
Cherry menundukkan pandangannya sembari tersenyum tipis. “Ya, waktu cepat sekali berlalu,” ujarnya dengan sedikit nada sendu.
"Dulu Mama waktu mengandung Rayn dan Reynald pun begitu. Usia kandungan masih 5 bulan, tapi rasanya sudah seperti usia 9 bulan. Sesaknya bukan main. Apalagi masih mual sedikit karena masih menyesuaikan dengan keadaan. Nanti juga lama-lama terbiasa, kok!” ujar Mama membuat Cherry tersenyum mendengarnya.
Ketika Mama mengatakan hal itu, Cherry tersadar dengan apa yang terjadi dengan mereka. Rayn dan Reynald adalah saudara kembar, membuat Cherry semakin bingung saja membedakan antara keduanya.
‘Aku baru sadar. Kalau Mama tidak mengatakan hal itu, pasti aku akan larut dalam keadaan yang mengharukan ini,’ batin Cherry yang merasa menikah dengan Reynald, membuatnya merasa bimbang kembali terhadap perasaannya terhadap Rayn.
Melihat keadaan Cherry yang bimbang, Rain pun menggenggam tangannya membuatnya menoleh kaget ke arah Rayn.
Cherry sangat mengerti kalau Rayn saat ini ingin memberikan support dan dukungan untuknya. Namun bukannya ter-support, ia malah merasa dirinya yang semakin bimbang. Cherry tidak bisa membedakan antara Rayn dan juga Reynald, ketika situasi sedang seperti ini.
Permasalahannya adalah, mereka yang masih sama-sama tidak mengerti dengan perasaan mereka. Cherry juga masih berpikir bahwa Rayn masih sangat menyukai Syerlin. Apalagi ia juga masih sangat menyukai Reynald. Namun, melihat keduanya yang memiliki wajah sangat mirip, terkadang Cerry merasa ia benar-benar menikah dengan Reynald. Namun, pada satu sisi ia tersadar bahwa ia adalah Rayn dan bukan Reynald.
Cherry tersadar dengan keadaan. Ia mengedarkan pandangannya, tetapi tidak menemukan apa yang ia cari. Melihat Cherry yang seperti sedang mencari-cari seseorang, Rayn pun menyadarinya, bahwa Cherry saat ini sedang mencari keberadaan Reynald.
“Reynald ke mana, Ma?” tanya Rayn, yang tanpa berpikir panjang menanyakan hal itu di hadapan ibunya.
Cherry sedikit terkejut, karena ia merasa sebuah kebetulan ketika ia tengah mencari Reynald, tetapi Rayn sudah menanyakannya lebih dulu. Padahal, itu sama sekali bukan sebuah kebetulan. Rayn memang sudah memiliki firasat akan hal itu.
“Reyn masih tidur di kamarnya,” jawab Mama, membuat keresahan hati Cherry hilang seketika, ketika mendengarnya.
“Oh ... kenapa gak makan bersama?” tanya Rayn, yang membantu menanyakannya mewakili Cherry.
“Mungkin masih lelah,” jawab Mama. “Oh ya, kenapa semalam kalian pulang mabuk begitu? Aneh sekali, apa yang terjadi dengan kalian?” tanyanya, membuat Rayn menjadi bingung harus menjelaskannya seperti apa.
“Sebenarnya kita gak mabuk, Ma. Hanya minum 3 gelas, masih bisa diatasi. Sisanya emosi yang meluap aja,” ujar Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan sendu.
Cherry tidak bisa membayangkan, perasaan mereka saat ini. Jika ia disuruh memilih, Cherry tidak bisa memilih di antara Rayn dan juga Reynald.
__ADS_1
“Emosi kenapa, sih? Apa ada apa lagi di antara kalian?” tanya Mama, membuat Rayn menghela napasnya dengan panjang.
“Aku gak apa-apa ko, Ma. Cuma ... ya, masalah lelaki,” ujar Rayn menjelaskan dengan setengah-setengah, membuat mereka bingung mendengarnya.
“Ya sudah, cepat selesaikan makanannya,” ujar Mama, membuat Rayn mengangguk kecil mendengarnya.
Setelah menyelesaikan sarapan kali ini, Cherry bersiap untuk pertemuan malam nanti. Ia harus menghubungi Reynald secepatnya, agar bisa mengatakan hal yang harusnya ia katakan. Entah masalah dress code, atau yang lainnya.
Cherry berusaha untuk menghubungi Reynald, tetapi Reynald sama sekali tidak menerima panggilan telepon darinya.
‘Dia masih tidur, ya? Kenapa malas sekali, sih?’ batin Cherry, yang masih berusaha untuk menghubungi Reynald.
Melihat Cherry yang sepertinya sedang resah, Rayn pun datang untuk menanyakan keadaannya. Ia merasa bingung, karena ternyata Cherry tengah sibuk menghubungi seseorang.
Rayn menghampirinya di sana. “Cherry,” sapa Rayn, Cherry seperti orang yang terkejut di hadapan Rayn, membuat Rayn merasa ada yang aneh dengannya.
“Ada apa? Ada masalah?” tanya Rayn, Cherry menggelengkan kepalanya dengan cepat.
‘Apakah Rayn tahu, aku sedang menghubungi Reynald?’ batin Cherry, merasa bingung dengan keadaan yang sedang ia hadapi ini.
Cherry takut, jika Rayn sampai mengetahui kalau dirinya sedang berusaha untuk menghubungi Reynald. Bisa-bisa, Rayn akan marah jika semuanya benar ia ketahui.
“Kamu sedang apa?” tanya Rayn, memastikan keadaan Cherry.
“Emm ... sedang ....” Cherry tak bisa mengatakan yang sebenarnya di hadapan Rayn.
Rayn semakin menajamkan pandangannya. “Apa ... ada seseorang yang kamu hubungi?” tanyanya, membuat Cherry merasa sangat bimbang mendengarnya.
“Ah? Siapa yang aku hubungi? Tidak ada,” gumam Cherry dengan sangat bingung, sembari menyembunyikan handphone-nya di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Melihat reaksi Cherry yang aneh, Rayn pun memandangnya sinis lalu segera mengambil handphone yang ada di belakang tubuh Cherry.
Karena Cherry tidak ingin Rayn sampai mengetahuinya, Cherry pun berusaha untuk menghalanginya. Rayn pun merasa ada sesuatu yang aneh dengannya, membuatnya semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya Cherry sembunyikan darinya.
“Kamu lagi apa, sih? Apa yang kamu sembunyikan?” tanya Rayn, Cherry tidak bisa berkata apa pun, dan hanya bisa memandangnya dengan takut saja.
“Emm ... aku tidak menyembunyikan apa pun!” jawab Cherry dengan nada yang sangat takut, membuat Rayn semakin memandangnya dengan sinis.
“Sayang? Kamu di sana?” Seseorang bertanya demikian, dan suara itu terdengar dari handphone Cherry yang ada di belakang tubuhnya.
Mereka sama-sama terkejut mendengar suara seseorang yang diketahui adalah suara Reynald. Cherry memandang ke arah Rayn dengan tatapan yang sangat khawatir, membuat Rayn mengubah sikapnya menjadi dingin dan datar.
“Halo, Sayang?” tanya Reynald lagi, yang semakin membuat Cherry bingung karenanya.
‘Aduh ... Reynald kenapa ngomong begitu?’ batin Cherry, merasa sangat bingung dengan keadaan ini.
Rayn hanya bisa memandang Cherry dengan datar. Karena untuk merasa kesal pun, ia merasa sudah lelah melakukannya. Ia tidak bisa melaukukan apa pun, dan hanya bisa diam karenanya. Rayn pun pergi dari sana meninggalkan Cherry sendiri di dalam kamar, membuat Cherry merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
“Rayn ... tunggu!” teriak Cherry, tetapi Rayn sama sekali tidak mendengarkannya.
“Halo, Sayang? Kamu ada di sana?” tanya Reynald, sekali lagi yang masih tetap menunggu Cherry menjawab ucapannya.
Karena tersadar masih ada Reynald yang menghubunginya, Cherry pun segera menerima panggilan darinya itu.
“Halo Reyn, ya aku masih di sini,” jawab Cherry membuat Reynald senang mendengar suaranya.
“Baiklah. Ada apa kamu menghubungiku? Apa ada sesuatu yang penting, atau kau hanya merindukanku saja karena sudah lama kita tidak berbincang melalui telepon?” tanya Reynald, membuat Cherry merasa agak bingung menjawab pertanyaannya itu.
“Sebenarnya aku mau hubungi kamu, hanya ingin mengatakan tentang acara pertemuan yang nanti malam akan digelar,” ujar Cherry, membuat Reynald teringat dengan acara pertemuan itu.
__ADS_1