
Cherry pun menyodorkan minuman yang Reynald pesan, kemudian Reynald pun meminum minuman yang disodorkan oleh Cherry.
Melihat kejadian itu sekilas dari kaca jendela mobil Reynald, Rayn merasa salah paham dan kesal ketika melihat Cherry yang saat ini sedang asyik menyuapi minuman ke arah wajah Reynald. Hal itu membuat amarahnya membara, karena Rayn yang salah sangka terhadap Cherry saat ini.
“Kenapa sih mereka pakai suap-suapan begitu? Memang mereka nggak bisa minum sendiri pakai tangannya langsung?” gerutu Rayn, yang merasa sangat kesal ketika melihat hal tersebut di hadapannya.
Namun karena Reynald dan Cherry yang sudah pergi dari sana, ia terpaksa mengurungkan rasa kesalnya terhadap masalah ini dan segera mengikuti kembali mereka dengan perasaan dongkol. Ia pun menyetir kendaraannya dan tetap membiarkan mereka jalan lebih dulu darinya, karena ia tidak ingin sampai ketahuan oleh mereka.
Akhirnya dengan perjalanan yang panjang, mereka pun sampai pada tempat tujuan. Cherry dan Reynald turun dari mobilnya, dengan Reynald yang membantu Cherry turun. Tangannya terlihat menggenggam erat tangan Cherry. Rayn yang melihatnya sangatlah kesal.
“Kenapa dia malah pegang-pegangan tangan sih? Kenapa Cherry nggak turun sendiri aja gitu? Kenapa harus dibantu sama dia?” gumam Rayn, yang merasa jengkel dengan yang Reynald lakukan pada Cherry.
Namun ia berpikir dua kali, karena mengingat keadaan Cherry yang saat ini tengah hamil. Cherry pasti membutuhkan bantuan untuk melangkah. Karena perutnya yang semakin membesar, mungkin tidak mampu untuk melangkah sendiri keluar dari mobilnya. Ia pun berusaha bersikap tenang dan sabar, karena ia tidak mau termakan isu apa pun.
“Ya sudahlah biarkan saja mereka. Jika aku jadi Reynald pun, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama dengan yang Reynald lakukan,” gerutu Rayn yang merasa hal itu sangat wajar dilakukan mereka.
Namunm lain halnya jika keadaan Cherry tidak sedang mengandung. Ia pasti akan sangat marah ketika melihat Cherry sedang bergandengan tangan dengan lelaki lain. Terutama dengan Reynald.
Mereka pun datang dengan bergandeng tangan, sampai akhirnya mereka bertemu dengan teman Cherry yaitu Cahaya. Cherry terlihat sedang mencium pipi kiri dan kanan Cahaya, sembari berpelukkan dengan sangat riang.
Rayn tersenyum, “Sungguh pemandangan yang sangat membuat orang yang merasa bahagia melihatnya. Baru kali ini aku melihat Cherry sampai sebahagia itu, hanya dengan bertemu sahabatnya saja. Ya sudah, bahagia seperti itu terus saja,” gumam Rayn yang merasa hal itu wajar dilakukan.
__ADS_1
Rayn juga mulai melihat gerak-gerik aneh dari Reynald, yang saat ini sedang berhadapan dengan Cahaya. Ia merangkul mesra tubuh Cherry, sehingga membuatnya sangat kesal. Namun Rayn lagi-lagi berusaha menyadarkan dirinya, karena keadaan Cherry yang riskan, yang harus dijaga semaksimal mungkin. Ia tidak bisa menjaganya saat ini, maka ia harus bergantung pada Reynald, agar Cherry dan juga anak yang dikandungnya tidak kenapa-napa.
“Tahan, harus bisa menahan amarah! Jangan sampai gara-gara amarah ini, Cherry menjadi kenapa-napa. Aku harus bisa menahan semuanya,” ujar Rayn, yang tetap memandang ke arah Cherry.
Sementara itu di sana, Cherry berhadapan dengan Cahaya yang sangat senang ketika melihatnya. Ia juga sangat senang ketika melihat sahabatnya kembali, karena dia yang sudah lama tidak bertemu dengan Cahaya.
“Kapan terakhir kita ketemu?” tanya Cherry yang merasa sangat senang bertemu dengan Cahaya kembali.
“Entahlah, aku saja lupa,” jawab Cahaya, membuat Cherry tertawa mendengarnya.
Cherry memerhatikan jari manis tangan Cahaya, yang di sana sudah melingkar sebuah cincin mirip dengan cincin pernikahan. Dia merasa kaget dan tidak percaya, dengan apa yang dia pikirkan.
Cahaya pun tersenyum malu mendengarnya, “Ya, aku sudah menikah sekarang,” jawab Cahaya yang membuat Cherry merasa sangat bahagia mendengarnya.
“Apa kau serius? Kenapa kau tidak mengundangku?” tanya Cherry yang merasa sangat senang mendengar kabar bagus darinya.
“Kita saja sudah lost contact beberapa bulan lalu, bagaimana mungkin aku bisa memberitahumu? Aku memintamu datang ke pertemuan ini karena sekaligus aku juga ingin memberitahukan hal ini padamu,” ujar Cahaya, membuat Cherry merasa terharu mendengarnya.
“Aku benar-benar sangat bahagia mendengarnya. Kau sudah menemukan pilihan hatimu yang tepat dan semoga kalian akan bahagia bersama sampai maut memisahkan,” ujar Cherry mendoakan untuk sahabatnya itu.
Cahaya pun tersenyum sembari mengelus perut Cherry yang sudah membuncit. “Aku juga berharap kau dan Reynald akan bahagia selamanya, sampai maut memisahkan kalian. Nanti jangan ada kata bercerai, dan semoga kalian akan diberikan keturunan yang sangat banyak untuk menghiasi hari-hari kalian,” ujar Cahaya, membuat senyum di wajah Cherry pun luntur mendengar doa yang Cahaya ucapkan padanya.
__ADS_1
Melihat reaksi Cherry yang tiba-tiba saja berubah, Reynald pun secara sadar segera merengkuh kedua sisi pundak Cherry, untuk menutupi semua keadaan yang ada. Ia tidak ingin sampai Cherry membuat masalah di hadapan Cahaya, dan berpikir kalau mereka tidak bahagia sama sekali.
“Terima kasih atas ucapan dan doanya, Cahaya. Aku pasti akan menjaga Cherry, sampai maut memisahkan kita. Aku tidak akan menyakitinya sampai kapan pun,” ucap Reynald, membuat Cherry mendelik kaget mendengarnya.
Cahaya pun senang mendengar ucapan yang Reynald katakan. Cahaya merasa Reynald harus menjaga Cherry, bagaimanapun keadaannya. Karena baginya Cherry adalah seorang wanita yang sangat baik bagi Cahaya. Cherry adalah sosok sahabat yang selalu mengerti keadaan sahabatnya. Ia yakin, Reynald dan juga Cherry akan mendapatkan kebahagiaan jika mereka bersama.
“Ya, aku yakin kau bisa menjaganya. Jangan sakiti Cherry, ya!” ujar Cahaya membuat Reynald tersenyum mendengarnya.
“Pasti, tidak akan mungkin terjadi!” ujar Reynald, sembari melontarkan senyuman ke arahnya.
Cherry tak menjawab dan hanya diam saja mendengarnya. Dia hanya bisa menggangguk kecil dengan senyuman yang ia paksakan.
‘Entah kenapa mendengar doa dari Cahaya, aku merasa tidak senang. Bukan karena doa yang dipanjatkan Cahaya, tetapi orang yang Cahaya katakan adalah orang yang salah. Seharusnya Cahaya mengatakan nama Rayn, dan bukan Reynald. Kenapa dia malah mendoakan seperti itu? Apa doa itu akan terwujud?’ batin Cherry, yang merasa sangat ketakutan saat ini.
Namun ia tetap harus menjaga rahasia ini, sebisa mungkin ia tidak ingin sampai membeberkannya di hadapan Cahaya. Karena ia yakin hal itu pasti hanya akan membuat buruk keadaan.
“Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam! Banyak teman-teman yang pastinya menunggu kalian!” ajak Cahaya, membuat mereka tersenyum di hadapan Cahaya.
“Baiklah. Ayo kita ke dalam,” ucap Reynald, yang saat ini sudah merengkuh kembali tubuh Cherry.
Reynald bertanggung jawab atas Cherry, agar tidak terjadi apa pun padanya. Reynald tidak bisa membayangkan, jika Cherry sampai terluka.
__ADS_1