
Sepertinya semesta sedang berpihak padanya. Hanya jalan-jalan keluar dan makan rujak di taman, tentu ia sanggup. Bahkan kalau Cherry meminta buah yang belum musimnya, Rayn akan menyanggupi permintaannya.
Sepertinya ia sudah bucin pada Cherry. Dia juga tidak mau melewatkan setiap moment bersama Cherry. Yang jelas Rayn mau menghabiskan waktu untuk istri dan anaknya, ia ingin menikmati peran pertama kali sebagai ayah dan suami siaga.
Mereka keluar ruangan lalu meninggalkan Reyn.
Dua insan yang terlihat bahagia itu tak peduli pada Reyn yang menantap mereka merana. Tapi hanya Rayn yang tampak senang, Cherry masih berwajah datar dan muram.
Ibu muda itu juga bingung dengan tingkahnya sendiri. Bagaimana bisa ia memanggil Rayn dengan sayang dan mengusir Reyn. Tapi ia akan mencoba bodo amat, dirinya teramat ingin keluar dan makan rujak di taman.
"Enak?" Rayn bertanya saat Cherry tengah menikmati sepotong buah mangga. Ia hanya bergidik saat Cherry makan tanpa merasa asam.
"Hmm ..." Cherry hanya menjawab dengan gumaman karena sedang makan, kemudian ia melanjutkan "kamu mau?" tanyanya menyodorkan sepotong mangga.
Rayn menerimanya, ternyata tidak buruk. Rasanya sangat enak dan lembut di mulut. Ah ternyata ia juga ngidam.
"Halo Pa. Kenapa?" Rayn mengangkat telpon dan menjawab pertanyaan Papa. "Lagi di taman, iya ini balik ke kamar," lanjutnya lalu menutup sambungan telepon.
"Ayo, nanti aku belikan lagi, kamu udah boleh pulang hari ini?" katanya sambil mendorong kursi roda menuju kamar.
Selama perjalanan ia berpikir, kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Papa. Ahh hatinya bimbang. Boleh gak ya dia menolak untuk menemui Papa. Ia sedang bahagia sekarang, ia tidak mau berpisah dengan Cherry dan anaknya. Baru beberapa hari saja dia sudah merasa nyaman dan cinta pada mereka.
"Semuanya udah selesai dibereskan, Cherry bisa pulang" kata Papa saat mereka berdua memasuki kamar. "Cherry ganti baju dulu ya.''
Rayn mendorong kursi roda ke kamar mandi, ia hampir masuk, tapi Cherry menolak dengan dalih bisa sendiri. Tak lama, Cherry keluar kamar mandi.
"Papa sudah memutuskan, tapi papa akan bertanya lagi ke kalian, terutama kamu Cherry." Cherry yang ditodong pertanyaan hanya diam. "Kamu mau gimana sekarang?" Papa kembali bertanya.
__ADS_1
Cherry mengedarkan pandangan, tidak ada Reyn ataupun Rayn. Hanya ada dirinya, papa dan mama yang sedang membereskan pakaian.
Ia menghela nafas lelah, "Cherry udah punya keputusan Pa, Ma" katanya. Ia melihat ke arah mama, "Maaf kalau nanti keputusan Cherry kurang berkenan."
“Kamu mau ke mana Cher?” Mama bertanya saat melihat Cherry keluar dari kamar.
Setelah keluar dari rumah sakit, Cherry memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Ia meninggalkan kota dan cafe yang sedang ramai, meskipun demikian beberapa kali ia juga mampir ke sana untuk mengecek semuanya.
Ia sudah memutuskan akan menghabiskan masa kehamilan di sini dan melahirkan juga di sini. Alasannya karena di sana ia sendirian. Dan juga daerahnya lebih sejuk serta jauh dari polusi. Jadi lebih aman untuk dirinya dan adek bayi.
“Mau ke luar bentar aja Ma, bosen.''
Memasuki trimester kedua, tingkah Cherry semakin tenang, tidak lagi muntah atau membutuhkan bedrest berhari-hari. Ia bisa tenang menjalani hari, meskipun kadang-kadang masih merasa ngidam. Tapi satu hal yang membuatnya kesal. Dirinya mudah sekali bosan. Bahkan mama pun juga mengutarakannya.
Ada saja hal yang dilakukan Cherry, menanam bunga, membuat kue, mengerjakan kerajinan tangan. Memang hal positif semua dan baik untuk kesehatan, tapi semuanya tidak pernah selesai. Akhirnya juga mama yang harus turun tangan membereskan kekacauan yang dibuat Cherry.
“Udah mau sore, gak baik buat kandungan kamu. Kasian adek bayinya kalau di ajak keluar sore-sore gini.” Mama berkata lembut berusaha melarang Cherry.
Cherry memutar tubuhnya dihadapan Mama. Ia mengenakan cardingan hijau pupus sedikit kebesaran tapi tidak bia menyembunyikan perutnya yang membuncit. Kandungan Cherry sudah memasuki lima bulan. Perutnya yang kecil sudah menonjol dan badannya juga sedikit berisi. Ah sepertinya dia bahagia sekarang.
“Yaudah tunggu dulu, nanti mama teman.'' Sudah diputuskan kalau mama akan menemani.
Pokoknya mama juga tidak ingin kehilangan momen, anak gadis satu-satunya sudah mau menjadi ibu. Bahkan mama kadang tidak menghiraukan papa dan Reka, adik Cherry. Mereka berdua tidak protes secara terang-terangan, tapi kesal juga.
“Mau ke mana Kak?” Reka datang dan duduk di sebelah Cherry.
“Mau malak mang Alip?” Fengan ketus Cherry menjawab, pandangannya juga mengarah ke hp dan fokus pada roomchatnya.
__ADS_1
Reka sudah dilatih sabar beberapa bulan ini. Jadi ia hanya bisa menghela napas. Ahh kakaknya ini hamil bukan hanya badannya yang berubah, tingkahnya juga berubah.
“Yuk!” Mama datang membawa dompet menghampiri keduanya.
Mereka keluar rumah menuju gazebo di halaman depan. Rumahnya yang dipinggir jalan utama desa tentu ramai orang berlalu-lalang. Cherry bahkan sangat senan menghabiskan waktunya di sini. Entah itu untuk menonton drama, atau membuat kerajinan tangan.
Ia juga ingat kalau dulu waktu masih kecil, ia senang bermain di halaman bersama teman-temannya. Mereka seperti anak kecil pada umumnya, bermain masak-masakan, boneka barbie dan masih banyak lagi. Tapi tak lama, hanya sampai mereka lulus SD.
Dan ketika sudah berganti warna seragam semuanya berubah, apalagi ada handphone. Semua temannya sibuk berpacaran, bahkan ada yang sekolah di luar daerah. Sedangkan dirinya biasa saja. Tidak pacaran karena gak mau ribet.
Cherry betah menjomblo sampai lulus kuliah dan bertemu dengan Reyn. Mengingatnya ia jadi tersenyum. Dulu sekali mereka bertemu tanpa sengaja di depan toilet. Waktu itu Reyn salah masuk toilet dan mengiranya mesum.
Ah kalau diingat lucu sekali.
“Kenapa nih senyum-senyum?'' Mama bertanya saat melihat ibu muda itu tersenyum gembira.
“Mama dulu ketemu papa di mana?” Tanyanya penasaran.
“Di pasar. Dulu mama ngira papa itu copet, soalnya ngikutin mama terus pas mama lagi belanja,” mama menjawab. “Lah kan kamu udah pernah diceritain,'' lanjutnya.
Ya walaupun dia udah khatam dengan kisah orang tuanya. Dirinya gak pernah bertanya. Ia selalu suka melihat mama malu-malu saat mengenang masa lalu.
“Yaa tapikan aku mau denger lagi Ma.''
“Ah sudah, males mama,” jawab Mama sambil malu-malu.
Ini yang Cherry nantikan, senyum malu-malu dari mama dan salah tingkahnya. Semuanya lucu di mata Cherry.
__ADS_1
“Mang Alip, Berhenti!” Mama berteriak saat melihat mang Alip lewat. Kemudian mama memesan batagor, sedangkan Cherry hanya diam di gazebo. Dia malas mau bangun.
BERSAMBUNG.....