
“Oh tidak! Maafkan aku, aku tidak—”
Ucapan Cherry terpotong, karena Rayn yang tiba-tiba saja meletakkan tangan Cherry yang sedang ia pegang, ke kedua sisi wajahnya. Mereka sejenak saling menatap satu sama lain, membuat Cherry bimbang di hadapannya.
Cherry melihat wajah Rayn yang sangat mirip dengan wajah Reynald. Hal itu membuatnya menjerit dalam hati, karena walaupun wajah mereka sangat mirip, tetapi kepribadian mereka sangatlah berbanding terbalik.
Cherry sampai mengusap wajah Rayn dengan lembut, karena ia merasa wajah Rayn yang mirip seperti dengan wajah kekasihnya.
“Wajahmu ... sangat mirip dengan wajah Reynald,” ujar Cherry membuat Rayn menggenggam erat tangan Cherry, yang sedang mengelus wajahnya itu.
“Entahlah, cobalah bicara dengan rumput yang bergoyang,” seloroh Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan datar.
“Aku sedang bicara, kenapa kau mengatakan hal yang membuatku tidak mood?” ujar Cherry datar, membuat Rayn tertawa kecil mendengarnya.
“Istriku ini sangat lucu. Suamimu ini dan kekasihmu sebenarnya adalah orang dengan memiliki gen yang sama. Wajahnya pun sama. Namun ada sesuatu yang berbeda di antara kami,” ujar Rayn, membuat Cherry memandangnya bingung.
“Sesuatu yang berbeda? Apa itu?” tanya Cherry.
“Yang membedakan saat ini, aku adalah suamimu. Sementara Reynald adalah masa lalumu,” jawab Rayn, membuat Cherry lagi-lagi terdiam mendengarnya.
Sejenak mereka saling pandang dengan posisi yang tidak berubah sama sekali. Rayn pun mendekatkan wajahnya, lalu mengecup singkat bibir Cherry. Setelahnya, Rayn kemudian kembali memandang wajah Cherry, yang mungkin saat ini sudah memerah karena malu.
“Wajahmu ... kenapa memerah seperti kepiting rebus?” goda Rayn, Cherry agak membuang pandangannya dari Rayn.
“Kau ... tidak sopan mencium orang begitu saja!” bentak Cherry, membuat Rayn tertawa lepas mendengarnya.
“Apa aku harus meminta izin untuk mencium istriku sendiri?” tanya Rayn.
__ADS_1
Cherry merasa kesal, tetapi ia tidak bisa mengungkapkannya. Ia pun hanya membuang pandangannya dari Rayn, membuat Rayn tertawa kecil melihat ekspresinya yang lucu itu.
Rain mengacak-ngacak rambut Cherry dengan lembut, “Pergilah ke pertemuan itu. Ajak Reynald dan habiskan waktu kalian bersama,” ujarnya, sontak membuat Cherry mendelik kaget mendengarnya.
Cherry tak menyangka, ia mendengar ucapan seperti itu dari mulut Rayn langsung. Ia tidak percaya, ada sedikit kelonggaran untuk dirinya dan juga Reynald, yang diberikan oleh Rayn.
“Apa kau bilang?” tanya Cherry, memastikan kembali apa yang Rayn katakan itu benar adanya.
“Yah ... kau boleh datang ke pertemuan itu, bersama dengan Reynald. Aku tidak akan melarangmu kali ini,” ujar Rayn, membuat Cherry malah menjadi sedih mendengarnya.
Entah apa yang ia inginkan. Ketika Rayn melarangnya, ia justru tidak menyukainya. Akan tetapi jika Rayn mengizinkannya, ia malah merasa bersalah terhadap Rayn.
“Apa tidak apa-apa?” tanya Cherry lagi, berusaha untuk memastikan kembali.
Rayn meletakkan telapak tangannya pada wajah Cherry, “Tidak apa-apa, Sayang. Hati-hati di jalan, jaga baik-baik kandunganmu. Jaga baik-baik anak kita,” ujarnya membuat Cherry malah semakin sedih dan bersalah mendengar ucapannya ini itu.
Tangan Cherry mendadak gemetar, saking tidak percayanya ia dengan perasaan yang ia rasakan ini. Ia merasa bimbang, dan malah jadi merasakan hal aneh, ketika Rayn memberikan kebebasan padanya.
Namun, karena Cherry sudah terlanjur mengatakan mengenai pertemuan kali ini pada Rayn, ia harus bisa memanfaatkan kesempatan ini. Ia tidak bisa membuang-buang kesempatan emas ini, untuk kembali memperbincangkan mengenai perasaannya pada Reynald.
Mendengar kabar Reynald yang hendak menikahi Syerlin, hal itu sangatlah mengganggu pikirannya. Ia tidak bisa melakukan apa pun, dan hanya bisa menanyakan langsung kepada Reynald tentang hal itu.
‘Aku belum sempat menanyakannya pada Reyn. Aku akan menanyakannya ketika sampai di sana,’ batin Cherry, yang sudah bertekad demikian.
Cherry memandang ke arah Rayn, “Baiklah, aku akan pergi bersama Reynald malam ini,” ujarnya, sontak membuat Rayn tersenyum mendengarnya.
Senyuman itu merekah di pipi Rayn, tetapi pada dasarnya ia sama sekali tidak mampu melakukannya. Ia hanya bisa berpura-pura melakukannya, dengan hati yang tidak bergairah. Sejujurnya, Rayn tidak ingin memberikan izin seperti itu. Namun, karena ia sangat menghargai Cherry, ia pun jadi mengatakan hal yang tidak semestinya ia katakan.
__ADS_1
Cherry melangkah menuju ke arah lemari, untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan untuk menghadiri acara tersebut. Pandangannya tertuju pada sebuah gaun, yang waktu itu pernah diberikan Reynald padanya.
‘Gaun ini ... adalah pemberian Reynald. Rayn mungkin saja tidak akan menyadarinya,’ batin Cherry, yang lalu menjatuhkan pilihannya pada gaun tersebut.
Gaun itu ia letakkan di atas ranjang tidurnya, membuat Rayn memandangnya dengan saksama. Gaun model terbuka seperti ini, terlihat kurang pantas dipakai oleh Cherry, yang saat ini sudah memasuki usia trimester kedua kandungannya.
‘Sepertinya kurang cocok,’ batin Rayn, yang lalu segera melangkah ke arah lemari. Ia mengambil gaun lainnya yang lebih tertutup, lalu meletakkannya di sebelah gaun yang Cherry letakkan di atas ranjang.
“Dengan catatan, aku yang akan memilih model pakaian untuk kau kenakan,” ujar Rayn, membuat Cherry mendelik bingung mendengarnya.
Sebenarnya Cherry tidak berniat juga mengenakan gaun ini. Ia hanya tiba-tiba saja melihat gaun pemberian Reynald, sehingga tangannya langsung saja mengambilnya tanpa aba-aba. Namun, ternyata Rayn sudah memiliki firasat mengenai gaun ini, sehingga membuatnya tidak merestui Cherry untuk mengenakannya.
Cherry memandangnya heran, “Aku tidak boleh memilih gaunku sendiri?” tanyanya tak terima, tetapi Rayn hanya bisa tersenyum mendengarnya.
“Baiklah, kau boleh memilih yang lain, asalkan jangan pilihan pertamamu,” ujar Rayn, membuat Cherry memandangnya dengan sinis.
Tangannya meraih ke arah pilihan yang Rayn berikan, membuat Rayn hanya bisa memandangnya dengan senyuman.
“Aku akan pilih yang ini,” ujar Cherry, dengan nada yang ketus, membuat Rayn tertawa kecil mendengarnya.
‘Ibu hamil aneh sekali sikapnya,’ batin Rayn, heran dengan sikap aneh Cherry yang bisa berubah-ubah dengan cepat.
Cherry menggantungkan gaun tersebut di pintu lemari, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas tubuhnya yang sudah lengket.
Melihat Cherry yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, Rayn pun menghela napasnya dengan panjang, karena ia merasa aneh ketika berhadapan dengan Cherry akhir-akhir ini.
Rayn menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, kemudian menghela napasnya dengan panjang. Ia tidak bisa melakukan apa pun lagi, dan hanya bisa menunggu Cherry menyelesaikan mandinya.
__ADS_1
Perhatiannya tiba-tiba saja tertuju pada handphone Cherry, yang saat ini bergetar tiba-tiba. Ia menoleh, dan tangannya spontan meraih handphone Cherry tersebut. Ia memandang bingung ke arah layar handphone-nya, yang saat ini tertera pesan dari orang yang sangat ia kenal.
“Mau apa dia?”