
Pagi hari menyapa. Cherry membuka matanya, dan melihat sesuatu yang tak biasa ia temui. Saat ini, si kembar sedang berada di sisi kiri kanannya, sedang memeluknya dengan erat.
Mengetahui hal itu, Cherry merasa kaget dan tak menyangka, dengan apa yang mereka lakukan. Pelukan mereka sama eratnya, membuat Cherry merasa sangat sesak karena.
"Aduh ... aku sesak banget," ujar Cherry membuat Rayn dan Reynald terbangun dari tidurnya.
Efek alkohol yang masih tersisa, lumayan membuat kepala mereka terasa seperti berputar. Awalnya mereka tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, tetapi karena mendengar ucapan Cherry, mereka pun akhirnya menyadari dengan kejadian yang terjadi pada mereka saat ini.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Rayn sinis kepada Reynald.
Mendengar pertanyaan dari Rayn, Reynald pun bingung menjawab seperti apa.
“Kamu bertanya padaku? Lalu aku bertanya pada siapa?” tanya balik Reynald, yang juga merasa bingung dengan keadaan yang ada.
Mereka pun bangkitm dan memandang ke arah Cherry yang saat ini tengah kesulitan untuk bangkit dari tempat tidurnya, karena perutnya yang sudah mulai membesar.
Rayn sebagai seorang suami, siap siaga untuk membantu istrinya. Sementara itu Reynald juga bersiap untuk membantu Cherry sebagai seorang kekasih.
“Biar aku bantu,” ujar Rayn dengan tangan yang sudah membantu Cherry.
“Tidak, biar aku saja yang bantu!” tolak Reynald, yang berusaha juga untuk membantu kekasihnya itu.
Melihat reaksi Reynald yang juga membantu istrinya, Rayn pun tidak tinggal diam. Ia menepis tangan Reynald seketika, membuat Reynald memandangnya dengan sinis.
__ADS_1
“Apa-apaan kamu?” tanya Reynald dengan sinis.
Mendengar pertanyaan sinis dari Reynald, Rayn pun tak kalah sinisnya dari yang Reynald katakan padanya.
“Kamu yang apa-apaan, menyentuh istri orang sembarangan seperti itu! Siapa kamu?” tanya sinis Rayn, membuat gejolak di hati Reynald semakin besar terasa.
Cherry hanya bisa memandang mereka, sembari berusaha untuk bangkit seorang diri. Tidak ada dari mereka yang membantu dirinya, sehingga ia dengan susah payah harus melakukannya sendiri.
“Orang yang kau sebut istrimu itu, adalah kekasihku! Apa yang salah? Aku hanya membantunya bangkit, tidak ada maksud apa pun!” ujar sinis dari Reynald.
Ucapan Reynald sontak saja membuat Rayn merasa kesal. Ia tidak bisa menerima ucapan dari Reynald, yang membuat hubungan dirinya dan juga Cherry terasa seperti hubungan yang tidak baik di matanya.
Matanya mendelik, “Salah! Kau salah! Tidak ada yang boleh menyentuh istriku, sekalipun itu adalah kamu!” bentak Rayn, sontak membuat Reynald bingung dan kaget mendengarnya.
“Jangan jumawa kamu! Aku bukannya sengaja ingin merebut dia dari kau, tapi memang keadaan yang memaksa dan memang itu semua, tak lain adalah kesalahanmu! Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai! Sekarang, kau rasakan saja apa yang menjadi kesalahanmu!” bentak Rayn, membuat Reynald tidak terima dengan hal itu.
Mereka sama-sama tidak terima, membuat Cherry kesal mendengar ocehan mereka di pagi hari. Seharusnya wanita hamil tidak boleh sampai mengalami stres yang berlebihan. Itu pasti akan mengganggu keadaan janinnya dan juga keadaan ibu hamil itu sendiri.
Namun, hanya karena permasalahan seperti ini, mereka sama-sama saling membela rasa egois mereka sampai mereka melupakan hal yang seharusnya mereka lakukan. Yaitu menjaga kenyamanan Cherry, yang saat ini tengah mengandung.
Kepala Cherry terasa berat, mendengar teriakan dan bentakan mereka secara bersahutan. Untuk berbicara pun ia tidak bisa, sangking bising dan juga ditambah lagi dengan keadaannya saat ini, yang terasa lemas membuatnya tidak bisa melakukan apa pun.
Karena Cherry terus-menerus mendengar ocehan dari mereka, iaa sampai muak dan tidak ingin mendengar ocehan mereka lagi. Jiwanya berteriak, tetapi ia tidak bisa menumpahkan semua rasa kesalnya pada keadaannya saat ini.
__ADS_1
“Jangan kau pikir hanya karena kesalahanku ini, kau bisa lepas dari semua hal yang sudah kau rebut dariku! Dasar kau perebut calon istri orang! Sejak dulu memang kau selalu merebut apa yang sudah diberikan Mama Papa kepadaku. Kau tak lain hanyalah seperti sampah!” bentak Reynald, membuat Rayn benar-benar tidak bisa menerimanya.
Tangan Rayn mengepal, ia langsung menarik kerah kemeja yang Reynald kenakan. Tatapannya tajam bagai panah, panas bagai bara. Rasanya ia ingin sekali melayangkan pukulan mautnya ke arah wajah Reynald. Namun, ia masih berpikir. Ia tidak mungkin melakukannya tepat di hadapan Cherry saat ini.
“Aku ingin sekali menghajarmu dan menghabisimu!” bentak Rayn, membuat Reynald tertawa kecil mendengar ancaman yang adiknya lontarkan untuknya.
“Jangan mengancamku, anak kecil!” bentak Reynald, membuat Rayn semakin tidak terima saja mendengarnya.
“Jangan panggil aku anak kecil! Kita hanya berbeda lima menit saja. Usia kita sama. Jangan kira kau lebih dulu lahir ke dunia, lantas aku harus takut denganmu! Aku tidak akan takut dengan kamu, sampai kapan pun! Aku akan memperjuangkan pernikahan ini dan kau tidak akan pernah bisa merasakan sedikit pun dari apa yang kami rasakan saat ini!” papar Rayn, yang mengingatkan kepada Reynald tentang apa yang tidak akan pernah bisa Reynald dapatkan.
Mendengar hal itu, Reynald juga ingin sekali menghajarnya. Dia mengepal sebelah tangannya, yang akan diarahkan ke arah wajah Rayn.
“Aku tidak akan pernah melepaskan Cherry sampai kapan pun!” teriak Reynald, yang hendak melepaskan kepalan tangannya ke arah wajah Rayn.
“Cukup!”
Belum sampai Reynald menghajar Rayn, ia sudah tertahan karena mendengar suara Cherry. Mereka memandang ke arah Cherry, yang saat ini sudah bangun dari tempatnya.
“Bisa nggak sih kalian diam nggak bertengkar sehari ... aja? Aku mau hidup dengan tenang! Please, jangan bikin aku sakit untuk kesekian kalinya. Ini bukan hanya tentang aku, tapi juga tentang bayi yang ada di dalam kandungan aku! Aku nggak mau sampai bayi aku kenapa-kenapa,
ujar Cherry, membuat mereka tersadar dengan apa yang mereka lakukan.
Memang seharusnya tanpa dipinta, mereka sudah melakukan hal tersebut. Namun, hanya karena rasa egois satu sama lain, mereka sampai melupakan hal seperti ini.
__ADS_1
“Aku nggak bisa memilih di antara kalian. Aku nggak bisa kalau harus disuruh memilih sekarang juga. Karena sejujurnya aku benci banget yang namanya pilihan. Jadi aku mohon, kalian jangan pernah memikirkan rasa egois masing-masing. Di sini ada aku dan juga anak aku yang butuh diperhatikan. Jangan hanya karena masalah ini, kesehatan mental aku dan anakku menjadi terganggu. Aku tidak bisa membayangkan terjadi hal ini sebelumnya,” ujar Cherry, membuat mata mereka terbuka mendengarnya.