
Malam hari...
"Aku akan mencari tahu sendiri tentang gadis itu," ujarnya.
"Apa anda menyukainya, tuan?" Tanya Grey selaku tangan kanan Nicky.
"Sedikit. Aku juga punya rencana lain untuk menyerang wanita itu," jawab Nicky yang mempunyai ide jahat di benaknya.
Nicky tidak ingin terburu-buru untuk menyerang Rere, ia ingin mencari dulu siapa orang-orang terdekatnya.
Meskipun sedikit memakan waktu, tapi ia ingin semua berjalan lancar. Tidak mudah untuk ia menyerang Rere. Setiap anak buah yang ia kirim, selalu tewas tidak tersisa.
"Awasi setiap kegiatan wanita yang berada di foto itu," perintah Nicky.
Grey segera melaksanakan perintah dari Nicky tanpa berlama-lama.
Setelah Grey keluar, Nicky kembali menyesap anggur merah yang ia tuangkan di gelas kristal miliknya.
Keesokannya...
Lalita pergi ke toko buku untuk mencari novel kesukaannya yang sudah lama sekali ia incar-incar.
Ia membeli banyak sekali novel dan beberapa buku hingga ia kerepotan untuk membawanya.
Bugh...
"Aduuh... jangan menghalangi orang kenapa sih," omel Lalita menabrak punggung seseorang. Buku-buku dan novel yang ia bawah jatuh berserakan.
Ia pun bergegas memunguti semua buku yang berhamburan.
Pria tampan itupun menoleh kebelakang dan membantu mengambil semua buku Lalita yang jatuh.
Tak lama kemudian, Lalita sedikit mengangkat wajahnya. Dan waahh... wajah tampan rupawan membuat dirinya terkesima.
Ia menikmati setiap pahatan sempurna yang ada di wajah itu.
Pria itupun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Lalita namun tidak ada respon.
"Hei nona. Sadarlah," ujar pria itu menepuk pelan pipi Lalita.
Lalita tersadar ketika mendapat tepukan di pipinya. "Eehh... ah... maaf," ucap Lalita malu. Begitulah Lita jika melihat yang bening-bening.
Coba tebak, siapa yang di tabrak Lalita itu?
Pria yang di tabrak oleh Lalita itu adalah Nicky. Ia mencari tahu setiap apa yang akan di lakukan oleh Lalita. Mendengar laporan dari anak buahnya jika Lalita sedang berada di toko buku, ia pun bergegas untuk datang kesana.
"Tak apa, nona," jawab Nicky.
"Kau membeli buku sebanyak ini?" Tanyanya melihat Lalita membawa banyak buku.
"Aahh... iya. Ini semua novel yang aku cari," jawab Lalita.
"Namaku Nicky, namamu siapa nona?" Tanya Nicky mengulurkan tangannya.
"Maaf aku tidak bisa menerima uluran tanganmu," jawab Lalita memperlihatkan buku yang ia bawah.
"Panggil saja aku Lita," imbuhnya.
Lalita pun pergi menuju kasir dan membayar semua buku yang ia beli.
Nicky mengikuti Lalita dari belakang dan membawa satu buku yang ka beli. Sebenarnya ia hanya ingin mengikuti Lalita saja, tetapi ia terpaksa membeli buku di sana agar Lalita tidak mencurigainya
__ADS_1
Lalita segera keluar setelah membayar semua buku-bukunya.
"Tunggu nona," cegah Nicky sebelum Lalita melangkah lebih jauh.
"Ada apa tuan?" Tanya Lalita.
"Kau buru-buru sekali. Bisa kita mampir ke kedai kopi di seberang sana? Sebentar saja," ajak Nicky.
'Aduuhh... gimana ya batin Lalita ragu dengan ajakan Nicky.
"Nona, kenapa kau melamun?" Ujar Nicky membuyarkan lamunan Lalita.
"Ehhh... maaf tuan. Untuk sekarang aku tidak bisa, aku sangat buru-buru. Lain kali saja ya kalo kita bertemu lagi," tolak Lalita halus.
"Yaahh... padahal aku ingin sekali bisa mengenalmu lebih jauh," ucap Nicky kecewa.
'Aiihh... gimana ini' batin Lalita bingung.
"Maaf tuan. Aku masih ada tugas yang harus aku selesaikan. Permisi," tolak Lalita lagi lalu melangkahkan kakinya menuju mobil yang ia gunakan.
Nicky hanya memandang kepergian Lalita dengan tatapan dinginnya.
"Kau akan jatuh ke tanganku," gumam Nicky saat Lalita sudah jauh.
Nicky pun bergegas menuju ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke markas miliknya.
"Hadeehh selamaat... gimana jadinya tadi kalo aku menerima ajakannya. Bisa-bisa copot jantungku melihat ketampanannya," ucap Lalita pada dirinya sendiri.
***
"Mama... boleh ya Celo kasih makan Lucas dan Lucia," izin Celo. Celo memberi nama harimaunya Lucas dan Lucia.
"Boleh ya, ma." Ucapnya lagi dengan menunjukkan puppy eyes. Rere yang melihat Celo seperti itu hanya pasrah saja.
"Kasih makannya sekali saja ya. Biar sisanya nanti pak Gino yang kasih makan. Bahaya buat kamu," jelas Rere. Celo mengangguk setuju apa yang di katakan sang mama.
Celo pun mendekat ke arah kandang yang sudah ada pak Gino di sana.
"Eehh nyonya, tuan kecil," sapa pak Gino.
"Pak Gino. Boleh Celo kasih makan Lucas dan Lucia?"
"Eehh... tuan kecil pegang susunya saja ya. Bahaya nanti kalo kasih makan. Biar bapak saja ya," jelas Pak Gino lembut.
"Boleh Celo mengelusnya, pak?" Tanya Celo.
"Tapi ngelusnya di luar kandang saja ya tuan kecil," ucap pak Gino di angguki oleh Celo.
"Pakai sarung tangan tebal dulu ya. Takut nanti kalo terkena cakaran," ujar pak Gino memakaikan sarung tangan ke Celo.
Celo pun mengelus Lucas dan Lucia secara bergantian. Dua harimau kecil itu menikmati elusan dari tangan kecil Celo.
Keduanya tunduk dan patuh dengan Celo, seakan-akan mereka tidak ingin melukai Celo.
"Celo... sudah cukup ya. Biar Lucas dan Lucia istirahat," ucap Rere khawatir.
"Lucas, Lucia. Celo pelgi dulu ya. Babaaii," pamit Celo melambaikan tangan ke arah Lucas dan Lucia.
Rere mengajak Celo masuk ke dalam rumah untuk makan siang.
Setelah makan siang, Rere mengecek ponselnya yang mendapati pesan masuk.
__ADS_1
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan, nyonya," isi pesan itu. Pesan tersebut dari Daniel.
"Datanglah kemari," balas Rere.
Daniel yang mendapat balasan dari Rere segera mengambil kunci mobil. Ia melajukan mobil mewahnya membelah jalanan kota.
Kediaman Rey Abraham...
"Ada hal penting apa, Niel?" Tanya Rere.
"Aku mendapat laporan jika Nicky mengincar nona Lalita," lapor Daniel.
"Lalu?"
"Sepertinya, ia mulai tertarik dengan nona. Ia mencoba mencari tahu dari nona Lalita."
"Pagi tadi, ia juga mengikuti nona ke toko buku. Untung saja, nona Lalita segera pulang saat Nicky mengajaknya ke kedai kopi di seberang sana," imbuh Daniel.
"Sepertinya, dia memgubah target saat ini. Tapi tidak menutup kemungkinan jika semua anggota keluarga di sini akan menjadi incarannya," sahut Rere mendengar penjelasan Daniel.
"Kau perketat lagi penjagaan untuk Lita. Dan juga, awasi Nicky. Kita lihat dulu sejauh mana dia beraksi." Perintah Rere dengan sorot mata yang tidak bisa di artikan.
"Ternyata dia tidak seperti kakaknya yang gegabah saat bertindak," ucap Daniel dengan menaikkan satu alis disetai senyuman sinis.
"Apa ada olang jahat, mama?" Celoteh Celo mendengar perkataan Daniel dan Rere.
"Tidak ada tuan kecil. Mama hanya ingin menjaga auntymu biar tidak nakal," Daniel memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan Celo.
"Uncle... aku ada Lucas dan Lucia sekalang. Jadi aku tidak pellu jauh-jauh datang ketempatmu. Tapi, aku juga suka disana. Celo ingin belajal sepelti papa."
"Benarkah? Waahh... aku jadi ingin berkenalan dengan Lucas dan Lucia," sahut Daniel yang tak kalah amtusias dengan Celo.
Malam hari...
Rey menghampiri Rere yang saat ini berdiam diri di balkon kamar menghadap ke atas langit.
"Apa yang sedang kamu fikirkan, hmm?" Tanya Rey sambil melingkarkan tangannya ke perut Rere.
"Huuh... entahlah," jawab Rere.
"Ada apa, hmm?" Tanyanya lagi.
"Nicky mulai mengincar Lalita saat ini. Dia mencoba mendekati Lalita untuk menumbangkanku," jawab Rere.
"Tenanglah, sayang. Ada aku disini. Aku tidak akan membiarkan dirimu mengalahkan mereka sendiri. Lalita juga adikku, jadi aku ikut andil untuk menjaganya," ujar Rey menenangkan Rere.
Rere pun berbalik menghadap Rey.
"Maaf, sudah menyeretmu ke dalam masalah seperti ini," ujar Rere lesu.
"Kamu tidak salah, akulah yang memutuskan sendiri untuk mengikuti jejakmu. Aku ingin menjagamu seutuhnya," jawab Rey menyelipkan anak rambut Rere.
"Bagaimanapun, itu sudah menjadi tugasku untuk menjaga dan melindungi kalian semua. Tidak mungkin aku membiarkan dirimu sendiri menghadapi mereka. Suami macam apa aku jika membiarkan istriku berjuang sendirian."
"Terima kasih untuk pengorbananmu," ucap Rere mengeccup singkat bibir Rey.
Rey tersenyum senang mendapatkan hadiah dari sang istri.
"Tidak perlu berterima kasih, sayang. Memang kewajibanku untuk menjagamu dan keluarga kita," jawab Rey memeluk erat tubuh Rere.
Rere sedikit tenang dan bernafas lega.
__ADS_1