
Malam hari...
Setelah makan malam, Celo minum susu seperti biasa agar daya tahan tubuhnya kuat.
Celo meneguk habis tanpa tersisa, "anak mama pintar," puji Rere melihat susu Celo habis.
"Mama, papa. Celo mau pelihala halimau di lumah. Boleh ya?" Pinta Celo dengan menunjukkan wajah imutnya.
"Celo... tapi binatang itu berbahaya sayang," terang Rey lembut. Rey ngilu mendengar permintaan anaknya.
Wajah Celo menunduk cemberut mendengar penuturan dari papanya.
"Anak mama... kan di tempat uncle Daniel tadi sudah ada singa. Celo bisa main dengan singa di sana," tutur Rere. Ia mencoba membantu Rey, agar Celo tidak meminta permintaan yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Itukan di tempat uncle Daniel, mama. Celo mau disini," ucap Celo. Celo sepertinya menuruni sifat dari Rere yang menyukai hewan-hewan buas dan besar.
Rey dan Rere saling pandang bingung.
"Nanti biar mama sama papa pikirkan ya," bujuk Rere. Tapi Celo hanya diam menunduk cemberut.
Rey bingung hanya bisa memijat keningnya.
"Begini saja ya, kita buatkan dulu kandang untuk harimaunya. Kalo kandangnya sudah selesai, kita bisa pelihara. Seperti yang ada di tempat uncle Daniel tadi. Kan kasian nanti harimaunya kalo dia tinggal di kandang sempit terus," bujuk Rey agar Celo tidak lagi cemberut.
Di markas Rere memang ada tempat luas seperti hutan di sana. Agar kesayangannya itu bisa hidup seperti di alam bebas yang semestinya.
Mendengar perkataan dari sang papa, wajah Celo kembali semringah.
"Benalkah papa?" Tanyanya memastikan jika sang papa tidak berbohong. Rey mengangguk memgiyakan peetanyaan dari Celo.
"Yeeeyyyy," girangnya meloncat-loncat di atas kursi.
Sebenarnya Rey tidak setuju dengan permintaan Celo. Melihat Celo mutung seperti itu membuat Rey tidak tega. Tapi, ia juga bahagia bisa melihat kebahagiaan di wajah si kecil Celo.
Tak lama kemudian, Celo sudah tertidur dengan pulas. Rey segera membawa tubuh kecil itu ke kamar.
Rey membaringkan Celo dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun. Di rasa aman, Rey kembali menuju kamarnya dan Rere. Rere sudah duduk bersandar di atas kasur.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu tadi, Rey?" Tanya Rere saat Rey menyusul dirinya naik ke atas kasur.
"Tadinya aku tidak setuju, melihat Celo mutung seperti itu aku tidak tega. Aku tidak mau jika nanti Celo akan mogok makan. Aku berencana untuk mengambilkan peranakannya saja, agar nanti bisa mudah untuk di jinakkan. Aku juga akan membawa pawangnya ke sini untuk berjaga-jaga," terang Rey panjang lebar dan menenggelamkan wajahnya ke perut Rere.
"Yasudah, aku ngikut saja," jawab Rere.
Tangan Rey yang mulai nakal menjelajahi setiap inci tubuh Rere berbalut dengan baju tidurnya.
Seperti biasa, Rere tidak bisa menolak sentuhan-sentuhan yang di berikan oleh Rey. Melihat reaksi Rere, Rey segera bangkit dan memangut bibir merah ranum itu.
__ADS_1
Rere mengalungkan tanganya ke leher milik Rey. Keduanya terpejam dan saling bertukar saliva.
Mereka berdua terbuai hingga ha***t tidak bisa tertahan lagi. Tanpa pikir panjang, Rey pun melancarkan aksinya hingga suara-suara eksotis itu memenuhi ruangan. Di tambah dengan suasana yang mendukung karena hujan saat ini.
***
Hari ini Rere pergi ke perusahaan untuk mengecek berkas-berkas yang sudah menggunung.
Rere melihat ada hal aneh antara Liam dan Arin. Biasanya, mereka seperti kucing dan tikus. Tapi sekarang, mereka kalem-kalem saja dan saling curi pandang.
"Kalian ini kenapa sih?" Tanya Rere melihat tingkah dua orang itu.
"Kalau kau suka, kau ungkapkan saja, Li." Skak Rere. Liam di buat salah tingkah mendengar perkataan dari Rere.
"Eehh... ahh... tidak nyonya," sangkal Liam.
Rere hanya diam dan tersenyum tipis melihatnya. Rere sudah menduga jika Liam ada rasa dengan Arin perlahan-lahan.
'Kau tidak bisa membohongiku, Li' batin Rere.
Arin sedari tadi hanya diam berpura-pura tidak mendengar. Ia sedang asik bermain dengan Celo.
Jam makan siang...
Rey sudah tiba di A'C Company. Dia segera menuju ke ruang Rere di lantai teratas.
Pintu terbuka memperlihatkan Rey yang baru saja tiba.
"Papaa..." girang Celo berlari ke arah sang papa.
Rey menangkap tubuh kecil itu yang sudah mulai berisi.
"Jangan lari-lari, boy." Ujar Rey menggendong tubuh Celo.
"Papa... gimana kandang Celo?" Tanya Celo yang sudah tidak sabar.
"Sabar dulu ya. Papa masih mencari orang untuk membuatkan kandang yang besar," jelas Rey.
"Sudah, ayo kita makan dulu. Nanti lagi bahasnya," ujar Rere di sela-sela pembicaraan anak dan papa.
Untuk Liam, ia mengajak Arin makan di luar. Rere membiarkan saja dua orang itu untuk menikmati waktu berdua.
Satu minggu berlalu...
"Bagaimana dengan penyelidikanmu?" Tanyanya dengan wajah tegas.
"Maaf tuan, kami tidak menemukan apa-apa. Dia hanya gadis biasa yang memang akrab dengan wanita itu," jelas anak buahnya.
__ADS_1
Pria itu yang tak lain adalah Nicky mengetuk-ngetuk jarinya di gelas kristal yang ia bawah.
Ia memikirkan cara bagaimana untuk bisa mengalahkan Rere.
Tentu saja mereka tidak akan menemukan apapun yang mereka cari. Rere banyak memanipulasi data-data keluarganya agar musuh tidak pernah mengenali semua keluarga Rere.
Supaya mereka aman tidak mendapat gangguan dan teror dari para musuhnya.
Nicky mulai berfikir keras menyusun rencana untuk membalaskan dendam.
"Yasudah, pergilah. Dan panggilkan Grey kesini," titahnya. Anak buah yang menghadap dirinya segera keluar dan memanggil nama yang Nicky perintahkan.
Kediaman Rey Abraham...
Kandang harimau yang di janjikan oleh Rey sudah 80% siap. Celo senang akan hal itu.
Dan hari ini, harimau yang di minta oleh Celo pun datang. Celo menanti-nanti kedatangan dari hewan buas itu.
Truk pengangkut memasuki halaman rumah besar bak istana. Celo sudah sangat antusias melihat kedatangan truk itu.
"Ayo lihat kesana papa," ajaknya dengan semangat. Rey menuruti ajakan Celo untuk mendekat ke arah truk pengangkut itu.
Mereka yang bertugas segera menurunkan kotak besar yang berisikan harimau pesanan Celo.
Mereka menurunkan ke kandang kecil untuk sementara sembari menunggu habitat buatan itu selesai.
Pintu box besar terbuka, dan muncullah harimau itu keluar.
"Kenapa kecil sekali, papa?" Tanya Celo sedikit kecewa.
Rey menurunkan tubuh kecil Celo dan menyetarakan tinggi badannya dengan sang buah hati.
"Papa sengaja mengambil yang kecil, sayang. Agar mereka mudah untuk di jinakkan. Agar nanti bisa bermain dengan Celo. Mereka nanti akan tumbuh besar seperti yang ada di tempat uncle Daniel," terang Rey.
"Benalkah papa?" Tanyanya lagi. Rey menganggukkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan Celo.
Celo kembali ceria dan melihat-lihat harimau itu bermain di kandang.
Harimau itu masih berumur 3 bulan. Rey mengambil sepasang harimau kecil itu dan tidak lupa juga dengan pawangnya.
"Telima kasih, papa." Ucap Celo menc!!um pipi sang papa.
"Apa cuma papa yang mendapat c!uman Celo?" Suara Rere terdengar membuat Celo menoleh kebelakang.
"Mamaa..." girang Celo memeluk Rere.
"Mama... lihat mama... Celo punya halimau dua," tunjuknya dengan semangat. Rere tersenyum melihat tingkah gemas Celo.
__ADS_1