Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 63. Hamil?


__ADS_3

Rere membawa Rey ke kamar yang ada di lantai bawah, karena untuk naik ke atas tidak memungkinkan. Kondisi Rey lemas seperti tidak bertenaga sama sekali.


"Kamu sedari pagi muntah, Rey. Kita periksa saja ya." Bujuk Rere dengan harap-harap cemas.


"Aku tidak ingin periksa, yang aku butuhkan hanya kamu berada di dekatku," jawab Rey memeluk erat tubuh Rere.


Rey merasa sangat tenang saat berpelukan dengan Rere seperti itu.


Rasa mual yang di derita tadi berangsur-angsur mulai membaik.


Rere hanya pasrah saja dan mengelus pucuk kepala Rey dengan lembut.


.


.


Keesokan paginya...


Rey terbangun karena rasa mual yang begitu bergejolak kembali menerpanya. Rere mendengar suara Rey yang terus saja muntah menyusul ke kamar mandi.


"Kamu sebenarnya kenapa sih, Rey?" Tanya Rere yang begitu cemas karena sedari kemarin Rey terus saja muntah.


"Entahlah, aku juga tidak tau." Jawab Rey kembali mual.


"Pokoknya kita harus ke rumah sakit untuk periksa. Aku takut jika itu akibat dari tembakan kemarin."


Skiip...


Rere dan Rey saat ini sudah berada di rumah sakit. Rey berbaring di atas brankar dan dokter memeriksanya secara detail.


"Bagaimana dok? Apa ada masalah?" Tanya Rere. Dokter itu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Rere.


"Sepertinya masalahnya bukan berada di tuan Rey, nyonya. Masalahnya ada di nyonya sendiri?" Jawab dokter tadi membuat Rere bingung.


"Kenapa aku? Maksudnya bagaimana itu?" Rere bingung dengan keterangan dokter tadi.


"Kapan terakhir anda datang bulan, nyonya?" Tanya dokter itu kembali.


'Eeh... aku sudah 2 bulan ini tidak datang bulan' batin Rere mengingat-ngingat.


"Saya tidak ingat dok. Seingat saya, 2 bulan ini saya tidak datang bulan." Jawab Rere.


"Untuk memastikannya, nyonya bisa langsung ke dokter obgin."


"Memangnya apa yang terjadi pada istri saya, dok?" Sahut Rey.


"Kalau dugaan saya tidak salah, nyonya Rere sedang hamil tuan." Jawab dokter.


"Apa dok? Hamil?" Tanya Rey memastikan jika apa yang ia dengar tadi tidak salah.


"Benar tuan. Untuk memastikannya bisa langsung ke dokter obgin. Saya akan hubungi beliau dulu, saat ini longgar atau tidak." Dokter pun mengambil ponsel dan segera menghubungi dokter obgin yang berada di rumah sakit tersebut.


"Dokter farah sedang longgar. Nyonya dan tuan bisa langsung kesana," sambung dokter tadi setelah berbicara melalui sambungan telfon.


"Baiklah dok. Kalau begitu kami permisi. Terima kasih ya dok," pamit Rey memeluk pinggang Rere.

__ADS_1


Mereka langsung menemui dokter obgin sesuai apa yang di katakan oleh dokter yang memeriksa Rey tadi.


.


Cassandra Cafe...


Rere yang hari ini ke rumah sakit, Lalita dan Celo serta Agnes datang ke Cafe untuk menghilangkan bosan.


"Onty... Celo mau ice cleam, kentang goleng, sosis bakal, blownis lumel, dan steak." Ucap Celo mnyebutkan makanan yang di inginkan.


"Busset anak tuyul, kenapa banyak sekali makanmu. Badanmu saja yang kecil ternyata," sungut Lalita mendengar pesanan yang di minta Celo.


Cafe milik Rere memang banyak menyuguhkan makanan. Dari makanan kecil-kecilan seperti kentang goreng, sosis barbeque dan masih banyak lagi. Tapi yang paling utama di sana adalah menu steak. Banyak macam steak ada di sana.


Berbeda lagi dengan cafe Rere yang lain. Ada yang menu utamanya berbagai macam dimsum. Ada juga yang menu utamanya adalah spageti dan masih banyak lagi. Setiap cafe milik Rere tersebar memiliki menu utama yang berbeda.


Dan tempatnya yang di desain sedemikian rupa membuat siapa saja betah di sana.


Tidak lupa juga Rere meletakkan disert box di setiap cafe milknya.


"Tuan kecil... kenapa banyak sekali yang ingin kau makan?" Agnes tidak kalah heran.


Mereka pun memesan makanan masing-masing.


"Aku ke toilet dulu," ucap Agnes pada Lalita.


Agnes segera menuju ke toilet karena sudah tidak bisa di tahan lagi.


Selesai buang hajat, Agnes membersihkan tangannya di westafel depan kamar mandi yang ada di sana.


Bugh...


"Aduh..." ringis Agnes terjatuh. Pant**tnya mendarat di lantai dengan kerasnya.


"Kalau jalan hati-hati kenapa sih!" Sungut Agnes merasa sakit.


"Maafkan saya nona. Tadi saya terburu-buru," ucap pria itu. Agnes pun mendongakkan kepalanya.


"Kita bertemu lagi, nona." Ucap pria itu tersenyum saat melihat Agnes.


'Aiihh... manisnya' batin Agnes.


'Eehh... astaga. Apa yang aku fikirkan sih' batin Agnes merutuki dirinya sendiri.


"Apa kita pernah bertemu ya?" Tanya Agnes bingung.


"Sepertinya kau lupa, nona." Jawab pria itu.


"Perkenalkan, aku Devano. Teman dekat Rey dan Rere. Kita pernah bertemu waktu reuni dulu. Aku juga melihatmu di acara pernikahan Rere waktu itu." Ucap Vano mengulurkan tangannya.


Yups... orang itu adalah Devano. Teman dari Rere dan Rey.


"Aah.. iya iya. Aku baru mengingatnya. Aku Agnes,"  jawab Agnes menerima uluran tangan Vano.


'Aduuhh... kenapa jantungku serasa mau copot begini' batin Agnes. Ia pun segera melepaskan uluran tangannya dari Vano.

__ADS_1


"Eemm... maaf tuan. Aku harus kembali, temanku sudah menunggu." Pamit Agnes segera berjalan cepat.


Ia tidak mau jika lama-lama disana. Bisa-bisa jantungnya bisa copot beneran.


Vano memandang kepergian Agnes dengan tersenyum manis.


'Cantik' batinnya.


Ia segera tersadar untuk apa dia datang ke cafe itu. Ia pun melangkahkan kakinya terburu-buru menemui kliennya.


Kembali ke sisi Rere...


"Aah... nyonya dan tuan sudah datang. Silahkan berbaring nyonya," ucap dokter farah dengan sopan.


Rere membaringkan dirinya lalu dokter mengoleskan gel di atas perut Rere. Dokter menggeser-nggeser alat USG itu untuk memeriksa.


Dokter farah tersenyum melihat sebuah titik yang terpampang di layar USG sana.


"Lihatlah titik-titik ini nyonya, tuan." Ucap dokter farah menunjuk ke layar besar itu.


Rey dan Rere pun menoleh ke arah yang di tunjukkan dokter farah.


"Ada dua titik di sini. Itu berarti nyonya sedang mengandung bayi kembar," ucap dokter itu.


"Kembar dok?" Mata Rey berkaca-kaca melihatnya.


Rere pun juga tak kalah tersentuh melihatnya. "Tapi... di antara kami tidak ada yang mempunyai keturunan kembar dok," sahut Rere.


"Berarti sebuah keberuntungan untuk nyonya dan tuan. Karena memang sangat kecil kemungkinan memiliki bayi kembar yang tidak ada keturunan kembar."


Selesai periksa Rere pun duduk berhadapan dengan dokter untuk berbincang-bincang.


"Tapi... kenapa saya setiap kali mual dan muntah dok?" Tanya Rey.


"Berarti yang mengalami masa ngidam adalah tuan. Nikmati saja tuan, mungkin dedeknya tidak mau kalau mamanya nanti yang sakit." Gurau dokter.


"Hal itu memang sering terjadi, banyak pasangan lain laki-laki yang mengalami masa ngidam. Biasanya itu terjadi di trisemester pertama." Dambung dokter.


Mereka pun banyak berbincang-bincang mengenai banyak hal.


"Kalau begitu kami permisi ya dok," pamit Rey.


Sepasang suami istri itu pun keluar dari ruangan dan kembali pulang ke rumah.


Di tengah perjalanan, Rere terdiam dan melamun membuat Rey bingung.


"Kamu kenapa sayang? Apa kamu tidak senang?" Tanya Rey salah satu tangannya menggenggam tangan Rere.


"Bukan begitu, Rey. Aku takut jika nanti Celo akan merasa iri." Jawab Rere. Rey pun tersenyum karena perkataan Rere.


"Sayang... apa kamu tidak lihat reaksi Celo meminta adik waktu itu. Dia sangat antusias, aku yakin Celo akan senang dan menjaga adik-adiknya." Rey memberi pemgertian lembut pada Rere.


"Tidak perlu merasa khawatir, oke. Kalau Celo ngambek, aku yang akan berbicara padanya pelan-pelan," bujuk Rey agar Rere kembali seperti biasa. Rere pun tersenyum akan hal itu.


Rey melanjutkan laju mobilnya menuju rumah dan menyampaikan kabar bahagia ini pada Celo.

__ADS_1


__ADS_2