kalau mau, biar bibi buatkan saja," tawar bibi.
Rere menimbang-nimbang, "eemm... baiklah. Tolong buatkan aku siomay ayam ya, yang kuah sama goreng ya bi," ucap Rere.
__ADS_1
"Baiklah, nyonya tunggu saja ya. Biar bibi saja yang memasak," ujarnya yang di balas anggukan kepala oleh Rere.
Di dalam kamar, Rey terbangun dan mencari keberadaan Rere yang tiba-tiba saja tidak ada.
Ia mencari kesetiap sudut, namun yang di cari tidak ada sama sekali. Wajahnya mulai panik dan cemas mencari Rere, "Re... sayaang kamu dimana?" Ia mencoba melihat ke kamar mandi, namun hasilnya nihil.
Bau masakan tercium dari bawah, iapun memutuskan untuk turun.
Siomay yang Rere minta sudah matang, ia melihat siomay dihadapannya dengan mata yang berbinar-benar.
"Waahh... makasih bibi. Bibi juga ambillah," ucap Rere menyodorkan siomay goreng.
"Eeh... tidak nya, tidak perlu terima kasih," tolak bibi karena merasa tdk enak.
"Tidak apa bi, ambillah. Sekali-kali," paksa Rere.
Mau tidak mau bibipun mengambil siomay yang di tawarkan oleh Rere, "sudah nya, terima kasih," ucapnya.
Rey yang audah berada di bawapun pergi ke dapur, dia melihat Rere sedang berbincang dengan salah satu ART.
"Bibi istirahat saja, biar Rere saya yang menemani," ucap Rey tiba-tiba muncul.
Jangan di tanya lagi, Rere sudah menyantap siomay itu dengan lahapnya hingga tidak menghiraukan kedatangan Rey.
"Ya sudah kalau begitu, saya permisi tuan, nyonya," pamitnya.
Setelah kepergian bibi itu Rey mengalihkan pandamgannya ke arah Rere, "kenapa tidak membangunkan aku, hmm?" Tanyanya lembut.
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu, dan lagi aku sudah sangat lapar tadi," ucap Rere dengan mulut penuh dengan makanan.
Rey merasa gemmas melihat pipi Rere mengembung penuh dengan makanan, "sudah habiskan saja dulu," sela Rey.
"Buka mulutmu, aaa," ucap Rere memberikan suapan siomay pada Rey. Reypun menurut dan membuka mulut menerima suapan dari Rere.
Mereka berdua makan bersama dengan perasaan bahagia.
"Sudah kenyang, ayo kita kembali tidur," ajak Rey.
"Aku ingin makan gado-gado Rey," ujar Rere. Rey melongo mendengar perkataan Rere.
"Tengah malam begini mana ada orang jualan gado-gado, sayang," jawab Rey bingung.
__ADS_1