Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 44. Melahirkan


__ADS_3

Malam harinya...


Waktu mwnunjukkan pukul 10 malam. Rey baru saja tiba di rumah karena memang hari ini banyak sekali yang harus ia urus.


"Rere di mana ma?" Tanya Rey saat semua keluarganya berkumpul.


"Sepertinya sudah tidur di kamar. Tumben kamu Rey baru pulang jam segini?" Ujar mama.


"Iya ma. Hari ini banyak sekali yang harus Rey urus. Rey ke atas dulu ya," pamitnya menyusul Rere ke kamar yang ia tempati dulu.


Saat membuka pintu kamar, benar saja jika Rere saat ini sudah tertidur pulas. Rey segera membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum mendekat ke arah Rere.


Setengah jam kemudian Rey menyusul berbaring di atas kasur king size nya. Rere yang merasa ada tangan melingkarpun terbangun, di lihatnya jika itu adalah Rey.


"Kau sudah pulang?" Tanya Rere dengan suara seraknya.


"Sudah," Rey sekilas men****m bibir Rere.


"Apa aku mengganggumu?" Imbuh Rey. Rere hanya menggelengkan kepala.


"Apa pekerjaan hari sangat banyak?" Tanya Rere.


"Eemm... hari ini banyak yang harus di urus. Maaf jika hari ini aku tidak menemanimu," jawab Rey lembut mengusap perut Rere yang sudah membesar.


"Tak apa. Sudah makan?" Tanya Rere kembali.


"Sudah," jawab Rey. Ia pun beralih ke perut besar Rere.


"Malam anak papa. Apa hari ini rewel?" Ajak Rey berbicara. Rey me****m perut Rere.


"Sekarang kita istirahat, besok kita pulang," ujar Rey di setujui Rere.


2 bulan kemudian...


Usia kandungan Rere sudah mencapai 9 bulan, di mana kedua keluarga sudah tidak sabar menunggu cucu pertama mereka lahir.


Keluarga Rere dan Rey mulai tinggal di rumah yang di tempati oleh kedua sejoli itu untuk berjaga-jaga jika Rere sudah waktunya melahirkan.


Rere terkadang mengalami kontraksi palsu, setelah itu hilang.


"Aauuhh..." semuanya menoleh mendengar rintihan Rere.


"Kenapa sayang?" Tanya Rey.


"Kenapa Re? Apa sudah waktunya?" Tanya mama Dias.


"Nggak tau ma, rasanya sakit," jawab Rere dengan wajah yang sudah mulai pucat.


"Aduhh... Rey. Cepat bawah istrimu ke rumah sakit, sepertinya sudah waktunya," ucap mama Alma, mama Rey.


Rey pun langsung bergegas membawa Rere ke dalam mobil. Mama Rey ikut pergi bersama sedangkan mama Rere menata keperluan yang di butuhkan.


Di perjalanan Rere menahan sakitnya agar tidak ada yang panik.


"Uuhh..." rintih Rere.


"Sabar ya, sayang," ujar mama agar Rere tenang.

__ADS_1


"Cepat dong Rey bawa mobilnya," omel mama.


Rey menambah kecepatan mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Rey segera menggendong Rere masuk ke dalam menuju ruang bersalin.


Dokter dan suster datang menghampiri dengan langkah terburu-buru.


Rey menemani Rere untuk masuk kedalam dan mengelus lembut perut Rere.


Dokter memeriksa pembukaan sudah siap apa belum, "baru pembukaan 3 tuan. Di tunggu ya, coba nyonya berbaring menghadap ke sisi kiri, agar tubuh bisa rileks," ujar dokter memberi tahu.


"Biasanya sampai berapa lama ya dok?" Tanya Rey.


"Itu tergantung tuan, bisa saja lama bisa saja cepat. Mungkin ini membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam," ucap dokter.


"Saya permisi dulu tuan, nyonya. Nanti saya akan kembali untuk mengecek sudah siap atau belum."


Rey mengelus perut Rere saat dokter itu meninggalkan ruangan, Rey dengan sabar menunggu Rere tanpa ada rasa takut.


"Anak papa sepertinya sudah tidak sabar ya," Rey mengacak calon buah hatinya berbicara.


"Kamu bisa berpegangan padaku untuk meredakan rasa sakit," ujar Rey mengelus pucuk kepala Rere.


1 jam kemudian...


Rey dengan setianya menunggu Rere, menatap wajah pucat Rere karena menahan sakit membuatnya tidak tega.


Jika bisa, biar dia saja yang berada di posisi itu.


"Saya lihat dulu ya nyonya," ujar dokter itu.


"Sudah pembukaan 7, sabar dulu ya nyonya, tuan."


Dokter itu pun kembali keluar untuk mengambil peralatan dan menangani pasien lain yang sedang membutuhkannya.


Rere menggenggam kuat tangan Rey, punggungnya terasa sakit. Rey mengelus punggung Rere dengan sabarnya untuk menghilangkan rasa sakit.


Tak lama kemudian dokterpun datang kembali untuk melihat sudah pembukaan sempurna atau belum.


"Saya cek kembali ya nyonya."


"Sudah sempurna, nyonya bersiap-siap ya. Untuk tuan, bantu pegang nyonya agar punggungnya tidak ikut terangkat," ucap dokter. Dokter segera mempersiapkan semua alat-alatnya dan mulai untuk persalinan.


"Tarik nafaas... keluarkan. 1.. 2.. 3.. dorong nyonya," ucap dokter memberi aba-aba.


"Eeengh..." Rere mengejan.


"Tarik nafas lagi nyonya, lalu keluarkan dengan rileks."


Rere mengikuti intruksi dari dokter tersebut.


"1.. 2.. 3.. dorong," aba-aba dokter lagi.


"Eeengh... ah. Hu.. huu..." Rere kembali mengejan.


Rey tak tega melihat bagaimana perjuangan istrinya untuk melahirkan buah cintanya. Dia mengingat bagaimana dulu jika dia pernah menghianati Rere, hatinya kembali perih mengingat itu. Ternyata perjuangan perempuan itu sangat sulit, nyawa menjadi taruhannya. Dan dengan mudahnya dulu ia pernah melukai hati Rere.

__ADS_1


"Ayo sedikit lagi nyonya. 1.. 2.. 3.. dorong."


"Eeeeengh..." Rere mengejan sekuat tenaga.


Oeekk... oeekk...


"Akhirnya..." ucap dokter lega.


Air mata Rere tidak lagi bisa di bendung, sedangkan Rey tertegun mendengar suara tangisan dari anak pertamanya.


"Waahh... selamat nyonya, tuan. Bayi anda laki-laki, dia sangat sehat," ucap dokter lalu meletakkan bayi mungil itu di atas tubuh Rere.


Tangis bahagia tidak bisa lagi ia tahan, begitu juga Rey. Dia tak kuasa menahan air matanya. Dia menyaksiakn sendiri bagaimana perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka.


Ooeekk... oeekk...


Tangisannya terdengar nyaring memenuhi ruangan.


Suster yang bertugas di sana pun akhirnya mengambil bayi mungil itu untuk di bersihkan terlebih dahulu.


"Permisi tuan, nyonya. Saya akan membersihkan dedeknya terlebih dahulu," ijinnya dengan sopan.


Suster pun membawa keluar bayi mungil itu. Semua keluarga Rere dan Rey sangat senang melihat bayi di gendongan suster tadi.


"Suster, boleh kami lihat sebentar," ucap mama Rere.


Suster memperlihatkan bayi mungil itu sebentar.


"Waahh.. pah. Cucu mama sudah lahir, lucu sekali," ucap mama Rere.


"Lucu sekali keponakanku," sambung Lita di susul oleh Alea.


"Saya bersihkan terlebih dulu ya nyonya, tuan. Permisi," pamit suster dengan sopan. Mereka membiarkan suster itu untuk membawa bayi mungil itu.


Kembali lagi di dalam ruangan, Rey tidak henti-hentinya me****m kening Rere tanpa memperdulikan dokter di dalam. Perasaannya saat ini sangat bahagia, di tambah lagi kehadiran malaikat kecil di kehiduoan mereka. Semakin bertambahlah kebahagiannya.


"Terima kasih, sayang," ucap Rey.


"Kau memberikan kebahagian yang lengkap untuk kita semua," ucap Rey kembali.


Rere hanya bisa tersenyum lemah karena tenaganya sudah habis terkuras.


"Sekali lagi selamat ya nyonya, tuan," ucap dokter memberikan selamat.


"Terima kasih juga atas bantuannya, dok," jawab Rey


"Nanti nyonya sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap kalau kondisinya sudah pulih," terang Dokter.


Dokter selesai membersihkan semuanya dan ia pun bergegas untuk keluar.


"Bagaimana keadaan menantu saya, dok?" Tanya mama Rey.


"Nyonya Rere dan bayinya sehat nyonya. Sebentar lagi nyonya Rere akan di pindahkan ke ruang rawat inap."


"Kalau begitu terima kasih ya, dok," ucap mama Rey kembali.


Dokter pun bergegas untuk menuju ruangannya kembali.

__ADS_1


__ADS_2