Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 58.


__ADS_3

Rere terus memandang wajah Rey yang masih terbaring. Ia tertidur sambil duduk karena merasa lelah.


Daniel yang baru saja masuk melihat posisi tidur Rere membuatnya tidak tega.


Ia pun berjalan mendekat ke arah Rere. "Nyonya... kenapa kau tidur seperti itu," Daniel membangunkan Rere dengan pelan.


"Eemm..." Rere membuka mata.


"Tidurlah di brankar samping itu, agar bisa tidur dengan nyaman." Tunjuk Daniel di brankar kosong di sebelah Rey.


Di sana terdapat 2 brankar dengan ukuran yang cukup lebar.


"Tidak apa, Niel. Aku menunggu Rey," tolak Rere.


"Nyonya... kau juga butuh istirahat. Biar aku yang menunggu tuan Rey. Nanti kalo sadar aku akan membangunkamu," ucap Daniel dengan perhatian.


Mana mungkin Daniel membiarkan orang yang selama ini berjasa padanya seperti itu. Ia sudah menganggap Rere seperti kakaknya, seperti keluarganya sendiri.


"Baiklah. Aku tidur dulu sebentar, nanti bangunkan aku jika Rey sudah sadar." Rere pun menurut dengan ucapan Daniel. Sebenarnya dia juga merasa lelah setelah baku hantam tadi.


Danielpun menganggukkan kepalanya.


Di kediaman Rey...


Lalita selesai membersihkan diri dan ingin segera beristirahat. Tapi, ia mengurungkan niatnya untuk itu. Ia teringat sesuatu, ia memutuskan untuk bertemu dengan Agnes.


"Kak Agnes." Panggil Lalita melihat Agnes sedang menatap layar lebar di lantai bawah.


"Eehh... mana tuan kecil?" Tanyanya.


"Celo sudah tidur, mungkin dia lelah," terang Lalita mendudukkan dirinya.


"Ada apa nona? Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan," ujar Agnes melihat raut wajah Lalita.


"Eehh... iya. Tapi aku bingung mulai dari mana," jawab Lalita.


"Kau pasti ingin menanyakan siapa bu boss bukan? Dan pasti kau juga ingin menanyakan siaoa sebenarnya kami semua?" Tebak Agnes.


"Bagaimana kau bisa tau?"


"Jelas saja aku tau," jawab Agnes.


"Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi untuk selebihnya kau bisa tanyakan pada bu boss."


"Aku, dan dua orang lelaki tadi adalah tangan kanan bu boss, kami berasal dari dunia bawah. Namun untuk tuan Li, dia lebih banyak memegang perusahaan bu boss. Dan banyaknya pasukan tadi adalah anak buah bu bos." Jelas Agnes panjang lebar.


"Berarti, apa yg di bilang Nicky itu benar?" Tanya Lalita memastikan.


"Memangnya apa yang berandal itu katakan?" Tanya Agnes memicingkan alisnya.


"Dia bilang jika kakak adalah mafia," lirih Lalita pelan namun masih bisa di dengar oleh Agnes.


"Ya... memang benar. Tapi kau harus tau nona, meskipun kami mafia, kami tidak sembarangan membunuh orang. Kami akan bergerak jika mereka semua mengusik ketenangan kami. Kami juga bisa membantu mereka jika dalam bahaya. Bisa di bilang, kita di sewa untuk menjaga keamanan mereka yang juga mempunyai musuh dan mengincar nyawanya."


Lalita menyimak semua penjelasan Agnes. Sebenarnya dia juga merasa terkejut dengan kenyataan ini.


"Sudah berapa lama mafia yang di dirikan kakak?" Tanya Lalita lagi.

__ADS_1


"Sejak bu boss berada di Amerika, saat di sana ia mencoba terus melatih kemampuannya." Jawab Lalita.


"Memangnya apa yang membuatnya bisa membentuk mafia itu?" Tanya Lalita semakin penasaran.


"Bu boss gagal dalam kisah cintanya waktu itu. Dia memutuskan untuk menjadi wanita kuat tidak lemah hanya karena laki-laki."


"Berarti waktu ituu...?" Lalita menjeda kalimatnya.


"Ya... apa yang kau fikirkan benar. Tapi jangan pernah membenci pa boss atau pun bu boss nona. Pa boss sudah membuktikan semuanya jika dia akan membahagiakan bu boss. Dan untuk bu boss, meskipun dia seorang pimpinan mafia yang di segani di berbagai negara, dia tetaplah bu boss yang baik dan suka menolong. Dia tidak pernah merubah sifatnya menjadi jahat ataupun benci dengan seseorang. Tapi jika ketenangannya di usik, maka mereka harus siap menerima keganasan bu boss." Terang Agnes panjang lebar.


Lalita pun mulai mengerti. Ia juga tidak menyangka jika kakaknya akan menjadi seprti ini karena kisah cintanya dulu yang sempat gagal.


Entah dia harus membenci kakak iparnya atau bagaimana.


"Lalu... bagaimana dengan kak Rey? Apa dia juga tau tentang ini?" Tanya Lalita lagi.


"Tuan Rey tau akan hal ini. Waktu dulu bu boss reuni dengan teman-temannya, kakak Nicky membuat kekacauan di sana. Dia menyerang teman-teman bu boss, termasuk dengan tuan Rey. Tuan Rey di jadikan sandra olehnya untuk menghancurkan bu boss. Semenjak kejadian itu, tuan Rey memutuskan untuk ikut terjun mengikuti jejak bu boss untuk bisa melindungi bu boss suatu saat nanti. Seperti yang ia lakukan sekarang. Ia membuktikan ucapannya, ia melindungi kalian semua." Jelas Agnes panjang lebar.


"Kenapa kakak menutupi rahasia sebesar ini dari kami semua?" Ucap Lalita menerawang jauh.


"Bu boss tidak ingin melibatkan kalian, nona. Bu boss tidak ingin kalian dalam bahaya. Sebisa mungkin bu boss menyembunyikan identitas aslinya dari semua kalangan mafia, agar kalian tidak di hantui teror dan rasa khawatir dari para musuh bu boss."


Lalita bingung harus menanggapi bagaimana. Entah harus kecewa atau bagaimana, tapi dia juga salut dan bangga pada kakaknya yang hebat seperti itu.


"Aku tau kau pasti merasa kecewa, nona. Tapi, jangan pernah membenci bu boss. Dia adalah orang yang baik. Jika tanpanya, kami semua tidak bisa seperti sekarang," ucap Agnes yang mengingat perlakuan keluarga paman dan bibinya.


Jika saja bukan Rere yang menolong, ia pasti tidak bisa seperti sekarang.


"Memangnya ada apa?" Tanya Lalita. Ia masih penasaran dengan semuanya. Lalita menggunakan kesempatan ini untuk mencari tau yang sebenarnya.


Lalita mendengar semua cerita Agnes tanpa menjedanya sama sekali.


Agnes bercerita hingga memakan waktu selama 1 jam karena saking menghayatinya.


Lalita pun di buat kagum oleh kakaknya yang selama ini dia tidak tau.


"Untuk selebihnya, kau bisa tanyakan pada bu boss," Agnes mengakhiri ceritanya.


"Tidak kak. Aku sudah faham semuanya," jawab Lalita.


"Sekarang istirahatlah. Nanti malam kita ke rumah sakit," ujar Agnes.


"Emmm... bisa tidak kak Agnes manggil aku Lita aja. Gak usah terlalu formal," ujar Lalita.


"Oke... sesuai keinginanmu. Sekarang istirahatlah dulu. Kau pasti masih syok dengan kejadian tadi," ucap Agnes lagi.


Lalita hanya menurut dengan apa yang di ucapkan Agnes. Tapi yang di katakan Agnes memang benar. Ia masih syok dan kaget dengan apa yang di alami tadi, dia juga merasa lelah dan ngantuk.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 malam.


Belum ada tanda-tanda Rey sadarkan diri. Rere pun juga masih tertidur lelap. Mungkin dia juga merasa lelah, hingga tertidur begitu lama.


Lalita, Agnes dan Celo sudah tiba di rumah sakit. Mereka membawakan baju ganti untuk Rere dan beberapa makanan serta cemilan.


"Makanlah dulu bontot. Aku bawakan makanan untukmu dan bu boss," ujar Agnes perhatian.


"Kau tau saja kalo aku lagi lapar," sahutnya mengambil makanan yang di berikan padanya.

__ADS_1


"Mama..." panggil Celo pelan.


Rere pun terbangun mendengar panggilan Celo.


"Eengh... jam berapa sekarang?" Rere melihat jam yang ada di ponselnya. Ia terkejut karena tidur begitu lamanya.


"Kenapa kau tidak membangunkanku Niel? Apa Rey sudah tersadar?" Omel Rere yang baru saja bangun.


Daniel ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya tidak jadi karena omelan dari Rere.


"Aku melihatmu sangat kelelahan, mana tega aku membangunkanmu. Tuan Rey belum sadar," jawab Daniel. Ia pun memakan makanan yang di bawa oleh Agnes tadi.


"Huuh..." Rere menghembuskan nafasnya kasar. Ia merasa sedih akan hal itu.


"Mama... makan dulu ya. Celo tadi bawakan makanan buat mama," ujar Celo gemas. Kesedihan Rere seketika ilang tergantikan oleh suara cedal Celo.


"Makasih sayang, mama mau mandi dulu ya. Nanti mama makan," ucap Rere mengelus pucuk kepala Celo. Celo mengangguk dan beralih duduk di pangkuan aunty nya.


Celo memandang sedih wajah sang papa.


"Onty... apa papa malah dengan Celo? Kenapa papa belum bangun?" Ucap Celo sendu.


"Celo sabar ya... papa pasti nanti bangun kok. Papa hanya capek," ujar Lalita ikut merasa sedih.


Ia merasa bersalah akan hal ini. Sedari tadi ia menyalahkan dirinya sendiri melihat kakak iparnya terbaring seperti itu.


Daniel kembali memandang wajah Lalita yang tampak sedih.


"Ada yang curi-curi pandang kayaknya ya." Sindir Agnes melihat Daniel fokus pada Lalita.


"Ada apa onty?" Tanya Celo polos.


"Aahh... tidak apa tuan kecil. Hanya saja tadi ada tikus mencuri pandang pada makanan di depannya." Jawab Agnes.


Daniel yang merasa tersindir bersikap cuek dan melanjutkan makannya.


Tak lama Rere pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah fresh kembali.


"Di mana Daniel?" Tanya Rere yang sudah tidak melihat Daniel di sana.


"Dia sudah kembali bu boss," jawab Agnes.


"Kakak... makanlah dulu. Kau pasti belum makan sedari tadi."


"Aku lagi tidak berselera," jawabnya.


"Jangan begitu kak. Kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Maafkan aku, karena salahku kak Rey harus terluka," lirih Lalita menunduk.


"Jangan salahkan dirimu sendiri, Lita. Ini bukan salahmu," jawab Rere melihat tingkah Lalita.


"Aku hanya berpesan padamu, jangan sampai mama dan tau akan hal ini oke." Sambung Rere pada Lalita.


Lalita pun mengangguk faham dengan apa yang di katakan oleh sang kakak.


"Tapi... makanlah dulu kak. Kalau kau sakit, mana bisa menjaga kak Rey nanti." Bujuk Lalita. Mau tidak mau Rere pun menuruti perkataan sang adik.


Lalita tersenyum senang saat Rere menuruti perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2