Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Apa Salahnya?


__ADS_3

“Kamu habis telepon Cahaya? Siapa itu Cahaya?” tanya Rayn, yang memang tidak tahu sosok Cahaya.


“Cahaya adalah teman satu almamaterku,” jawab Cherry, membuat Ryan mengangguk-angguk kecil.


“Lalu, apa hal yang ingin kau diskusikan bersama dengan Reynald?” tanya Rayn lagi, yang masih penasaran dengan hal apa yang ingin mereka diskusikan bersama.


Pertanyaan ini membuat Cherry menghela napasnya. Ia memandang dalam ke arahnya, karena ia merasa harus jujur di hadapan Rayn saat ini.


“Cahaya mengundangku untuk datang ke pertemuan angkatan kami, malam nanti. Aku mengatakan ingin mendiskusikan kepada Reynald, bukan berarti aku benar-benar ingin mendiskusikan sesuatu dengannya. Kau tahu bukan, saat ini kau memakai identitas Reynald? Maka dari itu, kau harus berpura-pura menjadi Reynald di hadapan teman-temanku,” papar Cherry menjelaskan segalanya, agar Rayn tidak salah paham dengannya.


Mendengar penjelasan dari Cherry, Rayn pun sedikit paham dan ia bisa mengerti apa yang Cherry katakan dan jelaskan kepada temannya itu.


Dengan masih memakai celana pendeknya, dan rambutnya yang masih basah, Rayn pun duduk di pinggir ranjang bersama dengan Cherry.


Rain menoleh ke arah Cherry, “Jadi ini hal yang ingin kamu diskusikan, yang sempat tertahan tadi?” tanyanya, membuat Cherry mengangguk mendengarnya.


“Ya, aku gelisah dan bingung. Entah bagaimana aku harus mengatakan ini kepada Cahaya dan juga yang lainnya. Aku harus mengajakmu atau mengajak Reynald. Aku bingung,” ungkap Cherry.


Mendengar ucapan Cherry, Rayn pun menghela napasnya panjang. “Kau pasti sudah tahu jawabannya,” ujarnya membuat Cherry sedikit tersentak mendengarnya.


“Jawaban apa? Aku bahkan bingung saat ini!” Cherry malah bertanya demikian dihadapan Rayn.


“Kau bertanya padaku, lantas aku bertanya pada siapa?” tanya balik Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan datar.


“Jangan memulai sekarang, bantu aku cari jawabannya!” bentak Cherry.

__ADS_1


“Tanpa harus aku bantu menjawabnya pun, kau pasti sudah tahu jawabannya. Aku tidak akan mengatakannya. Itu harus berdasarkan dengan kesadaranmu sendiri. Aku tidak mau memberikanmu sugesti apa pun. Aku ingin melihat, bagaimana pilihanmu dalam permasalahan kali ini,” ujarnya membuat Cherry lagi-lagi bingung mendengarnya.


Rayn bangkit karena ingin mencari pakaiannya di dalam lemari. Ia mengambil pakaian yang hendak ia kenakan, lalu menutup kembali lemari itu. Ia ingin mengenakan pakaian itu di hadapan Cherry, tetapi Cherry tiba-tiba saja menunduk sembari menutupi wajahnya.


“Pakailah pakaianmu di dalam kamar mandi! Apa kau tidak tahu malu?” bentak Cherry dengan tetap berada pada posisinya.


Rayn pun tertawa kecil, “Cherry, aku dan kamu sudah pernah melakukan hal itu. Bagaimana mungkin sekarang kamu merasa malu melihat tubuhku?” tanyanya, membuat wajah Cherry seketika berubah menjadi merah karena malu.


“Apa-apaan kau ini? Setidaknya kamu jaga rasa malumu di hadapanku! Walaupun kita sudah pernah melakukan itu, tapi itu adalah saat kau mabuk dan aku juga tidak peduli dengan tubuhmu saat itu!” bentak Cherry dengan ketus, sambil tetap menahan malunya, membuat Rayn tertawa mendengarnya.


Rayn meletakkan semua pakaian yang ia pegang, kemudian berjalan melangkah ke arah Cherry membuat Cherry tersadar dan langsung membuka matanya.


Saat Cherry membuka mata, Rayn tidak membiarkan Cherry melihatnya. Ia dengan segera menindih di atas Cherry, sontak membuat Cherry mendelik kaget dengan apa yang Rayn lakukan padanya.


“Apa yang kau lakukan pagi-pagi seperti ini, Rayn?” tanya Cherry yang setengah berteriak di hadapannya.


Beberapa pelayan yang berada di depan ruangan mereka merasa bingung. Lagi-lagi mereka mendengar aktivitas seperti waktu itu, saat pertama kali Rayn dan Cherry menikah. Sekarang saat itu terulang lagi.


“Bagaimana ini? Apa kita pergi saja dan tidak jadi memanggil mereka untuk sarapan?” tanya seseorang kepada rekannya.


“Ya, tentu saja! Kita harus pergi sekarang! Kita tidak boleh mengganggu apa yang sedang terjadi di dalam,” jawab rekannya kepada dirinya.


“Baiklah, kita akan kembali lagi 15 menit dari sekarang.”


Kedua pelayan itu pun pergi dari depan ruangan kamar Rayn dan juga Cherry, dengan perasaan yang sudah salah paham.

__ADS_1


Sementara itu, Cherry masih saja tegang di hadapan Rayn saat ini. Posisi mereka sangatlah aneh, membuat pikiran Cherry terbang melayang tak karuan karenanya.


“Lepaskan aku, Rayn!” pinta Cherry, dengan sedikit memberontak, tetapi tubuh dan tenaga Rayn lebih kuat dibandingkan dirinya.


“Apa kau tidak ingin melakukannya denganku sekali lagi?” tanya Rayn, sontak membuat Cherry mendelik kaget mendengarnya.


Pertanyaan itu membuat Cherry merasa bimbang, dengan perasaannya terhadap Rayn. Memang tak dapat dipungkiri, bahwa mereka sudahlah menikah beberapa bulan lalu, dan Cherry pun sudah mengandung anak dari Rayn. Namun di hati kecil Cherry masih tersimpan rapat perasaannya terhadap Reynald, yang masih belum hilang sampai detik ini.


“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak mencintai Syerlin lagi?” tanya Cherry, kali ini membuat Rayn yang terdiam.


Mereka sejenak saling pandang. Entah apa yang Rayn pikirkan saat ini, benang di pikirannya sudah terasa sangat kusut. Ia bahkan sampai ingin melakukan hal itu bersama dengan Cherry. Padahal ia tahu jelas perasaannya pada Cherry, tidak lebih besar daripada perasaannya terhadap Syerlin.


Dengan cepat, Rayn pun bangkit dari posisinya yang aneh itu. Saat ini, ia malu karena Cherry sudah mengatakan hal seperti itu di hadapannya. Ia membelakangi Cherry, sembari tetap memakai pakaiannya.


“Apa salahnya melakukan hal itu dengan istri sendiri?” gerutu Rayn, yang masih terdengar jelas oleh Cherry.


Mendengar hal itu saja, sukses membuat dada Cherry berdebar dengan kencang. Namun ia tidak bisa memastikan dengan jelas debaran ini berarti apa.


‘Dia sangat aneh! Dia cemburu jika Reynald mendekatiku, tapi di hatinya masih ada Syerlin. Apa yang sebenarnya dia inginkan?’ batin Cherry, yang tidak bisa menerima apa yang Rayn lakukan itu.


Setelah beberapa saat, Rayn pun sudah selesai mengenakan pakaiannya. Ia mengenakan kaos hitam yang sangat pas ukurannya pada tubuhnya, sehingga membuat lekukan tubuhnya masih terlihat jelas walaupun tertutup oleh kaos tersebut.


Rain juga mengenakan celana bahan, karena walaupun ia mengenakan kaos, ia ingin tetap terlihat rapi.


Cherry memandangnya tanpa mengedip, membuat Rayn tertawa kecil melihat ekspresi melamunnya itu. Perlahan Rayn pun bersimpuh di hadapan Cherry, yang saat ini sedang melamun. Ia memandang wajah Cherry dengan dekat, dengan senyumannya yang manis.

__ADS_1


“Istriku sedang melamunkan apa? Suamimu ada di hadapanmu sekarang,” ujar Ryan, sontak membuat Cherry terkejut mendengarnya.


Cherry tersadar dari lamunannya, dan melihat wajah Rayn yang sangat dekat di hadapannya. Ia sangat terkejut, sampai hampir memukul wajah Rayn. Beruntung Rayn segera menepisnya dengan tangannya, membuat Cherry semakin kaget karenanya.


__ADS_2