
Keesokan paginya, Rere sudah bersiap-siap untuk pulang kemensionnya setelah sarapan bersama dan berpamitan untuk pergi ke Amerika.
"Rere pulang dulu ya ma, Rere harus packing dulu, " pamit Rere.
"Yasudah hati-hati," ujar mama.
"Oleh-oleh yang banyak ya kakakku yang cantik," rayu Lalita sambil mengangkat jarinya membentuk huruf love.
Setelah berpamitan Rere dan Agnes melesatkan mobilnya melewati jalanan kota yang ramai.
Sampai dimensionnya, Rere bergegas menyiapkan barang-barangnya yang harus dibawa. Urusan kantor ia serahkan pada Liam, untuk keamanan dan persiapan pernikahannya ia serahkan pada Daniel dan Agnes yang tentu akan dibantu oleh Liam juga nantinya.
***
Hari ini tiba keberangkatan Rere, pagi-pagi sekali Rere sudah tiba dibandara ditemani oleh Agnes dan Rey.
Rey yang tidak ingin Rere pergi tidak mau melepaskan pelukannya, "Rey, sampai kapan kau seperti ini?" Ujar Rere karena Rey terus saja memeluknya.
"Biarkan saja," jawab Rey singkat.
"Rey, aku hanya pergi sebentar. Aku akan segera kembali, janji," bujuk Rere agar Rey mau melepaskan pelukannya.
"Tuan... kalau kau terus memeluk bu boss bisa-bisa nanti tertinggal pesawat," ucap Agnes yang sedikit jengkel, namun tidak di indahkan oleh Rey.
Agnes yang ucapannya tidak diindahkan oleh Rey menghembuskan nafasnya, "kenapa kau tidak ikut saja tuan, lama-lama mataku perih melihat kalian berdua," sewot Agnes.
Mendengar ucapan Agnes, akhirnya Rey melepaskan pelukannya, "bu bosmu ini tidak membiarkan aku ikut nona," jawab Rey.
"Hati-hati ya, hubungi aku jika sampai," ujar Rey mengelus lembut pipi Rere.
Rere tersenyum simpul dan mengangguk menandakan iya.
Setelah drama di pagi itu Rere bergegas masuk kedalam untuk pengecekan sebelum pemberangkatan. Rey terus memandangi punggung Rere hingga tidak terlihat lagi.
Setelah punggung Rere tak terlihat lagi, Rey langsung menoleh kearah Agnes, "bawa aku untuk bertemu dengan Daniel nona," ujar Rey yang mengagetkan Agnes.
"Eh... hah? Apa? Bertemu Daniel?" Tanya Agnes bingung dan bercampur kaget, karena tidak biasanya jika Rey ingin bertemu dengan Daniel.
Rey menjawab pertanyaan Agnes dengan menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa kau ingin bertemu dengan cecunguk itu tuan? Tidak biasanya," tanya Agnes yang masih penasaran.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya. Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu," jawab Rey yang langsung melenggang pergi ke dalam mobilnya.
Agnes masih berdiam diri bingung mencerna ucapan Rey yang tidak biasanya ingin bertemu dengan Daniel.
Rey yang melihat Agnes masih terdiam meneriakinya dari dalam mobil, "heyy... nona. Apa yang kau lamunkan? Cepatlah," teriak Rey dengan kepala yang menyembul keluar.
Agnes yang mendengar teriakan Rey langsung tersadar dan bergegas menuju mobil yang dikendarainya bersama Rere tadi dengan menggerutu kesal pada Rey karena tidak sabarnya.
Agnes mengendarai mobilnya dengan cepat menuju markas, sesampainya di markas Agnes membawa Rey masuk ke dalam menemui Daniel.
Daniel tidak mengetahui jika saat ini ada Agnes karena ia asik bermain game online di ponselnya. Agnes yang melihat Daniel begitu fokusnya memounyai ide jail. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Daniel. Daniel yang melihat ada panggilan masuk dari Agnes begitu kesalnya karena otomatis permainannya terhenti, dia kesal karena hampir saja dia menang.
"APA..." sewot Daniel dengan kesalnya setelah ia menggeser tombol hijau.
"Hahahaahaa..." gelak tawa Agnes begitu kencangnya menertawakan Daniel.
Daniel yang menoleh kearah sumber suara matanya menatap tajam Agnes yang tertawa tidak henti-hentinya.
Buugh...
Bantal sofa melayang kearah Agnes, seketika dia terdiam setelah mendapat timpukan dari Daniel.
"Heh cunguk, berani sekali kau melemparku bantal, hah," sungut Agnes. Rey yang melihat tingkah konyol kedua orang dihadapnnya diam menggelengkan kepalanya dan menahan tawanya.
"Ada apa kau kemari? Mengganggu saja," ujar Daniel yang masih merasa kesal.
"Tuan Rey ingin bertemu denganmu," jawab Agnes.
Daniel yang melihat Rey diam sedari tadipun langsung bertanya, karena tidak biasanya Rey ingin bertemu dengannya.
"Duduklah tuan," ucap Daniel sopan.
"Ada apa tuan, kenapa anda ingin bertemu denganku?" Tanya Daniel.
"Aku ingin belajar beladiri dan menembak denganmu," jawab Rey singkat.
Agnes dan Danielpun saling pandang bingung kenapa tiba-tiba saja Rey ingin belajar beladiri dan menembak.
"Apa yang membuatmu ingin belajar bela diri dan menembak tuan?" Tanya Daniel penasaran.
"Setelah kejadian waktu itu, aku memutuskan untuk belajar bela diri dan menembak. Jika bisa, aku juga ingin terjun kedunia bawah seperti kalian," jelas Rey yang membuat Daniel dan Agnes membelalakkan lebar matanya.
__ADS_1
"Tuan Rey... apa keputusanmu itu sudah benar? Apa nona juga sudah tau tentang hal ini?" Tanya Daniel.
"Dunia bawah sangatlah kejam tuan, dunia bawah tidak kenal kata kasihan," sambung Daniel.
"Tidak, Rere tidak tau tentang hal ini. Keputusanku sudah bulat untuk terjun mengikuti jejak kalian. Meskipun aku bukan dari keluarga mafia, tapi aku juga tau bagaimana kejamnya dunia mafia. Aku tidak akan membiarkan Rere berjuang sendiri melawan musuhnya, aku juga ingin melindungi Rere. Bukan Rere yang harus melindungiku," terang Rey panjang lebar dengan seriusnya.
Setelah kejadian menegangkan beberapa hari yang lalu, Rey memutuskan untuk mengikuti jejak Rere. Rey ingin melindungi Rere dari para musuh-musuhnya, Rey tidak akan membiarkan Rere menghadapi musuhnya sendiri. Rey sudah memikirkan matang-matang keputusannya ini.
"Tapi... bagaimana dengan bu boss. Sepertinya dia akan marah," ucap Agnes yang merasa takut jika Rere marah besar.
"Untuk Rere biarkan saja aku yang mengatasinya, aku jelaskan padanya pelan-pelan. Keputusanku sudah matang, bagaimanapun suatu saat nanti Rere adalah tanggung jawabku," sahut Rey dengan bersungguh-sungguh.
"Baiklah tuan, jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Besok kau datanglah kemari untuk memulai latihanmu," jawab Daniel yang sudah pasrah.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan kalian," ucap Rey.
Setelah perbincangan itu, Rey bergegas pamit menuju perusahaannya. Daniel dan Agnes masih diam dilanda kebingungan dengan keputusan Rey.
"Apa kau serius Niel?" Tanya Agnes.
"Huuhh... entahlah. Biarkan saja, itu sudah keputusannya. Kita ajari dia pelan-pelan," jawab Daniel dengan pasrahnya. Agnes juga mengangguk pasrah.
***
Setelah terbang selama berjam-jam akhirnya Rere sudah tiba di bandara negara Amerika. Dia disambut oleh anak buahnya yang berada disana, Rere memerintahkan anak buahnya untuk mengantarkannya ke mensionnya yang ada di Amerika.
"Kau bisa kembali, terima kasih. Aku akan datang ke markas," ucap Rere saat sudah sampai di depan mensionnya.
"Baik nona, saya kembali dulu," pamit anak buahnya dengan sedikit menunduk memberi hormat.
Rere lansung masuk ke dalam mension untuk beristirahat menghilangkan lelahnya setelah menempuh jarak terbang selama berjam-jam lamanya.
Meskipun dia menggunakan jet pribadinya, tapi tetap saja masih memakan waktu selama berjam-jam untuk tiba di Amerika.
Setelah membersihkan dirinya, Rere berbaring di atas kasurnya dan segera menghubungi Rey.
Rey yang mendengar ponselnya berdering terbangun dan melihat siapa yang menghubunginya, Rey saat itu sudah tidur, karena perbedaan waktu antara Indonesia dan Amerika yang terpaut 12 jam. Saat tau nama Rere yang tertera di layar ponselmya Rey segera menggesernya ke tombol hijau.
"Halo Rey... aku sudah sampai," ucap Rere setelah panggilannya tersambung.
"Syukurlah, sekarang istirahatlah terlebih dulu. Kamu pasti lelah menempuh perjalanan jauh," jawab Rey di seberang sana.
__ADS_1
"Baiklah, aku memang sangat lelah," jawab Rere.
Tidak sampai berlama-lama mereka berbincang, Rere memutuskan panggilannya dan segera beristirahat. Saat ini Amerika menunjukkan waktu sore, sedangkan Indonesia menunjukkan waktu dini hari.