Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 70. Persiapan Melamar Arin


__ADS_3

Lalita mengangguk bagitu saja.


"Sesuai seleramu itu, kau biasanya tau orang bening sedikit sudah klepek-klepek." Ketus Rere.


"Itu emaknya dulu makan apa ya, anaknya bisa bening begitu?" Cicit Lalita yang mengetahui ketampanan Daniel.


"Tentu saja makan nasi, mau apa lagi?" Sungut Rere lagi.


"Mau kau terima atau apa, hmm?" Tanya Rere.


"Emm.. entahlah. Biarkan waktu yang menjawabnya nanti," ujar Lalita.


***


Waktu sore...


Kini Agnes dan Lalita menjemput Arin ke perusahaan. Entah karena ada hal apa.


"Ada apa sih. Jam kantor kan belum selesai," sungut Arin melihat keduanya.


"Udah diam aja. Udah aku ijinin. Gak bakal ada yang marah nanti," sahut Agnes menyeret paksa tangan Arin.


"Cepat masuk," ujar Agnes memaksa Arin segera masuk dalam mobil.


"Astaga, sabar kenapa sih." Pekik Arin.


"Memangnya kalian mau bawa aku kemana sih?" Kesal Arin sedari tadi.


"Sudah deh kak Arin diam aja. Nanti juga bakal tau kok," ucap Lalita. Arin hanya menggerutu kesal sedari tadi.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka segera turun.


"Kenapa kalian membawa aku ke butik?" Tanya Arin bingung.


"Mau ngepel di dalam sana," sahut Lalita.


"Udah ayo masuk." Ajak Agnes pada keduanya.


Saat di dalam mereka segera memilihkan baju dan mendandani Arin secantik mungkin.


Sedangkan di sisi lain.


"Dasar Liam. Sekali merintah seperti tsunami," gerutu Daniel menyiapkan tempat yang akan di gunakan oleh Liam.


Ia menyiapkan tempat itu seorang diri tanpa bantuan siapapun.


Karena tidak ingin dirinya merasa lelah, ia pun segera meminta anak buahnya yang ada di markas untuk membantunya.


Tak lama kemudian, beberapa anak buahnya datang.


"Kami sudah datang, tuan." Ucapnya.


"Bagus, sekarang bantu aku untuk menyiapkan semua ini." Ujar Daniel pada mereka. Mereka pun segera membantu apa yang sesuai di katakan oleh Daniel.


Persiapan sudah selesai, Daniel pun menyuruh anak buahnya untuk kembali ke markas.


Kembali ke sisi Arin...


Arin sudah cantik dengan dandanan yang netral,  memakai dress selutut dan warna yang kalem.

__ADS_1


"Wauuw... perfect." Ucap Agnes dan Lalita bersamaan.


"Ini memangnya kita mau kemana sih? Kenapa hanya aku coba yang dandan seperti ini?" Oceh Arin sedari tidak mau diam.


"Ini memang acaramu, bukan acara kami." Sahut Lalita.


"Acara apa siihhh... orang ulang tahunku juga udah lewat jauh juga." Ketusnya.


"Sudah gak usah banyak omong, kita pergi sekarang. Sudah hampir malam ini," ajak Agnes pada keduanya.


Agnes pun memberikan ponselnya pada Lalita untuk menghubungi Daniel jika mereka sudah siap. Agnes melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah di siapkan.


"Gimana? Sudah belum?" Tanya Agnes pada Lalita.


"Sudah beres katanya," jawabnya. Agnes pun menganggukkan kepala lalu kembali melajukan mobil dengan cepat.


Sebelum datang ke lokasi, Agnes mengajak mereka berputar-putar terlebih dahulu.


Melihat lagi ke sisi Daniel, Liam datang mendekat menghampiri Daniel dan melihat persiapan yang di lakukan.


"Kau sudah pulang?" Daniel menaikkan sebelah alisnya.


"Kalau aku belum pulang mana ada aku di sini sekarang," jawab Liam.


"Lalu, kau tidak membawa apa-apa?" Daniel kembali memicingkan satu alisnya melihat Liam datang dengan tangan kosong.


"Memangnya, apa yang harus aku bawa kemari?" Tanya Liam. Daniel hanya bisa menepuk jidatnya.


"Kau bisa tidak sedikit romantis, bawa bunga atau hadiah kecil untuknya." Sungut Daniel kesal melihat Liam.


"Aku tidak memikirkannya," jawab Liam seadanya. Daniel di buat heran dengan temannya yang satu ini.


Yaa.... malam ini, Liam berencana untuk melamar Arin. Tapi entah kenapa dia sepertinya tidak ada niatan sama sekali. Sampai-sampai Daniel merasa geram sendiri.


Dan untuk Lalita dan Agnes, tadi Liam menyuruh mereka untuk membawa Arin terlebih dahulu.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Daniel mulai mengeluarkan tanduknya mendengar pertanyaan Liam.


"Tidak perlu, aku sudah persiapkan untuk semuanya," ketusnya. Dia heran, bagaimana bisa Liam tidak bisa bersikap sedikit romantis saja pada wanita. Apa lagi saat ini, padahal ia mau melamar Arin.


"Kau memang terbaik," ucap Liam mengarahkan jempol pada Daniel. Daniel hanya bisa mendengus sebal.


Malam harinya...


Mobil yang di kendarai Agnes, Lalita dan Arin pun sudah tiba.


"Apa kalian gila. Hanya ke sini kalian mengajakku berputar-putar selama 2 jam." Sungut Arin pada keduanya.


"Ya kan biar sampai tepat waktunya." Jawab Agnes dengan santainya.


"Sudah sana masuklah, di sana ada kejutan untukmu," ujar Agnes pada Arin.


"Kejutan apa sih," sungutnya lagi.


"Udaahh... sana masuk. Nanti kau juga lihat sendiri." Agnes mendorong tubuh Arin masuk ke dalam.


Arin pun kembali mencebikkan mulutnya dengan berkomat-kamit sedari tadi.


"Cantik, siapa yang melakukan ini?" Tanya Arin pada dirinya sendiri melihat lilin yang berjejer di sepanjang jalan.

__ADS_1


Arin pun mengikuti jalan yang di penuhi oleh lilin tersebut hingga sampai di tujuan.


Arin memandang takjub pada danau yang sudah di persiapkan lilin-lilin yang mengapung di atasnya.


Danau itu hampir di penuhi dengan lilin yang menyala.


"Gimana? Apa Liam sudah datang?" Tanya Agnes menyusul ke persembunyian di mana Daniel berada.


"Sudah, tadi. Aku heran padanya, bagaimana bisa dia tidak membawa bunga atau apa untuk di berikan pada wanitanya. Terbentuk dari apa sih manusia itu?" Jawab Danieo geram pada Liam.


"Sudahlah, kita lihat saja mereka. Nanti lagi ghibahnya," celetuk Lalita. Mereka bersembunyi tidak jauh dari danau yang berada di taman sana.


Arin masih memandang senang pada semua lilin-lilin yang berjejer, hingga tidaknsadar jika ada orang yang berdiri di belakangnya.


"Kau sudah datang?" Tanyanya. Arin yang mendengar suara sangat familir itu pun segera membalikkan badannya.


"Tuan, Li?" Ujar Arin terheran melihat Liam di sana.


"Apa kau suka?" Tanya Liam mendekat ke arah Arin dengan membawa buket bunga yang begitu besar di tangannya.


Deg...


'Jantungku rasanya mau melompat dari tempatnya' batin Arin dalam hatinya.


"Kau tidak mendengar pertanyaannku?" Liam menatap intens Arin.


"Eeh.. ah... iya suka. Siapa yang membuat semua ini?" Tanya Arin penasaran. Tidak mungkin jika Liam yang melakukannya. Pikirnya.


"Ini untukmu," Liam memberika seikat bunga yang besar itu pada Arin.


"Hah... untukku?" Ucap Arin terkejut Liam memberikan bunga itu padanya.


""Tentu saja untukmu, untuk siapa lagi? Hanya kau yang ada di depanku saat ini," jawab Liam. Arin pun menerima bunga itu dengan gugup dan canggung.


'Orang ini kenapa tiba-tiba jadi begini ya?' batin Arin pada dirinya sendiri.


Sepertinya, Arin masih belum ngeh dengan apa yang di lakukan Liam padanya.


"Memangnya untuk apa? Besar sekali," Tanya Arin masih bingung.


"Ayo kita makan terlebih dulu, nanti akan aku kasih tau. Kau juga belum makan bukan?" Ajak Liam.


Liam pun mengajak Arin ke tempat duduk yang sudah di sediakan di sisi kanan danau itu.


Arin mengikuti saja langkah Liam, karena saat ini dia juga merasa sangat lapar. Sejak pulang dari kantor tadi, ia belum memakan apa-apa.


Tempat duduk itu terdapat 2 kursi dan satu meja yang sudah tersedia banyak hidangan yang menggugah selera.


Arin pun duduk begitu saja memandang makanan yang ada di depannya.


Mereka berdua menikmati makan malam dengan khitmad tanpa gangguan apapun.


"Enak sekali mereka, sedari tadi kita belum makan apa-apa." Gerutu Agnes di tempat persembunyiannya melihat keduanya makan malam.


"Cacing di perutku sudah berdemo dari tadi," sahut Lalita.


"Aku sudah menyiapkan makanan ringan untuk kalian berdua," Daniel meyahuti perkataan mereka.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi," sungut Agnes.

__ADS_1


"Ya sudah, mana." Agnes mengulurkan makanannya. Daniel pun mengambil makanan ringan itu di belakang mereka.


__ADS_2