Kepentok Cinta Kembaran CEO

Kepentok Cinta Kembaran CEO
Kabar Gila


__ADS_3

“Semuanya udah Papa urus, berkas sudah masuk dan jadwal sidang sudah ditentukan.” Cherry yang masih bergelung di atas kasur dipaksa bangun mengangkat telepon. Papa Rayn menelpon, memberi kabar jika percerian mereka sudah hampir rampung.


“Iya Pa, terimakasih ya.''


“Cherry baik-baik aja? Lagi sakit ya?” itu suara mama.


Cherry lupa kalau mertuannya itu bucin. Jadi bisa dipastikan kalau saat ini mereka sedang bersama.


“Enggak Ma, cuma kecapekan aja kayaknya, semala lembur.''


Ini sudah lebih tiga minggu ia keluar dari rumah mertuanya. Daripada pulang jauh ke rumah orang tuanya, Cherry lebih memilih menyewa studio mini di dekat cafenya. Ia tinggal sendiri di sini.


“Jaga diri ya sayang. Mama tutup ya” Mama memutuskan sambungan telepon.


Cherry beranjak dari atas kasur. Kepalanya pusing dan rasanya begitu mual. Akhir-akhir ini ia sering melewatkan waktu makan. Pasti asam lambungnya naik. Ahh ia akan menjadi janda sebentar lagi. Masih muda jadi janda.


Bohong jika Cherry sudah lupa dengan kejadian beberapa minggu yang lalu. Ia masih mengingat dengan jelas semuanya. Rayn, alkohol dan Syerlin. Sampai sekarang belum terpecahkan, siapa Syerlin yang disebut Rayn?


Cherry juga kepo, makanya ia beberapa kali scroll instagram Rayn. Tapi yang didapat hanya kecewa. Yang ia temukan hanya postingan pemandangan dan kopi, juga mama papa di hari jadi mereka. Captionya juga menggemaskan ‘Selamat menikah kembali ma pa.'


Gak salah memang, Rayn itu manis, pasti bucin seperti papanya. Sedangkan Reyn sedikit kaku.


Tapi tetap saja yang ada dalam hati Cherry adalah sosok Reyn dan tak akan pernah tergantikan oleh sosok lain meskipun mereka mirip satu sama lain.


"Tapi mengapa harinya sekarang mengalami hal yang sedikit membingungkan? Mungkin bisa saja ia jatuh cinta pada sosok yang seharusnya tak pernah hadir itu?"


Itulah satu-satunya kata yang terpikirkan oleh Reyn saat ini. Yah, memang Rayn selalu lebih baik dari dirinya tapi haruskah hal itu berlaku juga untuk perasaan yang tak seharusnya hadir ini?


Setelah selesai bersiap Cherry langsung bergegas ke Cafe. Ia hanya berjalan kaki.


“Tumben kesiangan mbak” salah satu pegawai menyapa saat ia masuk ke Cafe.


“Ah baru jam setengah 12 baru buka juga kan?” Cherry menjawab sambil melihat jam tangannya.


“Baru buka, liat non, pengunjung udah mulai rame. Udah mau makan siang ini.” Rio menyeletuk dari balik meja bar. Ia sedang menyiapkan pesanan.


Cherry duduk di meja bar. “Minum dong Yo,kayak biasa ya.''


Rio mendengus, setelah pesanan pelanggan selesai ia menyiapkan pesanan Nona muda. “Kusut amat non mukanya.''


“Capek gue, lembur mulu.''


Cherry tak bohong. Ia begitu kelelahan, lupa makan, dan jarang istirahat. Waktunya juga kacau setelah memutuskan untuk keluar dari rumah Rayn. Bahkan bebapa pekerjaannya juga ada yang tak selesai. Ceroboh sekali.


“Ya namanyanya juga hidup Cherr, ada capeknya” Rio menjawab sambil menyodorkan minuman.


Cherry hanya menggumam. Kepalanya sedikit terasa pusing.


“Mas semuanya berapa ya?”


Cherry mendongak saat mendengar suara tak asing di dekatnya. Itu Rayn. Yang sedang bergandengan mesra dengan perempuan. Cantik sekali, tingginya semampai, make up natural dan body goals. Sedangkan ia kecil pendek tak gemuk.


“Cherry?” Rayn bersuara, sambil melepaskan gandengan perempuan di sebelahnya.


Mata Cherry berkunang-kunang. Kepalanya pusing. Ah ia ingat, jika dilihat dengan seksama, perempuan ini yang ada di salah satu postingan Rayn. Walaupun hanya dari belakang, dan hanya berupa siluet. Ia tau.

__ADS_1


Apa ini Syerlin?


Cherry tau sesuatu. Tapi belum sempat mengungkapkannya ia sudah ambruk. Cherry pingsan dan penasaran.


Dalam tidurnya Cherry memikirkan satu hal yang sangat ia rindukan karena sepertinya sudah berlalu begitu lama.


Pertemuan pertama dengan Reyn yang tak akan pernah ia lupakan dan mungkin akan menjadi satu-satunya cerita yang membuatnya sangat berterima kasih pada seorang sosok yang selalu ada untuknya meskipun mereka bukan keluarga dan bahkan memiliki hubungan sosial yang jarang terjadi.


Hubungan akrab seorang anak bos dengan seorang pembantu rumah tangga.


"Cher, ada yang ngajak kamu kebalan. Katanya dia sering liat kamu di kelas peikolog.''


Pagi yang cerah menuntun lanhjah Cherry untuk kembali mengajak S1 setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit. Yah, setelah kecelakaan yang menimpa dirinya, membuatnya tak ingin membuang waktu lagi dan memfokuskan diri mengejar Study nya agar segera meraih S1 dan membantu Papanya mengelola perusahaan yang tengah berkembang pesat.


Lalu mengapa ia dilihat orang itu di psikolog?


Semenjak kecelakaan itu, ia terpaksa menjalani perawatan mental untuk mengurangi trauma dan juga kemungkinan cacat mental ataupun phobia. Memang banyak orang yang sengaja menyapanya, atau hanya sekedar menunjukkan rasa prihatin padanya.


Tapi sosok pemuda yang dimaksud Cahaya belum ditemukan oleh otak Cherry. Mungkinkah yang suka padanya adalah sosok yang tak pernah ia sadari.


Melihat respon temannya yang biasa saja malah melanjutkan langkahnya menuju mejanya, Cahaya terpaksa mengikuti langkah Cherry tanpa berkata-kata lagi.


Namun mengingat ia sudah berjanji pada Reyn akan membantunya memenangkan hati Cherry, membuatnya berfikir ulang tentang diamnya dirinya.


Yah, ia sudah terlanjut menerima pemberian Reyn dan seumur hidupnya tak akan pernah bisa mengganti pemberian itu. Akhirnya ia terpaksa mencari cara lain agar Cehrry mau menemui Reyn tak perduli apapun yang terjadi nantinya.


"Cher, kayaknya ngga ada salahnya kalau kamu nemuin ia sekali ini aja. Cuma sekali aja kok, Habis itu kamu ngga akan_"


"Kamu ngga liat aku lagi ngapain?" balas Cherry meletakkan tas punggungnya dan mengeluarkan lattopnya.


"Mau dia baik atau engga, mau harus nemuin dia sekali atau berkali-kali itu ngga ada sangkut paut nya buat aku Cahaya." kata Cherry lagi.


Cahaya hanya bisa diam membisu sambil memikirkan cara lain lagi. Ia tak bisa terima kalau ternyata temannya ini tak hanya kehilangan waktu tapi juga mengalami gangguan hormon. Yah, bagaimana tidak.


Di sekolah ini semua orang ingin kenal dekat dengan Reyn, dan tak akan ada wanita yang berani menolak pengakuan cintanya. Eits, apa ia lupa memberitau Cherry kalau yang ingin kenalan denganya itu adalah Reyn, putera pemilih universitas swasta terbesar di kota bahkan negara ini.


Ia kemudian duduk di samping kanan Cherry dan menatap wajah gadis yang sudah asik-asiknya belajar meskipun jam kampus masih tidur. Cahaya sama sekali tak bisa menebak apa saja isi dari kepala Cherry yang selalu antusias dan bahkan terkadang terkesan sangat berambisi. Memang sih kenyataan yang ada tak berhak mematahkan semangat nya namun ada kalanya Cahaya ingin juga melihat sisi lemah teman kecilnya ini.


Sadar kalau dirinya menjadi pusat perhatian orang disampingnya, membuat Cherry semakin fokus pada hal yang ia pelajari karena dalam hati ia tau dan pastikan gadis itu tak akan lama menantapnya jika melihat ia seserius ini. Tapi kenyataan justru mematahkan hal yang ia pikirkan tadinya.


"Kamu tau siapa yang aku maksud?" Katanya berusaha memecahkan fokus seorang Cherry.


"Nanya apaan sih?" Kata gadis itu tak mau teralih.


Melihat respon yang sangat biasa itu membuat Cahaya memikirkan hal terakhir yang mungkin juga akan menjadi hal yang sangat dibencinya. Ia menghela nafas panjang dengan harapan cara kali ini tak harus berakhir dengan penyesalan. Yah, ia mengenal Cherry sedari kecil dan tau seberapa keras kepala gadis itu. Tapi sejujurnya Cherry adalah wanita paling lembut yang pernah ia kenal sebelumnya.


"Cher." katanya akhirnya.


"Em?"


"Kali ini aja deh bantuin aku." pintanya.


Sontak saja perkataan yang keluar dari mulut Cahaya membuat Cherry kaget bukan main. Tidak biasanya sahabatnya ini mengatakan kata tolong jika tidak ada hal yang sangat penting terjadi.


Yah, selama ini kata yang paling anti keluar dari mulut Cahaya adalah kata tolong. Lalu ada apa gerangan sampai Cahaya mengucap kata-kata itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" kata Cherry mengerutkan kening.


"Dia akan bunuh aku kalau aku ngga bisa bawa kamu kenalan ke dia." kata Cahaya dengan raut wajah memelas.


Sejenak otak cerdas Cherry berusaha bertanya ada apa sebenarnya di balik semua hal ini. Siapa dia yang dimaksud sahabatnya itu, dan bagaimana semuanya bisa terjadi. Apa sangkut pautnya dengan dirinya, dan masih banyak hal lain yang hadir dalam pikiran Cherry.


Untung saja setelah itu, Cahaya pilih bicara dan menceritakan semuanya bagaimana mulanya ia bisa terlibat dengan Reyn, dan berapa banyak yang harus ia bayar kalau ia gagal mengenalkan mereka. Dengan raut wajah menyeramkan, Cehrry tampak sangat kesal dan marah meskipun ia tak akan punya keberanian untuk melukai perasaan sahabatnya ini.


"Maafin aku ya, Cher.'' kata Cahaya memelas.


Sengaja ia bersikap suara nya paling pelan dan memelas. Yah, ia tau kelemahan sahabatnya itu jika sudah menunjukkan respon seperti itu. Tapi hal yang diragukan olehnya adalah niat Cherry mengganti semua uang itu agar ia bisa bebaa dari semua itu.


Jika hal itu sampai terjadi habislah sudah kebanggan Cahaya mengatakan kalau Cherry akan mengabulkan semua permintaannya.


"Ya udah, aku akan mengganti semua uang itu dan_"


"Jangan dong, Cher. Itu sama aja ngebuat aku makin sulit. Kamu tau rasanya menerima pemberian kami itu seperti apa buatku? Aku sudah terlalu banyak menerima bantuan dari kamu dari segi materi.'' Kata Cahaya menahan langkah Cherry yang bangkit ingin segera menemui sosok Reyn.


"Jadi kamu mau aku ngelakuin apa lagi sih? Jangan aneh-aneh Cahaya. Aku tuh_"


"Temuin dia sekali aja, selanjutnya terserah pada kamu." kata Cahaya melipat tangannya di depan dada seolah ia sangat memohon.


Cahaya menghela nafas panjang yang berat denga harapan orang di depannya ini segera sadar atas apa yang ia minta. Tapi sepertinya harapnya hanyalah harapan yang tak akan mungkin terkabulkan.


"Baiklah, aku akan menemuinya sesuai dengan permintaanmu.'' kata Cherry akhirnya.


"Makasih Cherr."


Itulah awal pertemuan yang ia rindukan sampai sekarang karena ternyata ia tak bis bahagia dengan orang lain selain Reyn.


Dan sikap itu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama karena Reyn yang terkesan ceplos tanpa perduli apa yang dipikirkan oleh orang-orang.


"Aku sudah memutuskan akan mencintaimu selamanya."


Itu kata-kata pertama yang keluar dari mulut Reyn pada pertemuan pertama mereka dan tentu saja menjadi hal yang sangat membingungkan bagi Cherry. Ia tidak kenal dengan orang ini dan orang ini dengan mudahnya menyatakan perasaan dan janji padanya.


"Kamu gila?" katanya penuh penekanan.


"Ya mungkin kamu tidak salah. Tapi aku tak akan berkatra bohong. " balas Reyn.


"Sama sekali tidak menarik. Kamu lihat, Cahaya. Aku sudah menemuinya dan janga menuntut ku lebih lagi.'' Katanya pada Cahaya.


Yah, ia bersiap untuk pergi dan melupakan semuanya.


Yah, ia pergi begitu saja dengan harapan setelah ini tak akan ada lagi orang yang menganggapnya aneh dan berniat mengganggu nya termasuk sahabatnya itu sekalipun.


Ya udah, aku akan mengganti semua uang itu dan_"


"Jangan dong, Cher. Itu sama aja ngebuat aku makin sulit. Kamu tau rasanya menerima pemberian kami itu seperti apa buatku? Aku sudah terlalu banyak menerima bantuan dari kamu dari segi materi.'' Kata Cahaya menahan langkah Cherry yang bangkit ingin segera menemui sosok Reyn.


"Jadi kamu mau aku ngelakuin apa lagi sih? Jangan aneh-aneh Cahaya. Aku tuh_"


"Temuin dia sekali aja, selanjutnya terserah pada kamu." kata Cahaya melipat tangannya di depan dada seolah ia sangat memohon.


Patahan percakapan nya dengan Cahaya selalu bermain di kepalanya meskipun ia sudah berniat untuk melupakannya. Apalah hal ini yang dimaksud kode pada pandangan pertama ? Lalu mengapa harus jatuh pada orang yang belum lama ia kenal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2