Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 49. Menyelamatkan Arin


__ADS_3

Malam hari...


A'C Company...


Jam kantor telah usai, semua pekerja bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Arin memilih lembur untuk hari ini, jadi ia akan terlambat untuk pulang.


Akhirnya Arin lega setelah menyelesaikan pekerjaan yang membuatnya hari ini sangat sebal.


 


Bagaimana tidak, dia mengerjakan tugasnya bersama orang seperti kulkas menurutnya. Biasanya ia berada di ruangannya bisa enjoy karena ada rekan-rekannya, tapi tidak untuk hari ini.


"Kau sudah selesai?" Tanya Liam.


"Hmmm..." sahut Arin dengan deheman.


"Kau pulang dengan siapa?" Tanyanya lagi.


"Sendiri," ketusnya sambil merapikan berkas-berkas di depannya.


"Biar aku yang mengantarmu," tawar Liam. Arin seketika menoleh ke arah Liam.


"Kenapa?" Tanya Liam lagi.


"Tidak apa. Tidak perlu repot-repot mengantarku, aku pulang sendiri saja," jawab Arin.


"Tapi ini sudah sangat malam, sepertinya jalanan mulai sepi," ujar Liam.


"Tidak usah, aku sudah memesan taksi tadi," ucap Arin.


Arin melenggang keluar dari ruangan begitu saja setelah selesai merapikan pekerjaannya. Dia pun segera pulang ke rumahnya menggunakan taksi yang dia pesan sebelumnya.


"Pak berhenti di supermarket depan sana saja ya pak," ujar Arin.


Sebelum pulang ia ingin mampir di supermarket untuk membeli kebutuhan rumahnya yang sudah mulai habis.


"Baik nona," jawab sopir itu meminggirkan taksinya.


"Ini pak, terima kasih ya," ucap Arin membayar bkaya taksi itu.


"Apa tidak ada uang pas nona?"


"Ambil saja kembaliannya pak," ucap Arin lalu keluar dari taksi menuju ke supermarket.


Sesampainya di dalam Arin mengambil keranjang dan segera mengambil barang-barang dan kebutuhan yang ia cari.


Selesai memilih barang belanjaan, ia segera menuju kasir dan membayarnya. Di rasa semua sudah selesai ia pun berjalan pulan menuju rumahnya.


Rumah Arin dan supermarket tidaklah jauh, jaraknya sekitar 500 meter, Arin memutuskan untuk melintasi jalan pintas menuju rumahnya agar cepat sampai. Ia melewati gang yang sudah mulai sepi saat ini, karena sudah hampir larut malam.


Apesnya malam itu ada beberapa preman yang stand by di sana.


"Sepertinya ada mangsa ni," ucap salah satu preman disana.


'Aduuh... kenapa malam ini begitu apes ya' batin Arin. Ia terus saja melintas tanpa menggubris para preman itu. Preman itu pun merasa tertantang melihat sikap cuek Arin.


"Hai nona... jangan buru-buru," ucap preman itu menghadang jalan Arin.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian," ketus Arin.


"Hahaha.... kau berani sekali nona," ucap salah satu preman itu.

__ADS_1


Arin mulai berjaga-jaga untuk diri sendiri, meskipun ia bar-bar dia juga takut jika dia berhadapan dengan beberapa preman saat ini.


Preman itu mencekal tangan Arin, "lepaskan aku. Jangan sentuh aku," berontak Arin, tapi tenaganya masih kalah dengan para preman itu.


"Hahaha.... jangan takut nona. Kita tidak jahat kok, hahaha," gelat tawa teman preman itu.


"Toloooong," teriak Arin dengan kencangnya. Namun hasilnya nihil, tidak ada satu orangpun yang meluntas di gang itu.


"Ssstt... jangan teriak nona. Kasian mereka jika terbangun mendengar teriakanmu," ucap salah satu dari mereka.


"Tolooong... lepaskan aku," teriak Arin lagi.


Preman-preman itu mulai menyeret Arin dengan kasar.


"Lepas," ujar Arin memberontak.


"Diamlah dan ikuti saja kami," sentak preman itu masih menyeret Arin dengan kasar.


"Tolooong," teriak Arin semakin kencang.


Buggh... bugh...


Dari arah belakang ada yang menendang punggung preman-preman itu.


Para preman itupun tersungkur karena tendangan dari orang itu.


"Siapa kau, hah?" Bentak dari salah satu teman preman.


Arin pun menoleh kebelakang, ia melihat siapa yang sudah membuat preman itu tersungkur.


"Tuan Li," gumam Arin pelan.


Ya... yang menolong Arin adalah Liam. Sedari tadi ia membuntuti Arin, dia tidak tega membiarkan wanita pulang sendiri di hari mulai larut ini. Ia juga ingin memastikan jika Arin sampai rumah dengan selamat.


"Tidak ada urusannya denganmu, dia adalah mangsaku," jawab preman itu.


Mereka yang mendapat tendangan tadi segera bangkit untuk melawan Liam.


Buugh... bugh...


Pukulan di layangkan ke arah Liam, namun hal itu kecil bagi Liam. Ia selalu menangkis pukulan dari si preman.


"Kurang ajar kau," geram preman itu sambil mengeluarkan belati lipat dari sakunya.


Arin membelalakkan matanya melihat hal itu.


"Tuan Li. Hati-hati," teriak Arin.


Liam masih bisa menghindar dengan serangan-serangan para preman itu. Kemudian Liam mulai mengeluarkan pistol di saku jasnya dan mengarahkan ke kaki preman itu.


Doorr... door...


Mereka seketika tumbang.


Arin hanya bisa menyaksikan hal itu, ini bukan pertama kali baginya. Ia juga pernah melihat hal seperti ini waktu reuni dulu.


"Aaarrkkk," jerit mereka setelah mendapat tembakan dari Liam.


"Pergi atau peluru ini akan menembus kepala kalian," ujar Liam sambil menempelkan moncong pistolnya ke kepala salah satu preman itu.


Merekapun ketakutan dan memilih untuk lari dengan langkah kaki yang tertatih menahan sakit akibat peluru di tembakkan oleh Liam.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Liam melihat Arin masih terbengong.


"Eehh... ah... tidak. Terima kasih sudah menolongku," ujar Arin sedikit terbata.


Arin pun mengambil belanjaannya yang sempat terjatuh tadi.


"Biar aku mengantarmu sampai depan rumah," ucap Liam. Kali ini Arin menurut saja tanpa berprotes.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah, "kau tidak mampir dulu tuan Li?" Tanya Arin.


"Lain kali saja nona, hari sudah larut. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman nanti, aku pamit dulu. Masuklah terlebih dulu, jangan lupa kunci pintu," ucap Liam.


"Sekali lagi terima kasih tuan Li," ucap Arin yang di angguki oleh Liam. Arin pun masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.


Setelah Arin masuk, Liam pun bergegas pergi menuju mobilnya dan pulang ke markas.


***


Hari ini bertepatan dengan hari minggu. Sesuai dengan janjinya kemarin, Rere hari ini akan pergi ke markas membahas hal yang serius.


"Hari ini aku mau ke markas, Rey," ijin Rere pada Rey.


"Ada apa? Apa ada hal serius?" Tanya Rey.


"Apa kau tidak ingat waktu Daniel pernah datang kemari membahas soal Nicky, adik dari Jack yang pernah menyanderamu dulu?" Rey mencoba mengingat apa yang di katakan oleh Rere.


"Kalau yang Jack itu aku tidak akan pernah bisa lupa," jawabnya mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Aku akan temani ya? Sekalian aku ingin berlatih dengan mereka," tawar Rey.


"Oke baiklah," jawab Rere kemudian bersiap.


Markas The Lion...


Rere turun dari mobilnya sambil menggendong Celo. Rere ingin memperkenalkan anaknya pada semua anak buahnya agar mereka tahu bagaimana wajah Celo, agar suatu saat jika terjadi apa-apa dengan Celo di luar anak buah Rere tahu jika itu Celo.


"Mama... ini lumah siapa? Kenapa banyak olang?" Tanya Celo menatap sekeliling. Karena baru pertama kali Celo di ajak ke markas.


"Ini tempat mama dan papa latihan, sayang. Disini uncle Daniel yang menjaganya," ujar Rere.


"Tulunkan aku mama," pintah Celo. Rere hanya menuruti kemauan Celo dan segera masuk ke dalam diikuti oleh Rey di belakangnya.


Celo berlari masuk ke dalam, di dalam sudah ada Daniel dan Agnes yang menunggu. Untuk Liam, jangan di tanya lagi. Dia berada di perusahaan saat ini.


"Haaii... uncle," sapa Celo melihat Daniel tiduran di sofa.


"Haii jagoan, kau sendiri?" Tanya Daniel bangkit dari tidurnya.


"No uncle, Celo sama mama papa," jawabnya.


"Kau sudah ada disini rupanya Nes," ucap Rere melihat Agnes sudah ada di sana. Rere memudian mendudukkan dirinya diikuti Rey di sampingnya.


"Dari tadi aku di sini bu boss," jawabnya.


"Bagaimana, Niel?" Tanya Rere to the point.


"Menurut orang yang kita kirim kesana, Nicky sudah tiba di sini kemarin. Dia juga baru saja membangun markasnya disini," jelas Daniel.


"Dan aku sudah menyuruh salah satu anggota kita untuk menyusup ke markasnya yang ada disini," sambung Daniel.


"Bagus kalo begitu, suruh dia mengawasi setiap gerak gerik dari orang itu," perintah Rere.

__ADS_1


"Perketat semua anggota keluargaku, tempatkan saja penjaga bayangan. Jika ada yang mencurigakan, habis tuntas saja mereka," imbuh Rere dengan aura dinginnya.


__ADS_2