
"Terutama untuk Celo. Jaga dia dengan ketat, karena orang itu mengincar Celo," ujar Rere kembali.
"Kenapa orang itu mengincar Celo? Aku tidak akan membiarkan orang itu menyentuh anakku," sahut Rey mendengar jika Celo menjadi sasaran.
"Pa boss... tenang saja okey. Kita akan memperkuat penjagaan kita, aku pastikan mereka yang ingin mengganggu kita tidak akan bisa tenang," jawab Agnes.
"Baiklah, aku percayakan pada kalian semua. Jika ada sesuatu langsung saja hubungi aku," titah Rere.
Perbincangan mereka cukup lama karena membahas yanh serius.
Setelah selesai, mereka pun segera menuju ruang latihan. Di sana Rey sudah berganti dengan baju yang di gunakan untuk latihan. Ia ingin mengasah lebih dalam lagi kemampuannya.
"Papa mau apa?" Tanya Celo melihat Rey berpakaian serba hitam.
"Papa ingin latihan dengan uncle-uncle itu semua, agar papa bisa kuat," jawab Rey.
"Celo boleh ikut?" Tanyanya polos. Sepertinya Celo juga tertarik dengan apa yang di ucapkan oleh Rey. Ia juga melihat beberapa anak buah Rere latihan di sana, itu membuatnya ingin sekali mengikuti latihan fisik disana.
"Celo lihat papa dulu oke. Kalo Celo sudah besar, Celo boleh ikut latihan," ujar Rere mendekat ke arah buah hatinya.
Celo hanya menurut dengan ucapan mamanya, ia pun di bawah ke tempat duduk yang tersedia disana.
Rere mulai melihat bagaimana Rey latihan. Ia tertarik untuk melatih kekuatan suaminya lebih dalam lagi, ia pun memutuskan untuk berlatih melawan Rey.
"Celo di sini sama uncle Daniel dan aunty Agnes oke. Mama mau latihan sama papa sebentar," kata Rere.
Rere pun melangkahkan kakinya menuju Rey berada saat ini.
Di satu sisi...
Anak buahnya datang membawa laporan untuk.
"Permisi tuan," ucap anak buah itu.
"Apa yang kau bawa?" Tanyanya melihat amplop coklat yang di pegang oleh anak buahnya.
"Ini saya dapatkan kemarin tuan. Saya melihat wanita cantik itu keluar dari rumah wanita itu," lapornya.
Ia pun melihat foto-foto sambil tersenyum smirk. Siapa lagi kalau bukan Nicky.
"Cantik juga. Siapa wanita ini?" Tanya Nicky yang sepertinya tertarik dengan seseorang yang berada di foto itu.
"Saya sudah menyelidikinya tuan, tapi hasilnya tidak saya temukan," jawabnya.
"Kau selidiki wanita yang ada di foto ini, aku mulai tertarik dengannya. Sepertinya, wanita ini masih ada hubungannya dengan wanita itu," perintah Nicky.
Foto yang di lihat oleh Nicky saat ini adalah Lalita, adik Rere.
"Akan saya usahakan lagi tuan."
Kembali lagi ke sisi Rere...
Bugh... bugh... bugh...
__ADS_1
Rey jatuh tersungkur karena mendapat tendangan kuat dari Rere.
"Kau lemah sekali Rey," ejek Rere dengan tersenyum remeh.
"Aku tidak lemah, aku mengalah saja padamu. Mana tega aku menyakiti istriku sendiri," elaknya tidak mau kalah.
Rere memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari Rey.
"Pantas saja gaya bicaramu seperti ini dan lebih banyak menggombal. Kau sepertinya sudah tertular dengan Daniel," ujar Rere.
"Lihatlah tuan kecil, mamamu berhasil mengalahkan papamu. Bagaimana bisa pria di kalahkan oleh wanita seperti itu," ucap Daniel yang seperti memanas-manasi keadaan.
"Papa payyah," ujar Celo. Agnes tertawa cekikikan mendengar perkataan Celo.
"Ayo mamaa... kalahkan saja papa," teriak Celo.
"Papa payah, masa papa kalah sama mama," teriak Celo lagi.
Rey melotot mendengar perkataan anaknya yang mengatakan dirinya payah. Rere terkekeh mendengar perkataan Celo.
"Ini pasti karena ucapan Daniel," ujar Rere masih terkekeh.
"Heh Daniel cunguk, apa yang kau katakan pada anakku, hah?" Teriak Rey pada Daniel dari kejauhan.
"Tidak... aku tidak mengatakan apa-apa," elak Daniel dengan wajah tanpa dosa.
Rey pun melanjutkan latihan menembak di sana.
Tembakannya tepat mengenai sasaran.
Kemudia apel di lempar sejajar dengan wajahnya dan... doorr...
Apel itu pecah berserakan karena mendapat tembakan dari Rey.
Di lanjut dengan melayangkan belati pada buah apel yang di lempar.
Dan Syuutt... Jleeb...
Lemparan Rey mengenai sasaran. Buah Apel itu menempel di papan dengan pisau yang tertancap.
Rere tersenyum senang melihat perkembangan Rey. Karena tidak mudah berlatih seperti ini, apa lagi Rey memutuskan untuk terjun mengikuti jejak sang istri. Mental dan fisiknya harus benar-benar kuat.
Celo sedari tadi mengikuti kemana langkah Rey dan Rere pergi. Ia melihat setiap latihan yang di lakukan orang-orang yang berada di markas. Tidak lupa juga ia memakai penutup telinga agar suara bising dari tembakan tidak membuatnya terganggu.
"Waahh... papa hebat," puji Celo melihat aksi papanya.
"Kemampuan papa masih kalah dengan mamamu, sayang." Jawab Rey.
"Mama... Celo suka tempat ini. Besok kesini lagi ya," ajak Celo semangat.
"Celo tunggu besar dulu ya. Agar Celo bisa bermain sesuka hati di sini. Di sini sangat berbahaya untuk anak kecil," ucap Rere memberi pengertian pada Celo.
"Tapi, Celo sudah besal ma," cicit Celo dengan suara cedal.
__ADS_1
"Hahahaa... tuan kecil. Anda lucu sekali. Makan yang banyak ya, biar cepat besar dan bisa main di sini," ucap Daniel menyahuti perkataan Celo.
Rrooaar....
Suara singa terdengar keras.
"Mama, suala apa itu?" Tanya Celo penasaran.
"Kenapa ada suara singa disini?" Tanya Rey tak kalah penasarannya. Karena baru kali ini ia mendengar suara singa di sini.
"Itu suara kesayangan mamamu tuan kecil. Apa kau mau melihatnya?" Imbuh Daniel.
Celo yang merasa penasaranpun mengiyakan ucapan Daniel. Daniel membawa Celo ke kandang dan membawa daging sapi untuk di berikan pada singa di sana.
"Apa itu singa, uncle?" Tanya Celo setelah sampai di kandamg kesayangan Rere.
Rey melotot melihat ada singa sebesar iti di markas milik Rere.
"Sayaang... sejak kapan ada singa disini?" Tanya Rey merinding.
"Singa itu sudah ada sebelum kita datang kemari pa boss," sahut Agnes yang baru datang.
"Apa itu tidak berbahaya?" Tanya Rey lagi.
"Tenang saja Rey, dia sudah di latih dengan orang-orang disini," jawab Rere.
"Kau lihat, anakmu sangat antusias memberi makan singa itu," tunjuk Rere melihat Celo dengan senangnya memberi makan singa. Tentu saja di dampingi oleh Daniel.
Rey was-was dan merinding melihatnya.
Celo pun mencoba mengelus kepala singa besar itu, namun reaksinya sangat mengejutkan. Singa itu luluh di hadapan Celo, padahal baru pertama kali kesayangan Rere bertemu dengan Celo.
"Hai singa, namaku Celo," ajak Celo berbicara. Singa itu menatap Celo lekat seolah-olah ia mengerti apa yang di ucapkan oleh Celo.
"Sudah cukup ya tuan kecil, biar uncle yang memberi makan. Tuan kecil melihat saja ya," bujuk Daniel. Daniel pun juga waspada dengan keadaan di sekitar, ia takut jika singa itu sisi liarnya muncul secara tiba-tiba.
Setelah memberi makan singa, Celo berlari ke arah Rere dengan senang.
"Mama... kita bawa pulang ya?" Bujuk Celo pada mamanya.
Rey pun mendesis mendengar permintaan anaknya.
"Sayang... biarkan dia di sini ya. Nanti di rumah banyak yang takut. Besok-besok kita kesini lagi mengunjungi singa itu ya," ujar Rey menyetarakan tingginya dengan Celo.
"Papa janji," cicit Celo. Rey menganggukkan kepala menyetujui ucapan Celo.
"Okey papa," jawab Celo. Rey bernafas lega karena Celo mudah untuk di bujuk. Jika tidak, bagaimana jadinya nanti jika singa itundi bawah pulang. Seisi rumah mungkin kabur terlebih dulu.
"Besok kita ke sini lagi ya mama," ajak Celo.
"Apapun untuk Celo," jawab Rere dengan tersenyum.
Celo sangat girang, ia sepertinya betah berada di sini. Ia tidak rewel sedikitpun saat berada di markas hingga waktu sore tiba.
__ADS_1