
Daniel memberondong peluru tiada ampun.
Anak buah Nicky kuwalahan menghadapi Daniel dan pasukannya.
Di sisi Rere, ia terus berjalan masuk dengan santainya tanpa takut jika ada peluru bersarang di tubuhnya.
Tatapan tajam Rere mulai tersirat, ia tidak merasa takut sama sekali jika terjadi sesuatu padanya. Ia hanya berfikir untuk menyelamatkan buah hatinya.
Dorr... door... door...
Rere menembak anak buah Nicky yang menghalangi jalannya.
Bughh... bugh...
Bogeman keras di layangkan oleh Rere.
"Kau masuklah, sayang. Di sini biar aku yang mengurus," ucap Rey. Sedari tadi Rey berada di sisi Rere. Ia tidak membiarkan Rere sendirian.
"Kita tuntaskan ini dulu. Setelah itu kita akan berpencar ke ruang Celo dan Lalita." Jawab Rere tegas.
Buuggh... bugghh...
Tak sia-sia Rey berlatih selama ini, Ia bisa menumbangkan lawan dengan tendangan telak.
Doorr... dorr... door...
Rey memberondong anak buah Nicky yang ingin menyerangnya.
Buugh...
Rey terhuyung karena menerima bogeman dari anak buah Nicky. Sudut bibirnya berdarah karena saking kerasnya bogeman itu.
"Kurang ajar," Rey mengelap darah dari sudut bibirnya.
Buggh... bughh... buughh
Rey membalas berkali-kali lipat.
Doorr... dorr... dor...
Rere menembak dahi anak buah Nicky. Rere tidak mau berlama-lama untuk menyelamatkan Celo dan Lalita.
Dorr... dor... dor...
Dorr... dorr... dor...
Tembak Rere dan Rey bersamaan.
Tanpa menunggu lama mereka berdua bisa menumbangkan anak buah Nicky yang menghalang jalan mereka.
"Kamu ke tempat Celo, Rey. Aku akan ke tempat Lalita," mereka pun berpencar.
Berbalik lagi ke sisi Daniel...
Bugh... bugh...
Baku hantam masih terjadi. Daniel tidak akan membiarkan anak buah Nicky tersisa.
Syuutt... jleeb...
Daniel melempar belati yang ia bawa sejak tadi.
Orang itu kejang-kejang karena lemparan Daniel tepat mengenai dada nya.
Doorr... dor... doorr...
Daniel tidak sabar lagi untuk membabat habis mereka.
Dorr... dorr... dor...
Dorr... dor... doorr..
Daniel menembak mereka semua tepat di tengah-tengah dahi. Mereka semua pun tergeletak tak bernyawa.
"Haahh... sudah habis ternyata. Tidak seru sekali," gerutu Daniel. Ia pun melangkah masuk ke dalam. Pasukan yang bersama Daniel membantu ke arah Liam dan Agnes.
"Apa anda perlu bantuan, nyonya?" Tanya Daniel melalui sambungan earphone.
"Kau bantu Rey untuk ke tempat Celo, aku akan ke tempat Lalita. Bawa sekalian kesayanganku," jawab Rere di seberang sana.
Daniel pun menurut dengan apa yang di perintahkan Rere. Tak lama kemudian, ia melangkah masuk untuk membantu menyelamatkan Celo.
Sedangkan di ruang Lalita di tahan...
__ADS_1
"Kau dengar, nona? Kakakmu sudah berada disini. Kegaduhan itu adalah pasukan dari kakakmu," Ucap Nicky.
"Lepaskan aku, brengsek." Teriak Lalita pada Nicky.
"Dimana kau sembunyikan keponakanku?" Teriaknya lagi.
"Tenanglah, nona. Keponakanmu aman," jawab Nicky dengan santainya.
"Cepat, lepaskan aku." Teriak Lalita memberontak.
"Hahahahaa... tidak semudah itu, nona." Jawab Nicky dengan tersenyum jahat.
"Apa sebenarnya maumu, hah?" Lalita kesal dengan Nicky.
"Aku? Tentu saja ingin nyawa kakakmu. Setelah itu, kau akan aku nikahi." Jawab Nicky enteng.
"Jangan mimpi kau. Aku tidak akan sudih dengan orang tidak punya hati sepertimu," sentak Lalita.
Wajah Nicky berubah merah padam karena kesal dengan Lalita.
Melihat ke sisi Rey...
Ia tiba di depan ruangan yang digunakan untuk menyekap Celo.
"Sepertinya aman," ucap Rey yang tidak melihat siapapun di sana.
Rey mencoba membuka pintu ruangan itu. Tiba-tiba...
Dorr...
Tembakan di arahkan ke samping Rey, ia terkejut tiba-tiba mendengar tembakan.
"Tidak semudah itu, tuan." Grey muncul di balik tembok dengan wajah sinisnya.
Rey menatap Grey yang mendekat ke arahnya.
"Langkahi aku sebelum masuk ke sana," ujar Grey.
Rey diam menatap Grey di depannya.
Bugh...
Rey menendang kaki Grey dengan gerakan cepat. Grey sedikit meringis karena tendangan Rey begitu kuat.
Bugh... bugh...
Rey mulai kewalahan menghadapi Grey yang begitu susah untuk di tumbangkan.
"Menyerahlah, tuan." Ucap Grey saat Rey jatuh tersungkur.
"Tidak akan semudah itu." Rey bangkit dan kembali baku hantam dengan Grey.
Tak lama kemudian, auman singa terdengar. Daniel menuntun kesayangan Rere dengan santainya.
Rey dan Grey yang terlibat baku hantam seketika berhenti karena mendengar suara auman itu.
Grey sedikit lengah, Rey pun mengambil kesempatan untuk melawan Grey.
Bugh... bugh...
Tendangan kuat di layangkan oleh Rey. Grey tersungkur karena belum siap.
Daniel pun muncul dengan kesayangan Rere.
Grey terlihat takut melihat singa yang begitu besar di hadapannya.
"Selamatkan tuan kecil, tuan. Aku yang akan mengurus berandal ini." Daniel semakin mendekat.
Rey segera mengambil kesempatan itu. Sedangkan Grey melangkah mundur. Ia pun memutuskan berlari dari sana karena tidak ingin mati sia-sia.
"Kejar dia, king." Ucap Daniel melepas singa yang di bawa.
King adalah nama yang di berikan Rere pada kesayangannya.
Singa itu mengejar Grey hingga dapat, Daniel pun ikut menyusul kemana singa itu berlari.
Beralih di ruang Lalita...
Nicky mencengkram kuat dagu Lalita hingga ia meringis kesakitan.
Brak...
Sura pintu di dobrak dengan kerasnya. Pintu itupun rusak karena tendangan kuat di lakukan oleh Rere.
__ADS_1
"Hahahahah.... selamat datang nyonya." Tawa Nicky menggelegar.
"Kakak..." gumam Lalita melihat Rere datang.
"Apa kabar denganmu nyonya?" Ujar Nicky.
Rere menatap tajam pada Nicky.
"Santai saja, nyonya. Kenapa kau seperti ingin menerkamu seperti itu?" Ujar Nicky lagi.
"Lepaskan, dia." Ucap Rere tengan dinginnya.
"Siapa? Hahahahaa..." tawa Nicky terdengar begitu keras.
"Aku tidak akan melepaskannya." Jawab Nicky dengan tersenyum mengejek.
Doorr...
Satu tembakan mengenai lengan Nicky.
"Aaarkh..." Lalita berteriak takut.
"Lihatlah, nona. Kakakmu seperti monster bukan?" Nicky mencoba untuk memperkeruh keadaan.
"Bahkan kau lebih dari seorang monster," sentak Lalita tidak terima jika kakaknya di kata monster.
"Jika kau memiliki dendam denganku, harusnya kau mengincarku. Bukan dia," ujar Rere.
"Hahahaha.... karena aku ingin kau juga merasakan apa yang aku rasa. Kehilangan orang berharga di hidupmu." Ujarnya dengan penuh dendam.
"Hahaha... ternyata kau tak lebih dari seorang baj!*ngan seperti kakakmu." Rere mencoba memancing emosi pada diri Nicky.
"Kalian memang tidak tau diri." Sarkas Rere pada Nicky.
Lalita hanya diam menyimak ucapan dua orang di hadapannya.
"Tutup mulutmu. Dasar wanita sombong," bentak Nicky.
"Hahahaha... bukankah itu kenyataan. Kau dan kakakmu sama saja tidak tau diri." Tukar Rere.
Rere menatap tajam Nicky. Ia ingin sekali segera menghabisinya. Tapi, ia mencoba untuk tidak terburu-buru dalam bertindak.
"Maju dan lawanlah aku. Jangan hanya berbicara kau." Tantang Nicky pada Rere.
Rere tersenyum mengejek mendengar perkataan dari Nicky.
"Sesuai dengan keinginanmu," jawab Rere.
Nicky mengeluarkan belati yang ada di sakunya. Lalita ketakutan melihat hal itu. Ia tidak ingin jika sang kakak kenapa-napa.
"Jangan lukai kakakku." Teriak Lalita tidak di indahkan oleh Nicky.
Nicky mulai mengayun-ayunkan belati ke arah Rere.
Rere terus saja menghindar karena serangan dari Nicky.
Sreet...
Bahu Rere tergores benda tajam itu. Darah segar mulai bercucuran, namun tidak membuat Rere berhenti.
"Kita impas satu sama, nyonya." Ujar Nicky berhasil menggores lengan Rere.
Pertarungan sengit di antar mereka terjadi.
Lalita menangis melihatnya. Baru kali ini ia berhadapan seperti ini.
Bugh...
Rere berhasil menendang dada Nicky hingga tersungkur.
Nicky kembali bangkit dan menyerang Rere kembali.
Bugh...
Lagi-lagi Rere menendang Nicky, hingga belati yang di bawahnya terpental jauh.
Bugh... bugh...
Tendangan keras di layangkan oleh Rere. Kekuatan fisik Nicky yang memang setara dengan Rere tak membuat ia mudah tumbang.
Ia kembali bangkit dan melawan Rere dengan tangan kosong.
"Hentikaan..." Teriak Lalita bercucuran air mata.
__ADS_1
Keduanya masih saja beraduu kekuatan mengalahkan satu sama lain.