
"Jika bisa, percepat lagi Rey. Minggu depan," ucap papa yang seperti memberikan perintah mutlak.
Rey yang mendengar ucapan papanya, mengalihkan pandangan matanya kearah Rere sebentar sebelum menjawab ucapan papanya, "tidak pa, kami memutuskan untuk bulan depan. Banyak yang harus aku dan Rere urus," jelas Rey.
"Baiklah, terserah kalian saja bagaimana," jawab papa Haris.
"Besok malam papa dan mama akan berkunjung kerumahmu nak, kami ingin mebahas banyak hal dengan calon besan kami," ujar papa Haris pada Rere.
Waktu mulai sore, Alea dan Alvaro baru pulang dari sekolah karena sekolah mereka full day.
"Permisi... pakeeettt," teriak Alea dari ambang pintu. Alea memang sedikit jahil, Alvaro yang melihat kakaknya hanya geleng-geleng kepala. Mereka semua yang mendengar teriakan Alea menoleh kearahnya yang baru saja tiba.
Saat melihat orang yang sangat dia kenal, Alea langsung berlari menuju kearah Rere, "Ciaa... kak Rere...," teriaknya sambil berlari.
"Awas minggir," ucap Alea sambil mendorong tubuh Rey yang duduk bersebalahan dengan Rere. Alea duduk ditengah-tengah diantara Rere dan Rey. Rey yang melihat tingkah adiknya mendengus kesal.
"Bisa tidak, kalau kau tidak petikalan seperti itu," ketus Rey yang kesal. Alea yang mendengar ucapan kakaknya bersikap bodo amat dan semakin menempel pada Rere. Rere hanya tersenyum melihat tingkah laku Alea yang tidak pernah berubah.
Alvaro yang berjalan dengan santainya menyusul Alea yang sudah berlari terlebih dulu keruang tamu, "Kemana saja kau selama ini kak? Kenapa baru datang?" Tanya Alvaro yang sekian lama tidak pernah melihat Rere.
"Meneruskan study sambil mengembangkan bisnis diluar," jawab Rere singkat dengan tersenyum kearah Albaro.
Perbincangan serius mereka cukup memakan banyak waktu, Alea dan Alvaro yang baru pulang dari sekolah juga ikut membahas dengan antusiasnya.
Alea juga cukup dekat dengan Rere, semasa dulu sering sekali jika Alea meminta kue kesukaanya brownies pada Rere. Rere tidak pernah keberatan, selagi Alea senang.
Waktu sudah menunjukkan petang, Rey segera mengantarkan Rere untuk kembali kemension. Sesampainya di mension Rere langsung masuk kedalam, Rey juga memutuskan untuk langsung kembali karena ada berkas penting yang harus dia urus.
Rere yang sudah selesai dengan ritual mandinya segera menghubungi mamanya jika besok malam ada pertemuan dua keluarga.
Keluarga Rere ikut senang mendengar kabar gembira yang di sampaikan oleh Rere baru saja.
Setelah menghubungi keluarganya, Rere memutuskan pergi keruang kerja untuk menyelesaikan tugasnya yang tadi sempat tertunda.
Tengah malam telah tiba, Rere memutuskan berlayar kepulau kapuk karena sedikit lelah.
***
Keesokan paginya, Rere sudah terbangun dan bersiap-siap untuk pergi kerumah keluarganya untuk mempersiapkan acara pertemuan keluarga nanti malam.
"Bi... nanti sudah tidak usah memasak lagi ya, hari ini aku ada acara dirumah mama. Bibi masak untuk yang lainnya saja," perintah Rere pada bi Nunung.
__ADS_1
"Baik non, semoga lancar ya acaranya nanti," jawab bi Nunung.
"Nes, kau ikut denganku oke," ujar Rere.
"Oke siap bosskuuu...," jawab Agnes sambil mengunyah saraapannya.
Selesai sarapan Rere dan Agnes menuju rumah keluarga Rere, mobil mewah mereka melesat membelah jalanan kota yang sedikit padat.
Sesaimpainya mereka dirumah keluarga Rere, mereka langsung turun dan disambut oleh ART yang ada disana.
"Eh... non Rere sudah datang, silahkan masuk non," ucap salah satu ART dengan ramahnya.
Sesampainya didalam Rere langsung bertemu dengan mama Dias dan papa Xander yang ada diruang keluarga, tidak lupa juga Rere memeluk rindu mama dan papanya.
"Si centil mana ma?" Tanya Rere mencari keberadaan Lita.
"Sekolah dia," jawab mama.
Selesai berbincang-bincang mereka semua bersiap-siap menyiapkan jamuan untuk nanti malam. Semua yang ada disana berkerja sama untuk menyiapkan semuanya, Rere juga ikut terjun lamgsung membantu menyiapkan semuanya.
Malam hari telah tiba, keluarga Rey sudah tiba di kediamam orang tua Rere. Mereka menyapa satu sama lain dan berbincang ringan sebelum membahas hal yang serius.
"Ya... aku sudah tau itu tuan Haris, anakku sudah memberitahu semalam. Kita sebagai orang tua harus mendukung kebahagian putra dan putri kita bukan?" Jawab papa Xander.
"Kau benar tuan Xander, aku dulu sempat berkecil hati karena ulah Rey dulu terhadap Rere. Tapi takdir sepertinya memihak mereka, mereka disatukan kembali," ucap papa Haris yang merasa tidak enak.
"Yang lalu biarlah berlalu tuan, semoga setelah ini hubungan keluarga kita semakin erat tanpa ada permusuhan," ujar papa Xander.
Pembahasan serius mereka berjalan selama waktu satu jam, mereka sudah memutuskan untuk tempat dan tanggal berlangsungnya acara pernikahan nanti. Mereka sepakat jika mereka melaksanakan di hotel bintang lima milik keluarga Rey.
"Baiklah kalau begitu, untuk persiapan nanti biar kami yang mengurus," ucap papa Haris.
"Dan untuk fitting baju pengantin, kamu ajak Rere ke butik langganan keluarga kita Rey," ujar papa Haris pada Rey.
"Baik pa," jawab Rey.
"Jangan begitulah besan, kami juga ingin membantu menyiapkan pernikahan anak kita," ujar mama Dias.
"Sudahlah tak apa jeng, biar kami semua yang menyiapkan. Rere adalah menantu kesayangan kami," jawab mama Alma dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
"Benar apa yang dikatakan istriku nyonya, biarkan kami juga ikut andil membantu," ujar papa Xander.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita bagi sama saja, biar adil," lerai papa Haris agar tidak memperpanjang perdebatan.
Rere dan Rey hanya bisa diam menyimak berdebatan diantara kedua orang tua mereka, kedua orang tua mereka begitu antusias untuk mempersiapkan pernikahan mereka berdua.
"Rey, sebenarnya yang nikah itu mereka atau kita, kenapa mereka yang berdebat dan antusias dari tadi? Bahkan mereka lebih antusias dari tadi," Bisik Rere pelan di telinga Rey.
"Entahlah," jawab Rey.
"Sudah biarkan saja, kita menurut saja," sambung Rey yang di balas anggukan oleh Rere.
Lama berdebat akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhirinya karena sudah hampir larut. Keluarga Rey memutuskan untuk segera pulang dan istirahat, sedangkan Rere memilih menginap di rumah yang dulu pernah ia tinggali.
Keluarga Rere mengantarkan keluarga Rey sampai didepan rumahnya, saat mobil yang ditumpangi keluarga Rey tidak terlihat lagi mereka memutuskan untuk masuk kedalam.
"Yasudah ayo kita kedalam dan istirahat, udara mulai dingin," ujar mama Dias.
Sesampainya di dalam rumah mereka memutuskan untuk kekamar masing-masing. Agnes memilih untuk sekamar dengan Rere.
"Semoga lancar sampai hari H ya bu boss," ucap Agnes memberi selamat pada Rere.
"Iya... semoga saja. Kau tetap awasi musuh-musuh, jangan sampai nanti mereka merusak hari bahagiaku," perintah Rere yang tidak bisa di bantah.
"Baiklah bu boss," jawab Agnes.
Sebelum Rere berbicara lagi, ponselnya berdering menandakan jika ada panggilan masuk.
"Ada apa," ucap Rere setelah menekan tombol hijau.
"Nonaa... apa kau lupa dengan perusahaanmu yang ada disini, banyak berkas yang membutuhkan tanda tanganmu," gerutu orang diseberang sana.
"Baiklah, lusa aku akan kesana," jawab Rere.
"Okey... aku tunggu," jawabnya. Rere langsung mematikan sambungan telfonnya.
"Ada apa bu boss?" Tanya Agnes.
"Tidak ada apa-apa. Vallen tadi menghubungiku jika perusahaan disana membutuhkanku, lusa aku akan kesana. Kau berjaga disini oke, dan bantu persiapan disini. Kumpulkan semua anggota untuk berjaga-jaga sampai hari H nanti, kau diskusikan nanti bersama Daniel dan Liam, mungkin aku satu minggu disana. Aku melihat situasi disana dulu, jika tidak banyak pekerjaan aku akan pulang cepat" perintah Rere.
Yang menghubungi Rere adalah Vallen, salah satu orang kepercayaannya yang dia kerahkan di perusahaan bersama Will.
Mereka juga anggota dari mafia yang Rere pimpin, tapi mereka juga di tugaskan untuk mengurus perusahaan yang ada disana.
__ADS_1