Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Berunding dengan Rayn


__ADS_3

Namun semakin malam semakin sulit bagi Cherry memejamkan mata. Kemudian ia tak bisa menahan diri lagi dalam kepura-puraan ini. Akhirnya ia bangun dan duduk dibatas ranjang.


Sejenak matanya tertuju pada suaminya yang tengah memejamkan mata dengan posisi terlentang. Sama sekali tak terganggu meskipun ranjang sedikit bergoyang. Dan yang paling menyeramkan, ia sama sekali tak terganggu oleh dinginnya cuaca yang sengaja di stel Cherry sebelum tidur. Yah, wanita itu merasakan sangat panas tadinya sehingga ia menyetel AC dengan kedinginan tingkat tinggi.


Salah satu harapannya adalah agar suaminya itu menyerah dan meninggalkannya sendirian, tapi yang ada justru dia yang tak bisa memejamkan mata meski hanya sedetik meskipun tubuhnya belum menggigil.


"Apalah ia mati?" gumam Cherry mengibaskan tangan di depan wajah Rayn yang sedang tertidur.


Tapi tampaknya yang tidur sama sekali tak terganggu, atau tak sadar ia sudah memiliki teman tidur. Yang pasti ia hanya tersenyum dalam tidurnya tanpa sebab yang jelas.


"Kenapa dia tersenyum? Apa ia mimpi indah?" kata Cherry lagi.


Entah ada angin apa, pikirannya tiba-tiba melayang saat matanya menyusuri setiap lekuk wajah Rayn yang masih tertidur. Mulai dari mata, hidung dan juga bibir yang merona sama sekali tak pernah ternoda oleh nikotin.


Perlahan tapi pasti, Cherry merasa sedikit panas dan kian lama semakin panas sehingga ia kesulitan bernafas. Ia kemudian memalingkan wajah agar pipinya yang memerah tak menarik perhatian orang tidur di sampingnya.


"Mengapa keduanya begitu mirip dan sulit dibedakan satu sama lai?" katanya pada diri sendiri.


Ia kemudian memilih turun dari ranjang agar hatinya semakin ramai. Rasanya semakin lama ia disini, semakin banyak hal aneh yang akan dipikirkan olehnya.


Namun sialnya, ia malah menampar wajah Rayn yang sedang tertidur saat ia melangkah turun dari ranjang. Akibatnya, Rayn menahan tangannya Cherry ke dalam pelukannya. Jadi wanita itu malah menindih tubuhnya dan wajah mereka saling berdekatan satu sama lain, hanya terpisah beberapa inci saja. Sontak hal itu menciptakan perasaan yang sebelumnya tak ada diantara kedua insan manusia itu.


"Kenapa hanya menatap wajahku?" Bisik Rayn selembut mungkin.


Bahkan deru nafasnya saja terasa sangat hangat di wajah Cherry, dan tentu saja membuat wajahnya semakin memerah. Ia menyesali mengapa dalam situasi seperti ini sekalipun ia masih menganggap kalau mereka sulit dibedakan. Jelas Reyn yang ia kenal tak akan mempermalukannya dengan cara seperti ini.


"Kamu ingin mencicipi bibirku? " Kata Rayn lagi dengan kepala yang semakin didekatkan ke arah Cherry.


Wanita itu semakin sulit menata pikiran dan hatinya. Satu sisi ia merasa takut dengan perilaku Rayn yang seperti ini. Biar bagaimanapun mereka tidak dekat satu sama lain, mengapa semuanya menjadi sesusah ini.


Namum di sisi lain ia penasaran setangguh apakah iman kembaran kekasihnya itu untuk menjaga janji yang telah keluar dari mulutnya para sang kekasih yang saat ini masih tidak tau apa yang tengah terjadi.


Rayn mendekatkan bibirnya menyentuh bibir Cherry dengan senyuman yang mendadak aneh dan menakutkan. Di saat seperti itulah, Cehrry bersahail mengumpulkan kewarasannya dan seketika….

__ADS_1


"Akh," Rayn mengaduh kesakitan dan sontak saja dekapannya terlepas berganti menutup keningnya yang panas.


Yah, Cehrry menepuk keningnya keras sehingga ia kaget dan juga kesakitan dalam waktu yang bersamaan. Melihat hal itu, digunakan Cherry untuk bangkit dari ranjang dan membereskan pakaiannya yang sedikit berantakan.


"Apa yang kamu lakukan?" kata Rayn dengan muka kesal.


Cherry menyibakkan rambutnya ke kanan."


Seharusnya aku yang bertanya pada kamu." katanya.


"Kamu yang lebih dulu membelai wajahku."


"Tapi aku_"


Semakin lama pertengkaran mereka semakin menjadi dan opsi saling bela diri semakin terlihat. Tak ada yang mau kalah hingga keduanya terlibat pertengkaran yang semakin menjadi.


Rayn melempar istri nya itu dengan guling dan Cherry membalas tak mau kalah. Bahkan beberapa kali mereka terdengar seperti pasangan yang tengah meraih kehangatan pada umunya.


Dasar suami ngga guna, bisanya cuma nyakitin isteri " kata Cherry sedikit merintih.


"Makanya kalau aku bilang tenang ya tenang. Nah kan jadi salah sasaran, emang kami doang yang sakit? Akh, ini bahkan lebih sakit dari kelihatannya."


balas Rayn mengaduh tak mau kalah.


"Jangan keras-keras dong. Aku_"


"Bawel banget sih kamu, ini aku udah mulai sampai. Tahan yah, abis ini ngga akan sakit lagi kok.''


"Akh, ngga sakit apapan? Kamu kira aku apaan?"


"Tahan dikit dong, Cherry." suara Rayn semakin terdengar sulit keluar seolah ia sedang menahan sesuatu yang sebentar lagi akan menolak.


"Lo, akh…."

__ADS_1


"Nah, udah sampai. Lega banget rasanya, makasih Cherry. " piring Rayn diiringi helaan nafas panjang.


"Ya udah, kamu minggir dulu. Aku mau bersihin semuanya.''


"Entar aja, kamu ngga mau nikmatin sisa keindahan ini?"


Tanpa mereka sadari, di depan pintu kamar mereka berdiri sosok Reyn dengan muka merah padam. Ia tau apa yang dilakukan suami isteri jika sudah mesuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Ia tau Cherry yang dicintainya sekarang telah meraih kehidupan yang baru bersama saudara kembarnya yang selalu saja menghancurkan mimpi-mimpi nya.


"Sial! Beraninya dia melakukan hal itu pada wanita itu." maki Reyn marah.


Dengan langkah kesal ia kemudian pergi karena tak bisa menahan diri dan takut ia akan menghancurkan kamar pengantin baru itu. Yah, rasa cemburunya membunuh syaraf sadarnya dan mungkin ia akan menuangkan ke gilaan itu pada pasangan baru itu.


Tapi apakah yang dilakukan Cherry dan Rayn di dalam sana?


Keduanya duduk di pinggir ranjang sambil mendekap bantal yang baru saja diturunkan Rayn dari lampu hias kamarnya. Yah, mereka saling perang bantal karena tak ada satupun yang mau mengalah dan akhirnya banyak tersangkut di lampu hias.


Dan yang lebih parah lagi, kamar tampak dipenuhi dengan salju bantal buatan akibat ulah Cherry. Dan yang paling indah beberapa gumpalan kapas itu masih berjauhan selayaknya hujan salju menambah keromantisan mereka berdua.


"Kayaknya kita harus tidur terpisah malam ini " saran Cherry.


"Kenapa? Kan kita suami isteri. Masa sih harus tidur terpisah?" balas Rayn seolah ia tidak setuju meskipun dalam hati ia membenarkan ucapan Cherry.


"Kamu dengar kan aku bilang kalau_"


"Ya udah, kamu siapkan keluar kamar ini " potong Rayn mulai membereskan kamar dari sisa kapas yang beterbangan.


"Kok nyuruh aku?''


"Terus? Ini kamar aku sebelum kamu datang. Jadi kan_"


"Kamu yang ngomong kalau mama dan papa liat?''


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2