
Cherry terbangun dalam pelukan Rayn lagi. Sama seperti kemarin pagi. Namun pagi ini ia tidak berteriak, Cherry hanya menatap kosong langit-langit kamarnya. Ingatannya melayang ke kejadian semalam. Kejadian yang tidak ia kira akan terjadi padanya. Bahkan dalam waktu singkat ketika masalah lain belum menemukan titik temu. Cherry menangis.
Semuanya tiba-tiba, semuanya tumpang tindih jadi satu. Siapa yang harus salah di sini, apakah dirinya yang memaksa Reyn untuk segera mempercepat pernikahan setelah lamaran. Atau Reyn yang mendadak hilang di hari sumpah suci mereka. Atau Rayn yang bodoh mau mengantikan kembarannya. Atau Syerlin, nama yang mengalun saat Rayn sedang berada di atas awan?
Ia tak peduli juga dengan suara ketukan pintu dan suara bibi yang menyuruh mereka untuk sarapan. Ia juga tak peduli dengan hujan yang malu-malu membasahi halaman. Yang ia pedulikan hanya badannya yang tertutup selimut dan satu kalimat yang sudah akan ia teriakan di depan wajah Rayn.
“Iya Bi, bentar lagi kami turun” sama seperti kemarin, Rayn menjawab dengan mata tertutup.
Tak lama Rayn membuka matanya, ia mengerjap ke arah Cherry yang masih terdiam memandang langit-langit kamar. Rayn memegang kepalanya yang pening. Yang ia ingat semalam saat bertemu Syerlin di resto, ia hanya mampir ke kosan Amar. Lalu minum seteguk dan merokok. Setelahnya pulang ke rumah masuk kamar dan melihat Syerlin keluar dari kamar mandi.
Rayn terdiam, sepertinya ada yang salah dengan ingatannya.
“Mari bercerai.” Cherry bersuara setelah lama terdiam. Suarana dingin dan dalam.
Rayn diam. Dirinya masih mengingat semua kejadian semalam. Ia bertemu Syerlin, mampir ke kost Amar lalu minum dan merokok setelahnya pulang. Tidak ada yang salah.
“Setelah sarapan aku akan bilang ke Papa, kalau kita akan bercerai.” Cherry bersuara kembali.
Dan Rayn masih berusaha mengingat semuanya. Ia bertemu Syerlin, mampir ke kost Amar lalu minum dan merokok setelahnya pulang. Sampai rumah langsung masuk kamar dan bertemu seseorang yang hanya memakai handuk.
Oh Sial! Wanita itu Cherry bukan Syerlin. Ia semalam pasti mabuk, tetapi kapan ia minum banyak, seingatnya ia hanya minum seteguk lalu merokok. Dan ia pulang. Ah sudah mulai menemukan titik terang kejadian ini. Ia semalam datang kepada Cherry, menghapirinya di kamar mereka. Jadi inilah alasan kenapa pagi ini terasa sangat dingin. Bajunya berantakan di setiap sudut kamar. Ac juga tak di atur dengan baik, sedangkan gorden tak tertutup dengan benar.
Jadi ini alasan kenapa Cherry berkata dingin dan tangannya terus menggenggam selimut. Ah persetan dengan minuman dan Amar. Sial, semuanya tambah runyam.
__ADS_1
“Maaf, aku ... “Rayn hanya berkata maaf dan menyadari kesalahannya, tapi hanya maaf. Ia masih bingung untuk mengucap alasan apa yang akan disampaikan.
Semalam ia bertemu Syerlin, memberikan oleh-oleh liburan dan ingin mengajaknya nonton. Celakanya ia lupa melepas cicin pernikahan dengan Cherry, semua berawal dari sana. Syerlin menuduhnya berselingkuh, dan Rayn membela bahwa itu diberi oleh mama. Tapi memang kenyataannya Rayn telah mendua bukan, meskipun itu bukan keinginannya.
“Ya, mari kita bercerai.” Rayn menjawab setelah Cherry beranjak tertatih ke kamar mandi. Tanpa berpikir panjang ia menyetujui perkataan bodoh Cherry.
Rayn sadar ia salah karena telah lengah menjaga Cherry. Yah, seharusnya sedari awal ia memperjuangkan wanita itu dan membuktikan kalau ia memang benar-benar serius padanya.
Kemudian tangannya meraih hp yang berbunyi teronggok dilantai bersama dengan pakaian lain. Ada sebaris pesan dari Amar.
‘Bro, sorry gue semalem cuma nganter lo ke rumah, tapi mobil lo gue bawa lagi. Gue mau pamitan eh lo udah teler terus langsung masuk rumah, nanti gue balikin.’
Sebaris pesan dari Amar membuatnya membeku. Jadi ini alasan kenapa Cherry menjadi dingin dan berjalan tertatih dengan selimut. Setelah sarapan Cherry mengungkapkan semuanya, hanya berdua bersama papa. Lelaki paruh baya itu tentu paham, saat menantunya menangis dan berkata akan pisah. Ia tau kalau cinta yang tak seharusnya tak bisa bersama. Ia sadar jika dirinya salah soal cinta yang terbiasa bersama.
“Keputusan mu sudah bulat?” Papa bertanya dengan lembut.
“Iya, semuanya udah Cherry pikirkan. Ini keputusan Cherry jadi mohon bantuannya.”
“Baik, papa akab bantu, tapi setelah sebulan pernikahan ini. Rasanya gak etis baru dua hari kalian menikah tetapi sudah bercerai.”
Cherry terbelalak. Bukan ini yang ia mau, tapi apa boleh dikata, dia hanya bisa menurut. “Oke Pa, tapi Cherry akan keluar dari rumah hari ini. Maaf belum bisa jadi menantu yang membanggakan untuk Mama dan Papa.”
Papa paham, sebagai kepala keluarga ia paham dengan apa yang terjadi di rumah ini. Tapi ia juga salah, ia kadang juga egois dan mementingkan hal lain. Papa hanya lelaki, seorang kepala keluarga yang ingin hal terbaik untuk keluarganya.
__ADS_1
Cherry pamit undur diri dari ruangan Papa. Ia pergi ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Tak ada siapa-siapa di dalam kamar. Tak ada Rayn, yang ada hanya ranjang berantakan dan pakaian yang masih bercecer. Ia memungut semuanya, membersihkan kamar dengan menahan tangis. Badannya lelah, hatinya masih sakit.
Cherry mengumpulkan semuanya di kerajang pakaian kotor. Ia tinggalkan semunya, dan pergi ke luar dengan menggeret koper miliknya. Untung hanya sekoper pakaian. Untung belum semua barang ia pindahkan ke rumah ini.
“Cherr, mau ke mana?” itu suara Reyn yang bergegas menuruni tangga saat melihat Cherry menarik koper.
Reyn memandang koper itu. Koper pasangan yang mereka beli untuk persiapan bulan madu setelah menikah. Ah banyak sekali barang-barang yang sudah mereka siapkan, sampai lupa kalau mereka juga harus menyiapkan hati saat semesta tak berpihak seperti sekarang.
“Bukan urusan kamu.” Cherry kemudian berlalu.
Reyn hanya memandang dari kejauhan menatap punggung dan rambut Cherry yang berayun indah. Ia tau semuanya, ia sudah mendengar percakapan antara Cherry dan Papa tadi. Jadi bolehkah ia bahagia sekarang? Saat saudaranya akan bercerai bahkan umur pernikahannya masih belum ada seminggu.
Kendati demikian, Reyn tetap mengembangkan senyum. Saat ia tau gadis yang ia cintai dan mereka juga saling mencintai bisa bersama kembali. Reyn bahagia di atas langkah kakinya yang kembali ke lantai atas, Tanpa ia tau ada yang mengintip di balik lemari yang menjadi batas antara ruang tamu dan ruang makan.
Siapakah orang itu?
Apakah dia Reyn asli yang sengaja mengintip karena ingin tau apa yang mereka bicarakan atau orang lain yang menyusup ke rumah itu dengan maksud dan tujuan buruk.
Entahlah, memikirkannya saja sudah membuat kepala sakit. Jadi lebih baik menerima apapun yang akan terjadi nantinya. Yang penting sekarang Cherry sangat ingin bercerai dengan Rayn tak perduli apapun alasannya.
Yah, semua berawal dari dia melihat sosok wanita yang disukai suami sah nya itu. Tapi sekarang bukan tentang itu lagi, karena perceraian itu salah satu cara pembuktian Cherry para Reyn kalau ia masih mencintai lelaki itu.
Tapi semakin ke sini, entah mengapa ada rasa yang sulit di ungkapkan Cherry dengan kata-kata tentang hubungan dan juga perubahan tiba-tiba pada dirinya. Ia mendadak ragu pada dirinya sendiri, dan juga ragu pada sosok Reyn yang berjanji menerima dirinya apa adanya seperti dulu lagi.
__ADS_1
Saat tengah asik-asiknya melamun, tiba-tiba kaca hendak terketuk dan muncul lah sosok seorang gadis disana
BERSAMBUNG.....