
Namun walaupun Cherry mengatakan hal seperti itu, tidaklah membuat rasa egois dari masing-masing mereka surut. Mereka masih memiliki rasa egois itu, tetapi mereka memendamnya untuk sejenak. Mereka tidak bisa memaksakan untuk saat ini, karena mereka tahu akibat jika mereka melakukan hal tersebut saat ini.
Cherry memandang ke arah Reynald, “Aku mohon, kamu keluar dari sini,” pintanya.
Terlihat Reynald yang sama sekali tidak terima mendengar permintaan dari Cherry itu. Ia berusaha untuk membantahnya.
“Tapi Cherr—”
“Nggak ada tapi-tapi, Reyn! Biar bagaimanapun juga, Rayn itu adalah suami sahku. Aku tidak bisa membiarkan lelaki mana pun masuk ke dalam kamarku tanpa izin, tak terkecuali itu kamu,” pangkas Cherry membuat Reynald semakin tak terima saja mendengarnya.
Reynald memandangnya dengan sendu, “Sayang ... tapi aku ini pacar kamu ....”
“Walaupun kamu pacar aku, tapi sekarang yang aku hadapi adalah Rayn dan bukan kamu,” bantah Cherry, sekali lagi mematahkan ucapan Reynald.
Wajah Reynald sudah memerah, sangking tidak bisa menerima apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Namun sekali lagi, Cherry berusaha untuk membuat dirinya menerima semuanya.
Cherry memandang dalam ke arahnya, “Reyn, tolong jangan buat keributan pagi-pagi seperti ini. Jangan sampai Mama sama Papa ngelihat kejadian ini, dan malah mengundang perhatian mereka,” pinta Cherry.
Namun sebagaimana Reynald tidak menerimanya, ia tetap tidak bisa memberontak, karena di hadapannya kini terlihat Rayn yang seperti sedang tersenyum, ketika mendengar Cherry mengatakan hal seperti itu. Ia sangat tahu, semesta sedang tidak berpihak padanya saat ini.
Maka dari itu, Reynald pun memilih untuk mundur kali ini.
“Baiklah untuk saat ini aku tidak akan melakukannya. Tidak tahu dengan nanti. Aku pasti akan mendapatkan kamu lagi, Cherry. Kamu tunggu saja, aku tidak akan melepaskan kamu dengan mudahnya. Aku tidak mau melihat kamu bersama dengan orang lain. Apalagi orang lain itu adalah adikku sendiri," ujar Reynald yang mengalah kali ini.
__ADS_1
Rayn masih tidak terima dan hendak memukul kembali wajah Reynald. Akan tetapi tertahan oleh tangan Cherry yang menahan lengan tangannya.
Menyadari apa yang ia inginkan, Rayn segera menahan kembali amarahnya di hadapan Reynald. Reynald menunjuknya dengan kasar, serta dengan pandangan tajamnya, lalu segera pergi dari sana meninggalkan mereka.
Rayn memastikan Reynald keluar dari kamarnya, lalu ia segera mengunci kamarnya itu rapat-rapat.
“Bisa kita bicara sebentar?” pinta Cherry, Rayn pun membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah istrinya yang ada di hadapannya.
“Baiklah,” ujar Rayn, yang lalu segera melangkah dan duduk di bibir ranjang.
Kini mereka pun duduk bersebelahan di bibir ranjang. Mereka harus melakukan mediasi, agar tidak terjadi kesalahan lagi dalam hubungan mereka ini.
Walaupun Cherry sudah mengandung anak dari Rayn, tetapi Reynald masih saja tidak terima dengan hal itu. Ia bahkan tidak mempermasalahkan anak yang Cherry kandung, dan akan tetap memperjuangkan Cherry, bagaimanapun caranya.
“Kelihatannya masalah kita sangat rumit. Apa yang akan kau lakukan setelah ini?” tanya Cherry.
“Kenapa kamu bertanya, apa yang aku tanyakan padamu?” tanya Cherry.
“Karena kamu bertanya padaku, aku jadi bertanya padamu.”
Tidak habis mereka saling melempar kata, membuat keadaan malah semakin runyam. Cherry hanya diam, tidak menjawab sepatah kata pun, karena ia sudah terlalu malas untuk beradu argument dengan Rayn.
Menyadari keadaan yang runyam, Rayn pun memandang dalam ke arah istrinya itu.
__ADS_1
“Sudah terlambat, jika kita membuat pengakuan sekarang. Seharusnya semua itu langsung saja dikatakan di depan publik, bahwa yang datang itu aku, bukanlah Reynald. Tapi memang ini semua kesalahan yang dilakukan di awal, dan pastinya tidak akan baik ke depannya. Aku sudah menjamin hal itu,” ujar Rayn, membuat Cherry memandangnya sendu.
“Ya, memang itu semua kesalahan kita di awal. Tapi untuk sekarang ini, percuma saja kita menyalahkan diri masing-masing atau saling menyalahkan satu sama lain. Sekarang bukan lagi waktunya untuk saling menyalahkan. Sekarang kita harus cari cara, agar bisa terlepas dari hal seperti ini. Aku tidak mau mendengar kalian terus membuat keributan di hadapanku,” ujar Cherry dengan sikap dewasanya.
Rain memandangnya datar, “Kau bisa bilang seperti itu, harus cari cara, cari cara bagaimana? Aku saja tidak mengerti dengan keadaan ini. Bagaimana aku bisa mencari cara?” ujar sinis Rayn padanya.
Sejenak mereka hanya saling diam, membuat Cherry menghela napasnya dengan panjang.
“Ya seperti yang kita tahu sekarang, keadaannya malah semakin rumit. Reynald malah ingin menikahi Syerlin. Mungkin saja mereka ingin membalas dendam kepada kita, atas pernikahan kita ini,” ujar Cherry membuat Rayn semakin kesal mendengarnya.
“Yah ... itu semua bisa saja terjadi. Aku tidak ingin melihat semuanya terjadi, karena biar bagaimanapun juga Syerlin adalah orang yang pernah aku cintai,” ujar Rayn.
“Bahkan sampai detik ini?” tanya Cherry, membuat Rayn bingung harus menjawabnya seperti apa.
Memang saat ini karena sudah terbiasa bersama dengan Cherry, ia jadi tidak terlalu memikirkan perasaannya terhadap Syerlin. Namun tak bisa dipungkiri, kebersamaannya dengan Syerlin jauh lebih lama dibandingkan kebersamaannya dengan Cherry. Ia juga masih memendam perasaan kepada Syerlin.
Semua itu semakin membingungkan Rayn, karena dirinya yang harus memilih antara kekasihnya atau istrinya yang tengah mengandung anaknya saat ini.
Hal itu memang sangat sulit jika dipikirkan. Namun mereka harus tetap menjalani kehidupan mereka masing-masing, demi mendapatkan kebahagiaan lain, yang mungkin saja saat ini sedang diatur Tuhan untuk mereka.
Cherry memandang ke arah Rayn dengan dalam, “Kamu harus memilih, antara pernikahan ini atau kekasih kamu. Sementara aku juga harus memilih, antara pernikahan ini dan juga kekasihku. Kita sama-sama harus memilih, dan memang kita saat ini disudutkan oleh beberapa pilihan. Kita harus bersikap dewasa mengambil semua jalan, yang memang semua itu pasti ada risikonya,” ujar Cherry, berusaha untuk membuat Rayn mengerti dengan keadaan.
Bersama Cherry memang sudah pasti akan terjadi, tetapi ia juga harus memikirkan perasaan Cherry, jika ia memaksakan kehendaknya sendiri, ia sama saja menjadi seseorang yang sangat egois.
__ADS_1
“Jadi kamu nyuruh aku untuk memilih?” tanya Rayn, hanya bisa memandangnya dengan sendu.
“Yah ... kita memang harus memilih dan harus sepakat, dengan apa kita jalani ke depannya. Kamu terlihat masih mencintai Syerlin dan Reynald juga sepertinya masih sangat mencintai aku,” ujar Cherry, untuk menjelaskan keadaannya di hadapan Rayn.