Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 69.


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Rey segera ikut bergabung bersama Rere dan buah hatinya.


"Ini anak papa kenapa belum ada yang tidur, hmm?" Ujar Rey pada ank-anaknya.


"Gimana tadi?" Tanya Rere merasa penasaran.


"Tadi dia berdiam diri di balkon, dia merenung. Dia bilang semua sepertinya mustahil untuk bisa menggapai langit." Jelas Rey singkat padat dan jelas.


"Lalu?"


"Aku mengatakan padanya untuk berusaha, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini." Sambung Rey.


"Dia bingung harus mulai dari mana katanya."


"Apa kita harus turun tangan untuk membantunya?" Tanya Rey pada Rere.


"Lebih baik tidak dulu, biarkan dia berusaha sebisanya. Aku yakin Daniel pasti bisa. Kita lihat perkembangannya dulu seperti apa nantinya," tutur Rere memberi pendapat.


"Yaa... aku ngikut denganmu," jawab Rey.


"Celo... apa Celo tidak tidur?" Tanya Rey lembut.


"Celo tidur kalau adik-adik Celo udah tidur," jawabnya.


"Biar mama dan papa tidurkan adek ya. Sudah malam, Celo juga harus tidur." Bujuk Rey.


"Oke pa," Celo menyetujui.


Si kembar pun berada di gendongan papa dan mamanya. Clara bersama Rey sedangkan Calvin bersama Rere.


Mereka menepuk-nepuk tubuh kecil itu agar cepat tertidur. Tak lama kemudian, akhirnya mereka tertidur di gendongan sang mama dan papa.


Celo yang masih betah di sana matanya sudah menyipit menahan kantuk.


"Ayo, Celo. Mama antar ke kamar," ajak Rere melihat Celo yang sudah mengantuk berat.


Tanpa berbicara, Celo menurut apa yang di katakan mamanya.


Sesampainya di kamar, Celo segera merebahkan dirinya di atas kasur. Rere menyelimuti dan mengelus pucuk kepala Celo.


Celo pun akhirnya tertidur karena kantuk berat di deranya.


Melihat Celo tertidur pulas, Rere meng*c*p singkat kening Celo dan segera kembali ke kamarnya.


"Celo sudah tidur?" Tanya Rey yang baru meletakkan Clara di box bayinya.


Mereka membawa si kembar ke kamarnya, terdapat 2 box bayi di kamar tersebut.


"Sudah," jawab Rere melihat ke dalam box si kembar.


"Ayo kita istirahat dulu, sepertinya malam ini mereka sangat terlelap," ajak Rere melihat keduanya tertidur dengan pulas.


***


Rey sudah bersiap untuk pergi ke kantor di bantu oleh Rere memasangkan dasinya.


"Sudah selesai, sekarang kita sarapan dulu." Ajak Rere setelah memasangkan dasi pada Rey.

__ADS_1


Rey masih belum melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Rere.


"Sebentar lagi," ujar Rey.


"Nanti keburu siang."


"Kasih aku semangat dulu. Biar aku tidak mudah lelah nanti," Rere yang tahu arah pembicaraan suaminya itu pun m*nc!i*m singkat kedua Rey.


"Satu lagi," pinta Rey sambil menunjukkan bibirnya.


Rere m*ng*cup singkat bibir itu.


"Kenapa sebentar sekali," protesnya tak terima. Rere pun mengulanginya dengan durasi yang sedikit lama.


Ooekk... oek...


Suara tangis terdengar membuat keduanya berhenti melakukan aktifitas paginya. Sepertinya si kembar cemburu dengan sang papa.


"Aaiihh... kenapa kalian tidak membiarkan papa dan mama ber-romantis sebentar saja," keluh Rey. Rere pun terkekeh mendengar keluhan yang di lontarkan oleh suaminya.


"Sepertinya, mereka tidak akan membiarkan kita berdua romantis-romantisan Rey," gurau Rere mengambil si kembar di dalam box.


Yang satunya lagi, Rey yang menggendongnya.


"Apa kalian cemburu?" Ucap Rey pada salah satu dari mereka yang ada di gendongannya.


Mendengar ucapan Rey, seketika tangisannya berhenti dan sedikit tersenyum memandang Rey.


"Astaga, sayang. Lihat, dia tersenyum. Sepertinya mereka memang tidak akan membiarkan kita berdua bersenang-senang." Ujar Rey gemas pada si kembar yang berada di gendongannya. Rey pun m*nc!i*um gemas kedua pipi anaknya.


"Ya sudah, ayo kita turun." Ajak Rere.


"Mama, Celo mau sekolah," pinta Celo setelah sarapan.


"Apa Celo yakin?" Tanya Rere memastikan. Ia memang tidak terlalu buru-buru untuk menyekolahkan Celo. Rere menunggu kesiapan dari Celo, Rere tidak mau memaksakan atasĀ  kehendaknya.


Jika sekarang Celo sudah memintanya, Rere sudah tidak bisa menahannya lagi.


Meskipun belum memasuki bangku sekolah, tapi Celo sudah sangat pintar. Sepertinya ia mewarisi kepintaran mama dan papanya.


"Oke... tunggu sebentar lagi ya. Mama dan papa akan mengurusnya nanti," sambung Rere.


"Nanti papa akan carikan sekolah buat Celo ya." Sahut Rey.


"Aku berangkat dulu ya. Nanti aku ada meeting," pamit Rey pada Rere.


"Hati-hati. Jangan ngebut," jawab Rere.


"Celo, papa berangkat dulu ya. Jaga adik oke," pamitnya pada Celo.


"Oke papa."


Rey pun menghampiri si kembar dalam box bayinya.


"Anak-anak papa, papa kerja dulu ya. Jangan rewel," ucapnya lalu m*nc!i*um singkat kening keduanya.


Rey pun keluar dan bergegas untuk menyalakan mobilnya. Tanpa berlama-lama, mobil yang di kendarai oleh Rey melesat membelah jalanan kota.

__ADS_1


Rere yang sedang asik bermain dengan kembar dan Celo menghentikan aktifitasnya meliat Liam datang ke rumah.


"Ada apa, Li?" Tanya Rere.


"Ini, nyonya. Aku mengantar berkas yang membutuhkan tanda tangan anda." Jawab Liam menyodorkan berkas yang ia bawa.


Rere pun membuka dan membolak-balikkan berkas yang ada di tangannya. Tanpa berpikir panjang, Rere pun menandatangani berkas itu.


"Bagaimana hubunganmu dengan Arin?" Tanya Rere memberikan berkas itu kembali pada Liam.


"Semuanya berjalan apa adanya, nyonya." Jawab Liam.


"Kenapa tidak bilang saja, jangan sampai nanti Arin di srebet dulu dengan orang lain. Apa kau mau?" Ucap Rere sedikit menakuti Liam.


"Benar tuh kak Li." Sahut Lita yang baru turun.


"Ehh... kakak apa tuan ya. Aah.... serah lah," ucap Lita pada dirinya.


"Udah ungkapin aja. Nanti nyesel loh lihat kak Arin nikah sama orang lain?" Lalita mencoba mengompor-ngompori Liam.


"Lalu, bagaimana dengan anda sendiri, nona?" Tanya Liam sambil tersenyum. Liam jelas saja tahu kalau Daniel mempunyai rasa pada Lalita.


"Kenapa jadi aku?" Tanya Lalita bingung. Lalita masih tidak tahu jika Daniel memiliki rasa padanya.


"Nanti anda akan tau sendiri."


"Saya pamit dulu, nyonya. Untuk masalah Arin, saya mau langsung saja melamarnya. Saya tidak ingin bermain-main dan menghabiskan waktuku hanya untuk masalah cinta." Pamit Liam di akhiri dengan ucapan yang mencengangkan.


"Waah... kau memang tak terkalahkan, Li. Good... aku mendukung dengan keputusanmu. Semoga lancar oke. Jika ingin bantuan, kau katakan saja padaku," puji Rere pada tindakan Liam.


Liam memang tidak terlalu suka membuang-buang waktu. Apa lagi dengan masalah percintaan, maka dari itu ia memilih langsung melamar Arin nanti.


"Kau keren kak Li. Aku tunggu kabar baiknya." Sahut Lita.


Liam pun segera bergegas untuk menuju ke perusahaan Rere yang ia handle selama ini.


Setelah kepergian Liam, Lalita yang merasa penasaran langsung saja bertanya pada Rere.


"Kakak... memangnya siapa sih yang kalian maksud itu? Kenapa kalian selalu mengatakan padaku jika aku akan tau nanti? Kalian membuatku mati penasaran saja." Keluh Lalita.


"Buktinya kau masih hidup sampai sekarang, bukan." Bukannya menjawab, Rere membuat Lalita kesal.


"Iiihh... kakak. Aku serius nanyanya..." sungut Lalita.


"Kau yakin ingin tau?" Lalita membalas anggukan dengan cepat.


"Memangnya, apa yang akan kau lakukan jika tau siapa orang itu?" Tanya Rere lagi pada Lalita.


"Lihat saja nanti bagaimana orangnya, cepat beri tahu aku siapa orang itu?" Kekeh Lalita yang sepertinya sudah tidak sabar.


Bukannya Lalita pilih-pilih orang itu, tapi Lalita memastikan jika orang itu memang baik dan bisa menghargainya nanti.


"Oke aku akan kasih tau."


"Dia juga orang kepercayaanku. Dia selalu bersama Agnes." Jawab Rere. Lalita mengingat-ingat orang-orang terdekat Rere.


"Orang itu..." ucap Lalita terjeda mengetahui siapa yang di maksud oleh Rere.

__ADS_1


"Kau sudah tau?" Tukas Rere.


__ADS_2