Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Aku, Kamu Yang Tak akan pernah Menjadi Kita


__ADS_3

Pagi ini menyapa dengan tenang, membuat dua insan yang sedang terlelap tak terusik sedikitpun. Padahal sinar matahari sudah mengintip malu-malu dibalik gorden. Mereka adalah Reyn dan Cherry, pasutri baru yang mendadak menikah karena waktu yang tidak pas.


Cherry membuka matanya sedikit saat mendengar pintu kamar diketuk dari luar.


“Nona muda dan tuan sudah ditunggu sarapan” itu pasti suara pembantu yang membangunkan mereka.


“Iya Bi, bentar lagi turun.” Rayn menjawab tanpa membuka mata. Lalu ia mengeratkan pelukan pada Cherry yang ia kira guling.


Cherry langsung bangun tentu saja mengejutkan Rayn yang nyawanya belum terkumpul. Menyadari ia ada dipelukan Rayn, Cherry langsung memberontak dan beseru marah. “Kamu ini apa-apaan. Kenapa kamu tidur meluk aku gini!” Cherry langsung turun dari ranjang dan memeriksa seluruh tubuhnya.


Semuanya aman. Pikirannya saja yang kotor.


“Apa, kamu yang meluk aku semalam karena terbangun.” Rayn menjawab lalu beranjak turun dan menuju kamar mandi. “Cepetan cuci muka, semuany pasti udah nungguin kita. Kalo lama aku tinggal” Rayn berkata sambil menutup pintu kamar mandi.


Meninggalkan wajah Cherry yang terbengong.


“Katanya suruh cepet, eh malah masuk kamar mandi duluan. Dasar suami durhaka” Cherry menggumam lalu mengambil baju ganti di dalam koper. Tak lama Rayn keluar dengan wajah yang lebih segar.


Reyn mengambil handuk dan berdiri di depan lemari. “Cepetan, lima menit kalo enggak turun sendiri.”

__ADS_1


Cherry bergegas masuk ke kamar mandi, ia menggosok gigi mencuci muka lalu berganti pakaian. Bodo amat dengan mandi, nanti ia semprotkan parfum saja dibajunya.


Setelah selesai ia keluar kamar mandi dan mendapati Rayn sedang menyisir rambut di depan meja rias. “Bagi parfum, aku males mau nyari dikoper” Cherry lalu menyemprotkan parfum tanpa menunggu jawaban Rayn. “Yuk keluar” lanjunya berjalan ke arah pintu, Reyn mengikuti di belakangnya sambil menyugar rambut ke belakang.


Mereka menuruni tangga. Oh jangan harapkan akan bergandengan, yang ada mereka berjalan berdiaman dengan Cherry di depan. Tak lama mereka sampai di ruang makan. Semua sudah duduk rapi. Papa terlihat sedang membaca koran di tab, sedangkan mama mengoles roti dengan selai.


“Selamat pagi ma, pa” Rayn menyapa lalu duduk di kursi sebelah mamanya. Sedangkan Cherry berdiam sejenak melihat kursi yang tersisa hanya disebelah Reyn. Ahh sepertinya pagi ini akan diawali dengan berdekatan dengan ipar yang batal menjadi suami.


“Pagi Ray, pagi Cherry” Mama menjawab dengan senyum khasnya. “Cherry semalam gimana, nyaman gak tidurnya” lanjut Mama sambil tersenyum menggoda.


“Nyaman Ma.” Cherry menjawab pendek dan tersenyum kikuk.


“Khem!'' Papa berdehem lalu berkata “Sudah mari sarapan. Abis ini papa mau bicara dengan kalian” Katanya tanpa menatap siapapun di meja. Lantas mengambil makanan.


Hmm kalau begini bukankah ia lebih baik bercerai dan menikah dengan Reyn. Ah tapi kan ia sudah berjanji tidak akan bercerai atau memutuskan hubungan dengan lelaki yang mengucapkan janji suci padanya. Lagi pula Rayn juga gak buruk-buruk banget buat diajak ke kondangan.


Duh mikir apa dirinya ini. Dua lelaki itu sama-sama enak dipandang. Keliatannya sama-sama humoris, wajahnya juga mirip, yakali temen atau keluarganya pangling, kan mereka gak tau. Tapi kalai diterusin semuanya runyam.


“Oke semua sudah selesai, langsung aja, Papa mau tanya mau kalian apa? Cherry masih mau melanjutkan pernikahan dengan Rayn atau kembali ke Reyn?” Papa bertanya sambil melihat ke arah Cherry.

__ADS_1


Sedangkan Cherry yang ditatap diam membeku. Ah cepat sekali sarapan pagi ini, perasaan ia baru menyendok nasi ke mulut.


“Cherry boleh berpikir dulu Pa, gak lama kok” Cherry menjawab lalu menunduk. Matanya menatap cicin yang kini melingkar di jari manisnya. Cicin yang ia pilih bersama Reyn tapi ia pakai bersama Rayn.


Papa menghela napas mendengar jawaban Cherry, ia menatap si kembar bergantian “Kalian selesaikan nanti akan Papa bantu juga kasih solusinya.” Papa berkata demikian lalu beranjak keluar sambil meraih tas kerja. Kemudian mama menyusul.


Kini tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan.


“Aku mau bicara dengan Cherry, bisa kamu keluar Rayn. Kami butuh privasi” Reyn berkata dengan nada yang ketus. Tanpa menjawab Rayn juga beranjak pergi.


Setelahnya Reyn mengucap pucuk kepala Cherry lalu kedua tangan mengarahkan Cherry untuk mendekat kepadanya. Cherry mulai mengangkat kepala saat Reyn memeluk tubuhnya. Ia tak membalas pelukan itu, tapi ia tak juga menolak. Ia rindu, sangat rindu dengan aroma dan rasa yang menghampirinya.


“Kamu bau kayak Rayn.''


Cherry semakin membeku kala mendengar Rayn berkata demikian. Matanya mulai menggenang. “Oh tadi aku minta parfum dia sedikit, aku males mau nyari di koper.” Cherry menjawab ketus dan berusaha menguatkan diri. Ia melepas pelukan Reyn. “Mau bicara apa, cepetan, abis ini aku mau pergi.''


“Aku cinta sama kamu. Kamu tau kan. Jadi ayo kita menikah, bercerailah dengan Rayn.''


Gila. Mungkin jika ada yang mendengar perkataan Reyn, orang itu akan marah dan mengutuknya. Bagaimana mungkin ia menyuruh seoranv istri untuk becerai. Bahkan pernikahannya baru saja berlangsung kemarin.

__ADS_1


“Akan aku pikirkan.” Cherry juga sama gilanya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2