Kembalinya Permataku

Kembalinya Permataku
Eps 60. Pulang


__ADS_3

Keesokan paginya...


Prayoga, selaku asisten Rey di perusahaan datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar dari Rere jika Rey sedang sakit.


"Selamat pagi, tuan." Sapanya sedikit menundukkan badan.


"Bagaimana bisa kau tau aku disini?" Tanya Rey saat prayoga datang menjenguknya.


"Kemarin saya menelfon anda, tapi nyonya yang mengangkatnya. Beliau bilang jika anda sedang sakit," jelas Prayoga. Rey menganggukkan kepala faham.


Kemarin ponsel milik Rey mendapat panggilan dari Prayoga, Rere mengatakan jika Rey sedang di rawat karena sakit. Tidak mungkin jika Rere mengatakan kalau Rey habis tertembak.


"Jangan bilang ke keluargaku jika aku sedang di sini. Aku tidak ingin mereka khawatir dan heboh sendiri nanti." Ucap Rey di iyakan oleh Prayoga.


"Bagaiamana dengan perusahaan? Apa tidak ada masalah?" Tanya Rey.


"Anda tenang saja tuan. Perusahaan aman, anda fikirkan saja dulu kesehatan anda," jawab Prayoga perhatian pada Rey.


Mereka pun berbincang-bincang cukup lama dan akhirnya Prayoga memutuskan kembali keperusahaan.


.


.


.


.


3 hari kemudian...


Rey sudah di perbolehkan pulang hari ini. Celo sangat antusias saat sang papa sudah di perbolehkan pulang.


Saat ini mereka sedang berada di ruang berkumpul di kediaman Rey dan Rere.


"Gimana keadaanmu tuan?" Tanya Daniel memulai pembicaraan.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Jawab Rey.


"Terima kasih atas bantuan kalian semua," sambung Rey.


"Untuk apa?" Daniel mengangkat sebelah alisnya.


"Kalian sudah menolong Celo dan Lita," jawab Rey lagi.


"Tidak perlu, tuan. Itu memang sudah tugas dan kewajiban kami." Jawab Daniel santai.


Mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal.


Rumah megah dan mewah itu terdengar ramai karena mereka semua asik bermain dengan Celo. Candaan dan gurauan mereka lontarkan satu sama lain.


"Minum obatmu dulu, Rey," Rere datang membawa nampan berisi makan siang dan obat untuk pemulihan Rey.


"Kalian semua makanlah, ini sudah siang. Bibi sudah siapkan makanan untuk kalian." Perintah Rere.


"Celo makan sama aunty dulu ya," ucap Rere pada Celo. Celo tidak mempermasalahkan hal itu. Ia sangat faham jika saat ini kondisi papanya masih belum sembuh total.


Rere menyuapkan makanan pada Rey. Rey menerima suapan itu dengan senang hati.


Setelah itu, Rey mengambil sendok yang di pegang oleh Rere dan menyuapkan makanan itu pada sang istri.

__ADS_1


"Kau juga harus makan, sayang." Rere tidak bisa menolak. Percuma saja jika dia menolak, Rey akan tetap memaksanya.


"Sini biar aku suapi saja," Rere ingin mengambil alih sendok tadi.


"Tidak, biar aku saja. Aku tidak sakit parah, sayang. Biarkan aku yang menyuapimu juga," tolak Rey.


Mereka semua yang melihat karomantisan dua insan itu dari jauh hanya bisa menggerutu.


"Duuhh... untung kita makan tidak bersama mereka. Jika tidak, kita yang akan jadi obat nyamuk," gerutu Agnes.


Mereka semua makan di ruang makan, sedangkan Rey dan Rere tadi di ruang berkumpul.


Ruangan itu tidak bersekat, hanya saja jaraknya sedikit jauh dari ruang berkumpul.


"Ha'aahh... kau benar juga kak," Lalita meyahuti ucapan Daniel.


"Sudahlah kalian makan saja kenapa. Lihat, tuan kecil saja menikmati makanannya dengan lahap," Daniel sedari tadi menikmati makan siangnya. Dia mendongakkan kepalanya mendengar gerutuhan dua wanita itu.


Ia juga melihat gemas ke arah Celo yang makan dengan mulut penuh. Pipinya terlihat sangat mengembung karena melahap banyak makanan di depannya.


Mereka pun melanjutkan makan siang mereka dari pada harus melihat keromantisan dua insan itu.


Selesai makan siang, Celo mengajak ketiga orang tersebut bermain dengan Lucas dan Lucia.


Rey dan Rere hanya melihat di gajebo belakang yang dekat dengan kandang tersebut.


Rey masih harus beristirahat cukup agar cepat pulih. Jadi, dia hanya bisa menyaksikan tingkah lucu Celo dengan berduduk santai di sana.


Lucas dan Lucia sangat senang saat Celo menghampirinya. Mereka duduk dengan nyaman dan Celo mengelus punggung kedua harimau itu.


"Celo... apa kau tidak takut." Lalita merinding dengan tindakan Celo.


Ia harap-harap cemas jika saja anak harimau itu tiba-tiba mengamuk.


Lalita menggeleng cepat, ia pernah terhuyung karena saking kuatnya harimau kecil itu mendus*el ke arahnya.


Lucas dan Lucia hanya bisa tenang jika berhadapan dengan Celo. Dia akan sangat aktif jika dengan orang lain.


"Kau tidak takut dengannya, tuan kecil?" Seru Daniel pada Celo.


"Tidak uncle. Meleka baik, uncle cobalah mengelus meleka." Daniel pun mengelus kedua anak harimau itu.


Mereka bangkit dan ingin mengajak bermain Daniel, Daniel yang sudah terbiasa berhadapan dengan kucing besar itupun merasa tenang-tenang saja.


"Lihatlah Celo, sayang. Dia sangat gembira sekali," ucap Rey melihat Celo dari gajebo.


"Kau benar, Rey. Dia sangat aktif dan pintar." Rere menambahi perkataan dari Rey.


"Apa kau tidak ingin memberi adik untuk Celo?" Rey mencoba menggoda sang istri.


"Sudahlah jangan membual, kau fokus dulu pada kesembuhanmu," ketus Rere sedikit malu.


"Berarti... kalau aku sembuh, boleh ya?" Rey semakin gencar ingin menggoda Rere.


"Apa yang kau bicarakan sih?" Rere mulai menghunuskan tatapan tajam pada Rey.


"Hahaha... kenapa wajahmu merah seprti itu?" Bukannya berhenti, Rey semakin menggoda Rere karena melihat muka Rere yang merona.


"Terserah kau saja. Aku ingin masuk," Rere beranjak dari duduknya. Namun, tangannya di cekal oleh Rey.

__ADS_1


"Jangan pergi, temani aku di sini." Bujuk Rey memelas. Rere menghembuskan nafasnya dan kembali duduk dengan Rey di sana.


Rey tersenyum senang. Mereka kembali duduk bersantai menikmati angin sepoi-sepoi di siang hari.


Malam harinya...


Celo duduk di pangkuan sang papa, sedangkan Rere, ia berada di ruang makan beberes membantu ART setelah makan malam.


"Celo... papa mau tanya sama Celo," ujar Rey.


"Apa itu pa?" Celo penasaran.


"Kalo Celo di buatkan adik, mau tidak?" Tanya Rey pada Celo tanpa basa-basi.


"Adik?" Celo berfikir terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Apa nanti Celo bisa mengajaknya belmain?" Tanya Celo.


"Pasti bisa, sayang. Celo bisa mengajaknya bermain sesuka hati. Celo juga tidak akan kesepian," rayu Rey pada Celo.


"Celo mau papa... nanti Celo bisa mengajaknya belmain dengan Lucas dan Lucia," jawab Celo dengan semangat 45.


"Kalau begitu, Celo bisa katakan pada mama nanti. Oke," Rey mengajak tos tangan dengan Celo.


Tak lama kemudian, Rere datang ikut bergabung.


"Mama... Celo mau adik." Celetuk Celo pada Rere yang baru saja duduk.


Rere pun menoleh ke arah Rey. Ini pasti ulah Rey berkomplot dengan Celo.


"Apa yang kau katakan, Rey?" Dengan sorot mata tajam, Rey sudah terbiasa dengan hal itu.


Bukannya Rere tidak mau. Hanya saja, ia tidak ingin jika nanti Celo iri dengan adiknya. Celo juga masih membutuhkan perhatian penuh darinya dan dari Rey. Rere ingin menunggu Celo saat berusia sudah mencapai 5 tahun.


"Aku tidak mengatakan apa-apa, sayang. Celo sendirilah yang memintanya," elak Rey dengan santainya. Celo mengangguk dengan perkataan sang papa.


Entah kenapa bocah kecil itu dengan semangatnya mengatakan apa yang di katakan oleh sang papa tadi.


"Boleh kan ma? Bial Celo punya teman belmain."


Rere bingung harus menjawab apa.


"Nanti yaa. Mama akan bicarakan dengan papa. Sekarang Celo bobok dulu. Sudah malam," ucap Rere mengalihkan perkataan Celo tadi.


Celo pun menurut dengan ucapan sang mama. Mereka pun ke atas menuju kamar Celo terlebih dahulu untuk mengantar dan menidurkan Celo.


Rere pun menuju ke kamarnya setelah Celo sudah terlelap.


Rey sudah menunggu di sana, Rere mendekat dan mencubit Rey tiba-tiba.


"Auuhh... sakit sayang. Kenapa kau mencubitku," ringis Rey mengusak lengannya karena cubitan dari Rere.


"Apa yang kau katakan pada Celo tadi, hah?" Rere berkacak pinggang.


"Aku kan hanya ingin memberikan Celo teman, sayang. Kasihan jika dia bermain sendiri," bujuk Rey.


"Kau ini," geram Rere naiknke atas kasur dan menyibakan selimut menutupi dirimya.


"Apa kau tidak mau?" Rey mencoba membujuk Rere.

__ADS_1


"Sudah tidurlah. Kau masih sakit," ketus Rere.


Mau tidak mau Rey menuruti perkataan Rere. Ia pun memeluk Rere dan tertidur lelap.


__ADS_2