Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Rayn dan Syerlin


__ADS_3

Setelah sarapan Cherry mengungkapkan semuanya, hanya berdua bersama papa. Lelaki paruh baya itu tentu paham, saat menantunya menangis dan berkata akan pisah. Ia tau kalau cinta yang tak seharusnya tak bisa bersama. Ia sadar jika dirinya salah soal cinta yang terbiasa bersama.


“Keputusan mu sudah bulat?” Papa bertanya dengan lembut.


Cherry mengangguk. Ia sudah bertekad untuk berpisah dengan Rayn tapu tidak pula bersama Reyn. Ia sudah cukup sakit dengan keluarga ini. Jadi ia memutuskan untuk pergi. Kali ini ia akan egois. Hatinya sudah berdarah, jiwanya sudah bernanah.


“Iya, semuanya udah Cherry pikirkan. Ini keputusan Cherry jadi mohon bantuannya.”


“Baik, papa akab bantu, tapi setelah sebulan pernikahan ini. Rasanya gak etis baru dua hari kalian menikah tetapi sudah bercerai.”


Cherry terbelalak. Bukan ini yang ia mau, tapi apa boleh dikata, dia hanya bisa menurut. “Oke Pa, tapi Cherry akan keluar dari rumah hari ini. Maaf belum bisa jadi menantu yang membanggakan untuk Mama dan Papa”


Papa paham, sebagai kepala keluarga ia paham dengan apa yang terjadi di rumah ini. Tapi ia juga salah, ia kadang juga egois dan mementingkan hal lain. Papa hanya lelaki, seorang kepala keluarga yang ingin hal terbaik untuk keluarganya.


Cherry pamit undur diri dari ruangan Papa. Ia pergi ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Tak ada siapa-siapa di dalam kamar. Tak ada Rayn, yang ada hanya ranjang berantakan dan pakaian yang masih bercecer. Ia memungut semuanya, membersihkan kamar dengan menahan tangis. Badannya lelah, hatinya masih sakit.


Cherry mengumpulkan semuanya di kerajang pakaian kotor. Ia tinggalkan semunya, dan pergi ke luar dengan menggeret koper miliknya. Untung hanya sekoper pakaian. Untung belum semua barang ia pindahkan ke rumah ini.


“Cherr, mau ke mana?” itu suara Reyn yang bergegas menuruni tangga saat melihat Cherry menarik koper.


Reyn memandang koper itu. Koper pasangan yang mereka beli untuk persiapan bulan madu setelah menikah. Ah banyak sekali barang-barang yang sudah mereka siapkan, sampai lupa kalau mereka juga harus menyiapkan hati saat semesta tak berpihak seperti sekarang.

__ADS_1


“Bukan urusan kamu.” Cherry kemudian berlalu.


Reyn hanya memandang dari kejauhan menatap punggung dan rambut Cherry yang berayun indah. Ia tau semuanya, ia sudah mendengar percakapan antara Cherry dan Papa tadi. Jadi bolehkah ia bahagia sekarang? Saat saudaranya akan bercerai bahkan umur pernikahannya masih belum ada seminggu.


Kendati demikian, Reyn tetap mengembangkan senyum. Saat ia tau gadis yang ia cintai dan mereka juga saling mencintai bisa bersama kembali. Reyn bahagia di atas langkah kakinya yang kembali ke lantai atas, Tanpa ia tau ada yang mengintip di balik lemari yang menjadi batas antara ruang tamu dan ruang makan.


“Semalam lo ngajak gue ke club? Gila” Rayn memaki Amar melalui sambungan telepon. Setelah sarapan tadi ia memutuskan untuk beranjak terlebih dahulu. Tanpa peduli dengan istri disebelahnya yang tak berselara makan.


Amar mendengus di seberang telepon. “Lo sendiri yang ngajak, Lo bahkan ngomong kalo bir aja gak cukup. Jadi ya gas ke club biasa.”


Sial, jadi ia sendiri yang mengajak. Ini semua salahnya. Ah kenapa juga ia begitu ceroboh dengan hal-hal kecil. Harusnya dia waspada kalau Syerlin juga memahami segala hal termasuk cincin yang merupakan barang sekecil itu.


Syerlin itu ibarat senter yang siap sedia saat Rayn sedang dikegelapan. Jadi inilah kepada mereka bisa awet menjalin hubungan, ya walaupun putus nyambung karena Rayn itu playboy.


Rayn tipikal lelaki pada umumnya. Ia merokok dan minum, ia suka travelling dan senja. Anak kopi yang selalu memposting foto estetik. Oleh kaena itulah akun instagramnya hanya berisi pemandangan dan kopi.


Jadi gak heran kalau teman-temannya gak ada yang tau lebih dalam kehidupan Rayn. Yang mereka tau, Rayn itu anak konglomerat, yang rumahnya besar berwarna putih dan mirip di film-film. Orang lain juga taunya Rayn itu karyawan di kantor papanya, tapi juga punya usaha cafe dan distro kecil-kecilan.


Gak heran juga kalau Syerlin susah untuk berpaling. Rayn tampan, usahawan, buci, walaupun sedikit playboy.


“Tau gue mabok ngapain lo anter ke rumah, ogeb.” Rayn masih marah.

__ADS_1


“Ya Lo mabok aja masih ngomongin Syerlin terus. Padahal udah mabok berat. Jadi gue bawa lo pulang ke rumah. Gue gak tau Syelin tinggal di mana, hp lo jg dikunci ya mana gue tau”


“Lo kan bisa tanya password hp gue.” Rayn masih tak mau kalah dan ia masih marah.


“Gue udah nanya berkali-kali, lo tetep sebut nama Syerlin. Makanya hp tuh pakai sidik jari atau face id. Norak banget pake pola” Amar berseru marah sambil tertawa geli.


Rayn itu gak mau ribet orangnya, jadi dia semuanya serba biasanya orang pake.


Ah salah juga si Rayn, tau pikiran sedang kalut malah melipir ke kost Amar si brengksek. Sobatnya itu selain rupawan juga menyimpang kebrengksekan.


“Udahlah, gue mau lanjut tidur. Nanti gue anter mobil lo.''


Amar sudah mematikan sambungan telepon. Tapi Rayn masih belum beranjak. Pikirannya masih melayang kepalanya masih pening memikirkan solusi.


Gimana caranya ngomong ke Syerlin kalo kekasihnya ini duda dan menikah hanya beberapa hari. Ah Cherry, kenapa dirimu begitu meluluhlantakkan semuanya.


Rayn beranjak ke dalam, kembali ke ruang makan. Telinganya mendengar dua orang berbincang. Itu Reyn dan Cherry. Dan sepertinya Cherry sudah menyampaikan ke Papa kalau mereka akan bercerai.


Bodoh sekali dirinya ini.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2