Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Masa Lalu Vs Masa Sekarang


__ADS_3

"Aku tak akan meninggalkan kamu tak perduli apapun yang terjadi. Selamanya hanya akan ada nama kamu di dalam hatiku, dan tak perduli apapun yang menjadi penghalang di antara kita.''


Ucapan yang keluar tanpa beban meski diiringi helaan nafas panjang yang berat itu berhasil meluncur mulus dari mulut Reyn kala ia mengungkapkan niat untuk menikahi wanita yang selama ini selalu menjadi prioritas pertama dirinya dalam segala hal.


Dibawah sinar bulan yang tersenyum anggun menemani mereka bersama dengan pasir yang berkilauan karena tamparan sinar bulan, Reyn menggengam erat tangan Cherry dengan janji dan harapan yang ingin segera ia tepati.


Sunggingan senyuman terpancar abadi dari bibir Cherry yang juga sama bahagianya. Bayangan akan kehidupan manisnya betsama laki-laki yang sangat dicintainya ini membuatnya melayang, terbang menembus langit ke tujuh.


Mendengar kalimat sederhana itu saja keluar dari mulut Reyn membuatnya sangat bahagia apalagi pembuktian akan perkataannya yang suatu saat akan menjadi nyata dan diciptakan hanya untuk Cherry seorang diri.


"Lalu, masukan kamu menikah denganku dan menghabiskan hari-hari bersamaku dalam cinta dan cita?'' lanjut Reyn lagi.


Namun wanita yang berdiri di depannya seperti nya masih larut dalam rasa bahagia yang sangat berarti. Yah, ia menyunggingkan senyuman sempurna dan meresapi genggaman tangan Reyn di tangannya dengan segenap sanubarinya.


Ia sama sekali tidak menyangka bagaimana laki-laki yang dulu terkenal sangat bodoh dan culun bisa merebut hatinya dan menjadikan hidupnya hampa tanpa kehadiran sosok laki-laki itu. Sama sekali tak pernah ada dalam catatan diary Cherry kalau ia akan menikahi putera rekan kerja Ayahnya sendiri.


"Kenapa kamu diam saja, Sayang?"


Reyn mendekat dan merengkuh tubuh Cherry ke dalam pelukannya sambil berbisik menanyakan apa jawaban yang akan diberikan sang kekasih padanya.


Namun yang ditanya malah membalas dekapan Reyn dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan laki-laki itu. Rasanya sangat nyaman dan sulit untuk diganti. Mungkin ini adalah salah satu alasan Cherry selalu bertahan dengan pria ini.


"Kamu boleh jawab sekarang!" kata Reyn tak sabar.


Ia melepas pelukannya dan memegang kedua bahu Chaerul dan matanya menantang bola kristal dalam telaga mata Cherry dengan harapan ia akan menerima jawaban sama seperti hal yang ia inginkan.


Namun yang ia dapati hanyalah tatapan dalam dan senyuman yang tak pernah pudar bermula dari ia mengenal sosok Cherry.


"Kami tidak mencintaiku?" kata Reyn pelan namun penuh dengan penekanan.


Cherry tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. "Kamu bertanya padaku?" katanya.

__ADS_1


"Lalu?"


Cherry berpaling. "Kamu melukai harga diriku." kayanya.


Reyn yang paham apa yang dipikirkan wanita itu menahan tangan Cherry dan menariknya mendekat dan mengecup bibir ranum nan merah itu lembut dan penuh perasaan. Yah, wanita ini benar kalau ia tak seharusnya mengemis jawaban karena ia sendiri juga tau jawaban yang sebenarnya.


Namun jangan panggil ia lelaki jika tak ingin mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut wanitanya. Yah, semua laki-laki hampir sama saja dan selalu berharap kalau pasangan mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


Ia mengecup bibir itu lagi dan lagi sampai ia lupa berapa kali ia sudah melakukan hal itu. Yah, sosok di depannya ini selalu membuatnya enggan untuk membiarkan waktu berlalu. Dengan segala keanggunan dan keikhlasan wanita ini, membuatnya tak bisa meninggalkan Cherry lebih lama lagi.


"Aku ingin kamu menjawabnya. "Kayanya lembut.


Cherry tersenyum penuh arti dan mendekatkan mulutnya ke telinga Reyn seolah ia sedang berbisik. Namun, ia sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun dan malah mengecup telinga Reyn.


"Apa yang kamu lakukan?" kata Reyn kaget.


"Aku tak melakukan apa-apa." Elaknya.


"Aku akan menghabiskan hari-hari bersamamu, sampai dengan maut memisahkan kita.''


Akhirnya kalimat yang ditunggu-tunggu Reyn akhirnya keluar dari mulut Cherry bersamaan dengan tatapan mata indahnya yang memberikan beribu mimpi yang akan menjadi milik mereka berdua.


"Kamu yakin?"


"Tentu saja. Kamu akan menjadi yang pertama, utama dan juga yang terakhir untukku." balas Cherry sedikit lebih agresif.


Sontak saja keduanya tersenyum lebar dan saling menatap satu sama lain menyatukan perasaan merasa satu sama lain.


Namun tiba-tiba sebuah badai hebat menghantam wajah Cherry sehingga ia harus melepaskan genggaman tangan orang yang sangat ia cintai itu. Seketika semuanya menjadi gelap gulita tanpa bentuk dan hanya Cherry seorang diri berjalan dalam kegelapan itu.


"Reyn!" Panggilnya keras.

__ADS_1


Namun bukannya mendapatkan balasan dari orang yang dipanggilnya, sebuah tangan mengguncang bahunya keras hingga mau tak mau ia harus segera melakukan tindakan.


Lalu, tindakan seperti apakah yang harus ia lakukan kini?


Ia terpaksa membuka mata dan melihat sosok yang ia rindukan berdiri disana dengan raut wajah khawatir bercampur dengan kesal menjadi satu. Anehnya sosok itu sama sekali tak mengulurkan tangan untuk memeluk dirinya dan malah diam membisu dan hanya menatapnya saja.


"Reyn!" kata Cherry menitikkan air mata.


"Kamu mimpi apaan sih?"


DEGH!


Tanpa perlu dikomando lagi, Cherry sadar kalau yang berdiri di depannya bukanlah sosok Reyn yang sangat ia rinduka kenyataan akhirnya menamparnya dan ia sadar kalau sekarang ia sudah menikah dengan Rayn yang merupakan saudara kembar Reyn.


"Akh, kenapa semuanya semakin rumit?" katanya pada diri sendiri.


Namun jangankan mendapatkan jawaban, matanya malah tertuju pada Siwon Rayn yang menunjukkan sikap yang berbeda padanya sebelum ia mengalami mimpi itu.


"Sebaliknya kamu saja yang tidur di ranjang, mungkin tubuhmu merasa tidak nyaman sehingga kami bermimpi buruk." kata Rayn menyodorkan bantal pada Cherry sambil matanya menunjuk ranjang yang kosong sama dengan hatinya yang jauh lebih kosong.


Ia kini sadar kalau Cherry dan dirinya memiliki perasaan yang sama dan tak akan mungkin pernah tersalurkan satu sama lain. Yah, dirinya juga merasakan hal yang sama dan selalu menyalahkan keadaan yang memaksa mereka berpura-pura sejauh ini.


Maafkan aku, hanya itu satu-satunya kata yang ada dalam dirinya saat ini. Tak tau kemana arah maaf yang ada dalam hatinya, yang pasti ia benar-benar ingin meminta maaf pada semua orang.


Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Apakah ia tak membutuhkan permintaan maaf juga? Toh, ia juga sama sekali tak bahagia dan malah merasa sangat dirugikan dari kejadian ini.


"Maafkan aku, Syerlin." katanya dalam hati.


Yah, satu-satunya orang yang sedang menunggunya kembali ke Jerman lagu ada di sebuah apartemen yang lumayan mewah dengan segenap kerinduan yang tak mungkin terucapkan via telepon.


Yah, permainan dunia yang melebihi candaan akan segera terjadi dan tindakan untuk bertahan hidup adalah cerita yang paling indah

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2