Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 27. Memusnahkan penyusup


__ADS_3

Keesokan paginya waktu indonesia, Rey sudah tiba di markas Rere sesuai dengan yang diperintahkan oleh Daniel kemarin untuk memulai latihan.


Rey mempelajari dasar-dasar bela diri terlebih dahulu dengan di bantu Daniel dan salah satu anak buah Rere yang berada di markas.


Daniel mulai menjelaskan dasar-dasarnya mulai dari teknik kuda-kuda, teknik sikap pasang, teknik pola langkah, teknik arah / delapan penjuru mata angin, teknik pukulan, teknik tendangan, teknik tangkisan, teknik kuncian dan masih banyak lagi.


"Coba sekarang ikuti anak buahku itu tuan," ucap Daniel.


Rey langsung mengikuti apa yang di contohkan oleh salah satu anak buah disana. Rey bersungguh-sungguh dalam menjalankan latihan untuk pertama kalinya.


Rey yang memang mudah untuk memahami tidak membuatnya kesulitan dalam latihan bela dirinya. Ia mulai menguasai beberapa gerakan, beberapa pukulan dan tangkisan yang sudah diajarkan.


Daniel yang melihat Rey dengan cepatnya menguasai apa sudah diajarkan membuatnya tersenyum senang, karena tidak perlu membuang banyak tenaga untuk mengajari Rey untuk bela diri.


"Sekarang, cobalah bertarung dengannya tuan," ujar Daniel


Rey dan salah satu anak buah disana mulai berlatih  bertarung, Rey menangkis setiap pukulan yang di berikan oleh anak buah Rere.


"Bagaimana Niel?" Tanya Agnes yang tiba-tiba datang.


"Kenapa kau seperti jailangkung saja," sungut Daniel yang sedikit terkejut karena tiba-tiba saja ada Agnes.


"Kau lihat saja itu sendiri," sambung Daniel sambil menggerakkan dagunya kearah Rey yang sedang latihan.


"Emm... lumayan juga kemampuannya," ujar Agnes yang melihatnya.


"Bu boss menyuruhku dan dirimu untuk mengurus keamanan pernikahannya nanti," ucap Agnes.


"Tenanglah, aku yang akan mengurus anggota disini," jawab Daniel singkat dengan pandangan matanya tetap fokus melihat Rey yang sedang latihan.


"Okelah," sahut Agnes.


***


Keesokan harinya waktu Amerika, Rere sudah berada di perusahaan dengan setumpuk berkas yang tidak ada habisnya.


"Aiisshhh... kenapa tak habis-habis sih," keluh Rere.


"Siapa suruh perusahaan banyak-banyak," sahut Vallen mendengar keluh Rere.


"Mana ada banyak," ujar Rere.


"Nanti akan ada pertemuan dengan ARD Coorporation, nona," ucap Vallen yang memberitahukan jadwal hari ini.


"Ada lagi?" Tanya Rere.


"Tidak. Sisanya berkas-berkas penting inilah nona."


Rere kembali berkutat dengan berkas-berkasnya yang menggunung.


Rere kembali berkutat dengan berkas-berkasnya yang menggunung. Saat waktu sudah menunjukkan siang, Rere bergegas untuk menghadiri pertemuan untuk membahas kerjasama dan di temani oleh Vallen.

__ADS_1


Cukup banyak yang mereka bahas dalam rapat kerjasama tersebut. Seperti biasa, banyak yang berminat untuk bekerjasama dengan perusahaan yang Rere pimpin, karena hasil dan kinerja di perusahaan Rere tidak bisa di ragukan lagi.


Setelah menghadiri pertemuan itu, Rere segera bergegas ke markas untuk melihat bagaimana perkembangan markasnya yang ada disini. Tidak menutup kemungkinan bukan, jika akan ada yang membelot selama Rere tidak ada.


Sesampainya Rere di markas, ia langsung menuju keruangannya yang sudah lama ditinggalkan.


"Panggilkan Max," perintah Rere sebelum masuk kedalam ruangannya.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok... tok... tok...


"Masuk," sahut Rere dari dalam.


"Selamat datang kembali nona," ucap Max sedikit menunduk hormat pada Rere.


"Bagaimana keadaan selama aku tidak ada? Apa ada yang mencurigakan?" Tanya Rere dengan serius.


"Markas masih aman terkendali nona,"


"Mana laporannya," ucap Rere meminta laporan kegiatan anggotanya.


Max segera memberikan amplop coklat yang berisikan semua laporannya.


Rere yang melihat jika terdapat hal yang ganjilpun mengerutkan dahinya.


"Apa ini? Bukankah mereka sudah kita kirimkan persenjataan sesuai yang mereka minta? Kenapa ada laporan kerugian disini?" Cerca Rere setelah melihat isi laporan itu.


"Siapa yang ingin bermain-main denganku? Coba kau selidiki secepatnya. Jika sudah menemukan orang itu, seret dia kemari," titah Rere dengan tegasnya. Rere tidak suka bermain-main dengan ucapannya. Banyak dari anak buahnya tunduk dengan Rere, jika mereka ada yang berbelok, maka bersiap-siap saja nyawa mereka akan melayang dengan percuma.


"Baik nona. Akan saya laksanakan," jawab Max lalu pamit meninggalkan ruangan itu.


Tak berselang lama Max kembali menemui Rere yang masih betah di dalam ruangannya sambil mengotak-atik ponselnya.


Tok... tok... tok...


"Masuk," sahut Rere.


"Lapor nona, ternyata ada penyusup dalam anggota kita nona. Dia yang telah mengirimkan senjata itu pada angootanya," lapor Max yang membuat Rere langsung menatap tajam kearah Max.


"Sudah ku duga," ucap Rere dengan wajah yang sangat serius.


"Bagaimana orang itu, apa kau sudah membawanya kemari?" Tanya Rere dengan wajah dinginnya.


"Dia sudah ada di ruang bawah tanah nona, sedari tadi dia terus saja memberontak," jawab Max.


"Aku akan kesana," ujar Rere malengkahkan kakinya diikuti Max dibelakangnya.


Sesampainya Rere di ruang bawah tanah, seketika udara di sana terasa pengap karena kehadiran Rere dengan raut muka yang tidak bisa di jelaskan.


"Buka," perintah Rere pada anak buahnya dengan dinginnya.

__ADS_1


Di dalam ruangan itu sudah ada seseorang yang diikat dengan rantai karena terus saja memberontak.


"Lepaskan aku," teriaknya.


Rere berjalan mendekat kearah orang tersebut dan mensejajarkan dirinya dengan seseorang yang terikat.


Rere mengangkat dagu orang tersebut dengan belati yang biasa ia gunakan untuk mengeksekusi musuhnya.


"Berani-beraninya kau menyusup kedalam markasku," ujar Rere dengan menahan amarahnya.


Sreet...


Darah segar seketika membanjiri pipi orang tersebut.


"Aaaakhh..." jeritnya menahan perih.


"Ampuni aku, aku janji akan setia padamu," orang itu memohon pada Rere. Dia tidak ingin jika nyawanya melayang percuma.


"Hahahahaa..." tawa Rere yang begitu keras membuat semua orang yang ada disana menjadi takut mendengarnya.


Mereka semua tau bagaimana kejamnya Rere, jika tawa kerasnya sudah menggema, maka orang itu akan bernasib buruk.


"Apa aku tidak salah dengar, hah? Kau ingin aku mengampunimu?" Ujar Rere dengan smirk yang mencurigakan.


"Jangan mimpi," tandas Rere.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menyusup kesini, hah?" Tanya Rere dengan emosi yang mulai memuncak.


Orang tersebut bungkam tak mau menjawabnya. Tiba-tiba Rere berdiri dan menyambar pistol salah satu anak buahnya yang berjaga disana.


Dor... dorr


"Aakkkhhh..." teriak orang itu saat Rere menembak kedua kakinya.


"Kau masih tidak ingin berbicara," ucap Rere dengan nada semakin meninggi.


Dorr... dorr...


Rere menembak kedua lengan orang tersebut, orang tersebut sudah mulai terlihat pucat karena banyaknya darah yang keluar sejak tadi.


"Baiklah, aku akan menjawabnya," ucap orang tersebut yang mulai melemah.


"Hell De..."


Dorr...


Belum sempat orang itu menyelesaikan kata-katanya, timah panas itu sudah bersarang tepat di jantungnya. Orang itu seketika tewas dengan darah yang bersimbah.


Semua orang yang berada disana sudah tidak kaget lagi jika Rere akan menghabisi musuhnya secara tiba-tiba.


"Dasaarr tidak berguna," ucap Rere dengan menekankan suaranya.

__ADS_1


"Max, awasi anggota Hell Devil. Dan kalian, bawa tubuh orang itu ke kandang macan milikku," perintah Rere dengan tegasnya.


__ADS_2