Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 45. Marcelo Keandra Abraham


__ADS_3

Sesaat kemudian, Rere di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP.


Semua keluarganya menuju ruang di mana Rere berada saat ini, tak lama kemudian bayi mungil itu di bawah masuk oleh suster yang membawanya tadi.


"Waahh lucunya cucu oma," ucap mama Alma.


"Hey boy... ini aunty," ujar Alea.


Bayi itu tidur dengan lelapnya di dalam keranjang yang tersedia disana.


"Kalian sudah memberi nama?" Tanya papa Haris.


"Kami sudah ada nama untuknya pa," jawab Rey.


"Namanya Marcelo Keandra Abraham," imbuh Rey.


Sepasang suami istri itu memang sudah menyiapkan nama untuk anaknya kelak. Mereka menyiapkan nama laki-laki dan perempuan.


Rere tersenyum ke arah Rey, kebahagiaan mereka sangatlah lengkap saat ini.


"Namanya bagus, cocok untuknya yang tampan," ujar mama Dias.


Kemudian bayi itu menggeliat mendengar bunyi bising dari para oma dan auntynya. Bunyi tangisannya memenuhi ruangan.


Oeekk... oeekk...


"Sepertinya dia lapar," mama Dias memberikan bayi mungil itu ke Rere untuk di susui.


Rere segera menyusui bayi mungilnya itu, Rey membelai lembut pucuk kepala buah hatinya dan tersenyum bahagia.


Setelah mendapat asi, si kecilpun kembali tertidur dengan lelapnya. Rere meletakkan bayi kecil itu di sampingnya dan membelai pipi lembut si kecil.


Semua keluarga Rere dan Rey pulang masing-masing untuk menyiapkan hadiah dan kejutan untuk si kecil nantinya.


Ruangan itu kembali sepi, hanya ada Rere dan Rey juga si kecil.


"Dia mirip sekali denganmu, Rey," ucap Rere masih membelai pipi lembut buah hati mereka.


"Aku berharap dia mempunyai sifat sepertimu, dan juga bisa menjadi kuat sepertimu. Bisa melindungi dan menjaga ibu serta adik-adiknya kelak," jawab Rey memandang wajah baru yang ada di pelukan istrinya.


"Sekarang istirahatlah," ujar Rey me****m kening Rere.


3 hari kemudian...


Rere sudah di perbolehkan untuk pulang hari ini. Semua keluarganya sudah menunggu di rumah dengan banyak kejutan.


Saat masuk ke dalam rumah, Rere di kagetkan dengan banyaknya hadiah dan mainan untuk si kecil.


"Ini kenapa banyak sekali?" Tanya Rere kebingungan harus di apakan mainan-mainan itu.


Maklum lah, cucu pertama dari dua keluarga, laki-laki pula. Tapi Rere juga tidak ingin jika anaknya kelak terlalu di manjakan oleh kakek-kakek dan para neneknya.


"Tidak apa Re. Itu hadiah untuk baby boy," jawab papa Haris.

__ADS_1


"Tapi ini terlalu banyak, pa," ujar Rere.


"Sudahlah Re. Tidak apa, ini semua untuk cucu mama," sahut mama Alma.


Rere hanya bisa pasrah dengan semua pemberian hadiah untuk si kecil.


Mereka semua berbahagia dengan saling melontar candaan-candaan satu sama lain.


Bayi mungil itu sangat terlelap di gendongan Rere meskipun suara bising memenuhi ruangan.


Malam harinya...


Rere meletakkan Celo di keranjang bayi miliknya. Kamarnya yang di desain sedemikian rupa dengan warna abu-abu dan putih.


Kamar itu bersebelahan dengan kamarnya, Rey juga menjebol dinding menuju kamar anaknya agar lebih mudah di jangkau nanti.


"Celo anak mama sama papa tidur yang nyenyak ya, jangan rewel," ucap Rere mengelus pucuk kepala Celo.


Rere kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Tengah malam Celo menangis sangat kencang membuat Rere terbangun dan segera menghampirinya.


Rere mengambil Celo dari keranjangnya, "anak mama kenapa nangis, hmm? Pasti haus ya," ucap Rere menggendong Celo dan memberikan asi.


Celo langsung terdiam ketika menikmati asi ibunya, Rere tersenyum dan menggenggam tangan mungil Celo.


Rey yang baru terbangun di kamarnya mencari keberadaan Rere. Ia mencoba nelihat untuk ke kamar Celo dan dia menemukan sosok yang di cari.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Rey pelan agar Celo tidak terganggu.


"Kita bawa saja ke kamar kita, aku tidak tega meninggalkan Celo tidur sendiri," ujar Rey.


"Baiklah," jawab Rere. Celo masih belum melepaskan asinya. Sepertinya dia memang sangat kehausan.


Rere merebahkan Celo di ranjangnya.


Celo masih betah untuk membuka matanya membuat Rere dan Rey harus begadang malam ini. Untungnya saja Celo tidak rewel ataupun menangis.


"Anak papa kenapa tidak mau tidur?" Ajak Rey bicara.


Celo hanya mengerutkan bibir mungilnya membentuk huruf O.


Rey mencoba untuk mengelus pucuk kepala Celo namun tetap saja Celo tidak mau memejamkan matanya kembali.


"Kamu istirahat saja, Re. Biar aku yang menjaganya," ucap Rey yang tidak tega melihat Rere mengantuk.


"Baiklah, jika nanti dia menangis bangunkan aku," jawab Rere lalu memejamkan matanya.


Rey mencoba menggenggam tangan kecil itu, ia merasakan bahagia yang tidak bisa di jelaskan.


Rey tidak tega melihat Celo yang terus saja menggeliat ia mencoba untuk menggendong dan menidurkannya.


Rey menepuk pelan tubuh Celo agar ia tertidur. Cukup lama usaha Rey untuk menidurkan Celo, hingga waktu hampir shubuh ia baru berhasil membuat Celo tertidur.

__ADS_1


Rere terbangun karena merasa haus, ia melihat Rey yang baru saja meletakkan Celo di sampingnya.


"Apa dia tidak mau tidur?" Tanya Rere.


"Baru saja tertidur," jawab Rey pelan agar tidak membangunkan Celo.


"Maafkan aku," ujar Rere yang merasa tidak enak membiarkan suaminya begadang sendirian.


"Tidak apa, sayang. Tidak masalah untukku, kau juga pasti kelelahan," jawab Rey lembut.


"Sekarang kita istirahat lagi ya," ajaknya.


"Aku minum dulu, aku haus," Rere mengambil gelas berisi air yang ada di atas nakas.


Rerepun kembali untuk beristirahat menyusul Celo dan Rey yang sudah tertidur.


Pagi harinya...


Celo sudah bangun terlebih dulu, ia menggeliat dan merengek. Rere yang mendengarnya terbangun dan buru-buru mengangkat tubuh mungil itu sebelum ia menangis.


"Lihatlah, sayang. Sepertinya papamu sangat kelelahan menunggumu terjaga semalam," ucap Rere sambil memberi asi pada Celo.


"Jadi anak yang baik dan penurut ya," imbuh Rere. Celo terdiam seolah-olah sudah mengerti apa yang di ucapkan oleh Rere.


Rere me****m pipi mulus Celo karena merasa gemmas.


Rey masih tertidur dengan lelapnya karena semalam ia harus begadang untuk menemani Celo.


Matahari sudah menampakkan dirinya dengan sempurna. Rey baru saja terbangun dan melihat Rere keluar dari kamar mandi.


"Dimana Celo?" Tanyanya karena tidak melihat keberadaan Celo di sampingnya.


"Mama sudah mengambilnya tadi dan mengajak untuk berjemur," jawab Rere.


 


 "Kamu mandi dulu sana, terus kita sarapan," perintah Rere langsung di laksanakan oleh Rey.


Skipp...


Mereka berdua sudah berada di dapur untuk sarapan bersama. Yang lainnya sudah tadi, Rere memang menunggu Rey bangun untuk sarapan berdua.


Setelah itu mereka menuju ruang berkumpul, di sana sudah lengkap semua termasuk dengan Celo. Dia sudah terlelap kembali di dalam box bayinya.


"Apa kamu tidak ada niatan untuk mengambil babby sitter Re? Supaya kamu nanti tidak terlalu capek mengurus Celo," tanya mama Alma.


"Tidak perlu ma. Rere dan Rey sudah sepakat untuk itu, kami berdua ingin menikmati momen-momen tumbuh kembangnya Celo. Itu juga biar Celo bisa lebih dekat dengan kedua orang tuanya," jawab Rere.


"Lagian disini juga sudah banyak ART ma, mereka bisa bantu kita mengurus Celo nanti," sahut Rey.


"Yasudah, terserah kalian berdua saja maunya gimana. Kami semua ngikut saja keputusan kalian," jawab mama Alma lagi.


Mereka semua berkumpul dan membahas banyak hal. Terkadang mereka juga di buat geleng-geleng karena sifat Alea dan Lalita yang begitu ceria dan cerewet tidak mau mengalah.

__ADS_1


Suasana semakin ramai karena kedatangan orang-orang kepercayaan Rere. Arin, Agnes, Daniel dan Liam mereka datang bersamaan, hingga suasana di sana semakin riuh.


__ADS_2