Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Tidak Ingin Berdebat


__ADS_3

Namun, ia masih memikirkan masa depan anaknya nanti, ketika anaknya lahir dan tidak memiliki sosok seorang Ayah. Anaknya pasti akan sangat sedih jika mengetahui kalau dirinya tidak memiliki sosok Ayah, seperti kebanyakan anak yang lainnya.


“Apakah kamu akan kembali lagi ke sini, Nak?” tanya Mama, yang sepertinya masih tidak rela untuk melepas Cherry pergi dari rumah ini.


Cherry menggelengkan kecil kepalanya. “Aku tidak tahu, Ma. Aku akan mencari tahu sendiri keputusan yang akan aku lakukan nanti. Aku harap, kalian bisa menerima keputusanku apa pun itu,” ujar Cherry membuat mereka menjadi mellow mendengarnya.


“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan,” ujar Papa.


Cherry pun ikut mengangguk. “Ya, terima kasih, Pa.”


“Kamu pulang dengan siapa?” tanya Mama yang masih merasa khawatir dengan Cherry.


“Entahlah, mungkin aku pulang ke rumah keluargaku menggunakan taksi online,” ujar Cherry, membuat mereka terlihat tidak rela.


“Jika seperti itu, Papa tidak izinkan kamu pergi. Kecuali kamu pulang bersama dengan Rayn. Setidaknya Rayn bertanggung jawab atas keselamatanmu nanti di jalan,” ujar Papa, membuat Cherry lagi-lagi merasa tertekan mendengarnya.


Namun karena ingin secepatnya pergi dari rumah ini, Cherry pun akhirnya mengangguk setuju untuk melakukan hal tersebut. Walaupun sebenarnya ia tidak terlalu ingin melakukannya.


“Baiklah, aku akan menuruti apa yang Papa dan Mama katakan,” ujar Cherry, membuat mereka tersenyum hangat mendengarnya.


“Baiklah, tunggu sebentar di sini dan ikutlah sarapan lebih dulu. Paling tidak, ada makanan yang bisa mengganjal perutmu di perjalanan nanti,” ujar Mama, Cherry pun kembali mengangguk menerima semua yang mereka katakan untuknya.


“Baiklah.”


“Tunggu sebentar, Mama akan panggil Rayn untuk mengantarkan kamu,” ujar Mama yang lalu segera pergi ke arah kamar Cherry, yang ada di lantai atas.

__ADS_1


“Ma,” panggil Cherry, membuat langkah mamanya terhenti.


“Ada apa, Nak?” tanya Mama.


“Rayn tidak tidur di atas semalam, tapi dia tidur di sofa,” ujar Cherry membuat Mama merasa khawatir dengan keadaan Rayn saat ini.


“Ya ampun ... ya sudah, nanti mama bangunkan dulu,” ujarnya, membuat Cherry mengangguk kecil mendengarnya.


Mama pergi untuk memanggil Rayn dan membangunkan Rayn dari tidurnya. Ia melihat Rayn yang ternyata memang benar, tidur di sofa malam ini. Ia merasa bingung karena entah apa salah dan dosa kedua anaknya, sehingga mereka mendapatkan situasi dan keadaan yang rumit seperti ini.


Mama memandang dalam ke arah Rayn, yang masih tidak sadarkan diri saat ini.


“Rain bangun, kamu ditunggu Cherry sekarang. Cepat sekarang kamu bangun jangan tidur lagi!” ujar Mamanya, membangunkan Rayn saat ini.


Karena merasa pengaruh alkohol itu sangatlah kuat Rayn pun sampai tidak bisa bangun dari tidurnya, sehingga membuat mamanya merasa kesulitan untuk melakukannya. Mamanya bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Mamanya menepuk-nepuk lengan tangan Rayn sehingga Rayn pun dengan segera bangun dari tidurnya.


“Sekarang Cherry sedang menunggu kamu meja makan. Dia sekarang sedang ingin pulang ke rumah orang tuanya. Kamu tolong segera temenin Cherry untuk kembali ke rumah orang tuanya. Jangan sampai Cherry pergi sendirian dan kamu tidak mengantarnya,” ujar Mama membuat Rayn merasa sangat kaget mendengarnya.


“Apa maksud Mama? Cherry pergi ke rumah orang tuanya? Kenapa seperti itu? Kenapa dia tidak mengatakannya padaku?” tanya Rayn yang merasa bingung dan heran dengan apa yang Cherry lakukan.


“Mama tidak tahu, yang jelas sekarang kamu harus segera bersiap untuk mengantarkan Cherry balik ke rumah orang tuanya. Mama dan Papa tidak ingin kalau kau tidak menjaga Cherry dengan baik karena biar bagaimanapun juga Cherry saat ini tengah mengandung anakmu, dan itu ada lah cucu pertama dari keluarga ini,” ujar Mama membuat Rian merasa sedikit kesal mendengarnya.


Rayn merasa kesal, karena apa yang Cherry katakan memang benar adanya dan dia tidak main-main dengan apa yang ia katakan. Hal itu membuat dirinya merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia ingin mempertahankan rumah tangganya bersama dengan Cherry, tapi dalam hatinya dia masih berpikir atau tidak melakukan apa pun dan ingin mempertahankan rumah tangganya bersama dengan Cherry.


Bagaimanapun caranya ia harus bisa mempertahankannya, karena itu semua adalah demi anak yang ada di dalam kandungan Cherry yang merupakan darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


Rayn memandang ke arah ibunya dengan dalam, “Aku siap-siap dulu Mah sebentar. Nanti Rayn akan antarkan Cherry kembali ke rumahnya,” ujarnya yang lalu segera berlari ke arah ruangan kamarnya yang berada di lantai atas rumah ini.


Cherry pun melihat Rayn pergi dari sana menuju ke arah kamarnya. Namun ia tidak mengatakan apa pun kepada Rayn dan hanya fokus untuk memakan sarapannya saja.


Papa memandangnya dengan heran ke arah Rayn. “Kenapa selalu saja mabuk yang jadi hobi baginya? Kadang Papa tidak mengerti dengan apa yang inginkan,” ujar Papa membuat Cherry merasa bingung harus mengatakan apa.


Cherry pun hanya tersenyum di hadapan Papa, sampai akhirnya Mama datang di hadapan Cherry saat ini. Ia saat ini sudah duduk di hadapan mereka, dan segera ikut makan bersama. Mereka pun segera menyantap makanan bersama untuk melepaskan Cherry pergi dari sana.


“Jadi gimana, Cherry? Apa kamu akan kembali lagi ke sini, ke rumah ini?” tanya Mama yang masih saja penasaran dengan keputusan Cherry.


Cherry hanya bisa tersenyum karena Iya tidak bisa menjawab dan memastikan dengan benar.


“Aku nggak tahu, Mah. Mudah-mudahan aja semua berjalan sesuai dengan keinginan yang kita inginkan,” ujar Cherry membuat mereka hanya bisa mengharap dengan apa yang mereka katakan.


Tak berapa lama Rayn pun turun ke lantai dasar dan berhadapan dengan mereka ia pun mengambil roti sandwich, yang sudah disiapkan Mamanya kemudian segera memakannya di hadapan mereka, dengan posisi berdiri.


Papa memandangnya dengan heran, “Kenapa kamu makan berdiri sih? Makan tuh duduk, yang bener kalau makan! Nanti tersedak baru tahu rasa,” cibir Papa, membuat Mamanya memandang Papa dengan sinis.


“Papa kenapa sih? Biarin aja Rayn begitu, harusnya dia yang berpikir sendiri bukan kita yang malah ngomelin dia. Karena dia sudah besar, tidak perlu kita mengatakan hal yang sia-sia,” ujar Mama membuat Papa memandangnya dengan datar.


“Ya sudahlah, aku bukan ingin berdebat denganmu,” ujar Papa membuat suasana malah semakin aneh jadinya.


Rayn pun duduk di hadapan Mama Papanya dan posisi berada di sebelah tempat duduk Cherry. Ia pun memandang dalam ke arah Cherry, karena sebenarnya ia tidak mengizinkan Cherry untuk pergi ke mana pun.


“Bisa bicara sebentar?” tanya rain, Cherry pun mengangguk kecil mendengarnya, karena ia tidak enak juga dengan keadaan di sini.

__ADS_1


***


__ADS_2